
Tiga bulan lalu itu, Landa baru saja berumur 28.
Waktu itu aku di kota J, baru saja mengirimkan hasil takarir untuk sebuah acara televisidan bersiap tidur setelah bekerja semalaman. Sebagai penerjemah lepas, jam kerjaku tidak tentu, tergantung job dan permintaan dari klien. Lalu ponselku berbunyi. Dari Bibi Dami, di pagi buta. Sebuah anomali. Perasaanku langsung tidak enak.
“Lan-da ….” Kudengar suara Bibi Dami terbata. Sesaat Bibi Dami tidak bisa melanjutkankata-katanya. Landa sakit serius, dilarikan ke rumah sakit. Aku segera membuat tebakan di kepala. Sebagaimana aku mulai terbiasa melakukannya tiap kali menerima telepon dari Bibi Dami—aku berpikir pasti sesuatu terjadi, pasti itu kabar buruk, pasti ada masalah lagi, pastigawat sekali. Dan Bibi Dami bilang, “Landa meninggal.”—melampaui apa yang kupikirkan. Sampai hari ini, aku merasa telepon dari Bibi Dami di pagi buta itu seolah hanya bagian darirangkaian mimpi buruk yang sering mengganggu tidur singkatku, yang harusnya setelah akuterjaga segala sesuatu kembali normal. Namun, kebenarannya, Landa memilih mati di hari itu. Landa meninggalkanku. Tanpa surat, pesan, atau apa pun yang dapat membantuku memahamikeputusan mengerikan itu.
Bagi sebagian orang, waktu mungkin dapat menjarakkannya dari duka, dari rasa sesak di dada, sedangkan aku masih merasa hidup tepat di hari itu, ketika aku harus pulang, menemukanLanda yang memutih, dingin, bergeming, lalu sekali lagi duniaku runtuh. Aku tidak tahu caranyakeluar. Bukan tidak mau, melainkan aku tidak tahu. Tidak peduli seberapa sering Bibi Dami bilang, “Ini bukan salahmu” dengan suara bergetar karena menahan sedih. Masalahnya akusudah tidak bisa tidak begini—hidup dalam penyesalan, terus-menerus berpikir kalau saja akubertahan di sana, kalau saja aku tidak melarikan diri ke Kota J, aku pasti bisa mencegahnya. Aku sudah menjadi begini sejak menerima telepon di pagi itu, tidak dapat kembali hidup menjadiversi diriku sebelumnya atau yang lainnya. Aku yang banyak mengalami mimpi buruk. Mimpianeh yang tidak satu pun kumengerti. Aku berada di bawah rimbunan pohon yang gelap, yang terdengar hanya kelepak sayap kupu-kupu raksasa. Atau aku berada di sebuah lubang dengansatu cahaya kecil jauh di atas kepalaku. Atau aku dikejar-kejar binatang purba yang membuatkukehabisan napas. Mimpi-mimpi itu seperti sebuah hukuman untukku, entah sampai kapanberakhir. Aku cuma punya satu cara untuk menghindarinya: tidak tidur, hingga berhari-hariyang, kata Bibi Dami, sama saja mencari mati.
Aku tidak tahu harus bagaimana.
“Segera makan, mumpung masih panas.” Bibi Dami menyodorkan semangkuk sup. “Habis ini cobalah untuk tidur.”
Pukul dua, aku masih terjaga, padahal tadi aku menghabiskan dua mangkuk sup hangatyang menurut Bibi Dami seharusnya bisa membuatku tidur nyenyak. Masalahnya bagaimana akubisa tidur bila aku terus memikirkan kemungkinan mimpi buruk mendatangiku?
