Bagaimana Sebaiknya Memandang Mereka yang Ikhlas Hidup dalam Belantara?: Menafsir Upaya Dekolonisasi Smith dan Llosa lewat Mascarita Sang Pengocehnya

Brigitte Werner

Berapa banyak suku yang tersebar di belantara Indonesia?—suku-suku yang sudah mapan dalam sistem adat dan tradisi, yang sudah melibatkan alam sebagai sesuatu yang hidup. Letak geografis Indonesia yang memungkinkannya memiliki begitu banyak hutan, membuat jumlah suku-suku itu banyak dan beragam. Sejak masa yang entah, mereka telah melakukan interaksi dengan hutan tempat mereka hidup dengan cara yang sederhana sekaligus kompleks dan luar biasa.

Mungkin saja, kebanyakan dari kita memandang mereka sebagai komunitas masyarakat yang menjalankan kehidupan dengan cara yang musykil. Kita bergidik ketika mencoba berempati. Lantas dengan entengnya mengecap mereka sebagai orang-orang primitif. Begitu purba. Terkadang kita bisa sampai terlewat batas memandang mereka belumlah manusia. Mungkin monyet. Mungkin kera. Jika begitu, betapa sederhana cara pandang kita. Betapa sesat.

Bisa jadi alasan itu semua karena kita terbiasa dengan praktik kolonialisme yang kini dirumuskan dalam post-kolonial. Kita terlampau nyaman merayakan apa-apa yang datang bukan dari tanah kita. Di kenyamanan itu, kita menjadi asing dengan apa yang telah ada. kita terjebak dengan segala kemajuan itu dan tak mampu merumuskan diri sendiri. Sedikit yang berpikir ulang. Mencoba menelisik mengapa kita menikmati segala yang ada, yang bersumber dari luar tanah ini.

Bagi yang berpikir ulang, jangan kecewa terlebih dahulu. Keresahan ini juga dialami oleh Linda Tuhiwai Smith. Ia adalah seorang perempuan yang berasal dari Suku Maori di Australia. Ia telah merumuskan sebuah buku yang berjudul Upaya Dekolonisasi. Dalam bukunya, Smith beranggapan jika kolonialisme pada zaman lampau telah benar-benar merusak tatanan yang ada pada daerah bekas jajahannya. Ini diperparah ketika sampai detik ini, candu kolonialisme sudah menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat bekas jajahan.

Melalui bukunya, Smith menawarkan sebuah determinasi bagi bangsa terjajah yang selama ini terus saja dibayangi kolonialisasi, baik secara subtil maupun eksplisit. Ia ingin menyadarkan seluruh masyarakat bangsa terjajah agar segala yang dibawa oleh barat sebaiknya ditelisik ulang mulai dari pengetahuan akademis, gagasan-gagasan, teknologi, seni budaya, hingga investasi-investasi yang semuanya bertujuan untuk kapitalisme barat itu sendiri. Tidak hanya itu, sejarah bangsa terjajah yang sudah dirumuskan oleh para penjajah di zaman dahulu juga ingin ia bongkar dan didekonstruksi. Ia ingin bangsa terjajah sendirilah yang merumuskan masa lalu dan masa depannya. Hal ini sangat dimaklumi mengingat Smith berpikiran jika para penjajah di zaman dahulu (dengan hasrat ingin tahu segala hal) hanyalah berpretensi telah mampu menyusun sejarah bangsa terjajah namun tidak sedikit pun yang mereka tahu kecuali secuil.

Smith adalah seorang revolusioner (definisi revolusioner ini mengacu pada rumusan Camus: seseorang yang menginginkan semua atau tidak sama sekali). Yang membuatnya sangat sakit hati adalah paradigma eks penjajah terhadap kaum eks jajahan—yang menilai jika kaum eks jajahan belum menjadi manusia seutuhnya. Maka kaum eks penjajah (sampai sekarang) selalu menganggap jika mereka adalah duta humanisasi yang ironisnya malah mencipta dehumanisasi di segala aspek tatanan kehidupan. Sebagai revolusioner, ia ingin mengubah itu semua.

