Gregor Samsa dan Seorang Wanita

(robertsonartgallery.co.za)

 

Untuk Elza

Aku menyukainya. Perempuan itu, maksudku. Yang kerap datang ke perpustakaan ini dengan wajah yang antusias manakala mendapati kami di rak buku-buku tua. Kau tahu, penciptaku—Tuan Kafka yang dihormati di jagat sastra abad 20 itu—mungkin tak pernah mengira, manusia yang ia bangunkan di satu pagi paling gila dan mendapati dirinya berubah menjadi seekor kecoa raksasa nan menjijikkan ini, bakal merasakan cinta berpuluh-puluh tahun kemudian. Ya, seorang Gregor Samsa1, si salesman iklan ini, yang kemudian dikucilkan keluarganya sendiri sebab tubuhnya serta-merta berubah menjadi binatang yang sungguh tak sedap dipandang, di waktu yang melaju jauh ke depan, bisa menyukai seorang wanita. Aku tahu, hal ini sedikit klise untuk kaucerna dengan otak berpengetahuan majumu itu. Akan tetapi, percayalah, aku sungguh menyukainya.

Pertemuan kami bermula di satu siang yang terik. Kala itu, dengan langkah anggun perempuan itu memasuki perpustakaan dan pandangannya begitu saja tertuju pada rak paling pojok di sisi kiri ruangan. Benar, dari situ aku segera tahu, ia memiliki ketertarikan kepada buku-buku klasik. Tanpa mengalihkan pandang ke objek lain, ia langsung mendatangi kami—buku-buku tua ini—dan yang kali pertama mencuri perhatiannya, adalah Nona Emma2 yang berdiri tenang di rak paling atas. Seketika aku berpendapat, Nyonya Jane Austen mungkin menjadi favoritnya. Kau tahu, roman-roman beliau kudengar begitu populer di kalangan para gadis, dan dengan demikian, aku tak terlalu heran mengapa ia memilih Nona Emma.

Sebersit senyum terbit ketika ia membalik kover belakang dari tubuh Nona Emma. Ah, benar, ia menyukainya.

“Tuan Gregor, Anda terlihat cemburu,” celetuk Lelaki Tua yang di abad sekian pernah bergelut dengan ikan raksasa3.

Uh, dasar tua bangka sok tahu! “Urus saja ikanmu!” aku berdecak kesal. Sementara ia terkekeh hingga bahu kurusnya itu terguncang. Sial, aku mengutuk pustakawan yang telah menempatkan kami berdekatan seperti ini. Ia tetangga yang usil. Mungkin karena ikannya hampir habis dimakan hiu, ia menjadi frustrasi, dan mengisengi tetangga menjadi obat kekesalannya.

Mengabaikannya, aku kembali memusatkan perhatian kepada perempuan itu. Ia mengambil kursi di sudut dekat jendela, tempat yang agak sepi. Ah, dia butuh ketenangan. Hari itu, ia tetap di posisinya itu hingga satu jam kemudian. Kisah Nona Emma hampir separuh ia lahap. Kudapati ia beberapa kali tertawa kecil. Dan cukup sering ia tampak senyum-senyum sendiri. Aneh sekali, melihatnya begitu, seperti menghadirkan ketenangan yang ganjil. Maksudku, aku seperti sejenak melupakan kisah hidupku yang menyedihkan sebab hari-hariku menjadi berantakan pasca tubuh ini berubah menjadi kecoa raksasa. Aku tertarik kepadanya, entah mengapa. Dan terus terang saja, kala itu aku ingin mendatanginya. Atau paling tidak, berdiri tak jauh darinya. Namun, bila aku melakukan itu, ia toh akan menjerit keras, bukan? Hei, perempuan mana yang tidak ketakutan mendapati kecoa ada di dekatnya? Di mata mereka—baiklah, dulu di mataku juga—seekor kecoa itu menyeramkan. Gelagatnya, apalagi ketika ia terbang ke sana-kemari, bisa menghebohkan seisi ruangan ini. Dan sialnya lagi, aku menjadi kecoa raksasa! Bisa kaubayangkan betapa gemparnya perpustakaan ini bila menemukanku berdiri dengan sungut panjang yang bergoyang dan sepasang sayap yang bergetar?

Baiklah, itu beberapa bulan yang silam. Sebelum aku hampir mati kebosanan menunggunya. Ya, kau tahu, hingga saat ini, dari sekian banyak buku tua, aku menjadi salah satu yang belum ia lirik. Apa ia tidak menyadari keberadaanku? Apa nama Tuan-ku belum ia dengar, sehingga ia sama sekali tak tertarik padaku? Seorang Gregor Samsa yang namanya cukup menggemparkan jagat kesusastraan tidak ia kenal? Oh, sungguh tidak kupercaya!

