Puisi Y. Thendra BP

 

Lembah Parau

 

kita sama-sama terperangkap dalam gerimis:

aku, kau, dan lembah.

 

aku lihat daun pakis hutan

hijau dan agak basah

di musim berasak soklat.

 

sementara matamu menebarkan pandangnya,

barangkali mencari sisik biru

di langit kelabu.

 

atau menakar legenda parau lembah,

ibu yang mencari mainan anaknya

di kedalaman cahaya bawah laut,

terjepit waktu menjelma jadi batu–

 

masih bermaknakah sari banilai itu

di antara kampung eropa dan vila tumbuh

seperti gulma di sawah?

 

tangkaplah apa yang ingin kau tangkap

dengan jaring cahaya

atau pikiran yang menggenggam

dan melepaskan.

 

dinding batu pasir yang merah,

tiket pariwisata dan botol aqua,

gerimis dan lembah.

 

kita hidup di balik kata.

 

Kota Tua Padang

 

batang arau, batang arau…

di tubuhmu kulit semangka & perahu nelayan mengigau

 

angin muara

menjaring kota tua

 

bau rempah masa lampau

ujung hijab gadis tak dikenal

menggelepar bersama

derai-derai senja

 

apalagi yang dicari di sini?

 

kadang dari balik malam

cahaya musim hujan di lampu jalan

hantu pauh & koto tangah

muncul dengan api di tangan

 

tapi tak ada yang bisa dibakar lagi

loji bersalin rupa jadi gerai kopi

 

kemenangan dihamburkan sekali

kekalahan datang bertubi-tubi

 

asap knalpot

pecahan botol

 

kota yang terbuat dari sperma belanda

luka di kepala kawula

 

seperti terompah tercecer sebelah

 

 

Kami Cintai Tanah Ini Setulus Kematian

 

di dalam tanah ini

tersimpan tulang sulbi

leluhur kami

juga ari-ari

 

disusun ranji

ditumpuk memori

jadi tangga-tangga

ke langit mata

kadang biru

kadang kelabu

 

di atas tanah ini

kami tata

rumah-rumah

pintu-pintu

mengantarkan keberangkatan

menunggu kepulangan

jalan sepanjang kasih ibu

 

kami tanam biji-bijian

dengan retak garis tangan

dirawat air

diberkahi angin

hari menjadi

 

kami ikatkan kata

hati ke hati

sehilir semudik

beranak-pinak

jadi puak

 

jauh sebelum

negara ini

menundukkan kami

di bawah sehelai bendera

 

lantas

tuan negara tuding

kami hanya

orang-orang asing

di tanah yang kami cintai

setulus kematian?

 

proyek strategis macam apa

mengusir

orang-orang dari tanah lahir!

 

 

Dewa dalam Bunga

 

bunga dalam rimba

dewa dalam bunga

 

bunga hilang dari rimba

dewa pergi dari bunga

 

kayu di hulu ditebang

buah jatuh burung terbang

orang terang bawa uang

jiwanya busuk matanya girang

 

seloka tak lagi berburu meramu

dikasih KTP tersesat di kertas pemilu

Y. Thendra BP
Latest posts by Y. Thendra BP (see all)

Comments

  1. dilly Reply

    pemilihan kalimat dan kata sangat indah sekali

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!