Syaikh Abu Sa’id bin Abi Al-Khair #12

Orang yang berpakaian dengan bertambal itu mengucap salam kepada Syaikh Dad. Setelah mengucap salam, beliau berkata: “Wahai Syaikh, aku ingin untuk istirah di sisimu. Karena aku telah memutari seluruh alam dan aku tidak melihat seorang pun yang memutus keterhubungan dengan segala sesuatu.

Sungguh, aku juga tidak istirahat.” Beliau memberikan jawaban begini: “Kenapa engkau tidak memutus keterhubungan itu dari dirimu sendiri hingga engkau bisa istirahat dan mereka juga bisa istirahat dari dirimu?” Ungkapan ini, ungkapan Syaikh Dad, sungguh sangat sempurna.

Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair mengatakan bahwa asal-usul ungkapan itu, ungkapan Syaikh Dad, adalah sabda Nabi Muhammad Saw. Beliau bersabda: “Ya Allah, tolong jangan serahkan aku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata atau lebih sedikit dari itu.

Allah Ta’ala kita letakkan sepenuhnya sebagai subyek, sebagai pelaku keseluruhan dari nasib diri kita, sedangkan kita sepenuhnya hanya sebagai obyek, sebagai pelengkap penderita. Kalau sepenuhnya kita tidak menantang Kepada hadiratNya, kita pasti dianugerahi berbagai kelebihan.

Benar sekali Kitab al-Hikam karya Syaikh Tajuddin ibn ‘Athaillah as-Sakandari yang menyatakan bahwa tanda orang itu pintar adalah ketika di waktu pagi dia bertanya: takdir Allah Ta’ala apa yang akan terjadi pada diri saya sepanjang hari ini? Sebaliknya, tanda bahwa orang itu bodoh adalah mengajukan pertanyaan seperti ini: apa yang bisa kulakukan pada hari ini?

Pada suatu hari, Syaikh Abu Sa’id bin Abi al-Khair berada di Marw, Turkmenistan. Beliau berziarah kepada seorang wali, orang yang dekat dengan hadiratNya. Beliau berkata: “Wahai Syaikh, sesungguhnya Allah Ta’ala itu tidak pernah meninggalkan makhluk-makhlukNya, sama sekali.”

Ya, memang Allah Ta’ala tidak pernah meninggalkan makhluk-makhlukNya sama sekali. Hanya makhluk-makhluk itu yang tidak menyaksikan Allah, sementara Allah dapat dipastikan menyaksikan makhluk-makhluk itu. Karena Allah dapat menutupi diriNya dengan sesuatu yang tidak ada. Tak sanggup kita melakukannya.

“Makhluk-makhluk itu ingin memberikan setenggak air kepadaku, tapi Allah Ta’ala tidak menghendaki, tetap mereka tidak akan sanggup, selamanya. Aku juga ingin sekali mereka mengucap salam kepadaku, tapi hadiratNya tidak menghendaki, mereka juga tidak akan pernah mengucap salam kepadaku,” kata si Wali itu tidak bisa dibantah.

“Makhluk-makhluk itu ingin hadir bersama Allah Ta’ala walau sesaat,” tetap saja mereka bergantung kepada kehendak hadiratNya. “Sementara aku ingin bersandar kepada diriku sendiri sehingga aku tahu siapa sesungguhnya diriku. Di ujung pengetahuan diriku tentang diriku, aku menjadi tahu siapa sesungguhnya Engkau,” tandas si Wali itu lagi.

Di akhir umurnya, api cinta dan kerinduan itu bertambah lagi dalam diri si Wali itu, terus bertambah, terus bertambah, akhirnya si Wali itu mati dalam keadaan terbakar oleh cinta dan kerinduan kepada Allah Ta’ala, Tuhan seluruh alam raya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!