Profesor Sastra

Diam-diam kami menyebutnya tua bangka. Atau jika amarah kami sedang memerah, kami menyebutnya bandot tua. Di lain kesempatan, kami menyebutnya bau tanah. Namun, ketika ia nongol di hadapan kami, maka sebutan profesor kami pilih demi menjaga martabatnya.

 Meskipun sudah tua dan keriput, si bau tanah ini masih doyan berkelebat di sejumlah tongkrongan kaum seniman, penulis, sastrawan, dan intelektual lainnya. Ia masih ingin dianggap sebagai bagian dari mereka. Pun kelas menulis bikinannya selalu ramai dijubeli peserta. Tentu saja peserta dari kalangan anak didiknya yang terpaksa ikut demi mendapatkan nilai bagus.

Memang, ia pernah dan sudah menerbitkan beberapa buku sastra, utamanya esai. Namun, ya gitu deh! Isinya hanya racauan tak jelas. Soal kualitas, kami sepakat menyebutnya tulisan sampah. Hanya karena usianya sudah di ambang maut, kami harus susah payah dan terpaksa hormat dan bersopan santun di hadapannya. Kasihan! Setidaknya, begitulah cara kami, kaum muda, memberi penghormatan kepada orang yang sebentar lagi disowani maut.

Setiap ada acara diskusi sastra, pembacaan puisi, teater, dan pagelaran seni lainnya, ia selalu hadir. Menyapa kami dan sok akrab. Ia gila jabatan. Ia ingin dikenang sebagai manusia yang memiliki jabatan tertinggi di gelanggang sastra Indonesia.

“Pak, mending Anda istirahat di rumah. Bercengkrama dengan keluarga, bersama anak dan cucu,” kataku kepadanya saat bertemu di galeri dinas kesenian kota.

“Bisa nggak kamu memanggilku ‘Profesor’?” timpalnya.

“Oh, siap, Prof!”

“Nah, begitu.”

“Udara malam nggak baik buat Anda. Ingat umur, Prof,” kawanku ikut berpendapat.

“Ah, tahu apa kau soal umur,” bandot tua naik pitam dengan senyum kebapakan.

“Heh!” kataku mendelik ke arah kawanku.

“Aku Profesor Sastra, sudah sepantasnya aku hadir di acara beginian.”

Lihatlah betapa menjengkelkannya si Profesor Sastra ini. Ia tak ingin tenggelam, tak ingin dilupakan dalam gelanggang sastra. Di usia tujuh puluhan, ia bahkan masih berahi menjadi pengurus divisi sastra pemerintah provinsi. Ia ingin dianggap sebagai sosok berpengaruh dalam dunia sastra.

Di antara tabiatnya yang bikin kami muak adalah ritual sok akrabnya. Ketika kota kami kedatangan sastrawan kondang dari ibu kota misalnya, ia pasti menjadi yang terdepan untuk berjabat tangan, sembari menyemburkan kalimat-kalimat sapaan yang seolah-olah ia sudah akrab dengan si sastrawan kondang.

“Wah sudah lama kita nggak ketemu, ya,” sapa Profesor Sastra—sok akrab banget, kan!

Si sastrawan yang disapa cuma bisa cengar-cengir, membatin dalam hati; hah memangnya Anda siapa? Memangnya kita pernah bertemu sebelumnya? Di mana? Ah, tai, sok akrab! Kira-kira begitu batin si sastrawan. Tapi demi menghormati bandot tua, si sastrawan menyemburkan pengakuan kibul; “Iya, lama banget ya.”

Dalam jagat literasi, Profesor Sastra sudah menerbitkan serial bunga rampai esai sastra mutakhir. Tentunya penerbitan ini dibiayai sendiri. Mana ada penerbit yang mau menerbitkan bukunya. Tulisan sampah! Hanya racauan tidak jelas, sama seperti unggahan-unggahannya di media sosial. Tanda-tanda orang kesepian di hari tuanya. Kasihan banget!

Di setiap buku yang diterbitkannya melalui dana pribadi, sampul depannya selalu tergurat namanya dengan huruf ukuran jumbo. PROFESOR JAKA BONDET. Kemudian, tentu saja, ada cap best seller. Di sampul bagian belakang, tersemat fotonya dalam ukuran besar yang memerihkan mata, sambil tergores biodata pribadi dengan berderet prestasi menyundul angkasa. Begitulah panorama yang terlihat bila pembaca, sengaja atau tidak sengaja, memandang buku-bukunya yang sebenarnya tidak penting untuk tumbuh kembang sastra Indonesia.

