“Empati” pada Sisi Gelap Manusia

Judul Buku                  : The Good Son (Anak Teladan)

Penulis                         : Jeong You-jeong

Penerjemah                  : Iingliana

Penerbit                       : Gramedia Pustaka Utama

Tahun Terbit               : 2019

ISBN                           : 9786020622569

Tebal                           : 406 halaman

Kategori                      : Novel

Baru-baru ini, terdapat kontroversi terkait trailer film Extremely Wicked, Shockingly Evil, and Vile (2019) yang bahkan belum tayang. Film tersebut diangkat dari kisah nyata mengenai Ted Bundy, salah satu pembunuh (dan pemerkosa) berantai yang sangat legendaris. Polemik pada trailer tersebut berkisar mengenai tepatkah menggambarkan pembunuh berantai sebagai individu yang karismatik dan menawan, bahkan terkesan mengidolakan dan ada yang menganggapnya sebagai antihero.

Meski demikian, sudut pandang lain pun cukup banyak yang menegaskan: bukankah Ted Bundy memang sosok karismatik, pandai, dan memiliki citra yang baik di masyarakat? Ia bahkan pernah bekerja pada suicide center dan menolong anak yang hampir tenggelam. Lagipula, bukankah citra tersebut wajar dikenakan sebagai topeng seseorang yang memiliki sisi gelap? Dalam beberapa kasus kriminalitas, sosok-sosok teladan inilah yang kemudian mengejutkan khalayak. Pertanyaannya, jika Anda mengenal seorang yang kelihatan begitu “sempurna”, seberapa baikkah sebenarnya Anda mengenalnya?

Dalam novel ini, Jeong You-jeong, salah satu penulis thriller terbaik Korea Selatan, menyajikan pertanyaan tersebut kepada pembacanya. Kisah ini dimulai ketika suatu pagi, Han Yu-jin, menerima telepon dari saudara angkatnya, Kim Hae-jin, yang menanyakan keadaan ibu mereka. Hae-jin saat itu sedang bekerja di luar kota, sedangkan Yu-jin tinggal bersama ibunya di apartemen mereka. Hae-jin menelepon Yu-jin karena sang ibu tidak menjawab teleponnya. Malam hari sebelumnya, sang ibu juga menelepon Hae-jin pada waktu yang tidak wajar. Belum sadar betul dari tidurnya, Yu-jin menyadari ada yang tidak beres ketika ia mencari ibunya. Ia menemukan ibunya tewas bersimbah darah.

Yu-jin, yang memiliki riwayat menyerupai epilepsi, berusaha keras mengingat apa yang terjadi malam sebelumnya. Hal itu dikarenakan ia selalu merasa kehilangan ingatan setelah terjadinya serangan. Dari sini, “petualangan” yang sebenarnya dimulai. Pencarian fakta dilakukan oleh Yu-jin. Ia tidak hanya berusaha mencari hal-hal di luar yang bisa mendukung teorinya, tetapi juga “merefleksikan” kembali hubungannya dengan ibunya, bibinya yang psikiater dan bertanggung jawab akan pengobatannya, almarhum ayah dan kakaknya, serta saudara angkatnya selama sepuluh tahun terakhir. Di dalamnya, Yu-jin juga mengingat kembali ketika ia pernah mengalami masa keemasan sebagai seorang calon atlet, siswa teladan, dan anak kesayangan ibu.

Sebenarnya, novel ini bukanlah merupakan jenis cerita kriminal whodunit atau mencari siapa pelakunya. Sekitar seperlima novel, pembaca sudah disuguhkan jawaban pastinya. Akan tetapi, hal itu tidak menyurutkan keingintahuan mengenai penyebab, latar belakang cerita, hingga pertanyaan-pertanyaan mengenai sisi lain manusia. Selain itu, perlahan tetapi pasti, terungkap fakta-fakta menarik yang tidak jarang mengejutkan.

Jeong You-jeong mempermudah hal tersebut dengan membuat keseluruhan novel ini diceritakan dalam sudut pandang orang pertama. Teknik unreliable narrator yang digunakan cukup mampu membawa pembaca untuk merasakan nyawa pada sosok utamanya yang cenderung “tidak memiliki jiwa”. Jika pernah membaca In the Miso Soup (1997) oleh Ryu Murakami, cara penulis ini seolah membuat Kenji berada di dalam otak Frank, untuk jauh lebih memahami isi dan motivasi tindakannya yang di luar standar “moral” dan hukum. “Empati” kepada perspektif yang selama ini dianggap “gelap” dari manusia, katakanlah demikian.

Alur kisah ini cenderung linier. Kilas balik yang melatarbelakangi kejadian utama diceritakan dari sudut pandang ingatan tokoh utama, sedangkan dalam aksinya ia tetap berjalan ke depan. Hal tersebut seolah ditegaskan dalam ungkapannya ini.

Jika kita sudah melewati batas yang terlarang, kita tidak akan bisa kembali lagi. Tidak ada yang bisa kulakukan selain terus melangkah maju. (hal. 308)

Beberapa kilas balik lain disajikan dalam bentuk catatan harian tokoh lain, tetapi analisis yang diberikan hanya dari persepsi tokoh utama. Penulis menggambarkan pikiran dan kejadian dengan sangat deskriptif, detail, dan intens. Sekitar 70% dari novel ini hanya berkutat pada satu tempat, tetapi tidak lantas jadi monoton. Ketegangan yang dibangun dengan hati-hati dan panjang pada tiap adegannya menimbulkan kesan klaustrofobik dan cul-de-sac.

