Puisi-Puisi Y. Thendra BP: Kepada A

Michele Caballero Siamitras Kassube

Bulir-Bulir Padi

Puisi Y. Thendra BP

 

dari pondok sawah, dia menghalau burung

dan kemudian melihat bulir-bulir padi bergoyang.

 

bisa jadi—aku tidak banyak tahu—

dia menghalau burung antara bulir-bulir padi bergoyang.

 

 

Batu Caves, Naik Turun

Puisi Y. Thendra BP

 

malam turun

aku naik

tangga

menuju goa

bukit kapur

dewa paras muda

merak dan tombak

keringat nadu

jatuh

melingkari api suci

empat kali

malam naik

aku turun

tangga

parking area

dewa paras muda

merak dan tombak

pelancong tertawa

foto bersama

 

Selangor, 2013

 

 

 

Perca Kota

Puisi Y. Thendra BP

 

malam november, angin berbau hujan,

cahaya lampu jalan dingin

tapi sepatuku menyimpan bau matahari.

 

di tanganku, puisi adalah retak garis nasib,

kulit belajar keriput,

alur darah patut jantung.

 

di kotamu:

googlemap belum mampu melacak rindu.

 

aroma kawa dan kata-kata,

buku puisi, korek api yang rusak,

obrolan tan malaka dalam diskon 75%

 

cinta telah disimpan di world bank.

 

kita kehilangan lagi, senja perlintasan awan

di atas bukit ngalau. kehilangan lagi

meski lampu jalan jauh lebih terang dari sepuluh tahun yang lalu.

 

tapi aku, aku telah memesan sayap dari kardus mie sedap,

terbang melewati kabel listrik,

dan turun kembali ke tanah rawamu yang semakin lapar.

 

 Payakumbuh, 2018

 

 

 

Kepada A

Puisi Y. Thendra BP

 

lihatlah hujan itu

kadang suaranya begitu dalam

bagai sepasang tangan bergenggaman

untuk melepaskan

 

lihatlah hari yang basah

cahaya yang redup

dan sebuah mantel menyimpan bau langit

berlubang

 

 

 

Desember, Jogja

 

Puisi Y. Thendra BP

 

buku, gagasan asing,

berbagi marah dan senyum,

dan panggilan seluler.

 

malam dimulai seakan tak ingin berakhir.

hening sesaat

lalu berisik lampu pada mata dan jalan

dan manfaat baru

hotel, coffee shop, barber shop.

 

di bawah angin naik dingin

kali code masih mengalir, mengalir pelan

seperti langkah abdi dalem sepuh,

alunan gending gaib

melewati tidur berjalan sejarah.

 

pelancong hanya tertawa,

bakpia dan foto bersama

kebahagiaan batin medsos mereka.

 

barangkali matahari esok masih mengarahkan pandangannya

pada kuku tangan,

memberi rasa hangat pasir selatan.

 

barangkali matahari esok masih membuka mata yang lelah.

 

2017

 

 

 

Dalam Demam

Puisi Y. Thendra BP

 

angin perbukitan berloncatan masuk

lewat jendela separuh terbuka

seperti kanak-kanak

takut pada keras kata-kata

Y. Thendra BP

Buku puisinya Manusia Utama (IBC, 2011) dan Botol Kosong (JBS, 2017).

Latest posts by Y. Thendra BP (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.