
Septo Arman tidak tahu istrinya menyimpan sebuah robot humanoid di gudang. Sang istri baru saja diberhentikan dari perusahaan tempatnya bekerja sebagai seorang analis data. Konon posisinya itu digantikan oleh kecerdasan buatan. Namun alasan sebenarnya bisa jadi karena perusahaan sedang mengalami kesulitan membayar gaji para karyawan.
Barangkali akan menjadi pertanyaan orang-orang, bagaimana mungkin seorang karyawan biasa sanggup membeli sebuah robot humanoid? Apalagi robot yang dimiliki Amira Arman tergolong jenis mutakhir, dilengkapi kecerdasan buatan dan berfungsi menangani pekerjaan-pekerjaan domestik. Tidak banyak diketahui orang, termasuk suami dan keluarganya sendiri, pesangon Amira setelah bekerja selama hampir tiga dekade tidak bisa dikatakan sedikit. Segera setelah pesangon itu dicairkan, ia memesan robot humanoid varian Asisten Rumah Tangga yang telah diimpi-impikannya sedari lama. Amira telah melakukan riset tentang robot tersebut, melakukan perbandingan antara satu versi dengan yang lain, sebelum berani memutuskan. Bagaimanapun, memilih robot humanoid pada prinsipnya hampir sama seperti memilih perkakas rumah tangga, almari misalnya, yakni enam puluh persen mengandalkan logika dan empat puluh persen intuisi. Dalam memilih pasangan hidup, barangkali berlaku sebaliknya.
Amira tidak khawatir dengan pendapat orang-orang yang mengatakan bahwa ia memboroskan uang, mengingat humanoid yang ia pesan bukan model terlaris dari generasi yang diproduksi pada tahun yang sama. Amira hanya ingin menghadiahi dirinya sebuah robot humanoid. Tak peduli Septo dan anak-anak mungkin tak akan suka. Seumur hidup, itulah benda termahal yang pernah dibelinya pakai uang sendiri. Dinamainya humanoid itu Jeffry.
Enam bulan sebelum diberhentikan dari pekerjaannya, Amira berbaring di ranjang tempat tidurnya pada suatu pagi yang cerah dengan suhu tubuh mencapai 39℃. Surat cuti sakit telah dikirim lewat WhatsApp kepada atasan. Sementara itu Septo sedang bersiap berangkat kerja. Sebelum meninggalkan rumah, lelaki itu mengingatkan Amira untuk sarapan lalu minum obat. Dea dan Seth diberi uang jajan ekstra sebab sang Ibu tak sempat menyiapkan sarapan. Septo berjanji akan pulang lebih cepat nanti siang.
Rumah diliputi kesunyian total setelah suami dan anak-anaknya pergi. Sudah lama Amira tidak sendirian di rumah. Selama ini ia begitu terserap dalam pekerjaan sehingga melupakan suara keheningan. Menjelang siang, suhu tubuhnya kembali normal. Kondisinya berangsur baik, begitu baik, sampai ia tak tahan hanya bermalas-malasan di tempat tidur. Amira mulai membereskan mainan-mainan yang berhamburan di lantai. Dimasukkan semuanya ke dalam kontainer masing-masing. Pakaian-pakaian kotor disuruk ke dalam mesin cuci. Handuk-handuk dipindahkan ke luar untuk dikelantang di bawah matahari. Perabotan-perabotan yang bergeser ditata kembali, benda-benda yang berpindah tempat diatur ke tempatnya masing-masing. Teringatlah Amira pada beberapa perabotan yang sudah lama tak digunakan dan hanya diperam di dalam gudang. Dikeluarkannya beberapa tudung lampu bergaya oriental, kapstok dari kayu mahoni dan tembikar berbentuk tabung untuk menaruh payung. Digosoknya benda-benda itu menggunakan kain basah, diletakkannya di tempat-tempat yang sesuai. Kehadiran perabotan-perabotan tua memberi sentuhan berbeda pada ruangan bergaya minimalis. Pekerjaan sederhana itu mengalirkan kepuasan kecil dalam dirinya. Kemudian ia menjemur karpet bulu imitasi dan bantalan-bantalan sofa di pekarangan. Vas-vas bunga dari kristal, taplak-taplak meja dan asbak dipindahkan, lalu permukaan meja yang lengket dan penuh remah buah serta camilan diusap hingga mengkilap kembali. Seluruh bagian lantai disapu bersih kemudian dipel menggunakan cairan pembersih lantai yang dibelinya minggu lalu tapi tak pernah sempat digunakan karena kesibukan kantor. Itulah kali pertama ia benar-benar punya waktu beres-beres.
