Einstein dalam Ruang Fiksi

in Rehal by

Judul buku                  : Anomali Hati

Penulis                         : Lubis Grafura

Penerbit                       : Mojok

Tahun terbit                 : Mei 2018

Tebal                           : 175 halaman

ISBN                           : 978-602-1318-67-6

“Entahlah, aku merasa seperti itu saja. Dulu, guruku pernah mengatakan bahwa sebelum kita dilahirkan ke bumi, ruh kita pernah dekat, itulah mengapa ketika berada di bumi kadang kita merasa dekat dengan orang yang belum pernah kita kenal. Sebelum jarak terbentang, barangkali kita dulu pernah sedekat ini,” ucap Sheli sembari merekatkan jari telunjuk dan jari tengahnya hingga berdekatan dan mengarahkan ke Alendra.

Percakapan terakhir Sheli dan Alendra dalam novel Anomali Hati, barangkali, dapat digambarkan sebagaimana ilustrasi dalam kover buku ini. Dua insan yang memandang jam tangan masing-masing dengan saling membelakangi satu sama lain. Tepat dengan cerita yang akan disuguhkan dalam novel Lubis Grafura yang banyak mengandung “ungu” juga “biru”-nya sebuah kehidupan penuh teka-teki. Persis dengan kover buku terbitan Mojok ini.

Pertemuan mereka bermula ketika di kampusnya seseorang telah salah mengirim pesan. Alendra menanggapinya dan mereka menjalin persahabatan melalui dunia maya. Terjadi keterhubungan di antara mereka berdua (hal 13). Hingga pertemuan mereka diakhiri dengan perjumpaan di sebuah Taman Belajar setelah fase yang cukup lama. Ketika sebuah mobil merah milik profesor terlihat melaju di hadapan mereka. Dan selalu, “Semua akan baik-baik saja,” tegas Alendra.

Latar belakang penulis sebagai pengampu jurnalistik, ternyata mampu mengangkat sebuah tema yang realistis tentang anomali waktu. Serentetan kisah ilmiah yang dibalut dengan fiksi seakan mengajak kita untuk peka terhadap segala hal yang terjadi di lingkungan. Hal ini membuat saya sepakat dengan pernyataan Dea Anugrah, penulis Bakat Menggonggong; “Writer’s block itu seperti dosa. Kalau kita tidak memikirkannya, ia tidak ada. Seperti kata Szymborska: dua puluh tujuh tulang, tiga puluh lima otot, dan dua ribu saraf pada tiap ujung jari-jari kita sudah lebih dari cukup untuk menulis apa saja.”

Maka, biarkan saya menyimpulkan satu hal dalam buku ini, bahwa syukur sangat berkaitan erat dengan inspirasi. Meskipun boleh dikatakan bahwa mereka bukan “saudara kandung”, keduanya cukup berhasil untuk mendefinisikan hukum baru tentang teori semacam kait-mengait, dominasi, atau teori apa saja (yang bebas untuk disebutkan). Sebab, inspirasi tercecer di mana-mana; bawah meja, saku baju, rak piring, ampas kopi, sapu lidi, atau bahkan bau mulut kita sendiri. Bau mulut! Saya tidak habis pikir bagaimana Dee Lestari juga mampu membuat resep aksara dengan bumbu aroma. Ya, Aroma Karsa. Fantastis!

Di bagian pertama, Lubis tidak tergesa-gesa membawa penulis kepada konflik cerita. Dia mencobanya perlahan-lahan sambil disuguhi berbagai hidangan tentang beruang yang tiba-tiba kesakitan akibat terkena panah beracun dari seorang pemburu. Menu awal dapat kita santap dengan pertanyaan profesor yang membawa kita kepada alur untuk mengenal hukum fisika. Hukum Newton, kekekalan momentum, teori dawai hingga yang menjadi persoalan utama perihal teori waktu. Pasti, tanpa didasari oleh pengetahuan tentang ilmu-ilmu fisika dan sejenisnya, fiksi ilmiah ini tidak akan pernah ada.

“Oh ya, Alendra, satu lagi, jangan pernah menyia-nyiakan waktu!” Seperti sebuah kalimat yang selalu diulang-ulang dalam buku ini, meskipun berbeda-beda subjek dan sudut pandang yang menaruh pesan kepada tokoh utama. Namun seolah penulis ingin memberikan penekanan khusus kepada pembaca yang berujung kepada amanat cerita. Seperti pengakuan Alendra; dulu, saat kecil aku berpikir bahwa membaca buku adalah membuang-buang waktu. Tapi seiring bertambahnya usia, aku tak boleh membuang-buang waktu tanpa membaca buku (hal 61).

Lagi, Galileo pun masuk sebagai nominasi berlabel waktu dalam hal ini. Dia mengakui bahwa seharusnya kita terhindar dari cinta berlebihan terhadap hal-hal duniawi dan meninggikan pikiran kita menuju hal-hal yang ilahiah (hal 23). Eureka! Saya mendapat ungkapan keterkejutan dari Archimedes ketika berhasil menemukan cara mengukur volume benda yang bentuknya tidak beraturan (hal 4).

Tidak hanya itu, Lubis juga memberikan luapan amanat dengan mengutip pernyataan Ray Bradbury, Milan Kundera, selain nama-nama ilmuwan: John Napier penemu logaritma, Tsai Lun penemu kertas, James Watt penemu mesin uap, Thomas Alva Edison penemu lampu pijar, George Stephenson penemu kereta api, juga kisah misteri Vlad dan Hitler. Keterangan perihal referensi ilmiah mampu ditemukan pembaca di setiap lembar atau dialog Alendra yang berhasil membawa pembaca masuk ke dunianya.

