
Cerita ini akan dihapus karena diketahui telah dimuat di koran lain dengan judul yang sama, sementara surat penarikan baru diterima redaksi sehari yang lalu. Tapi, apa yang kami terima dengan apa yang tersiar di koran lain, ditulis oleh penulis yang berbeda. Cerita Airas di Koran T berjudul Sampai Maut Memisahkan. Cerita Beluno di Koran M berjudul Sampai Maut Memisahkan. Keduanya penulis tersohor. Kedua ceritanya sungguh luar biasa. Dan kami harus memilih.
Memilih adalah perkara yang sulit. Pertimbangan yang diajukan ibarat mana yang terbaik antara pemandangan dari puncak Kilimanjaro atau puncak Elbrus. Keduanya menghamparkan suasana yang identik. Terbaik dalam hal pencapaian atas keindahan sekaligus rasa ngeri. Kesulitan yang akhirnya bermutasi menjadi kebingungan saat diketahui bahwa tak ada yang berbeda sepatah kata pun antarkedua cerita. Diksi dan tanda baca, jumlah paragraf dan jumlah kata, semuanya sama. Sekali lagi, yang berbeda hanyalah penulisnya.
Bagaimana ini bisa terjadi? Redaksi, hingga catatan ini diturunkan, belum mendapatkan titik terang. Sejauh yang kami tahu, kedua penulis amat berseberangan dalam hal prinsip; berlawanan dalam ideologi. Lebih kerap saling mencemooh daripada mengkritik karya satu sama lain. Mana mungkin mereka menulis atau saling mencontek dan bekerja sama hanya untuk mengecoh pembaca, dan—sebelum tiba di haribaan pembaca—kami, redaksi sastra koran?
Kami merasa seperti baru saja kemalingan di siang bolong. Koran M tak perlu risau karena telah menerbitkan cerita itu lebih dulu. Tepatnya kemarin pagi. Sementara kami, cerita itu bahkan telah naik cetak dan siap disebar ke agen distributor. Kami telah mengirimkan maklumat kepada dewan redaktur. Kami telah mengembalikan karya Airas. Dengan catatan tentu saja, bahwa kami merasa keberatan dengan karyanya. Entah “nya” merujuk ke Airas atau Beluno. Esok maklumat itu akan segera naik cetak dengan judul yang tegas: Plagiasi dan Maklumat Kami, kepada Airas dan Beluno.
Kami yakin ini akan menjadi polemik yang menarik. Dua penulis raksasa, yang seolah-olah saling membenci satu sama lain, malah menulis cerita pendek dengan judul dan isi yang sama. Dua tokoh sastra yang saling memunggungi satu sama lain, rupanya mengirim cerita pendek yang sama ke dua koran berbeda. Apa motifnya? Akan kami serahkan ke sidang pembaca. Pada akhirnya merekalah yang akan menjadi hakim dari bakal polemik ini.
***
BAJINGAN! Bila memang itu kemauannya, dapatkanlah apa yang dikehendakinya. Aku tak perlu susah payah menggali kuburannya. Ia menggali sendiri dengan kedua tangannya, dengan sekop berupa pernyataan dan klarifikasi. Itu semua akan membuatnya terbenam lebih dalam. Mereka semua sudah paham siapa yang benar: aku.
Aku telah memiliki segala yang belum ia miliki. Aku bahkan telah mencapai segala hal yang tak bakal ia capai. Dari sekian banyak yang kukenal, Airas benar-benar anak kemarin sore. Tak pantas mendapat apa pun yang dengan susah payah penulis lain dapatkan. Bakatnya yang diakui oleh para kritikus itu, hanyalah bakat versi cebol! Penghargaan yang ia dapat adalah penghargaan versi bonsai! Dan segala yang telah ia tulis adalah karya prematur yang bahkan tak layak disebut sebagai karya.
Biar dunia dan seisinya tahu. Setelanjang-telanjangnya. Akan kuberikan kepada kritikus yang lapar, redaktur mata duitan, para pembaca yang buta, apa yang mereka mau. Dan untuk anak ingusan bernama Airas, aku tak akan mengikuti permainannya. Pesannya yang menyatakan bahwa ia tahu yang “aku lakukan” tak berarti apa-apa. Macan tak bertaring. Akan aku hadapi permainan busuknya. Bila mampus, mampuslah, terbujur kaku bersama dalam kegelapan. Inilah, inilah salvo terakhirku!
***
TAK ada yang benar-benar murni di dunia. Dari sereal gandum di pagi hari, kopi bubuk instan di siang hari, atau keripik kentang yang menemanimu menyaksikan adu penalti Panathinaikos vs Galatasaray menjelang subuh. Kuberi tahu, hampir setengah dari komposisi sereal gandum mengandung ragi; lima puluh persen bahkan lebih dalam kemasan kopi instan terdapat bubuk jagung; serpihan kentang, tepung beras, dan pati gandum adalah apa yang lidahmu cecap sebagai keripik kentang.
Tak ada lagi kemurnian dan bila ada yang mengatakan sebaliknya adalah omong kosong.
Sebagai penulis, tentu saja aku paham akan hal ini. Aku tak bakal mampu menulis bagus bila kepalaku tak berisi karya-karya bagus yang kubaca belasan tahun silam atau bahkan beberapa menit yang lalu. Hal itu akan menjadi sereal gandum dari apa yang kausebut sebagai sereal gandum dan menjadi kopi dari apa yang kau sebut kopi. Itulah aku, dan aku pun percaya seluruh penulis berproses dengan cara demikian. Tak ada jalan lain, kecuali tulisanmu ditakdirkan untuk menjadi buruk.