Smith membantu pembacanya untuk memahami kembali nilai-nilai yang ada pada suku-suku yang dicap terbelakang. Kini ia gencar menyuarakan apa yang telah ia tawarkan di dalam bukunya pada pertemuan domestik dan internasional. Itu gerakan dari dunia nyata. Lantas bagaimana fiksi memandang suku-suku tersebut?

Datanglah seorang utopis, Saul Zuratas, dalam semesta Sang Pengoceh. Siapa ia? Ia lelaki berwajah buruk yang sering dihina oleh orang-orang yang berpapasan dengannya. Sebab tompel yang besar di wajahnya, ia memiliki julukan Mascarita (muka topeng). Perlakuan orang-orang yang merendahkan Mascarita membuat si tokoh utama (tokoh aku) geram. Pernah suatu waktu tokoh aku memukul salah seorang pejalan kaki yang menghina wajah Mascarita. Perkelahian pun tak terelakkan. Uniknya, Mascarita malah memberikan surat kepada tokoh aku esok harinya. Surat itu berisi nasihat agar tokoh aku mau mengontrol emosinya, karena bisa jadi amarahnya yang meledak itu dapat mengacaukan tatanan semesta. Yang lebih unik lagi, nasihat itu ia takik dari sebuah dongeng asli yang ia dapatkan dari Suku Amazon—Di awal novel, dirinya memang dikenalkan sebagai seorang mahasiswa etnologi yang sudah sering keluar masuk hutan demi mempelajari Suku Amazon.

Begitulah Mascarita atawa Saul Zuratas. Ia tidak pernah meledakkan amarahnya disebabkan hinaan-hinaan yang ia terima. Bukan ia tak mampu melawan. Di dalam novel, ia digambarkan sebagai tokoh yang memiliki tubuh jangkung dan besar. Ia bisa saja melawan. Namun tidak ia lakukan. Ia telah tercerahkan oleh ajaran-ajaran yang tersebar dalam komunitas Suku Amazon. Ia menjadi seorang lelaki yang asketik dan penyabar. Kemarahannya hanya ia tujukan untuk satu hal: humanisasi yang dilakukan oleh beberapa lembaga untuk Suku Amazon, yang menurutnya malah mencipta dehumanisasi.

Mascarita adalah seorang radikal. Ia menganut keyakinan jika tanpa peradaban yang dianggap maju pun sebuah komunitas suku tetap hidup dengan damai. Dengan mata yang mengisyaratkan kemarahan, ia bercerita kepada tokoh aku mengenai sebuah lembaga linguistik yang mencoba untuk mempelajari bahasa Suku Amazon dengan maksud menerjemahkan Kitab Injil.

Mascarita gusar. Dari semua upaya penyuluhan yang dilakukan oleh berbagai lembaga, nampaknya lembaga linguistik inilah yang paling berhasil mempengaruhi beberapa komunitas Suku Amazon. Mereka, lembaga linguistik itu, memegang kunci penting dari sebuah penghasutan: bahasa. Setelahnya adalah penjajahan pikiran, sebab bahasa berarti adalah ranah berpikir.

Lembaga ini mampu mencipta sebuah desa untuk Suku Amazon agar mereka tidak perlu lagi menjadi suku yang nomaden—Suku Amazon adalah suku pejalan. Inilah yang paling dibenci Mascarita, sebab pada akhirnya hutan yang tidak dihuni itu akhirnya ditebang dengan seenaknya. Dengan bertameng kemanusiaan, penjaga-penjaga hutan secara sukarelawan itu dipinggirkan dengan segala macam dalil.

Pada fase berikutnya, tokoh aku harus berpisah dengan Mascarita dan lost contact. Kabar tentang Mascarita memang lenyap begitu saja. Ia menghilang. Puluhan tahun setelah berpisah, tokoh aku memiliki kesempatan untuk mendatangi desa-desa Suku Amazon yang sudah dikembangkan oleh lembaga linguistik. Dari segala informasi yang ia peroleh, ia mendengar kabar tentang seseorang dari Suku Amazon yang secara fisik seperti bukan dari suku asli. Ia bukan penghuni desa. Sesekali ia terlihat sekelebat. Ia dianggap bulenya Amazon. Orang itu sering terlihat bercerita untuk anggota suku lainnya tanpa pernah bisa diintip oleh orang dari luar suku. Perannya dalam komunitas diduga sebagai Sang Pengoceh.

