
Pak Bill mengirimkan tiga buku Hornby ke Jogja. Salah satunya adalah How To Be Good dalam versi Penguin sampul klasik. Cantik sekali. Itu adalah buku How To Be Good ketiga saya. Sebelumnya, dalam sebuah pameran buku internasional di Surabaya, saya menemukan beberapa buku Hornby, dan saya membeli beberapa judul meski saat itu sedang menunggu buku dari Pak Bill datang. Tak kaget, ketika buku dari Pak Bill akhirnya tiba, beberapa buku dengan judul sama pun berganda.
Sayangnya, tak ada satu pun di antaranya adalah Fever Pitch, buku Hornby yang paling saya inginkan. Tak ada cara lain, versi PDF yang sudah lama saya simpan akhirnya saya bawa ke fotokopian tempat saya biasa mencetak buku-buku tentang sepakbola dan film India, jenis buku-buku yang saya perkirakan tak akan diterbitkan oleh Gramedia atau DIVA.
Setelah menyelesaikan naskah “Dawuk” pada 2016, hingga tiga tahun ke depannya hidup saya dipenuhi oleh sepakbola. Di antara penerbitan satu kumpulan cerpen (2016), dua jilid esai film (2017), dan Dawuk (2017), saya menerbitkan dua buku bola (masing-masing 2018 dan 2019) dan menulis kolom sepakbola secara rutin di koran dan media online dari sejak jelang Euro 2016 hingga berakhirnya musim kompetisi 2018/19—selain masih mengisi blog sepakbola saya sampai kemudian memutuskan untuk sama sekali menghentikannya. Tentu menulis sepakbola menuntut saya menonton bola lebih intensif, tapi demikian juga dengan membaca. Dan, saya rasa, saat itu juga saya mulai menerjemahkan Fever Pitch.
Tapi jangan salah sangka. Ini tak seperti yang Anda pikirkan. Juga, boleh dibilang, bukan sesuatu yang sejak awal direncanakan.
Begini. Dalam diri saya ada seorang remaja kelas 1 SMA yang dilukai oleh guru bahasa Inggrisnya dengan angka 5 pertama dalam hidupnya, dan luka itu tak kunjung sembuh bahkan ketika ia sudah lewat usia 30. Memilih kuliah Sastra Indonesia, diakui atau tidak, tampaknya mencerminkan trauma tersebut. Ketika keluar dari pekerjaan, punya berlimpah waktu luang dan sedikit tabungan, saya mendorong si remaja kolokan dalam diri saya itu untuk memangkas ketakutannya dengan ikut kursus bahasa Inggris. Tapi kelas bahasa Inggris, lebih dari kelas apa pun, tampaknya adalah kelas paling akhir yang akan dia pilih jika seseorang menodongkan senapan ke kepala dan memaksa saya untuk kembali ke sekolah. Ia nglokro bahkan sebelum mendaftar. Dan begitulah, seperti bocah penakut itu, saya pun menyerah dengan kemampuan bahasa Inggris yang hanya cukup untuk dipakai membaca Simple English Wikipedia.
Dua tahun tidak bekerja, uang tabungan saya habis. Sementara, novel pertama saya tak memberikan sepeser pun uang. Bocah penakut itu sedikit mau didorong ketika saya mesti menerima orderan untuk mengedit beberapa novel terjemahan. Dan mengedit buku terjemahan, mau tak mau, juga adalah kerja penerjemahan. Apalagi, setelah saya temukan bahwa para penerjemah itu, yang beberapa di antaranya cukup punya nama, ternyata tak bagus-bagus amat. Bukan karena bahasa Inggrisnya jelek, melainkan lebih karena bahasa Indonesianya yang buruk.
