Puisi-Puisi Y. Thendra BP

 

Aku Mengingatmu

sekali lagi, aku mengingatmu

dan tak ada yang tahu

di malam naik, di suara hujan akan berhenti

seperti baru dimulai.

kau adalah genggaman terlepas, hilang ditelan

pengkolan.

kadang aku merasa melihatmu,

seperti pesan pendek tak dibalas,

dalam dingin oktober.

kau adalah sebuah buku belum selesai dibaca

jatuh bersama senja.

aku mengingatmu tanpa tahu mengapa,

kau muncul begitu saja

         dari memori yang menumpuk.

 

 

Bungus Teluk Kabung

katakan sesuatu pada kapal melabuh sauh,

senja, dan ombak teluk yang pecah.

derai-derai cemara menanggung rinai,

jejak sepasang remaja kepayang di pasir pantai landai,

dan sendok pop mie tergeletak sendirian

terbuang dari lambung pakansi kesepian.

katakan sesuatu…

antara beranjak dan bertahan,

angin menyalin perbukitan ke dalam malam.

 

 

Bunga Senggani

bunga senggani tak berdusta

agar terlihat indah

bila tiba masanya

ia jadi buah

aku jumpa lagi

bunga senggani

mekar liar

di rimbo larangan paru

di bawah langit kelabu

selepas dua enggang terbang

meniti jalur tualang

malainya ungu

seperti buahnya

di lidah kanak-kanakku, dulu

angin menyentuh

ia menari

tanpa kepura-puraan yang indah

aku terpana

ia seakan berkata:

“jangan lupakan aku,

jangan biarkan aku

membusuk dalam nama latin itu.”

 

 

Catatan dari Kampung

buat Indrian Koto

hidup masih bermakna

walau menanam sebatang ruku-ruku

di halaman

melepaskan hijau

kepada daun

atau biru

kepada langit

dalam kalbu

orang-orang berpacu

mendongakkan kepala

mendamik dada

aku belajar menunduk

mengukur bayang-bayang

di tanah

 

 

Muara Padang

aku menghabiskan yang telah habis

di muara, pelabuhan tua

sore berangin

dan sebentar lagi

malam berlayar

bersama kulit semangka

Latest posts by Y. Thendra BP (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.