“Asu!” kawanku mengumpat ketika gerah menggerayangi kota.

“Ada apa, Broer?” kawanku yang lain penasaran.

“Si bandot tua itu, Yang Terhormat Profesor Jaka Bondet, menyuruh mahasiswa-mahasiswi di kelasnya untuk membeli buku-bukunya sebagai penunjang mata kuliah teori sastra dan penulisan kreatif.”

“Ya, sekali-sekali beramal untuk orang yang sudah bau tanah ‘kan nggak ada salahnya, ya toh?” aku ikut nimbrung.

“Duh, Gusti, mimpi apa aku semalam?”

“Mimpi basah bareng Ameri Ichinose,” celoteh pemilik warkop, ikut nimbrung.

“Mampus! Duka lara menjadi mahasiswa diajar oleh dosen bau tanah.”

“Sabar!” desisku sambil mengulurkan rokok padanya. Ia raih, lalu membakarnya.

Di warkop yang letaknya di belakang kampus ini, Jaka Bondet adalah tema yang selalu basah dan tak ada habisnya untuk diulas. Gerombolan mahasiswa di tiap meja, bahkan sekawanan mahasiswi dengan dandanan mewah, selalu menjadikan Jaka Bondet sebagai objek rasan-rasan.

“Bosan deh. Materi kuliah dari Profesor Jaka Bondet bikin ngantuk,” ocehan sekawanan mahasiswi di ujung sana menyelinap ke telinga kami.

“Eh, lihat, lihat ini!” mahasiswi berkaus merah muda menunjukkan layar telepon pintarnya. “Lihat ini, Profesor Jaka Bondet bikin status galau di Facebook.”

“Ah, memangnya ada status-statusnya yang nggak galau? Maklumi ajalah, namanya juga orang tua yang kesepian,” mahasiswi berambut pendek menimpali, sambil bibirnya menjepit rokok mentol.

“Kelakuan bandot tua,” dua mahasiswi lainnya bersuara.

Kami yang bergerombol di meja lain, tertawa cekikikan kala mendengar obrolan sekawanan mahasiswi tersebut. Memang sudah keterlauan kelakuan si tua bangka itu. Bisa-bisanya di usia yang sudah purba, masih doyan menziarahi Facebook dengan unggahan-unggahan tidak penting, kekanak-kanakan, dan sok akrab dengan banyak orang; melakukan tag dan mention kepada tokoh-tokoh penting dalam gelanggang sastra Indonesia.

“Ya, biar dicap memiliki pergaulan luas dengan para sastrawan,” desisku kepada kawan-kawan setelah kami memeriksa status terbarunya di Facebook.

“Kampungan!” pekik kawanku.

“Norak!” yang lainnya kompak bersuara.

Tiba-tiba si bandot tua berkelebat di sekitaran warkop. Seperti yang kuduga, seperti yang sudah-sudah, ia akan ikut nimbrung pada obrolan yang terlihat. Kali ini, mula-mula, ia mendekati sekawanan mahasiswi.

“Sherly, nilaimu jelek. Kamu kurang membaca.”

“Iya, Pak.”

“Kok ‘Pak’? ‘Profesor’!”

“Baik, Pak Profesor.” Sherly, mahasiswi berkaus merah muda itu mendadak gagap.

“’Profesor’ saja, nggak usah pakai ‘Pak’, ya.”

“Iya, Prof.”

Selanjutnya, Profesor Sastra mendekat ke arah meja kami. Tiba-tiba langkahnya berbelok ke arah lemari es di sudut kantin, memungut sebotol minuman ringan bersoda. Seorang kawanku mengingatkan; “Ingat, jaga bacot kalian!”

Profesor Sastra mendekat ke arah kami sambil menggenggam botol dingin. Kacamata hitam di kepalanya berkilat-kilat disepuh sinar matahari.

“Nah, ini gerombolan mahasiswa bandel.”

“Siap, Prof, kami memang bandel.”

“Hei kau, sudah beli buku karanganku tentang teori sastra?”

“Sudah, Prof.”

“Mana?”

“Di kamar kos, Prof. Tertinggal.”

“Jangan lupa dibaca, biar otakmu agak encer. Biar pengetahuanmu tentang sastra bertambah luas.”

“Siap, Profesor Jaka Bondet.”