Hujan sudah sepenuhnya berhenti dua jam lalu. Aku berpikir untuk keluar mencari udarasegar—aku sering berpikir begini, soal udara yang segar, soal dadaku yang terbuka lebar, soalaku yang bisa bernapas dengan lebih lega. Kehidupan malam di kota kecil ini tidak seramai kotabesar yang membuatku merasa aman pergi ke mana-mana pada jam berapa pun. Memang adasejumlah kafe yang masih buka dan sekelompok anak muda suka nongkrong untuk ngobrol ataubermain game bersama (aku pernah melihatnya saat harus ke minimarket tengah malam bersamaBibi Dami), tetapi aku tidak mau ke sana. Bukan tempat seperti itu yang kubutuhkan. Sebab, akutidak mau berbicara dengan siapa-siapa. Bahkan sekadar mendekat ke meja bar untuk memesansesuatu, lalu membayarnya. Aku ingin jalan kaki, sendirian, menghirup udara yang lembap, memandangi lampu-lampu, lalu berhenti di depan bekas galeri milik Landa untuk merasakanbagian dari dirinya yang masih tertinggal, membuatku bisa jadi akan menangis lama—namun, untuk sampai ke sana, aku harus melewati jalanan yang sepi dengan kejahatan mungkinmengintai di balik toko-toko yang sudah tutup atau pohon-pohon yang gelap (Bibi Dami seringmemperingatkan aku tentang ini). Lima tahun lalu, tetangga kami pernah hilang selama beberapahari, sampai potongan mayatnya ditemukan di tempat sampah. Kejadian itu dalam waktu panjangmenjadi pembicaraan warga dan digunakan untuk menakut-nakuti anak-anak kompleks yang suka keluyuran sampai malam. Sebenarnya aku tidak peduli jika itu terjadi padaku hari ini—dibunuh dan dipotong-potong sedemikian rupa. Apa masalahnya jika pada akhirnya aku juga mati? Namun, aku sudah berjanji pada Bibi Dami untuk hidup lebih lama darinya. Bibi Dami mengatakan hanya aku satu-satunya miliknya sekarang. Hanya aku alasannya untuk meneruskanhidup.
Akan tetapi, sebenarnya aku bahkan tidak tahu lagi apa itu kehidupan. Bibi Dami bilang, tidak apa-apa, kamu cukup bertahan, seperti semua orang melakukannya. Kalimat yang kadangterasa menghiburku. Seolah-olah apa yang kualami tidak lebih buruk dari yang mungkin terjadipada orang lain, dan mereka mampu melewatinya.
Kuputuskan untuk kembali ke lantai dua. Bukan ke balkon, melainkan ke kamar Landa. Jendela kamar ini tepat menghadap ke halaman. Bila aku menyingkap tirainya aku juga bisamelihat pohon janda merana yang belum dipangkas. Dulunya dua batang janda merana di sudutkanan dan kiri. Lalu yang bertahan hanya satu, milik Landa. Kami menerima pohon itu dari Bibi Dami. Sebagai hadiah. Untuk hidup yang harus berlanjut, ujar Bibi Dami. Sejak itu, untukpertama kali, aku mulai menandai waktu berdasarkan kehadiran pohon-pohon itu di halamanrumah kami. Ditanam, 20 Februari 2013. Sebulan kemudian, aku mendapat menstruasi di umur15 tahun. Bibi Dami menemukanku menangis di ujung tempat tidur dengan sprei bernoda darah, aku berkata, “Apa aku akan mati?” Bibi Dami membiarkanku tidak sekolah hari itu. Bulan keeempat, kami mendapat tetangga baru yang punya dua anak perempuan seusia kami. Bulan kesepuluh, aku memiliki seekor kucing yang kuberi nama Cuci. Nama yang begitu saja munculdi kepalaku saat melihatnya gemetar kedinginan dengan sekujur tubuh basah dan kotor di depanpintu (aku menduga dia jatuh di selokan, dengan sekuat tenaga merangkak keluar dari sana, mungkin juga jatuh berkali-kali). Di tahun pertama, aku bertengkar hebat dengan Landa untukpertama kali gara-gara Cuci, sebab saat itu aku tidak bisa lagi mengalah. Di tahun kedua, Bibi Dami hampir menikah dengan seorang duda anak satu. Mereka bertemu di minimarket milikkeluarga kami. Lelaki itu meminta kesediaan Bibi Dami untuk ikut dengannya jika satu hari diaditugaskan ke tempat lain. Bibi Dami tidak bisa meninggalkan kota ini; minimarket, Landa, aku. Mereka putus. Bibi Dami tidak pernah lagi mencoba berhubungan dengan lelaki mana pun. Di tahun keempat, aku meninggalkan Kota B karena ingin hidup bebas, melepaskan diri daribayang-bayang Landa. Di tahun keenam, aku mendengar kabar Landa punya galeri sendiri, diamemberi tahu lewat pesan singkat. Masih di tahun yang sama, pohon milikku mati. Disusul Cucidi tahun berikutnya. Aku tidak di sini waktu itu. Jadi Landa yang mengurusnya. Kata Bibi Dami, kucing itu mati terlindas kendaraan tepat di jalan depan rumah. Tidak ada yang menyaksikannyasecara langsung. Cuci ditemukan dengan tubuh hancur. Bibi Dami tidak sanggup melihatnya. Namun, Landa yang menurut Bibi Dami tidak pernah lagi tertawa itu, yang lebih banyak hidupdi dunianya sendiri, yang nyaris tidak mampu dimengerti oleh siapa pun, dengan tanpa ragu menggendong bangkai kucing, memunguti serpihan daging bercampur bulu yang berceceran, menguburkannya di bawah pohon janda merana miliknya.
