Berguru kepada Anjing

Alexandr Ivanov

“Dasar anjing! Sudah buruk rupa, masih kudisan, bermata empat pula!”

Nabi Nuh ‘Alaihissalam menghardik seekor anjing kudisan bermata empat yang pada suatu hari tiba-tiba berdiam di hadapannya. Mahakuasa Tuhan semesta alam. Dengan izin-Nya, anjing kudisan bermata empat itu tiba-tiba dapat berbicara dengan bahasa manusia.

“Barusan kaubilang apa tentang diriku, wahai Nabi Allah? Apakah kau tidak sadar, sebagaimana engkau, aku pun tidak punya keterlibatan apa pun dalam proses penciptaanku?” lantangnya. “Aku, tak pernah meminta kepada Allah agar diberi rupa seburuk ini, sebagaimana engkau juga tidak pernah meminta kepada-Nya agar dianugerahi wajah tampan seperti yang kini kaumiliki. Celaanmu terhadap rupaku, wahai Nabi Allah, berurusan langsung dengan Pencipta alam raya ini!”

Nabi Nuh ambruk, menangis, merintih sejadi-jadinya, menyesali apa yang baru saja ia lakukan. Nabi Nuh merintih seraya terus-menerus beristigfar kepada Allah, menyesali kesombongan sekaligus kebodohannya. Sejak peristiwa itu, nabi yang semula bernama Abdul Ghaffar tersebut kemudian dipanggil dengan nama “Nuh”, yang dalam bahasa Arab bermakna “rintihan”.

Kisah Nabi Nuh dan seekor anjing ini dapat kita ambil hikmahnya sebagai bekal dalam menyusuri lorong-lorong kehidupan. Menghina binatang saja tidak boleh, apalagi membinatangkan manusia. Atau, dalam konteks sosial-politik kita hari-hari ini: menghina kampret dan cebong saja tidak boleh, apalagi mengkampret-kampretkan atau mencebong-cebongkan manusia.

Sejak pemilihan presiden 2014, kita terbelah (atau dibelah?) ke dalam dua kutub politik yang diperlawankan. Orang-orang sekolahan menyebutnya sebagai oposisi biner. Oposisi biner tidak menyediakan kuning, merah, hijau, apalagi abu-abu saat realitas sudah dikategorisasikan ke dalam hitam dan putih. Tidak menyediakan tempat lain saat manusia sudah dibagi, “Kalau kau bukan kelompok ini, maka kau bagian dari kelompok itu. Jika kalian tidak mendukung pilihan kami, berarti kalian mendukung pilihan mereka.”

Yang waras, yang memiliki jiwa bening dan akal sehat, seolah-olah tidak berhak punya tempat. Semua orang dipetakan ke dalam dua kubu yang diperlawankan, ke dalam politik hitam-putih itu. Akhirnya, kebodohan dan pembodohan tidak bisa dibedakan lagi. Kenyataan ini dapat kita lihat di media sosial. Di jagat manusia milenial itu, hingga hari ini kita terbelah (atau dibelah?) menjadi dua kelompok: cebong dan kampret. Cebong ditahbiskan untuk para pendukung Joko Widodo, sedangkan kampret dinisbatkan bagi para pendukung Prabowo Subianto.

Jebakan politik ini berlanjut terus-menerus hingga pemilihan gubernur DKI Jakarta 2017 lalu. Para pendukung Basuki Tjahaja Purnama disebut cebong, sedangkan kampret ditujukan untuk para pendukung Anies Baswedan. Genderang perang virtual pada masing-masing kubu ini pun makin ditabuh karena calon presiden yang akan berlaga 2019 nanti masih saja Joko Widodo dan Prabowo Subianto.

Polarisasi semacam ini memaksa kita untuk hanya menjadi partisan politik, yang dikerdilkan menjadi sebatas pendukung sekaligus pembenci. Saat kita mendukung si A, kita akan membelanya habis-habisan, dan pada saat yang sama akan menghina si B mati-matian. Sebaliknya, saat kita mendukung si B, kita akan membelanya mati-matian, dan pada saat yang sama akan mencela si A membabi buta.

Baik kelompok A maupun kelompok B, akhirnya sama-sama menjerembapkan diri ke dalam pemberhalaan terhadap junjungannya, sekaligus pembunuhan karakter habis-habisan terhadap siapa pun yang menjadi lawan politik sang junjungan. Tidak ada lagi tempat bagi yang masih berjiwa jernih dan berakal sehat yang, menginginkan politik, menjadi jalan keindahan menuju kemaslahatan.

