Yahya asy-Syaibani #2

Di dalam kitab “Tarikh al-Imam al-Yafi’ie” di sebutkan bahwa pada tahun empat ratus dua puluh dua Hijriah al-Imam Yahya bin ‘Ammar asy-Syaibani as-Sijistani, orang yang senantiasa memberikan peringatan, tamu kebanggaan Hirat, telah berpulang ke rahmatullah. Semoga kebaikannya diterima dan dosanya diampuni. Amin.

Syaikh al-Islam mengatakan bahwa pandangan syaikh-syaikh yang besar terhadap tokoh yang sangat diagungkan dalam perkara tasawuf, murni berkaitan dengan Syaikh Yahya bin ‘Ammar asy-Syaibani. Dalam perkataan mereka: “Pertamanya martabat yang berkaitan dengan mereka adalah Syaikh Yahya itu.”

Beliau juga mengatakan bahwa berjumpa dengan Syaikh itu, dengan gurunya itu, jelas merupakan ghanimah, merupakan temuan terhadap rampasan perang yang tidak akan ditemukan oleh siapa saja di mana pun. Sebuah kegembiraan yang sangat jelas keberuntungannya.

Apabila mereka tidak menemukan syaikhnya, tidak menemukan gurunya, maka sama sekali itu berarti tidak bisa digapai kecuali hal itu hanya sedikit. Betapa penting untuk berjumpa dengan gurunya itu. Sungguh, hal tersebut menjadi sangat penting. Bahkan bisa dikatakan lebih penting ketimbang apa pun.

Beliau juga mengatakan bahwa guru beliau dalam perkara hadits sangat banyak, dalam perkara ilmu pengetahuan sangat banyak, dalam perkara syari’at sangat banyak, tapi syaikh beliau dalam perkara tasawuf dan hakikat hanya Syaikh Abu al-Hasan al-Khirqani. Sungguh mengagumkan.

Syaikh Yahya bin ‘Ammar asy-Syaibani berkata: “Andaikan aku tidak melihat Syaikh Abu al-Hasan al-Khirqani, sungguh tidak akan mengenal Allah Ta’ala.” Kenapa demikian? Karena di waktu itu, hakikat dan nafsu itu masih betul-betul menyatu. Memang berbeda di antara keduanya, tapi masih samar-samar.

Syaikh Yahya bin ‘Ammar asy-Syaibani mengatakan bahwa guruku adalah orang yang telah mengajariku kalimat yang cukup berarti. Kalimat itu adalah: “Barangsiapa makan, minum dan tidur adalah sebagai perkara yang lain. Setelah itu, kalau ada perkara yang lain, pasti aku telah mengetahuinya.”

Beliau mengatakan bahwa beliau telah bernadar kuat untuk melaksanakan ibadah haji. Beliau telah sampai ke daerah Ray. Sementara pada saat itu tidak ada dari kafilah yang betul-betul mengerti jalan. Kemudian beliau memutuskan untuk pulang. “Bersahabat dengan Syaikh Abu al-Hasan al-Khirqani saja”, kata beliau.

Setelah Syaikh Abu al-Hasan al-Khirqani melihat Syaikh Yahya bin ‘Ammar asy-Syaibani, beliau mengatakan: “Masuklah wahai orang yang dirindukan. Engkau datang dari laut, dari laut, dari laut. Tidak ada yang mengenalmu selain Allah Ta’ala. Dan tidak ada beliau. Yang ada hanyalah Allah Ta’ala.”

Termasuk yang dikatakan beliau, murni dari alam ghaib, bukan dari lisan beliau, sama sekali bukan. Tapi beliau dipandu oleh Allah Ta’ala. Itulah keterbebasan beliau dari segala sesuatu. Sebuah karunia agung dari Allah Ta’ala yang hanya diberikan oleh hadiratNya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!