Saat mendengar Bibi Dami bercerita aku hampir muntah.
Beberapa lama aku berkabung untuk Cuci. Beberapa lama aku terpuruk. Rasanya, saat ituaku tidak sanggup lagi menanggungkan kehilangan. Rasanya, aku mau bilang, cukup. Aku tidaksanggup. Aku benar-benar sudah tidak sanggup.
Hanya saja, ternyata semuanya belum cukup.
“Kenapa kau melakukannya? Apa yang kau pikirkan saat itu?” Aku telentang di tempattidur Landa yang masih menyisakan baunya. Air mataku meleleh begitu saja. Namun, aku cepat-cepat menghapusnya. Aku tidak akan membiarkan diriku terus-terusan menangis. Semua iniharus ada akhirnya. Aku bangkit dari tempat tidur, mulai membongkar satu per satu barang milikLanda, berharap menemukan sesuatu—tidak peduli sudah seberapa sering aku memorak-porandakan kamar ini. Ketika Landa masih hidup, aku bahkan tidak berani menyentuh satubarang pun miliknya. Landa tidak suka barang-barangnya diganggu. Apalagi kalau sampai kotoratau pecah. Dia memasang peringatan di pintu: dilarang masuk tanpa izin, menguncinya tiap kali keluar rumah.
Kini aku bebas melakukan apa saja. Aku menurunkan koleksi buku bacaan Landa darirak. Mungkin untuk keseratus kali. Namun, aku masih ingin mencari sesuatu di buku-buku itu; secarik kertas yang terselip di antara halamannya atau catatan di bagian tertentu yang barangkaliselama ini luput kuperhatikan.
Satu jam lebih, setelah aku juga membongkar lemari pakaian hingga nakas, tidakkutemukan apa yang kucari. Seperti biasanya. Tidak ada apa-apa yang bisa membuatku mengertiapa yang terjadi pada Landa, memahami keputusan besarnya. Kami memang tidak terlalu dekat. Kami lebih banyak hidup di dunia sendiri-sendiri. Namun, tetap saja kami tumbuh bersama di rumah ini. Landa yang penuh warna. Landa yang disukai semua orang. Aku yang tidak memilikisatu warna pun, merasa tak terlihat oleh siapa-siapa. Bertahun-tahun. Sampai Mama pergi. Sampai Papa mati. Sampai aku juga lari. Dari Landa. Dari rumah ini. Apa karena itu Landa tidakmeninggalkan penjelasan sama sekali? Apa karena Landa berpikir dia tidak perlu melakukannyauntuk seseorang yang sudah memilih lari dari rumah ini, dari dirinya? Bibi Dami pernah bilangkalau Landa mengurung diri seharian di hari pertama aku meninggalkan rumah. Masalahnya, Landa tidak pernah bertanya kenapa aku lari. Sekarang aku tidak mungkin lagi menjelaskan.
Sudah terlambat.
“Ternyata kamu di sini.” Bibi Dami sudah berdiri di pintu. Aku tidak mendengar langkahkakinya saat naik ke atas.
“Aku harus menemukannya,” kataku setengah membela diri.
“Apa kali ini ketemu?” tanya Bibi Dami.
Aku menggeleng.
Bibi Dami mendesah. “Padahal, cukup terima saja. Seperti yang semua orang lakukanuntuk mengatasi masalah hidup. Seperti yang aku lakukan ketika datang ke rumah ini. Tidak mudah. Tapi, aku lakukan. Aku tidak tahu kenapa itu sulit bagimu. Aku tidak menyalahkankamu.Tapi, aku tidak mau selamanya lihat kamu seperti ini.”