Akan tetapi, demikianlah kenyataannya.

Dan kendati ia tak melirikku sama sekali, sampai sekarang aku masih peduli padanya. Usiaku sepuluh tahun sejak perpustakaan universitas ini bertahun-tahun silam didirikan, dan aku menjadi salah satu penghuni yang paling awal mengisinya. Namun begitu, baru kali ini aku mendapati diriku peduli kepada pengunjung perpustakaan. Kau tahu, ia cukup berbeda dengan kebanyakan pengunjung lainnya. Tidak seperti mereka yang datang membawa barang tipis yang memancarkan gambar dan menyita sepenuhnya perhatian mereka, duduk berkelompok sambil sibuk berbicara dan tertawa riang berderai-derai, atau masuk kemari hanya karena tempatku tinggal ini berpendingin. Ia, ah kutegaskan sekali lagi, berbeda dengan mereka. Ia mengingatkanku kepada para pengunjung perpustakaan di tempatku berasal, yang begitu peduli dengan kami, dan menjaga kesenyapan rumah kami ini.

***

Hari ini aku mendapatinya tengah menyelami kisah Nona Fern Arable bersama babinya, Wilbur4. Ia seperti biasa, duduk di tempat favoritnya. Sendirian. Menjauh dari hiruk-pikuk keramaian. Pandangannya tersita penuh. Seolah dunia di sekitarnya lenyap, dan ia sepenuhnya berada di semesta Nona Fern Arable yang lucu itu.

Dari balik rak, aku memandanginya. Pak Tua di sebelahku tengah tertidur pulas, dengkurannya hampir meningkahi alunan suara piano dari speaker di sudut atas ruangan. Aku mengabaikan tua bangka ini, dan sekonyong aku membayangkan diriku masihlah seorang Gregor Samsa yang bertubuh manusia, hadir di ruangan ini, dan mengambil tempat duduk di sebelah perempuan itu.

“Tidak ada yang lebih menyenangkan selain membaca kisah anak-anak di usia mendekati dewasa, ya.”

           

Ia mengangkat wajahnya. Menoleh dengan padangan tak acuh.

           

“Maksudmu?” Ia memasang wajah bingung.

           

“Kisah mereka mengingatkanmu, betapa semakin kau bertambah dewasa, keinginan untuk kembali menjadi anak-anak kerap menghampirimu. Dunia yang polos. Kebebasan. Kenakalan. Ah, sungguh menyenangkan.”

           

“Aku belum pernah melihatmu. Kau mahasiswa baru?” Ia membelokkan pembicaraan.

           

“Tidak juga, aku hanya hampir tidak pernah kemari, dan aslinya, aku cuma punya kelas sore. Kau suka karya klasik?”

           

“Tentu saja.” Ia tersenyum. Pandangannya mulai ramah.

           

“Pernah dengar nama Franz Kafka?”

           

Ia tampak berpikir. Buku itu ia letakkan di atas meja.

           

“Aku tak terlalu yakin, tetapi aku rasa aku pernah mendengarnya.”

           

“Cobalah membaca satu-dua novelnya, tadi aku menemukan salah satu judul di rak kedua dari bawah.” Aku tersenyum.

           

“Nanti aku akan coba. Aku—”

“Tuan Gregor, hentikan lamunan Anda,” Pak Tua itu terbatuk-batuk.

Tua Bangka sialan!

***

Hari berikutnya ia datang kembali. Tepat pukul dua belas siang. Sekilas, aku bisa menangkap pancaran lelah di wajahnya itu. Ah, ini pasti hari yang berat baginya. Dan seperti biasa, ia duduk di tempat favoritnya—sama sepertimu, aku juga heran mengapa tempat itu acap kosong ketika ia datang. Namun, tak seperti biasanya, ia tak langsung mengeluarkan buku atau mengambil salah satu buku di rak tempat kami berada. Begitu saja, ia menjatuhkan kepalanya di atas meja. Ia memejamkan mata. Ada yang salah dengannya hari ini.

Seingatku, ini kali pertama kudapati ia datang kemari dengan wajah seperti itu. Wajah yang mengisyaratkan lelah, dan juga hal lain yang tak tampak, tetapi aku rasa paling berperan dalam menjadikan wajahnya sesuram itu. Melihatnya dengan keadaan demikian, ternyata lebih menyakitkan ketimbang perih yang kurasa selama ini. Lebih pedih dari sakit akibat apel yang membusuk di dalam tubuhku dulu. Ada apa dengannya?

