
Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair memberikan rumah kecil kepada Syaikh Abu al-‘Abbas al-Amili untuk ditempati. Rumah itu diterima oleh beliau. Pada suatu malam, beliau keluar dari tempat munajatnya kepada Allah Ta’ala. Beliau telah melakukan fasdu. Bajunya penuh dengan darah.
Syaikh Abu Sa’id berdiri di dekatnya. Beliau mencopot bajunya sendiri. Dipakaikannya baju itu kepada orang yang sangat dihormatinya, Syaikh Abu al-‘Abbas al-Amili. Baju beliau yang semula penuh dengan darah dicuci oleh Syaikh Abu Sa’id, dijemur di atas sebuah bukit.
Setelah kering, Syaikh Abu Sa’id melipatnya dan memberikan baju itu kepada orang yang dihormati. Tapi Syaikh Abu al-‘Abbas al-Amili mengisyaratkan kepada Syaikh Abu Sa’id untuk memakai baju yang baru selesai dijemur itu. Beliau memakainya dengan penuh takzhim dan senang hati.
Beliau mengharap sekali keberkahan hadiratNya melalui baju yang dipakainya. Beliau lantas pulang ke rumahnya dengan penuh senang hati, dengan penuh pengharapan dan keyakinan kepada Allah Ta’ala untuk mendapatkan berkah melalui baju itu. Baju yang pernah dipakai oleh orang yang dia hormati.
Ketika datang waktu pagi, jama’ah beliau pada datang. Mereka melihat bahwa baju Syaikh Abu al-‘Abbas al-Amili dipakai oleh Syaikh Abu Sa’id, sementara baju beliau dipakai oleh Syaikh Abu al-‘Abbas al-Amili. Mereka betul-betul takjub dengan tukar-tukaran baju di antara keduanya itu.
Artinya apa? Syaikh Abu al-‘Abbas al-Amili betul-betul rida terhadap Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair. Demikian pula dengan Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair. Beliau betul-betul menerima berkah dari Allah Ta’ala melalui Syaikh Abu al-‘Abbas al-Amili. Berkah yang sangat besar maknanya bagi Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair.
Menurut Syaikh Abu Sa’id, pada suatu hari pernah datang kepada Syaikh Abu al-‘Abbas al-Amili dua orang laki-laki. Keduanya duduk. Lalu keduanya teringat sesuatu. Salah satunya bilang: “Duka derita di zaman azal dan di zaman keabadian mencapai sempurna.” Orang yang kedua menanggapi:
“Menurutku, kebahagiaan dan kegembiraan sama-sama sempurna, baik di zaman azal maupun di zaman keabadian.” Mendengarkan kedua pernyataan yang bersebrangan itu, Syaikh Abu al-‘Abbas al-Amili hanya mengusap mukanya dengan tangan kanannya dan mengatakan:
“Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan anak-anak al-Qashshab tidak menderita sekaligus tidak berbahagia. Sebagaimana di hadapan Tuhanmu, tidak ada pagi dan tidak ada sore. Menderita dan berbahagia adalah sifat kalian yang baru. Dan sifat kalian, sebagaimana kalian, adalah baru juga.”
Dan tidak ada jalan bagi segala yang baru untuk menuju keabadian. Untuk sampai kepada yang abadi itu, kita harus meninggalkan segala yang baru. Kalau tidak demikian, tidak mungkin bisa, sama sekali, sungguh. Wallahu a’lamu bish-shawab.
- Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku #2 - 17 April 2026
- Syaikh Abu ‘Abdillah al-Baku - 10 April 2026
- Syaikh Abu Zur’ah al-Ar-Dubili - 3 April 2026