Amira mengaso sejenak, tungkai dan punggung direnggangkan di sofa sembari menonton serial kesukaan. Lalu teringat ia belum makan apa pun sejak bangun tidur, ia memesan makanan lewat Go Food untuk dirinya sendiri dan untuk makan siang anak-anak dan Septo setelah mereka pulang nanti. Setelah makan, Amira ketiduran di sofa seperti seekor kucing. Ketika terjaga, matahari meredup hingga gelombang panik membuat Amira berlari keluar, mengira karpet dan bantalan-bantalan sofa yang dijemurnya telah kehujanan. Ternyata arakan awan hanya sedikit bergeser menutupi matahari, menghadirkan sedikit mendung, tapi tidak sampai hujan. Waktu menunjukkan pukul 12.45. Septo pasti sudah dalam perjalanan menjemput anak-anak, pikirnya. Diangkatnya karpet dan bantalan-bantalan sofa kembali ke dalam, ditatanya sesuai posisi semula. Meskipun ada vacuum cleaner, Amira tetap menyukai menjemur karpet di bawah cahaya matahari seperti kebiasaan ibu dan neneknya di kampung saat ia masih kecil dulu. Apabila tak sempat mencuci karpet setiap minggu, paling tidak karpet dijemur demi mengurangi debu dan kuman.
Pukul 13.17 Honda CR-V Septo memasuki garasi. Dea dan Seth berlari masuk ke ruang depan sambil meneriakan salam. Sekejap mereka berhenti, tertegun memandangi ruangan yang rapi dan bersih. Tas-tas tak jadi dilempar sembarangan. Sepatu-sepatu pun diletakkan ke dalam rak dengan sangat hati-hati seolah bila sedikit bergeser akan merusak seluruh tatanan. Sama terpukaunya, Septo membutuhkan waktu sejenak mengagumi ruang tamu itu dari ambang pintu. Namun, kata-kata pujian tidak meluncur dari mulutnya. Satu-satunya yang dia tanyakan adalah apakah Amira sudah minum obat? Amira hanya minum obat satu kali tadi pagi sebelum sarapan sekerat roti. Siang ini ia telah merasa baikan sehingga tak menenggak obat lagi. Waktu istirahat makan siang Septo hanya satu jam. Saat melewati meja makan, lelaki itu melirik makanan pesanan dari Go Food yang belum dikeluarkan dari kotak kemasannya. Alih-alih makan, dia bergabung dengan Amira yang sedang mengetik di ruangan tengah.
“Rasanya nyaman sekali pulang ke rumah yang bersih seperti ini,” gumam Septo sambil merenggangkan punggung di sandaran sofa. “Andai setiap hari begini …. Andai setiap hari kamu di rumah ….”
Karena terfokus pada layar laptopnya, Amira hampir tidak menyimak omongan si suami. Septo yang tergugah sedikit rasa penasaran, lantas bertanya kenapa Amira masih harus bekerja padahal sedang cuti sakit.
“Oh, ini draf novelku, bukan kerjaan kantor, kok.”
Septo mengerutkan dahi, tak tahu Amira menulis novel. Meskipun sering dilihatnya sang istri membaca dan menulis jurnal, dia tak tahu sejak kapan Amira mulai menulis dengan serius. Septo tidak tahu istrinya memiliki sisi kreatif semacam kemampuan menulis cerita. Apa lagi yang belum dia ketahui tentang Amira? Jangan-jangan yang dia ketahui selama ini hanyalah sebagian kecil dari diri sang istri.
“Oh ya, tadi Papa bilang apa?” tanya Amira tiba-tiba.
Kalau sudah baikan kenapa tidak memasak saja? Kan kemarin juga Go Food. Buru-buru ditelannya kalimat itu. Alih-alih Septo berkata, “Tidak, hanya pikiran selintas.”