Seperkian menit setelahnya, kudengar ia terisak pelan. Ia menutup wajahnya dengan tangan. Untung saja keadaan perpustakaan siang ini terbilang sepi, sehingga tak banyak orang yang menyadari isakkannya. Instrumen piano masih mengalun tenang, menambah suasana sendu yang merebak dari perpaduan keduanya. Ini suasana yang menenangkan. Akan tetapi, mengapa begitu menyayat hati?

***

Aku pernah bertanya-tanya, kenapa Tuan Kafka membangunkanku dalam keadaan telah berubah menjadi kecoa raksasa. Namun, sampai sekarang, Tuan Kafka tak pernah mengungkap misteri itu. Bahkan, perihal pasti tubuh hewan apa yang mengurungku ini—kau paham kan, kalau otakku tetap manusia?—tak terlalu ia jabarkan jelas. Ada yang mengatakan aku kutu busuk besar, kecoa raksasa, bahkan seekor jangkrik. Lebih menyedihkannya lagi, hidupku dibuatnya hancur berantakan. Oleh keluargaku, pasca aku berubah wujud, mereka jadi tak memedulikanku. Aku terpenjara di dalam kamar seorang diri. Merayap dari jengkal lantai satu ke jengkal lainnya, dinding ke dinding, berulang-ulang.

Namun, untuk saat ini, tidak ada yang lebih menyakitkan selain beberapa minggu ini tak kudapati perempuan itu berkunjung ke perpustakaan. Ia menghilang selepas peristiwa siang itu. Aku tak tahu ia memiliki masalah apa dan ke mana ia pergi di waktu luang selain ke perpustakaan.

“Nona Emma, apa kau tahu ke mana perginya perempuan yang sering duduk di bangku itu?” Aku menoleh ke arah bangku tempat favoritnya.

Nona Emma, dengan gayanya yang manis, terkikik pelan. “Urusan wanita, mantan salesman menyedihkan sepertimu bakal sulit memahaminya. Lupakan saja, toh ia tak peduli denganmu.” Dan ia terkikik lagi.

Kurang ajar! Sungguh tidak sopan! Baiklah, ia memang paling sering mendapatkan perhatian dari perempuan itu. Terbukti sampai beberapa kali, ia menyelami kisah Nona Emma yang roman picisan itu. Huh!

Aku tidak menyerah begitu saja. Di rak seberang, aku tahu ada seorang Alkemis5 yang bisa menjelajah dunia fana. Ia memang tak setua aku, tetapi pengetahuannya tentang cinta, kebijaksanaan, pengorbanan, dan usaha, cukup luas dan namanya lumayan terpandang. Jadi, tidak ada alasan bagiku untuk tidak bertanya kepadanya.

“Tuan, boleh saya meminta bantuan Anda?” Aku bertanya pelan.

“Asal tidak merebut harta karun milik Santiago6.”

“Bisakah Tuan menunjukkan padaku, segenap hal tentang perempuan yang saban datang kemari duduk di sana?”

“Tuan Gregor, untuk apa Anda mengetahuinya? Hal tersebut bukan urusan Anda. Kita hidup di dunia kita masing-masing. Saya, Anda, Pak Tua, Nona Emma, dan perempuan itu, memiliki jalan hidupnya sendiri. Tolong jangan ikut campur.”

Aku hampir-hampir melompat menubruknya kalau saja tak ingat bahwa ia orang terpandang. Sialan, ia seenaknya saja menghalangi cintaku.

 “Lupakan dia. Ia memiliki cintanya sendiri.”

Aku mengabaikannya.

“Tapi Tuan, tunggu, saya bisa sedikit membantu.”

“Ya?”

“Saya bisa membawa Anda ke dunia fananya, dalam artian, melewati mimpi. Anda bisa mendapat beberapa hal tentangnya dari sana.”

***

Aku menemukan diriku berdiri di depan jendela. Tubuhku seutuhnya manusia, persis sebelum tubuhku berubah wujud. Aku merasa asing. Udara ini. Lingkungan ini. Rumah di depanku. Aroma petrikor. Tanah basah. Setetes air jatuh dari selembar daun….

Aku tak mengenali mereka. Kecuali … perempuan itu.

