Syaikh Maudud al-Jasyti #2

Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami mengatakan bahwa yang dimaksud dengan wilayah dari desa-desa itu adalah sebagaimana yang diketahui oleh diriku dan oleh para wali Allah Ta’ala. Besok, insyaAllah, akan aku perlihatkan pada kalian, apa itu wilayah sesungguhnya.

Setelah mengatakan hal tersebut, maka begitu nyata mendung yang sangat tebal, hujan yang begitu deras, siang dan malam. Hujan itu terus turun, gak berhenti sama sekali. Keesokan harinya dari hujan yang sangat deras itu, Syaikh memerintahkan kuda dan bighal dikasih lampu untuk bepergian.

Mereka kemudian bilang kepada Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami itu bahwa jika besok tidak hujan, tiga hari ke depan tidak mungkin bisa bepergian. Seorang marinir tidak mungkin berjumpa dengan tanah yang senantiasa becek. Beliau kemudian bilang bahwa hal adalah perkara yang gampang.

“Aku adalah seorang marinir,” kata Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami. Beliau kemudian berjalan. Setelah beliau memasuki padang sahara, beliau melihat orang-orang berdiri dengan seorang marinir. Beliau bertanya kepada mereka: “Siapa kalian?” Mereka menjawab:

“Semua kami adalah pecinta-pencintamu, semua kami adalah kakesih-kekasihmu,” kata mereka menjawab pertanyaan itu. “Kami mendengar bahwa suatu jama’ah akan menghadap kepadamu dengan sebuah permusuhan.” Beliau berkata kepada mereka:

“Cegahlah mereka itu. Karena sesungguhnya padang dan anak panah seringkali dipakai oleh sultan di negeri Sanjar. Sementara senjata selain mereka adalah selain itu.” Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami bersama sahabat-sahabatnya keluar sebentar.

Ketika sampai pada air yang sangat besar, beliau berkata kepada sahabat-sahabatnya: “Hari ini aku adalah marinir kalian.” Beliau kemudian memulai dengan makrifat-makrifat kepada Allah Ta’ala, dzauq atau rasa rohani bergemuruh di hati-hati para pecinta Ilahi, hingga mereka bingung dan linglung.

Syaikh Ahmad an-Namiqi al-Jami lalu mengatakan lagi: “Tutuplah mata kalian dan katakanlah: Bismillahirrahmanirrahim.” Beliau mengulangi kalimat itu sampai tiga kali. Barangsiapa membuka mata, maka seketika akan basah kakinya pada saat itu juga.

Dan siapa yang tidak membuka mata sama sekali, ia akan mendapatkan dirinya ada di pinggir pantai. Sementara kedua kakinya kering, betul-betul kering sama sekali. Sungguh merupakan pemandangan yang sangat luar biasa, bagaimana kaki-kaki kering dan basah.

Ketika para utusan itu telah menyaksikan karamah ini, mereka bersegera menghubungi Syaikh Maudud. Dan mereka memberitahukan kepada Syaikh Maudud tentang kejadian itu, dan Syaikh Maudud sama sekali tidak membenarkan hal tersebut. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!