Bukti Kuasa Wanita

Informasi Buku

Judul               : Circe

Penulis             : Madeline Miller

Penerjemah      : Lulu Wijaya

Terbit               : Cetakan I April 2019

Penerbit           : Gramedia Pustaka Utama

Tebal               : 544 halaman

ISBN               : 9786020628943

 

Bila dihadapkan pada gagasan mengenai kuasa, pasti akan terlintas di benak kita tiga hal: kendali, dominasi, dan pengambilan keputusan atas pihak lain. Namun dalam hal ini rasanya sudah tidak relevan lagi jika muncul pertanyaan “apakah setiap insan mempunyai kuasa.” Mungkin akan lebih tepat jika kita mengajukan pertanyaan “apakah setiap insan menyadari dan mampu memanfaatkan kuasa mereka.” Ini terutama terkait takdir yang mencakup pilihan-pilihan hidup manusia.

Kisah Circe karya Madeline Miller, yang didasari dan dibalut mitologi Yunani, tidak hendak mempertanyakan apakah kaum perempuan, yang pada umumnya digambarkan sebagai kaum tertindas, memiliki kuasa atas diri mereka sendiri. Novel yang masuk dalam daftar nominasi Women’s Prize for Fiction tahun 2019 ini lebih ingin menunjukkan bahwa kendati berada di bawah kendali dan dominasi kaum lelaki, perempuan bukannya tak punya kuasa sama sekali. Tetapi apakah mereka menyadari dan mampu memanfaatkannya, itulah yang coba diuraikan sang pengarang.

Terlahir sebagai nymph (dewi kelas rendah dengan kuasa terbatas yang bahkan tak bisa memastikan keabadiannya sendiri) dari ayah Helios sang Dewa Matahari dan ibu dari golongan naiad bernama Perse, Circe acap kali direndahkan karena tak berparas cantik, bersuara jelek, dan ditakdirkan kelak hanya akan berpendamping seorang pangeran dari kalangan manusia sampai-sampai ibunya pun tak sudi peduli padanya. Tetapi Circe memiliki hati nan welas asih, bahkan terlalu baik hingga ia tak acuh dijadikan bahan tertawaan ibu dan saudara-saudaranya. Tak acuh pula ia terhadap hukuman yang sudah pasti menjadi risikonya ketika berani menghampiri Prometheus dan memberinya nektar kala sang Titan terluka parah seusai dihukum cambuk.

Tak hanya baik, Circe juga digambarkan terlalu naif. Demi cinta matinya kepada Glaucos, seorang nelayan manusia yang menjadi pelipur lara dan pengusir kebosanan-kebosanannya, ia rela berbuat apa saja. Ia tahu lantaran berasal dari dua dunia yang berbeda mereka takkan pernah bisa bersama selamanya, maka ia nekat memetik bunga keramat pharmaka serta menggunakan kuasanya untuk mengubah Glaucos menjadi dewa laut yang abadi. Siapa sangka, perbuatan nekatnya tak membuahkan hasil yang diinginkan. Glaucos menjadi dewa arogan dan tak peduli padanya, dan justru jatuh cinta kepada Scylla, salah seorang nymph dan kerabat Circe nan cantik dan keji. Lagi-lagi demi cinta, dalam keadaan cemburu dan putus asa, Circe menggunakan bunga keramat yang sama guna mengubah Scylla menjadi monster mengerikan. Karena inilah, karena ia menggunakan kuasanya (dengan demikian menyingkap jati dirinya sebagai seorang penyihir), Circe dijatuhi hukuman eksil ke pulau terpencil: pulau Aiaia.

Namun di sinilah titik balik Circe. Sendirian di tempat pembuangan, ia mulai melihat segala sesuatu dengan lebih jelas, lebih memahami jalannya dunia dan dirinya sendiri. Di sana ia mulai benar-benar menyadari kuasa yang dimilikinya, juga bakatnya sebagai penyihir yang ia gali dan ia asah hingga tingkat ketajaman yang menakutkan. Ia bertransformasi dari seorang nymph yang lemah dan diperlemah oleh dominasi kaum lelaki (Dewa Zeus dan ayahnya) menjadi seorang penyihir yang ditakuti.

Ketika para pelaut berlabuh di pulaunya dan mengira ia hanyalah wanita tak berdaya yang bisa dijadikan sasaran hasrat binatang mereka, Circe tak ragu-ragu mengubah mereka menjadi sebagaimana hasrat mereka. Ketika anak-anak perempuan dari dewa-dewa rendahan dihukum untuk melayaninya tetapi justru memandang sebelah mata padanya, Circe tak segan-segan menunjukkan siapa tuan di pulau itu yang sebenarnya. Ia juga belajar dari saudarinya Pasiphaë, kala membantu melahirkan bayi monster kerbaunya, bahwa bila wanita tak mengerahkan segenap kekuatan dan tipu daya guna mengendalikan pria, maka prialah yang akan mengendalikan wanita.