Di lain sisi, hal ini kadang bisa menjadi senjata makan tuan. Kadang, cara penceritaan ini bisa menimbulkan rasa lelah dan agak bosan ketika harus membaca detail yang amat remeh dan kemajuan yang cenderung lambat. Walau demikian, penulis berhasil dalam menghidupkan karakter yang kuat bagi tokohnya dan memperdalam pemahaman pembaca akan persepsi tokoh utama. Bagaimana tokoh utama memandang dunia dari sisi kerugian dan keuntungan, juga bagaimana rasa cinta dan kekhawatiran dipersepsikan sebagai rasa benci dan diskriminasi, menjadi salah satu poin penting untuk “merasakan” apa yang “dirasakan” oleh sang tokoh. Secara keseluruhan, penulis membungkusnya dengan cukup efektif, meski di bagian akhir masih ada beberapa pertanyaan dalam plot yang belum terjawab atau terasa tanggung.

Hal lain yang bisa dicermati dari karya ini yaitu mengenai kedalaman motivasinya. Dari beberapa cerita mengenai perilaku psikopati yang pernah beredar, penyebab dalam kisah ini rasanya belum cukup kuat. Memang, kecenderungan untuk menjadi seorang psikopat atau seseorang dengan anti-social personality disorder (atau ciri/traits-nya saja) bisa ditelusur dari kerja di otak. Beberapa penelitian neurologi dan psikiatri mengemukakan bahwa sistem dopamin yang hyper-reactive, juga terhalangnya fungsi amygdala, insula, dan ventromedial prefrontal cortex menjadi faktor yang bertanggung jawab akan karakteristik psikopatik seseorang. Meski bersifat genetis, tidak jarang hal tersebut dapat dikendalikan dengan dukungan dari lingkungan dan orang terdekat.

Beberapa kisah lain cukup kuat memberi latar belakang dalam hal lingkungan sebagai faktor risiko seseorang memiliki kerentanan psikologis. Di dalam dunia nyata pun, Ted Bundy memiliki masa lalu yang kelam, di antaranya hubungan dengan ibunya yang kurang baik (ia pikir ibunya adalah kakaknya), kakeknya yang abusive dan spekulasi bahwa kakeknya juga adalah ayah kandungnya (kakeknya menghamili anaknya sendiri), dan beberapa hal lain. Tokoh Kawashima Masayuki dalam Piercing (1994) karya Ryu Murakami, meski belum sampai sungguh membunuh, juga memiliki latar belakang yang cukup kuat untuk kita bisa berempati, yaitu kekerasan ketika ia masih kecil. Selain karakteristik psikopatik, ada juga tokoh dalam cerita lain yang mengalami kejatuhan mental dengan latar belakang yang kuat, seperti tokoh Yeong-hye dalam The Vegetarian (2007). Tentunya tidak lantas penyebab atau motivasi tokoh utama menjadi hal yang paling penting. Akan tetapi, hal ini perlu digarisbawahi jika merujuk pada keakuratan medis, meski penulis telah melakukan riset sebelumnya.

Berbeda halnya karya lain yang tidak terlalu berfokus pada hal-hal tersebut, tetapi memang ingin menyampaikan maksud lain, seperti disajikan oleh novel-novel transgressive semacam American Psycho (1991) yang satire terhadap keadaan sosial. Jika memang novel ini ditujukan untuk menanyakan hal-hal yang lebih mendasar atau hal lain selain karakteristik tokoh utama itu sendiri, lantas apakah yang ingin disampaikan?

Dari beberapa sisi, We Need to Talk about Kevin (2003)  dan Nan-core / Yurigokoro (2015) bisa jadi merupakan perbandingan yang lebih sesuai mengenai tokoh dengan permasalahan serupa dan pesan yang ingin disampaikan oleh penulisnya, hanya dari sisi yang berbeda, yakni tokoh utama langsung. Jika kedua karya di atas masih sedikit menyisakan “kehangatan” dan kelegaan “manusia normal” di akhir, barangkali karya ini menawarkan hal yang sedikit berkebalikan: bagaimana jika sosok yang bertahan bukanlah yang penonton inginkan?

Mungkin, inilah yang menjadi pertanyaan mendasar bagi penulis yang coba ia jawab dengan novel ini. Di bagian belakang, pada bab Kata-Kata Penulis (“Manusia Berevolusi Menjadi Pembunuh), ia mengutip David Buss, seorang profesor evolusi psikologi. Secara singkat, dijelaskan bahwa manusia tidak terlahir jahat atau baik, tetapi untuk bertahan hidup. Karena itulah, manusia sukses berevolusi menjadi seorang pembunuh, sebab itulah cara untuk menyingkirkan pesaing mereka. Manusia selalu memiliki dua sisi mata uang untuk bertahan hidup dan itu adalah hal biologis yang wajar. Lantas, pada akhirnya, apakah kejahatan itu?

Keshia Sawitri

Keshia Sawitri

Pembaca. Pembelajar. Penikmat. Penyintas. Magister Psikologi Profesi. Blog: mastautin.wordpress.com
Keshia Sawitri

Latest posts by Keshia Sawitri (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.