
Puisi Andria Septy
Denyut XI
apa sekiranya kau inginkan dari
satu kota yang baru berdenyut ini?
gelora berwujud mentimun segar itu
bagai air sumur yang pantang ditutup
timbunan tanah dan darah
lantas, matahari timur yang kenyang
membakar dedaunan kering
jika sihir rekam riwayat mata sembabnya
terlahir sang ayam jantan dari timur
pada amukan kota yang berusia kanak saja
Sempaja Selatan, 2026
Denyut XII
tambahkan perian bumbu dua belas
untuk ikan berdaun pisang,
segera tertawan api yang menjilat kayu bakar
dibalik hujan yang berakar
dijantur dedaunan kelor
dan bidara berbisik mesra di telinga
di mana dua pasang mata bertaut
dari denyut nadi ke jantung,
sesumbar sumber kasih
dan segantang lada
di keranjangnya
Sempaja Selatan, 2026
Mononim Romanza
kapal yang baru berlabuh itu
katanya telah bijakpisahkan
keakuanku dan kau
setelah
kau dan aku tumbuh sekitar
kebun jambu monyet, berpagar
manggis dan kayu manis yang
mana ketika gerimis
petrikor menguar
bersamanya
ke ujung
setapak liku di atas bukit
kau pandangi pelabuhan sekecil semut
penanda duka selamanya
pada saputangan cinderamata
pemulas sisa tangis dan rindu sampai palangkaraya
Sempaja Selatan, 2023
Mononim Terasing
ke mana irisan yang hilang
dari hutan meranti kampung
halamanmu?
kamu ingat memori berteduh
di bawahnya, setelah panen getah
yang memberimu makan dan pendidikan
hingga setinggi meranti di kebun
belakang dan pekarangan
yang mencakar langit
potongan lain datang di antara percikan
hulu sungai tempatmu pulang
dari pengasingan yang sesak sekaligus asing
kamu rindu kicauan celepuk reban
Sempaja Selatan, 2023-2026
- Puisi Andria Septy - 14 July 2026
- Matsurica: Sajak-Sajak Andria Septy - 8 February 2022