Di tengah prahara yang dialaminya itu pulalah ia bertemu Daedalus dan mulai mengenal cinta yang sesungguhnya. Namun ia masih belum sadar bahwa ia mampu melawan takdir di mana ia seorang dewi yang hidup abadi sedangkan sang pengrajin hanyalah manusia biasa yang fana. Cinta mereka pun kandas dilanda kematian. Ketika Odysseus, sang prajurit yang baru saja kembali dari Perang Troya, terdampar di pulau terpencilnya, lagi-lagi ia jatuh hati. Tetapi kali ini ia tidak mau menyerah begitu saja kepada takdirnya. Ia tahu cepat atau lambat mereka akan berpisah dan Odysseus kelak akan menemui ajal, maka ia abaikan ramuan pencegah kehamilannya dan diam-diam melahirkan keturunan bagi sang Raja Ithaca, buah cinta “abadi” mereka. Tatkala Dewi Athena hendak merenggut nyawa sang putra, ia pun melawan sekuat tenaga.

Setelah ratusan tahun menjalani naik-turun kehidupan, Circe akhirnya menyadari bahwa dirinya sendirilah penentu takdirnya, dan ia dapat berbuat apa saja yang ia rasa benar, atau diperlukan. Apa pun risiko yang mesti dihadapi, ia tak takut menentang ketentuan para dewa bagi dirinya.

Melalui fiksionalisasi mitos Circe ini Madeline Miller hendak memperlihatkan perjuangan berat kaum perempuan melawan pandangan-pandangan patriarki di tengah gejolak “masyarakat” Titan dan dewa-dewa Olympus. Teriakannya keras, kritiknya tajam. Seperti dalam olok-olok yang dilontarkan kerabat Circe padanya lantaran sosoknya yang tidak cantik, Miller mengutuk gagasan bahwa wanita yang tidak rupawan tidaklah berguna, tidak ada nilainya, tidak akan pernah menikah apalagi punya anak, merupakan beban keluarga dan noda yang mencoreng dunia.

Contoh lain adalah ketika Miller secara terang-terangan menihilkan pemikiran bahwa wanita tidak bisa mandiri, bahwa wanita yang hidup sendiri pastilah lemah, tidak dapat melindungi diri sendiri, dan bisa diperlakukan sesuka hati (baca: dilecehkan) oleh kaum pria. Miller ingin sekali menunjukkan bahwa wanita punya kuasa untuk mengambil keputusan sendiri, menanggung akibat dari perbuatan mereka sendiri, berjuang sendiri dan mengandalkan kemampuan mereka sendiri.

Namun yang tak kalah menarik (atau mengejutkan?) adalah keberanian Miller, bisa dianggap secara tidak langsung, mengkritik keilahian melalui olok-oloknya terhadap tindakan para dewa. Dewa sangat gemar disembah, sangat senang melihat manusia terus-menerus berdoa dan berkurban bagi mereka. Mereka tak akan berhenti memberikan cobaan dan penderitaan demi membuat siapa pun yang berada di bawah mereka tunduk dan taat. Ini sebagaimana yang diutarakan oleh Hermes sendiri:

“Orang yang bahagia terlalu sibuk dengan hidupnya. Dia merasa tidak punya kewajiban terhadap siapa pun. Tetapi buat dia gemetar, bunuh istrinya, buat anaknya cacat, maka kau pasti dipanggil-panggil olehnya. Dia bisa memaksa keluarganya kelaparan selama sebulan untuk membelikanmu anak sapi muda seputih salju. Kalau mampu, dia akan membeli seratus ekor.”

Tidak dapat dimungkiri demikianlah kuasa ilahi. Circe telah melakukan perlawanan sejak ia mengerti takdirnya ada di tangannya sendiri. Dan dalam konteks kisahnya yang dituturkan oleh Miller ini, jika kuasa para dewa (yang tak pelak lagi juga didominasi oleh kaum lelaki) dapat dikatakan merupakan perlambang kuasa patriarkat, melawan takdir sama halnya dengan melawan sistem patriarki.

Secara keseluruhan dapat dilihat bahwa Circe merupakan sebuah karya feminis. Melalui narasi yang dibangunnya, Madeline Miller menyerukan dengan lantang keluhan dan kritik-kritiknya terhadap cara pandang serta praktik-praktik patriarki yang selama ini dipegang banyak orang. Dengan mengadaptasi mitologi Yunani (yang secara umum merupakan sandaran “maskulin” susastra Barat) dan menancapkan tokoh perempuan sebagai aktor utamanya, ia jelas-jelas hendak mengubrak-abrik pola cerita yang telah biasa diterima pembaca.

“…Aku tidak terkejut mendengar bagaimana diriku digambarkan: penyihir sombong yang ditundukkan oleh pedang sang pahlawan, berlutut dan memohon ampun. Merendahkan wanita sepertinya adalah hobi utama para pujangga. Seakan-akan tidak bisa ada cerita kalau kami tidak merangkak dan meratap.” — Circe.

Ratih Dwi Astuti

Bekerja sebagai penerjemah lepas buku-buku fiksi dan nonfiksi. Pada waktu senggang membaca buku dan menulis ulasan di blog pribadi.
Ratih Dwi Astuti

Latest posts by Ratih Dwi Astuti (see all)

Comments

  1. Yunita Reply

    Menariqqqq

Leave a Reply

Your email address will not be published.