Cuti sakit Amira hanya dua hari. Setelah dua hari, dengan dua bocah yang sedang aktif-aktifnya, kondisi rumah berangsur seperti semula: centang-perenang. Tidak ada yang sempat membersihkan seisi rumah sebelum berangkat kerja. Hampir dua tahun terakhir mereka tidak lagi menggunakan asisten rumah tangga. Sulit menemukan ART sesuai keinginan Amira. ART terakhir mereka masih muda dan punya rasa ingin tahu yang tidak pada tempatnya: selalu mencari tahu isi tas belanja Amira, menanyakan harga parfum dan aksesoris di meja rias, sampai pernah dipergoki mencoba gaun Amira yang baru dikeluarkan dari lemari. Setelah begitu banyak kompromi dan kesabaran, pada akhirnya semua itu harus mencapai titik akhir setelah salah satu koleksi jam tangan sang nyonya rumah raib. Sejak itu, ia belum berminat lagi mempekerjakan seorang pembantu.
Namun, topik tentang ART kembali meluncur dari mulut Septo suatu malam, beberapa hari setelah cuti sakit sang istri. Betapa dia rindu menghabiskan waktu di rumah yang selalu bersih dan tertata rapi, yang lantainya mengilap dan wangi, tidak bau susu basi dan remah camilan di mana-mana. Dia rindu menyantap makanan rumahan, bukan Go Food. Dia tidak akan memaksa Amira mengorbankan pekerjaannya di kantor, tapi bila sang istri tidak bisa tinggal di rumah seharian untuk memastikan kenyamanan seisi rumah, maka Amira harus setuju untuk mempekerjakan pembantu kembali.
Percakapan itu tidak mencapai kata sepakat sebab kantuk berat mendera Amira. Dengkurannya terdengar sebelum Septo sempat memejamkan mata.
Setelah mendapat kepastian posisinya tergeser oleh kecerdasan buatan, enam bulan kemudian, Amira telah mantap dengan rencananya yang lain selain membeli humanoid ART. Dia akan menerbitkan buku pertamanya, berharap memiliki penghasilan tambahan dari itu. Meskipun rencana kedua ini diketahui dan disetujui Septo, rencana pertama tetap diperam Amira untuk dirinya seorang. Jeffry, si humanoid ART, dikirim ke alamatnya ketika tidak ada seorang pun di rumah selain ia seorang. Saat itu ia sengaja belum menyentuh tumpukan pekerjaan yang menantinya di dapur. Dua orang petugas membantunya mengaktivasi Jeffry, memberitahu fungsi panel-panel yang menyala di tubuh si humanoid, menjelaskan cara pengisian daya serta perawatan unit. Amira menyimak dengan serius seolah penjelasan tentang Jeffry adalah manual tentang cara bertahan hidup. Tahap terakhir adalah penyerahan sertifikat resmi kepemilikkan yang telah ditandatangani oleh Amira sendiri ketika masih mengurus pembelian unit. Memiliki humanoid tak ubahnya memiliki kendaraan, rumah, tanah, dan benda-benda berharga lainnya.
Setelah kedua petugas pergi dan kardus serta plastik kemasan diamankan di gudang, Amira langsung mengetes kemampuan humanoidnya dengan menyuruhnya mencuci piring. Jeffry berhasil mencuci semua perangkat makan tanpa memecahkan satu pun gelas atau piring. Prosesnya begitu sejenak, hasilnya bersih kesat. Amira memandangi hasil pekerjaan robot ART itu dengan terkagum-kagum. Setelahnya, Jeffry diperintah membereskan mainan-mainan anak ke dalam kontainer. Berbeda dari robot humanoid populer yang mengimitasi fisik manusia, yang dilatih untuk berdansa, berlari, dan berperang, Jeffry justru lebih mirip dispenser air minum. Kepalanya mengingatkan Amira pada mangkuk bakso yang ditangkup terbalik. Jeffry tidak memiliki leher. Hanya sepasang tangan dan sepasang kaki dan sebuah nama yang menyamakan robot ART itu dengan manusia. Wujudnya yang jauh dari fleksibel sedikit menyulitkan Jeffry dalam pekerjaan memungguti benda-benda yang berserakan di lantai, tapi setelah membaca manual dan menekan beberapa panel, ternyata terdapat fitur memanjangkan tangan yang memungkinkan si robot memungguti mainan-mainan dari lantai tanpa perlu membungkuk. Setelah memutuskan bahwa Jeffry benar-benar dapat diandalkan, Amira berhenti mengawasi si robot untuk pekerjaan selanjutnya, sebab ia sendiri ingin kembali fokus menulis. Jeffry selesai menunggui cucian dan menjemur pakaian-pakaian bersih di halaman belakang sebelum pukul 11.00.