Tugas ini ternyata cukup penting. Sang Pengoceh adalah seorang pencerita dan penyampai pesan bagi komunitas suku yang hidupnya menyebar. Dampak dari kata-kata yang dikeluarkan oleh Sang Pengoceh memberikan spirit kepada yang mendengarkannya. Itulah yang menyebabkan ritus yang dilakukan oleh Sang Pengoceh begitu sakral. Seolah-olah para pendengarnya tersihir.

Pada akhirnya, segala tanda yang ada di dalam novel, memastikan pembaca untuk menentukan si bule Amazon itu ialah Mascarita. Ia menghilang dari peradaban dan memilih menjadi Sang Pengoceh dalam komunitas Suku Amazon. Tindakan terakhir yang ia lakukan dalam novel ini, ia mampu menghidupkan kembali jiwa pejalan bagi para warga desa Amazon dengan ocehannya—yang terlampau nyaman tinggal di sebuah desa namun hati mereka merasa gelisah.

Decak kagum dan heran pada tokoh aku terhadap pilihan Mascarita menutup novel Sang Pengoceh. Mascarita akhirnya memilih menjadi seorang anggota suku ketimbang bersinar dalam peradaban modern. Ia bisa saja menjadi etnolog yang mumpuni. Di bidang akademisi ia sudah sangat disegani oleh dosen-dosennya. Tetapi ia tinggalkan itu semua. Ia tahu bahwa ilmu pengetahuan yang ada di dalam lingkup akademisi hanya akan menjajah pemikiran dan menciptakan dehumanisasi-dehumanisasi baru. Penelitian-penelitian yang dilakukan oleh universitas hanya memberikan penghargaan kepada para peneliti tanpa pernah membawa dampak yang baik bagi yang diteliti kecuali perusakan dan penguasaan.

Sungguh irasional membayangkan seorang Mascarita dalam dunia nyata, meski sebenarnya sudah banyak antropolog-antropolog yang akhirnya memilih menjadi anggota komunitas suatu suku. Meski di kenyataan sudah ada, A.S. Laksana pernah berkata jika keabsurdan di dalam kenyataan sudah biasa terjadi; namun dalam fiksi, keabsurdan harus terbangun melalui logika cerita. Ini mungkin yang menyebabkan Llosa tidak menempatkan Mascarita sebagai tokoh aku. Llosa memilih Mascarita sebagai tokoh yang tindak-tanduknya diceritakan. Keheranan dari perspektif tokoh aku membuat pembaca bisa menerima keabsurdan dalam semesta fiksi yang terbangun.

Kembali ke suku-suku dan bagaimana sebaiknya kita memandang, sudahkah kita mendapatkan kesimpulan setelah kesesatan kita digempur oleh Smith dan Mascarita? Masihkah kita memandang dengan enteng diri kita yang lain—yang hidup bebas di kedalaman hutan tanpa pernah terjebak dengan fasilitas yang memanjakan? Satu pertanyaan lagi; sampai kapan kita terasing dan tidak mau mendalami sistem komunitas suku di negeri ini dan lebih memilih memanusiakan mereka dengan cara yang tak manusiawi?

Tentu semua orang tidak perlu menjadi Mascarita yang memilih menyelam di kedalaman hutan. Atau tidak perlu sesinis dan sekongkret Smith dalam bergerak. Yang jelas, sudah saatnya kontemplasi terhadap batas-batas disegerakan. Sepertinya begitu. Sepertinya.

Mochamad Nasrullah

Sedang tinggal dikamar 215 Wisma Soka Universitas Negeri Malang. Aktif di komunitas sastra dibalik aku siapa. Sedang mempersiapkan novel perdananya yang berjudul "Balada Supri".
Mochamad Nasrullah

Comments

  1. Anonymous Reply

    Ya, memang perlu kontemplasi ulang terhadap paradigma-paradigma yang melanda pemikiran manusia.

    Semangat mempersiapkan novelnya Mas ^^

  2. Urfi Hanifah Reply

    Seketika Aku merasa Asing dengan diriku, Asing dengan tempat tinggalku.

    Ditunggu Balada Suprinya bosskuu… 😁

Leave a Reply

Your email address will not be published.