Setelah melewati mengedit dua-tiga naskah terjemahan, ada semacam celetukan di kepala: “Kalau begini saja sih, aku juga bisa”. Dan dari situlah saya dan bocah penakut dalam diri saya itu mulai iseng. Saya memulai dengan menerjemahkan beberapa tulisan sepakbola yang saya sukai di Guardian untuk mengisi blog Belakang Gawang ketika saya sedang malas untuk menulis. Lebih iseng lagi, begitu tahu bahwa file srt di dalam folder film-film hasil unduhan bisa diedit, saya juga mulai menerjemahkan subtitel Inggris film India ke bahasa Indonesia. Puncaknya, mungkin karena sedang sangat menganggur, di sepanjang Piala Dunia 2014, saya mendedikasikan diri untuk menerjemahkan sekuen-sekuan khusus Piala Dunia dalam kitab suci para pembaca buku sepakbola, Soccer in Sun and Shadow-nya Eduardo Galeano (versi terjemahan Inggris Mark Fried).
Singkat cerita, tiba-tiba saja, saya mulai memiliki kebiasaan menerjemahkan buku-buku atau tulisan atau apa pun yang saya sukai. Itulah yang membuat saya menghasilkan tak kurang dari selusin subtitel Indonesia untuk beberapa film India, belasan terjemahan tulisan sepakbola dari Sid Lowe, Jonathan Wilson, atau Simon Kuper, baik untuk tulisan-tulisan di media maupun dari kutipan buku-buku mereka. Dan, meski secara sangat acak dan mana suka, penerjemahan saya atas buku Soccer in Sun adn Shadow-nya Galeano ternyata menghasilkan tak kurang dari 15an ribu kata.
Dan kalau buku-buku itu sudah dilewati, dan Galeano bisa dijajal, lalu mengapa Fever Pitch tidak? Begitulah kira-kira remaja penakut dalam diri saya mulai menjadi sedikit congkak. Dan begitulah saya mulai menerjemahkan Fever Pitch.
Seperti untuk buku-buku lain sebelumnya, menerjemah Fever Pitch awalnya hanya iseng, sekadar selingan, atau sejenis upaya memecah kebuntuan di antara menulis kolom-kolom bola mingguan, juga menyelesaikan novel yang cukup alot yang saat itu sedang saya kerjakan. Karena itu, saya pada mulanya hanya menerjemahkan bagian-bagian yang saya anggap paling menarik.
Bagian-bagian yang paling mudah dipahami karena saya tahu konteksnya, sebab ia begitu menonjol dalam sejarah sepakbola, semisal tentang tragedi Heysel dan Hillsborough, adalah bagian-bagian yang paling awal saya terjemahkan. Pun bagian-bagian yang dramatis-traumatis, yang memang dengan mudah menyentuh siapa pun yang menyukai sepakbola dan menaruh hati kepada klub tertentu, seperti kekalahan-kekalahan Arsenal di Wembley yang berulang-ulang, sampai akhirnya kemenangan dramatis di akhir musim 1988/89. Tak lupa, bagian-bagian yang membicarakan sosok menarik, entah karena konyol atau aneh atau tragis, semisal tentang para penonton dengan penampilan ganjil di sepakbola amatir, atau tentang seorang suporter gila dari Luton, atau tentang fenomena Gus Caesar, bek Arsenal yang berbakat namun karirnya terhitung gagal.
Yang tidak saya antisipasi adalah, ketika saya menyelesaikan bagian-bagian yang saya anggap paling menarik, saya merasa meninggalkan bagian lain yang sama menariknya atau bahkan lebih menarik. Dan, karena itulah, upaya yang awalnya iseng itu meluas, membanyak, dan kemudian menjadi lebih mendalam. Dan tiba-tiba saja tiga perempat buku sudah terindonesiakan.
Ketika Reza dari penerbit Basabasi menyetujui menerbitkannya, saya pun memutuskan untuk sekalian saja menyelesaikannya. Dan begitulah Keranjingan Bola akhirnya terbit.
(Bersambung…)
- Rumah-rumah dan Buku-buku (yang Dilahirkannya) - 12 January 2026
- Buku di Ruang Tamu - 17 December 2025
- Priok: September Hitam yang Lain (Bag. 2—Habis) - 22 October 2025


Rizky Ardiansyah
bagus ceritanyaaa sangat membuat saya senang membacanya