Siang hari, Amira meninggalkan laptopnya sejenak. Dia mengeluarkan bahan-bahan makanan dari kulkas. Dibersihkannya potongan dada ayam di bawah keran, dikupasnya beberapa wortel, kentang, dan bawang-bawangan. Lalu dipanggilnya Jeffry, ditekannya panel cook di dada si robot, dan diketiknya Sup Ayam. Ditekannya panel besar, membuat ruang memasak terbuka. Dimasukkannya bahan-bahan tadi ke dalam ruang yang hampir mirip microwave itu, disertai bumbu-bumbu secukupnya pada wadah-wadah kecil khusus bumbu. Dengan satu tekanan di tombol lain, ruang memasak mengatup dan sup ayam pun mulai diproses. Untuk menu kedua, Amira memasukkan beberapa potong dada serta rahang tuna yang telah dimarinasi lalu mengetik Ikan Bakar. Masing-masing proses hanya butuh waktu sekitar 40 menit sebelum makanan siap dikeluarkan dan dihidangkan.
Sebelum pukul 13.10, Septo tiba di rumah bersama anak-anak, disambut ruangan yang bersih, wangi, dan tertata rapi. Aroma gurih sup dan tuna bakar membuat liur menggelegak. Saat itu Jeffry sudah meringkuk kembali di dalam gudang, sementara Amira masih berkutat di depan laptop.
Setelah berbulan-bulan, hidup rasanya berjalan terlalu mulus sampai-sampai Amira tergoda untuk mengakui keberadaan Jeffry pada Septo. Barangkali suaminya akan mendukung kepemilikan Amira atas satu unit robot humanoid. Toh, tidak ada bedanya seorang ART manusia dan ART humanoid, keduanya sama-sama mempermudah kehidupan mereka. Satu-satunya kekhawatiran Amira adalah protes Septo tentang harga humanoid yang terlampau tinggi, mengingat mereka tadinya berencana ganti mobil dan tahun depan Seth akan mendaftar ke SMP. Sebagai seorang istri dan sebagai ibu, dia pasti akan dianggap egois dan tidak bijaksana dalam mengatur keuangan. Pikiran terakhir ini mencegah ia menyingkap selubung keberadaan Jeffry dari suami dan anak-anak.
Ibu mertuanya berkunjung selama dua minggu. Wanita itu menghabiskan waktu bermain bersama Dea dan Seth untuk melepas rindu. Amira merasa bersalah tidak bisa terlalu sering meluangkan waktu bersama si mertua sebab naskahnya memasuki tahap revisi akhir. Ia sudah memiliki kontak editor dari penerbit yang ia pilih dari hasil riset media sosial. Sang editor membalas emailnya, menjawab pertanyaan-pertanyaannya terkait hal teknis pengiriman naskah, bahkan bersedia memberikan nomor kontak pribadi. Respons ini menyuntikkan perasaan optimis di hati Amira, terutama menambah fokusnya dalam menulis. Mulai hari itu ia tidak bisa lagi dianggap sekadar menulis bualan, ia sedang menulis sesuatu yang suatu hari akan menjadi buku, sebuah produk seni-intelektual yang bernilai rupiah. Ini sepadan dengan diberhentikan dari pekerjaan untuk menjadi seorang ibu rumah tangga.
Sekali waktu di akhir pekan, ibu mertuanya melirik layar laptopnya ketika Seth dan Dea tengah tidur siang. Bertanya si mertua apakah Amira sudah mendapatkan pekerjaan baru?
“Ya, bisa dibilang ini pekerjaan baruku.”
“Wartawan online?”
Amira khawatir tidak akan dianggap serius bila mengaku sedang menulis novel. Ia tidak siap mengakui kepada ibu mertuanya bahwa ia sedang menulis kisah cinta segi tiga antara sepasang lelaki-perempuan dan sebuah robot. Maka ia mengangguk, “Ya, kurang lebih, tapi intinya aku bisa kerja dari rumah.”
Ibu mertuanya mengangguk paham tanpa tampak terkesan, lalu beranjak dari kursi membawa cangkir teh yang sudah kosong ke dapur.