Yang terakhir kusebut adalah yang terjadi pada Beluno. Oke, aku menerima bahwa ia satu dekade lebih tua dariku. Meski umur tak selalu jadi patokan seseorang benar-benar belajar dari pengalamannya atau sekadar hidup dengan cara bernapas belaka. Pelajaran pertama datang dari Verlaine dan Rimbaud. Pelajaran kedua dari Kawabata dan Mishima. Rimbaud mati lebih dulu tinimbang Verlaine gurunya. Dengan cara yang sama Mishima meregang nyawa lebih dulu daripada Kawabata gurunya.
Beluno, penulis kawakan karena umur, bukan karena karya, seharusnya memahami pelajaran itu. Bahwa kelak, murid-muridnya akan melampaui dirinya. Bahwa kelak murid-muridnya akan menguburnya bukan dengan puisi-puisi yang ia cintai melainkan dengan puisi-puisi yang ia anggap “tak berjiwa dan dangkal seperti selokan.” Mereka akan menyanyikan puja-puji bukan untuk dirinya, tetapi kepada para kritikus yang merujak karya-karyanya.
Aku tahu Beluno seperti gurat nadi tangan kiriku sendiri. Dari mana ia mencomot paragraf pertama dan pada siapa ia berutang ekspresi para tokoh. Hanya dengan begitulah ia mampu menyelesaikan ceritanya. Bakatnya itu, bisa dibilang, terletak pada kesembronoannya dalam mengacak-acak struktur kalimat. Beluno melahirkan kebaruan adalah satu hal. Kebaruan yang lahir dari operasi sesar, yang membuat cerita-ceritanya terasa “tak berjiwa dan dangkal seperti selokan.” Meski begitu, tingkah “mencomotnya” tetaplah plagiasi. Karena itu, kukirim pesan kepadanya bahwa aku tahu apa yang ia lakukan.
Malam itu mantan pacarku menghubungi. Yang kutahu, kariernya sebagai redaktur Koran M bakalan tamat. Oplah mereka menurun drastis. Brosur MLM lebih banyak dicetak tinimbang korannya. Desas-desus beredar, media itu bakal berganti pemilik—dari orang kaya satu ke orang kaya lainnya. Ia merasa nakhoda keredaksiannya diacak-acak. “Meja kerjaku seperti sesuatu yang dikais-kais kucing di atas tanah basah,” ujarnya di telepon. Dua tahun lalu ia meninggalkanku karena alasan abstrak yang tak bisa kujabarkan di sini.
Ia akan mencetak cerita Beluno, sekaligus berharap aku pun mengirimnya ke Koran T, “Aku yakin ini akan menjadi polemik yang panas,” katanya mengompori.
“Aku tak berselera,” kubalas.
“Ini bukan tentang selera,” tukasnya, “pikirkanlah nasib sastra kita.”
“Bukan urusanku!”
“Kenapa kau tak berubah?”
“Kau bahkan tak tahu banyak hal yang telah berubah dariku. Selama ini, kau hanya berfokus pada apa yang tetap sama padaku dan itu menyedihkan.”
“Tunggu di situ. Kau tahu, aku harus merangkap sebagai akunting. Pemilik koran merasa insting perempuan bisa lebih tajam dalam menghitung daripada mengurus fiksi. Bayangkan betapa hancurnya duniaku. Adakah sedikit iba darimu?”
Aku menutup telepon. Ia menghubungiku lagi lima menit kemudian untuk meminta maaf. Suara napasnya menderu dan membuat telingaku seperti kebasahan. Aku tahu ia panik. Ia memancingku untuk berseteru seperti bertahun-tahun yang lalu. Dan untuk itu tentu saja ia berbohong. Masa bodoh dengan sastra. Yang ia inginkan adalah oplah, tiras, dan keuntungan.
Sialnya, ada semacam kabut melankoli menyergap kepalaku. Kemudian gambaran, seperti montase, sekelebat saja. Di tengah siraman hujan, aku melihatnya berdiri kuyu kedinginan di tanah lapang. Seperti tiang gawang, kedua kakinya terbenam ke dalam lumpur. Rambut hitamnya terjatuh begitu saja di punggung seperti pelepah pisang yang kaku. Makin lama, tubuhnya makin terbenam, seperti terhisap lumpur dan hanya menyisakan pelepah pisang menghitam di atas tanah.
Mungkin ada ratusan orang yang menggantungkan hidupnya pada koran-koran lapuk itu. Penjaja di perempatan yang kakinya buntung, toko kelontong yang di pagi buta mengerek pintu gulung, dan para agen yang terseok guna mempromosikan dagangannya. Atau para redaktur, wartawan, pramukantor, pemburu iklan, dan orang-orang seperti mantan pacarku.
Mereka mau hidup dan berharap terus hidup. Mereka juga perlu koran hidup agar mereka sendiri tetap hidup. Sedangkan aku … Entahlah.
***
Obituari ini tak akan pernah terhapus dari ingatan pembaca. Tak ada yang dapat memisahkan nelayan dengan pancingnya, gembala dengan anjingnya, dan penulis dengan penanya. Tentu, sampai maut memisahkan. Dan kami tak menyadarinya. Ihwal sebuah pertanda yang datang dengan mengetuk pintu dan memperkenalkan dirinya sebagai el-maut. Kami akan sangat merindukannya. Di hati kami, ia mendapat tempat yang spesial. Tenanglah di sana. Selamat jalan, Airas.
- SAMPAI MAUT MEMISAHKAN - 16 May 2025


DD
Jadi pesannya apa kak. Tidak ada sesuatu yg benar benar murni, ya. Tidak ada yg benar benar baru begitu.
Orange Jus
Iya paling, wkwk
Naa
Iya bnr
Tio
pesannya sangat bagus
Rifq
Keren dan bagus alur cerita nya