Ini persis seperti lukisan dinding kamar Alendra dengan potongan-potongan koran atau majalah tentang isu dan konsep yang berhubungan dengan ilmu fisika: partikel Tuhan, Hawking, lubang hitam, turbulensi, kecelakaan pesawat, Konspirasi 11 September, dan sederet istilah-istilah fisika lainnya (hal 25). Berbeda halnya dengan kesejajaran waktu yang menjadi fiktif dalam novel ini. Lubis Grafura mencatat betul teori ilmiah sambil terus membuat halusinasinya terbang jauh. Ada keterikatan tanah dengan langit, namun masih saling terkait meskipun terdapat jarak yang “renggang” untuk dianalisis lebih dalam.

Lagi-lagi waktu! Sebuah anomali yang membuat kita turut bertanya, “Mengapa waktu?” menjadi sebuah tanda tanya besar untuk apa sebenarnya kita diciptakan. Sebuah misteri yang sama untuk menggambarkan pertemuan antara Alendra dan Sheli. Dua nama yang mungkin digariskan penulis untuk menjadi sejoli. Sebab mengambil dasar dibuatnya judul berfondasikan problema kisah asmara dua pemuda, cukup membuat pembaca penasaran tentang kisah cinta serupa apa yang sesungguhnya terjadi.

Meskipun terkadang imajinasi yang berlebihan membuat pembaca bosan, apalagi untuk persoalan ilmiah yang membutuhkan logika lebih, saya rasa hanya butuh waktu untuk kembali menengok rahasia yang belum terpecahkan. Sebelum akhirnya tokoh cerita bertemu dalam situasi dan kondisi yang ragu-ragu, sedangkan pembaca telah dibawa penulis menuju tempat indah yang penuh bunga-bunga bermekaran di atas langit. Tentu ini sebuah perumpamaan untuk menggambarkan betapa eloknya alur hidup Alendra, Sheli, Helvinda, dan tokoh lainnya.

Ketika saya membaca bab demi bab, saya berharap mendapat kejutan dari penulis sampai membelalakkan mata pembaca sambil mengumpat, “Ah, sial!” Saya ingin dibohongi dengan alur cerita yang manis seperti cerita pembuka dalam novel ini. Namun barangkali saya pun kurang hati-hati sehingga teledor menaruh kacamata untuk tiba-tiba mengungkapkan keterkejutan itu. Nah, maka saya memilih terkejut secara diam-diam. “Ah, nyaris kena!” ucapku membatin. Cukup membatin saja.

Setidaknya, Anda akan kembali disuguhi pertanyaan semacam; Apakah tanpa pernah bertemu, kita dapat saling menjalin cinta? Apakah waktu dapat mengembalikan memori untuk kembali mengenang kejadian bersama orang-orang tersayang? Atau barangkali seperti Werner Heisenberg, yang saat menghadapi kematian di ranjangnya masih sempat berpikir bahwa jika ia bertemu dengan Tuhan kelak akan menanyakan dua hal, “Mengapa relativitas? Mengapa turbulensi?” (hal 23).

Menulis dua pertanyaan di atas, saya merasa Einstein sedang berada di hadapan, sambil menyaksikan jemari saya mengetikkan tulisan ini bersama tuts keyboard yang tidak tahu kapan akan berhenti. Einstein, dengan menggulung benang berwarna merah hati, lalu tabung bambu berdiameter kira-kira 4 centimeter berada di genggaman yang menyentuh kulit keriputnya.

Saya takut menjadi objek baru penelitian Einstein. Sebelum gulungan benang semakin pendek, bacalah buku ini dan temukan banyak fakta ilmiah yang bahkan hanya dengan sekadar tersenyum, mampu membuat hatimu tenang. Begitu kata Alendra mengingat penemuan Robert Zajonc bahwa ketika seseorang tersenyum, otot-otot wajah berkontraksi, mengurangi aliran darah menjadi dingin kemudian menurunkan temperatur dan memicu produksi serotonin. Serotonin inilah yang membuat otak menjadi tenang (hal 167).

Menjelang bagian-bagian terakhir buku ini, saya seolah disuguhkan dengan pernyataan yang tiba-tiba dari penulis. Saya menemukan penulis sedang mencari bolpoin untuk menulis, tapi yang ditemukan adalah pensil. Dia tetap menggunakannya meskipun kurang jelas untuk dibaca. Padahal apabila tokoh ibu atau fungsi indra manusia, juga Helvina yang ternyata ialah Uci itu ditempatkan pada posisi yang tepat, saya rasa ini jauh lebih menarik. Tapi, saya selalu suka bagaimana penulis membisikkan nilai-nilai karakter ke telinga pembaca.

Mutia Senja

Mutia Senja

Lahir di Sragen, Jawa Tengah. BergiatdiLKPMSeribuPena,Sekolah MenulisSragendanKomunitasSangkarLiterasi. Pengalamannyamembacapuisidiberbagaikegiatan sastramaupunkompetisisejaktahun2014. Memenangkan kompetisi menulis berupa esai, artikel, dan resensi dan puisi. Buku puisi tunggal Manahan Selepas Hujan. Blogger di aksaramutiasenja.blogspot.co.
Mutia Senja

Latest posts by Mutia Senja (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.