“Mama, tidak usah repot-repot. Biarkan saja gelas kotor itu di sini.”
“Tidak, apa-apa, kalau hanya nyuci gelas Mama masih kuat.”
Setiap hari Amira harus menunggu sampai ibu mertuanya beristirahat di kamar anak-anak agar ia dapat membawa bahan-bahan makanan ke dalam gudang dengan leluasa. Si robot tak pernah lagi dikeluarkan dari gudang sejak sang mertua datang. Amira memasukkan dua kilogram daging sapi ke dalam mesin masak di dada Jeffry. Menu hari itu rendang, makanan kesukaan ibu mertuanya. Untuk rendang ternyata butuh waktu hampir dua jam di dalam mesin masak Jeffry. Yang tidak diantisipasi Amira, setelah mengantar sebaskom rendang ke meja makan, sang mertua membuntuti ia ke dalam gudang. Ia dipergoki sedang membersihkan sisi dalam mesin masak Jeffry yang masih menyala.
Ibu mertuanya terperangah, lantas berbisik, “Wow, kamu punya itu?”
Amira merasa sangat canggung sampai-sampai untuk sesaat ia tak tahu apa yang harus dikatakannya. Si mertua menatap Amira dengan sebuah pemahaman mewarnai ekspresinya. “Pantasan kamu tidak pernah masak, tidak pernah sibuk di dapur, tapi semua pekerjaan tahu-tahu beres.”
Amira meminta ibu mertuanya agar menyimpan rahasia itu dari Septo selama beberapa waktu. “Aku berencana ngasih tahu Mas Septo setelah bukuku terbit. Untuk sekarang, dia belum tahu soal robot ini.”
Ibu mertuanya tersenyum untuk menenangkan Amira. “Tentu saja, rahasiamu rahasia Mama juga. Ini bisa jadi rahasia kita bersama.”
Amira menghela napas lega.
“Bagaimana cara kerjanya?” tiba-tiba ibu mertuanya bertanya.
Amira menjelaskan cara kerja Jeffry dengan cara yang paling sederhana. Berbeda dari cara kedua petugas dulu saat menjelaskan kepadanya.
“Jadi Septo mengira kamulah yang membersihkan rumah dan memasak untuk mereka selama ini?” tanya si mertua, raut kecewa yang samar tak berhasil ia samarkan. “Sangat disayangkan. Bukankah itu seperti membohongi suamimu sendiri? Padahal Septo percaya istrinya perempuan sempurna.”
“Apa?” Amira mengira telinganya salah menangkap. Aku memang … sempurna.
“Maaf. Mama hanya melantur,” ibu mertuanya buru-buru berkata lalu kembali tersenyum.
Ditanyai soal harga robot humanoid itu, Amira hanya menyebutkan setengah dari nominal yang ia bayarkan dengan uang pesangonnya, tak ingin dianggap pamer. “Ternyata mahal, sudah jelas Mama tidak akan sanggup beli. Tapi Mama tentu boleh pinjam, kan?”
Amira tidak langsung menjawab. “Tentu saja, Mama boleh pinjam,” katanya kemudian. Ia menggigit bibir bawahnya setelah mengucapkan itu.
“Siapa namanya tadi katamu?” wanita itu bertanya sambil mengamati Jeffry dari berbagai sisi. “Jerry?”
“Jeffry. Namanya Jeffry.”
“Aneh sekali namanya,” wanita itu terkekeh. “Dia ART, kan? Kalau di rumah Mama nanti, namanya ganti “Ratna” atau “Putri” saja. “Sari” juga oke. Tidak apa-apa, kan?”
Amira menimbang sejenak kemudian mengangguk. “Boleh-boleh saja, Ma.” Namun, nama yang terdaftar dalam perangkat lunak si robot tetaplah Jeffry. Nama yang didaftarkan sejak aktivasi pertama kali.
“Dea dan Seth juga belum tahu soal ini?”
Amira menggeleng. Ia mencoba menilai ekspresi mertuanya, mencari tanda-tanda wanita paruh baya itu akan mengkhianati kepercayaannya dan membocorkan informasi itu pada kedua cucu.
