
Menurut penulis Kitab Kasyf al-Mahjub, al-Hujwiri, beliau menerima dari seseorang yang berkata bahwa di Sarkhas ada seseorang yang berkata: “Ketika dulu aku masih kecil, aku pergi menuju ke pohon murbei demi memperoleh ulat sutera. Aku melihat pohon itu. Kepotong daun-daunnya.
Kulihat Syaikh Abu al-Fadhl as-Sarkhasi lewat di bawah pohon murbei itu. Beliau tidak melihatku. Beliau sedang tidak sadar tentang dirinya. Beliau berkata-kata dari saking lapangnya: ‘Ya Allah, ini sudah sempurna satu tahun Engkau memberikan uang kepadaku hingga aku gundul kepalaku.
Ini adalah perbuatanMu untuk orang-orang yang Engkau cintai, untuk orang-orang yang mencintaiMu.’ Maka, kusaksikan semua ranting-ranting itu, semua daun-daun itu, berubah menjadi emas. Beliau tiba-tiba berkata: ‘Sangat menakjubkan. Aku sama sekali tidak sanggup untuk berbicara sedikit pun di hadapanMu’.”
Penulis Kitab Kasyf al-Mahjub, al-Hujwiri, juga mengatakan bahwa pada suatu hari Luqman as-Sarkhasi datang kepada Syaikh Abu al-Fadhl as-Sarkhasi. Dia melihat bahwa di tangan beliau ada satu juz dari suatu kitab. Dia bertanya: “Ya, Aba al-Fadhl, apa yang engkau kehendaki dari satu juz ini?”
Yang ditanya menjawab: “Ini adalah satu juz yang engkau tinggalkan. Dari mana engkau bisa lupa ini? Lupa itu adalah memandangmu yang mau bertanya kepadaku tentang apa yang aku kehendaki. Berdirilah dan keluarlah engkau dari rasa mabuk kepada rasa sadar hingga engkau meninggalkan lupa ini.”
Pada suatu hari, Syaikh Abu al-Fadhl as-Sarkhasi turun dari angkasa ke atas sebuah pohon. Beliau duduk di pohon itu. Beliau dilihat oleh seseorang. Beliau mengatakan kepada orang yang melihatnya itu: “Apa yang kau lihat? Kau menginginkan seperti aku? Karena itulah, kau tidak akan mendapatkannya. Sementara aku tidak pernah meminta kepada Allah, tapi Dia memberikannya kepadaku.”
Pada suatu hari, Syaikh Abu al-Fadhl as-Sarkhasi berjalan kaki, orang-orang bertanya kepada beliau: “Syaikh, jenengan akan dikubur di mana?” Beliau tidak menjawab. “Di kuburan fulan?” Beliau menjawab: “Allah, Allah, jangan aku kubur di sana. Karena di sana kuburan para pembesar, para imam, dan para syaikh.”
“Di mana kami akan menguburmu?” Yang ditanya menjawab: “Kuburkanlah aku di atas bukit kecil itu. Karena di sana kuburannya para penjudi, orang-orang yang bermaksiat kepada Allah Ta’ala, orang-orang yang fasiq. Aku punya hubungan dengan mereka. Aku tak kuat di kuburan para syaikh. Karena mereka akrab dengan rahmatNya.”
Beliau mengatakan bahwa hakikat penghambaan kepada Allah Ta’ala ada dua hal. Pertama, butuh kepada Allah. Ini adalah asal-usul ibadah. Kedua, baik dalam mengikuti Rasulullah Saw. Diri kita sama sekali tidak punya jatah ke sana. Betapa beliau sangat rendah hati. Orang seagung beliau masih merasa sebagai orang berdosa.
Ketika keesokan harinya beliau betul wafat, oleh para sahabatnya beliau dikasih kafan ajnabi, orang yang tidak mengenal Allah Ta’ala. Keesokan harinya mereka berkumpul di masjid. Tidak ada seorang pun yang membukakan pintu masjid. Ada seseorang yang melempar kain kafan itu: “Ini adalah kain ajnabi, aku tak menyukainya.” Wallahu a’lamu bish-shawab.
- Syaikh Abu al-Fadhl al-Khatli - 13 February 2026
- Syaikh Abu al-‘Abbas as-Syaqani - 6 February 2026
- Syaikh Abu al-Qasim al-Qusyairi - 30 January 2026


Omand
Segala kematian menjadi debu