Puisi Iyut Fitra

 

jembatan batang tumpuan

 

hatilah yang menaut pertemuan

dua simpang, dua arah. bergelut jadi rindu

seberapa retak musim. simpang setia tak berubah

sejauh-jauh waktu. arah selalu menggamit tak berbalik

di jembatan

segala akan berpagut

menyerahkan luka. atau bertimbang tawa

 

bila jembatan putus hati akan tergerus

jembatan berlubang kesetiaan jadi bimbang

maka rajut dan timbunlah

sebelum kekasih-kekasih pergi

meninggalkan liang. kecamuk duka paling dalam

atau perpisahan

 

jangan biarkan simpang berbunga cabang. atau arah

berbalik langkah

jembatan adalah pintu. adalah hati

bila terputus kasih tak akan sampai

 

maek, 2024

 

 

 

marajok

 

di tebing simun. orang sebut kelok manggis

sebelum ke jantung maek

berhentilah beberapa hela napas

sandarkan letih. segala yang baik ungguk dalam niat

karena orang lama akan menyambut dengan gembira

tapi bila ria

dusun lindap sebelum malam

lingkar gaib. tanah-tanah bergunduk asing

 

patahlah ranting. cucukkan di tebing

tak perlu mantra. luruskan saja niat

berjalan bersama cahaya. tujuan tak akan lupa

di lengkung kuali

lembah yang ramah

orang lama telah menunggu dengan seribu senyum

menuntun dengan segala santun

 

di simun. di kelok manggis

patahkan ranting. cucukkan ke tebing

jika tak ingin tersesat dan berputar-putar di tempat

karena orang lama

tak menerima yang salah niat

 

maek, 2024

 

 

jalan ke maek

 

seperti yang kau cemaskan

maek bukanlah jalan berlubang. buruk

penuh hantu

di kanan tebing menjunjung tinggi. di kiri jurang

melekuk dalam

tapi bukit-bukit. seribu batu

akan berkisah tentang orang dulu

 

seperti yang kau bayangkan

maek bukanlah jalan yang tak bisa ditempuh

setiap pekan penggalas melapak di pasar ronah

truk, pick up, dan baris gerendongan

tak pernah lupa hari kamis

kendati langit bersabung

atau gerimis

 

bagimu maek adalah jalan berhantu

bagi kami maek adalah degup-degup rindu

 

tak perlu cemaskan

tak perlu bayangkan

banyak jalan lain yang penuh lubang

 

maek, 2024

 

 

 

 

 

bukit posuak dan bukit pao ruso

 

“selebar apa liang pesuk itu, datuk?”

muda-mudi berjuntai di tepian

menatap burung-burung pulang ke sarang

 

“seluas kata-kata bijak

pantun

dan petitih

tak berpandai-pandai, tajam akan berbalik ke pangkal

lubang bukit posuak adalah cermin

wajah kehidupan

menata korong dan nagari

di liangnya kita melihat diri. dan matahari.”

 

“sebesar apa paha rusa itu, bundo?”

kanak-kanak menunggu dekat pintu

di bawah anak tangga

 

“selingkup lembah tak berbatas

tanah tanpa tanda

karena yang di hulu pasti ke hilir

maka bersama menjadi tumpak seiya. angguk sekata

besar bukit pao ruso lebih dari selingkar

hidup bersama

di tapaknya kita berpijak. merangkul segala tampak

alam adalah ilmu.”

 

“setuah apa?”

“sekeramat apa?”

“selampau apa…?”

 

tanya demi tanya berbaris panjang

tapi di maek

malam telah turun

 

maek, 2024

Iyut Fitra
Latest posts by Iyut Fitra (see all)

Comments

  1. Ibnu Reply

    Ayahku tumbuh di halaman belakang

  2. fahri Reply

    🙏🙏

  3. ginayah Reply

    sungguh memiliki makna yang mendalam

  4. Tio Reply

    memiliki arti yang sangat kental

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!