Bukan lagi kebenaran, kemuliaan, atau keindahan yang diperjuangkan, melainkan junjunganku, kelompokku, golonganku, organisasiku, almamaterku, dan keakuan-keakuan lain yang sungguh sangat menjijikkan. Siapa pun yang mengkritik kebijakan Joko Widodo dalam menjalankan negara, akan langsung disebut kampret. Atau, siapa pun yang mengkritik kebijakan Anies Baswedan sebagai gubernur DKI, akan langsung disebut cebong.

Lalu apa makna demokrasi bila kita hanya terjebak pada pengultusan individu yang sungguh memalukan semacam itu? Di manakah demokrasi yang setiap saat kita bangga-banggakan itu; demokrasi yang, konon, menerima kritik sebagai penyeimbangnya? Kenapa setiap kritik pada pemimpin disebut nyinyir?

Kita mengutuk Orde Baru, tapi pada saat yang sama, jangan-jangan, kita justru sedang membangun Orde Paling Baru.

Ironisnya, orang-orang yang masif dalam aksi pencebongan dan pengkampretan ini adalah saudara-saudara kita sendiri dari kalangan terpelajar, dari kaum—yang tak segan-segan menamakan dirinya sebagai—intelektual. Dengan ilmu, dengan pengetahuan, bahkan dengan gelar-gelar akademik yang mereka koleksi, ucapan dan sikap saudara-saudara kita ini semestinya berdasar ilmu dan kearifan. Namun, yang terjadi, justru sebaliknya.

Bagi manusia yang memiliki keadaban, tidak sekadar memiliki ilmu dan gelar akademis, politik adalah jalan keindahan sekaligus jalan kemuliaan untuk menggapai kemaslahatan. Politik, adalah media bagi manusia, untuk menjalankan tugas kehambaannya sebagai wakil Tuhan dalam merawat tatanan alam dan menjaga irama kehidupan. Bila kita sanggup demikian, politik akan menjadi jalan yang mengantarkan kita menjadi manusia yang sungguh-sungguh manusia, bukan manusia setengah manusia.

Oleh karena itu, sudah waktunya kita kembalikan politik pada hakikatnya, yakni sebagai jalan keindahan dan kemuliaan untuk mewujudkan Indonesia yang makmur dan bermartabat. Indonesia yang berperadaban sekaligus berkeadaban. Sudah saatnya, kita sudahi semua keriuhan-keriuhan ini, dengan berhenti mencebong-cebongkan dan mengkampret-kampretkan saudara-saudara kita sebangsa dan se-Tanah Air sendiri.

Kalau pencebongan dan pengkampretan ini terus berlangsung, maka benarlah dugaan malaikat—sebagaimana dikisahkan kitab suci—bahwa manusia, kita semua, adalah entitas yang hanya bisa bermusuhan dan menumpahkan darah sesama. Binatang saja tidak boleh dihina oleh manusia pilihan sekelas Nabi Nuh sekalipun, apalagi menghina manusia, yang saking mulianya hingga Allah bersumpah dalam al-Qur’an, walaqad karramna bani adam, “Dan makhluk bernama manusia itu sungguh benar-benar kami muliakan.” Oh, alangkah betapanya!

Saudaraku, bangsaku, mari kita belajar dari rintihan Nabi Nuh. Marilah kita berguru kepada anjing, yang Allah tugaskan, untuk menyadarkan Nabi Nuh.

Ahmadul Faqih Mahfudz

Pemandang budaya, tinggal di Bali.
Ahmadul Faqih Mahfudz

Latest posts by Ahmadul Faqih Mahfudz (see all)

Comments

  1. A H Kurnia Reply

    Tolong bedakan pula kritik dan ujaran kebencian. Salam 🤗

    • Rois Reply

      Juga harus lihat keadaan dong, kalo dlm situasi politik saat ini, sebagus apapun kritik; jika menuju 2 kelompok itu, ya akan selalu dianggap ujaran kebencian.

  2. Rambu Prihatin Reply

    Kita sadar dan bangga bahwa kita hidup di masyarakat yang multikultural, sayangnya kita tidak pernah bisa untuk menerima dan menghargai perbedaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.