Ada yang berteriak, gaduh. Juga suara tangisan, pecah. Televisi yang menyala, penyiar berita yang berisik, kucing yang mengeong, barang-barang berjatuhan. Tidak, aku bukan saja mendengarnya. Lebih dari itu, aku menyaksikan mereka. Di depanku, perhelatan itu terlalu jelas. Kelewat lekat. Seketika aku teringat keluargaku. Ayah, Ibu, dan adikku, Gretta. Lalu, bagaimana hidup kami yang berubah miskin. Kami membuka jasa sewa kamar. Ibu dan adikku jadi pembantu. Aku yang terpenjara. Ayahnya yang kerap marah dan menganggap tubuh seranggaku tak berguna. Tidak, tidak, mengapa aku mengingat semua hal itu tiba-tiba? Apa relasi antara mereka dengan pemandangan di depanku?

Aku merasa tubuhku perlahan melayang. Ringan. Gregor Samsa, melayang dibawa angin malam yang masih basah. Jauh. Hingga jauh. Dan suara tangisan perempuan itu makin sayup, kian mengabur, sampai terdengar berjarak….

***

Sejak kecil, perempuan itu menyukai aroma buku. Perpustakaan laiknya rumah kedua baginya. Di perpustakaan, ia banyak mendapati hal-hal menarik. Lewat orang-orang yang datang silih-berganti, ia mengerti, mereka yang datang ke sana bukan saja ingin membaca sebuah buku. Lebih dari itu, seperti dirinya, ada yang datang sebab perpustakaan serupa tempat pelarian yang tepat. Tempat yang meredam kebisingan dunia luar. Tempat yang membekap dengung cedera di hatinya. Relung yang mendesiskan raung tiada jeda.

Oleh sebab itu, perpustakaan seperti pelukan ibu yang menolak ia lepaskan. Menenangkan. Menjeda detik waktunya yang menderakan luka tak berdarah.

Akan tetapi, ia tak menemukan semua hal itu lagi di tempatnya kini berada, apalagi semenjak berita itu datang.

“Kamu lebih mencintai buku daripada aku.” Masih ia ingat betapa dingin kalimat itu meluncur dari mulut lelaki itu.

Dan ia tak kuasa menjawab. Apa yang salah dari mengisi tiap waktu luang dengan membaca? Sungguh, ia tak mengerti jalan pikiran lelaki itu. Tetapi, ia pun tak bisa menafikan, bahwa dirinya pun masih mencintai lelaki itu. Terlalu tiba-tiba. Keputusan itu tiba serupa kilat yang serta-merta menyambit benaknya. Telak. Keras. Tak terukur.

Untuk itulah, hari itu, kepergiannya menuju ruangan itu begitu saja hanya ia isi dengan tangisan. Ya, hanya hari itu, sebab setelahnya, keinginan untuk datang ke perpustakaan seolah hilang dari dirinya. Perpustakaan, memang tempat yang sempat meredam bising dunianya. Akan tetapi, sekarang ini, tempat itu begitu sarat kenangan menyakitkan. Kenangan akan hari ketika lelaki itu menyatakan cintanya tentu bukan debu yang bisa lenyap dalam sekali tiup.

***

Gregor Samsa terbangun dari tidurnya dan menemukan bahwa mimpi itu terlalu menyakitkan. Ada satu bagian yang entah mengapa luput dari pengamatannya atas perempuan itu. Apakah cinta membutakan matanya bahwa seminggu setelah perempuan itu datang kemari, seorang laki-laki menyatakan perasaannya kepada perempuan itu?

Kepalanya pusing. Mendadak, ia berharap dirinya tak pernah bangun lagi.

 

 

Catatan kaki:

  1. Tokoh dalam novel The Metamorphosis karya Franz Kafka
  2. Tokoh dalam novel Emma karya Jane Austen
  3. Tokoh dalam novel Lelaki Tua dan Luat karya Ernest Hemingway
  4. Tokoh dalam novel Charlotte’s Web karya E.B White
  5. Salah satu tokoh di novel The Alchemist karya Paulo Coelho
  6. Tujuan tokoh utama—anak muda bernama Santiago—di novel The Alchemist

Wahid Kurniawan
Latest posts by Wahid Kurniawan (see all)

Comments

  1. Rifqi A Reply

    Terus berkarya bang!

  2. Rifqi A Reply

    Terus berkarya bang!

  3. Batman Reply

    Cieh teknokrat

  4. Asri Reply

    Keren… Semangat bang

  5. KN Krise G Reply

    Mboisssss bosku

  6. Anonymous Reply

    keren

  7. nita Reply

    kerren

  8. Anonymous Reply

    keren, ringan tapi bacanya harus focus

  9. Arkhi Reply

    Fantastis! Citra seorang sastrawan sangat terbaca di sini. Majas yang melenakan terukir di setiap penghayatan. Ah, membaca ini mendadak jadi rindu perpustakaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.