Namun, di sisa hari berjalan dan di hari-hari selanjutnya, ibu mertuanya terbukti pantas dipercaya. Baik Septo maupun anak-anak tak menunjukkan tanda-tanda bahwa mereka mengetahui rahasia Amira yang diperam di dalam gudang. Entah sampai kapan situasi ini berlangsung, semoga hanya sampai buku pertamanya terbit. Sejak hari itu, kapan saja Amira dan ibu mertuanya hanya berdua di sebuah ruangan, wanita itu akan membahas si robot humanoid dengan rasa penasaran tak terbendung. Seolah ia begitu tak sabar kembali ke rumahnya sendiri bersama humanoid yang ingin dinamainya Sari atau Ratna. Wanita itu percaya robot ART diciptakan untuk para manula atau wanita lansia seperti dirinya. Sebaliknya, seseorang yang masih muda, produktif, dan punya suami yang sanggup membayar ART sungguhan seperti Amira tidak terlalu membutuhkan teknologi canggih untuk bertahan hidup. Diam-diam si mertua sedang mengisyaratkan bahwa ia akan membutuhkan robot humanoid itu dalam waktu lama. Toh, jika ibu mertuanya telah tiada, kata wanita itu, Amira dan Septo bisa mengambil kembali “Ratna” atau “Putri” atau “Sari” dari rumah mertua.
Tetapi Amira mengaku belum berencana mempekerjakan seorang ART manusia. Apalagi saat itu bukanlah waktu yang tepat untuk menjalani hidup tanpa robot ART. Ia masih kewalahan membagi antara rutinitas menulis dan pekerjaan domestik yang hanya diembannya seorang.
“Seandainya Mas Septo bisa gantian di dapur, sebenarnya aku tidak akan butuh ART robot atau pun manusia,” sindirnya.
Ibu mertuanya meminta maaf tidak berhasil mendidik anak lelaki yang menguasai pekerjaan-pekerjaan domestik. Namun, bila Amira bisa bersyukur, sebenarnya ia tak punya alasan untuk bersungut-sungut. Ia hanya perlu memahami situasi Septo sebagai seorang manager bank. Bagaimana mungkin seorang pria dengan jabatan seperti itu kau harapkan menggantikanmu menggosok panci atau menjemur pakaian? Sekadar membayangkannya saja sudah cukup membuktikan ada yang salah dengan cara berpikirmu. Toh yang paling penting seorang lelaki memiliki status sosial yang mapan, bukan kecakapan mencuci piring ataupun mengepel lantai.
Amira melengos sambil mengatupkan rahangnya dengan ketat. Ujung kuku-kuku jarinya menekan telapak tangannya kuat-kuat yang anehnya tidak membuat ia merasakan sakit. Kenyataannya, Amira juga tidak dibesarkan untuk menguasai pekerjaan-pekerjaan domestik. Namun, ia melakukan pekerjaan-pekerjaan itu sekarang sebab ia manusia dewasa. Bukan karena itu tugas para perempuan semata.
“Oh ya, bagaimana cara ngeluarin humanoidnya nanti dari gudang?” Ibu mertuanya buru-buru mengganti topik. “Tenang saja, Septo tidak akan tahu kamu memiliki robot humanoid ini.”
Amira berencana menyelundupkan Jeffry keluar setelah Septo berangkat kerja. Si robot akan dibawa ke rumah ibu mertuanya keesokan hari. Tanpa curiga, Septo menyetujui permintaan ibunya untuk diantar pulang oleh Amira tanpa perlu menunggu ia dan anak-anak tiba di rumah.
“Persekongkolan” itu menciptakan semacam ikatan baru tak kasatmata di antara Amira dan ibu mertuanya. Setidaknya itu dugaan si mertua. Pada makan malam terakhir sebelum wanita itu pulang, ia melemparkan seulas senyum terima kasih kepada Amira dari seberang meja, kilatan senyum yang hanya tertangkap oleh Amira seorang. Senyum yang sama, tapi teramat samar muncul di wajah sang menantu. Namun, dalam sekian detik ketika perhatian ibu mertuanya kembali teralihkan pada kedua cucu, Amira buru-buru melengos sambil menelan gumpalan pahit rasa muak ke dasar rongga dadanya dalam-dalam.
Perbinda, 29 Agustus 2026
- Amira Hanya Ingin Menghadiahi Dirinya Sebuah Robot Humanoid - 11 September 2026
- Perjalanan Panjang Benda-Benda - 23 January 2026
- Hari Itu Angin Tidak Bertiup - 31 May 2024
