Syaikh Ahmad bin Nashr

Beliau adalah sebagaimana judul di atas. Tidak lebih dan tidak kurang. Setidaknya, itulah yang saya ketahui dari kitab-kitab thabaqat yang ada di perpustakaan pribadi saya. Saya tidak tahu di mana beliau lahir. Saya tidak tahu di mana beliau wafat. Saya tidak tahu beliau bersahabat dengan siapa saja.

Tapi jelas bahwa beliau termasuk sufi agung. Beliau sezaman dengan Syaikh Abu al-‘Abbas al-Qashshab. Beliau sempat melihat Syaikh al-Hushri: sebuah kesempatan yang sangat mendorong beliau untuk tertarik pada dunia tasawuf. Itulah cara Allah Ta’ala untuk tertarik kepada hadiratNya. Sungguh mengagumkan.

Pada suatu waktu, Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair ingin pergi ke al-Amil untuk berziarah ke Syaikh Abu al-‘Abbas al-Qashshab. Syaikh Ahmad bin Nashr berada di sebuah khaniqah yang dibangun oleh Syaikh Abu ‘Ali ad-Daqqaq. Beliau pergi ke sana dengan isyarat dari Nabi Muhammad Saw.

Bisa menangkap isyarat dari Nabi Muhammad Saw untuk pergi ke sebuah khaniqah sungguh merupakan keunggulan rohani yang luar biasa. Bagaimana mungkin tidak, Nabi Pungkasan Saw itu telah wafat beberapa abad yang silam, beliau masih bisa menangkap isyaratnya.

Beliau berarti telah sampai kepada kejernihan rohani yang sangat gamblang, telah sampai kepada kejernihan rohani yang memungkinkan beliau untuk terhubung dengan orang paling mulia di dunia ini dan di akhirat nanti, Nabi Muhammad Saw. Itulah “puncak” dari proses rohani dalam perjalanan menuju kepada Allah Ta’ala.

Setelah sampai di Nasa, Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair tidak masuk ke dalam kota. Beliau berhenti di desa Bismah, sebuah desa yang di dalamnya ada kuburan Syaikh Muhammad al-‘Ulyani. Syaikh Ahmad bin Nashr mengeluarkan kepalanya dari dalam pertapaannya yang ada dalam khaniqah itu.

Beliau berkata kepada para sufi: “Barangsiapa ingin untuk memandang kepada rajawali thariqah, maka hendaknya dia memandang kepada orang yang turun di Bismah ini.” Wow, Syaikh Ahmad bin Nashr menjuluki Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair sebagai rajawali thariqah, sebuah julukan yang sangat luar biasa.

Syaikh Ahmad bin Nashr melaksanakan ibadah haji sebanyak dua puluh kali. Kebanyakan dalam melakukan ibadah haji itu beliau berihram dari Khurasan. Pada suatu hari, beliau berada di Tanah Haram, beliau menyebut sebagian rahasia hakikat para sufi. Mereka itu, kata beliau, “ibarat orang-orang yang tertimpa bencana.”

Fokus atau konsentrasi kepada Allah Ta’ala, tidak kepada apa pun yang lain, adalah cara yang paling efektif untuk bebas dari gerusan-gerusan bencana itu. Sebaliknya, bencana-bencana lambat laun akan berubah menjadi kenikmatan-kenikmatan yang tidak terperi. Akan menjadi kebahagiaan yang tidak kepalang.

Semakin kita konsentrasi kepada hadiratNya sampai kita tidak melupakan Dia dalam waktu dua puluh empat jam, kita semakin senang, senang sekali, tidak bisa dibandingkan dengan apa pun. Sekarang aku paham kenapa para wali sedemikian fokus kepada Allah, tidak kepada segala sesuatu yang lain. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Comments

  1. Tio Reply

    sangat menginspirasi

  2. malyandi Aditya Reply

    sangat bagus

  3. Firly adinata Reply

    Ceritanya cukup menarik dan sangat bagus

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!