Syaikh Ibrahim ar-Ribathi

Beliau merupakan salah seorang murid dari Syaikh Ibrahim al-Harawi. Menempuh jalan tawakal yang murni, tanpa ikhtiar, dengan melaksanakan petunjuk langsung dari sang guru. Sebagaimana gurunya, beliau juga sezaman dengan Syaikh Ibrahim bin Adham. Termasuk generasi sufi sebelum tahun seribu Masehi.

Sang sufi ini pernah bertutur tentang proses spiritualnya bersama sang guru. Dalam sebuah perjalanan, sang guru bertanya kepada si murid.

Guru: “Ribathi, apakah engkau membawa sesuatu yang engkau simpan sembunyikan di dalam perjalanan ini?”

Murid: “Tidak, wahai Guru.”

Mereka kemudian melanjutkan perjalanan lagi. Tidak beberapa lama, sang guru bertanya lagi kepada muridnya itu.

Guru: “Adakah pada dirimu sesuatu yang disimpan atau disembunyikan?”

Murid: “Tidak ada, wahai Guru.”

Mereka berdua lalu melanjutkan perjalanan lagi. Dan kondisi tidak enak di dalam diri sang guru itu tetap saja mendesak untuk memunculkan pertanyaan sebagaimana yang sudah dua kali dilontarkan itu.

Guru: “Demi kebenaran hadiratNya, katakan dengan terus-terang kepadaku, adakah sesuatu yang engkau simpan atau sembunyikan di dalam perjalanan bersamaku ini? Karena hal itu telah membuat kakiku sangat berat untuk melangkah. Aku tidak kuat berjalan lagi.”

Murid: “Tidak ada apa pun yang kusimpan pada diriku dalam perjalanan ini selain tali sandal yang mungkin diperlukan dalam perjalanan ini. Andaikan tali sandal yang kupakai putus, maka bisa langsung kuganti.”

Guru: “Apakah sudah putus tali sandalmu?”

Murid: “Belum, Guru.”

Guru: “Buang saja tali-tali sandal itu. Benda-benda itu telah menjadikanku tidak sanggup melangkahkan kaki.”

Dengan rasa takzim dan penuh kepatuhan, si murid itu membuang tali-tali sandal cadangan itu. Hatinya bergegas untuk merasakan tingkatan tawakal yang paling murni.

Betapa sangat mengagumkan. Sungguh merupakan tawakal tingkat tinggi di mana bahkan hanya bekal tali-tali sandal saja (sekali lagi, hanya tali sandal) bisa menjadi hambatan spiritual bagi berlangsungnya proses rohani. Ya Allah, maafkanlah kami. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.