“Apa Bibi Dami sungguh-sungguh bisa menerima kematian Landa?”
“Itulah yang kulakukan.”
Aku tahu itu tidak benar. Namun, aku tidak punya kata-kata untuk membalas Bibi Dami. Kerongkonganku kering. Aku hanya menekur ke lantai. Detik demi detik. Yang sejenakmembuatku seperti mau mati. Dadaku sesak.
Barang-barang berhamburan di lantai. Buku, pakaian, tas, sepatu. Aku tahu tidak akanmenemukan apa yang kucari. Namun, aku mengabaikan apa yang sudah kuketahui itu. Aku masih menyimpan harapan: Landa meninggalkan sebuah surat untukku. Bukankah itu yang mestinya dilakukan seseorang sebelum memutuskan hari kematiannya? Menulis suratperpisahan. Memberitahukan apa yang terjadi. Atau cukup pesan singkat, alasan memilih meninggalkan dunia ini. Dengan begitu orang yang ditinggalkan akan lebih mudah melanjutkanhidup, tidak perlu menyalahkan diri berkepanjangan tanpa tahu kebenaran yang sesungguhnya, yang lama-lama juga membuatnya hancur.
“Besok kubereskan.” Begitulah. Bibi Dami akan menatanya kembali seperti semula. Sebab, kata Bibi Dami, Landa tidak suka barangnya berpindah atau diletakkan tidak pada tempatnya. Sebab, Bibi Dami yang lebih tahu tentang Landa, yang selama ini belajarmemahaminya. Bahkan Bibi Dami tahu bagaimana susunan koleksi buku Landa yang benar, tanpa salah urutan. Bibi Dami tahu pakaian mana yang berada di rak pertama, kedua, ketiga, berdasarkan kategori warna, jenis, modelnya.
“Jika Bibi tahu sesuatu…,” aku memaksakan diri bicara.
“Aku tidak tahu. Sudah kubilang berkali-kali, aku tidak tahu.” Suara Bibi Dami menjadilebih emosional.
Bibi Dami meninggalkan pintu. Bibi Dami mungkin tidak tahan. “Segera tidur,” kata Bibi Dami terdengar seperti sebuah permohonan seiring langkahnya yang menjauh. Namun, Bibi Dami tahu sekali aku tidak akan tidur.
Sekitar satu bulan sebelum kejadian di pagi itu, aku sempat berbicara dengan Landa. Dia mengaku sedang menyiapkan pameran tunggal pertamanya. Dia sangat antusias untuk itu. Landa hampir tidak pernah membicarakan perasaannya denganku, tapi saat itu dia seolah-olah orang yang berbeda. “Bagaimana jika tidak berjalan lancar?” tanya Landa membeberkankemungkinan terburuk yang bisa saja terjadi. Aku bilang, “Kau pasti bisa mengatasinya.” Aku tidak asal bicara. Kami sudah membuktikannya selama ini. Ketika Mama menghilang dan tidakpernah kembali, kami tetap dapat melanjutkan hidup—meski jelas semuanya sudah tidak samalagi. Begitu pula saat kami harus kehilangan Papa, sekali lagi kami dihantam kehilangan yang rasanya tidak mampu kami hadapi. Namun, tahu-tahu kami menjalani hidup dengan cukup baikbersama Bibi Dami. Kami telah melewati sesuatu yang lebih besar dari sekadar kegagalan. “Bagaimana jika aku tidak dapat mengatasinya?” Landa mengembuskan napasnya. “Kau bisa.” Aku tidak punya cadangan jawaban selain mengatakan: kau bisa. Sebab, memang itu yang kupikirkan. Seharusnya Landa bisa. Seharusnya Landa memamerkan karya-karyanya yang dikerjakan bertahun-tahun setelah dia memutuskan untuk menjadi pengrajin tembikar, melepaskan cita-citanya menjadi dokter hewan.
Kau bisa, kataku waktu itu sampai berkali-kali. Tapi, Landa bilang, Aku ingin kau di sini—aku sungguh tidak salah dengar. Kau bisa kok, kataku. Namun, Landa tidak bisamengatasinya. Apa pun itu. Landa tidak bisa mengatasinya.
- Kematian - 7 August 2026
- Seorang Anak Sebaiknya Lahir di Rumah yang Hangat - 25 July 2025
- Pekerjaan Rumah Tangga - 3 May 2024