“Profesor saja sudah cukup. Nggak usah pakai nama lengkap. Terlalu panjangnya. Napasmu ‘kan pendek.”

“Siap, Prof.”

“Nah, begitu,” katanya, lalu menenggak minuman ringan sampai tandas, “Oh ya, semua kopi yang kalian pesan, dan minuman para mahasiswi itu,” ia menunjuk ke sekawanan mahasiswi, “aku yang bayar.”

“Terima kasih, Prof,” kataku.

Tanpa babibu lagi, Jaka Bondet ngacir ke sebuah arah. Raganya hilang di telan tembok-tembok kampus. Sikap hormat yang kami pikul, kini sudah ringan. Rasan-rasan kembali meledak-ledak.

“Kau ingat, acara diskusi sastra seminggu yang lalu?” kawanku melanjutkan obrolan yang sempat terhenti.

“Diskusi novel pemenang sayembara nasional itu?” jawab kawanku lainnya.

“Iya,” potongnya, “sebenarnya bandot tua itu bukan salah satu pembicara, tapi ia ngotot kepada panitia agar menjadi salah satu pembicara. Ya … sudah bisa ditebaklah, demi menghindari rasa tidak enak, akhirnya bandot tua jadi salah satu pembicara. ‘Kan si bandot tua termasuk donatur acara diskusi sastra itu.”

“Pemilik modal memang selalu berkuasa, termasuk dalam urusan sastra,” aku menggarami.

“Bacotmu seperti aktivis, Broer,” timpal seorang kawan, kemudian kami terbahak-bahak hingga sekawanan mahasiswi menebarkan pandang ke meja kami.

Memang tak habis pikir, kok sampai segitunya tabiat si tua bangka demi eksistensi dan mendapatkan pengakuan—agar namanya tetap dianggap oleh pusaran pergaulan sastra. Jijik!

Pikiranku melayang ke peristiwa satu bulan yang lalu, ketika sastrawan besar negeri ini meninggal dunia. Jaka Bondet mengunggah status di Facebook, berisi tulisan panjang, kira-kira semacam obituari. Di sana ia meracau tak jelas, berkelok-kelok, bertele-tele, berkisah tentang kedekatannya dengan sang mendiang sastrawan. Kedekatan? Cuih, kedekatan dari Pluto!

Tentu saja, unggahan itu disertai dengan foto yang menampilkan buku-buku sang mendiang sastrawan, biar keren gitu! Tak lupa, si tua bangka juga melakukan tag dan mention kepada tokoh-tokoh penting di jagat sastra Indonesia. Kolom komentar ramai oleh balasan bernada basa-basi. Ada satu komentar yang membuat kami terpingkal-pingkal, yang ditulis oleh akun anonim: “Pansos tidak hanya terjadi di kalangan artis dan selebgram, ternyata sastrawan yang sudah meninggal juga dijadikan bahan pansos oleh manusia tengik yang bermimpi menjadi sastrawan.”

Secepat kilat, komentar itu sudah hilang—dihapus oleh Jaka Bondet. Tapi untung, ada kawan-kawan yang berhasil mengabadikannya dalam bentuk tangkapan layar. Dan sudah bisa ditebak, tangkapan layar itu viral di banyak grup percakapan WhatsApp. Bahkan ada seseorang yang mengunggahnya kembali di Facebook, Instagram, dan Twitter. Bahkan dibuat video meme di TikTok.

Bagaimana perasaan Profesor Jaka Bondet? Ah, itu bukan urusanku, kami, dan siapa pun.

Dalam jagat dunia maya, sepak terjang Jaka Bondet memang menggila. Semua orang, yang menurutnya penting, disapa; entah itu dalam tindakan like atau nimbrung di kolom komentar. Apalagi jika ada penulis yang mengunggah foto kliping koran yang memuat karya sastra, sudah dipastikan nama Jaka Bondet ada dalam kolom komentar. Biasanya, ia selalu menulis komentar; “selamat ya, terus berkarya”, “cerpennya bagus, saya suka”, “puisinya sangat imajinatif, lanjutkan”, dan lain-lain, dan sebagainya.

“Broer!!!” pekik kawanku membangunkanku dari lamunan. “Sudah sore. Pulang yuk!”

“Kopinya? Sudah dibayar?”

“Lha, ‘kan tadi sudah dibereskan oleh bandot tua.”

“Ah iya, aku lupa. Yuk!”

Surabaya, Oktober 2021

Eko Darmoko
Latest posts by Eko Darmoko (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.