
Berkas dan Ingatan
: Yona Primadesi
“jangan bersuara
lebih lantang
dari letupan senapan,”
desismu
di antara mata yang lelah
dan tumpukan berkas
di gudang arsip
jari jemarimu seakan
mau patah
membalik satu
demi satu
kesaksian
tapi inisial namanama
~yang melompat dari lipatan
sejarah
telah menjadi mimpi burukmu
tak siang
tak malam
“trauma
dan sisa kenangan,” katamu
selirih desir angin kamis
sembari menyigi
direktori masa lalu
ingatan masa kecil
dan indeks salah catat
pada harihari
di bulan mei 1998
“sesenyap
udara pengap
yang sesak!”
o, amarah
merekah juga di dalam dadamu
yang ngilu
di antara payung hitam
jerit suara perempuan
dan derum truk
yang membawanya pergi
sekian kilometer jauhnya
ke perbatasan
kematian
tanpa catatan
“betapa sulitnya
menuliskan
esok”
tulismu
pada sebuah sajak
yang tak ingin remuk
dan hilang
dipalu kebohongan
demi kebohongan
yang diwariskan
di tanah
yang kau sebut
kampung halaman
2026
Hulu Ibu
: Raudal Tanjung Banua
“ibu adalah ruh
dalam diriku. di sepanjang puisiku!”
diserunya ibu
malam biru
pukau rantau
air mengalir ke muara
hatinya berlari
ke hulu
bertemu gugusan mata ibu
yang menunggu
di ruang tengah
memasak buah rindu
“aku sudah
menjadi lebah
bersama wahida,” ia bercerita
mengenang lansano
denpasar
loloan
bantul
juga kotakota tak bernama
tangannya tak henti
membuat ulu sebagai metafora
dan mencatat segala jejak lintasan
serupa inyiak balang
yang turun
dari lebat rimba
ke lereng bukit
menyibak ladang
hingga batas kampung
“ketahuilah wahai dunia
aku tak takut jatuh!”
serunya dari arah rawa
sambil menyalakan api
bawah tanah
jadi puisi
jadi nama
jadi akar
jadi ibu
2026
Lidah Penjahit
: Ahda Imran
di cimahi
ia memilih menjadi
tukang jahit
takzim pada benang
yang menggerakkan jarum
menyeimbangkan kaki
mata dan tangan
“aku kini
penunggang mesin jahit,” ucapnya
selirih desir pasir
disentuh angin kemarau
“bersama sri,
selamanya.”
kali ini seperti ada tanda seru
pada ujung kalimatnya
tapi ia tiadakan
seakan tak ingin
memberi bunyi pada sunyi
membiarkan kemurungan
dan kegelapan
memanjang
di negeri malam
yang dihuni anjing hitam mata satu
ular dan kalajengking dan rusa
berbulu merah
bergulung dalam kelok
mitologi
“ini mesin jahit kesayangan,” katanya lagi
menenangkan lidah
yang selalu berhasrat suci
dalam samaran jubah keimanan
di tengah jemaat
mengasah pisau
“apabila mengayuhnya
aku melihat sri,
mempelaiku.”
2026
Sendiri Belaka
: Heru Joni Putra
di batas ilmu pengetahuan
aku berkelana
mencari
yang entah
bertemulah berantah
bernama badrul mustafa
kadang
menjelma jadi udang
tertetak
jadi katak
udang mengunyah batu
katak mengoyak tempurung
ritual banal
dari perang paderi
ke algoritma pasar sapi
musafir
yang menyeberangi lautan
demi lautan
pada seribu zaman
tak terperi
di kening orang ramai
aku sufi dan sendiri
~juru selamat tak dikenal
menunggang harimau
di hutan terbakar
menimbang pepatah petitih
bekal masuk surga buatan 2000
ekskavator haji isam
yang tak punya jenggot
menjuntai
bumi
di batas ilmu pengetahuan
aku orang fakir
berpilin
memahami alam raya
berperkara
dengan diriku
sendiri
sehabis berwudu
dan menghalau tidur nyenyak
di lantai surau
berjaga
antara langit masih tinggi
dan mati yang bakal tiba
~ya,
aku mau sendiri belaka
2026
- Puisi Toto ST Radik - 27 October 2026
- Puisi Toto ST Radik - 6 February 2024
