Ingatan-Ingatan Saridan

Saridan ingat betul saat memutuskan diri mendalami agama. Sudah barang tentu ingatan Saridan tak akan keliru bahwa keputusan tersebut diambil saat usianya genap 30 tahun. Benar, riwayat hidupnya tidak dihabiskan untuk mengerjakan kemaksiatan, tetapi Saridan hakul yakin jika sebagian besar umurnya belum sungguh-sungguh difaedahkan untuk mengamalkan sekaligus menghayati perintah agama.

Tidak mengherankan jika perubahan Saridan masa itu tidak mencolok. Caranya berpakaian begitu-begitu saja. Paling kepalanya jadi lebih sering berkupluk. Warga kampung pun kadung mengenalnya sebagai lajang yang baik. Dia memang cenderung pendiam, kerap dianggap tak suka bergaul. Kendati demikian, setidaknya Saridan bukan pemuda kampung yang gemar bikin onar.

Semasa sekolah, Saridan dikenal rajin sekalipun bukan siswa berprestasi. Namun menurut teman sebayanya, Saridan termasuk kutu buku sejak sekolah dasar sampai tamat aliyah. Terus, meski tidak melanjutkan pendidikan, Saridan bukan pula pemuda pengangguran. Sehari-hari Saridan turut membantu kedua orang tuanya bersawah meski lebih banyak menghabiskan waktu mengurus kilang padi milik mereka. Ah, kilang padi yang nahas. Salah satu alasan Saridan akhirnya khusyuk mendalami agama, ya karena kisah nahas kilang padi tersebut.

Apa gerangan?

Tak ada yang mampu menumpas ingatan Saridan tentang peristiwa kelam yang terjadi persis sepekan usai pesta pernikahan Baisyah—adik perempuannya sekaligus saudara kandung satu-satunya. Kilang padi diludeskan api di tengah malam buta. Api yang teramat pedih. Pedihnya lagi, ayahnya sendiri yang dituding membakar kilang padi tersebut sekaligus menyerahkan tubuhnya secara cuma-cuma ke jantung api. Sangkaan ayahnya bunuh diri, bagi Saridan dan keluarga, terlalu mengada-ada. Bagaimana tidak? Ayahnya dituduh depresi karena usaha kilang padi bangkrut sejak sebagian besar lahan sawah di kampung itu berlomba-lomba menjelma sawit.  

Saridan tak menampik jika kilang padi milik mereka disundul sakaratul. Kendati demikian, tuduhan terhadap ayahnya terlampau keji. Keluarga mereka masih jauh dari ancaman jatuh miskin hanya gara-gara kilang padi berhenti beroperasi. Ya, mereka termasuk keluarga berada. Paling tidak, mereka masih punya sawah berante-rante—yang bisa panen dua kali dalam setahun. Namun apa boleh buat, seturut hasil penyelidikan polisi dan berdasarkan keterangan sejumlah saksi, tak ditemukan bukti keterlibatan orang lain. Tak ada jalan bagi syak wasangka Saridan dan keluarga, sekalipun tetap tak rida menerima tuduhan terhadap ayahnya. Apa hendak dikata, ketuk palu sudah berdegup. Kasus ditutup!

Sayangnya, luka batin ibu Saridan tak serta-merta terkatup. Air mata boleh kering, tapi kubangan luka melulu basah. Belum cukup 40 hari sejak ayahnya dimakamkan, ibunya yang tidak mengidap penyakit serius apa pun selain kesedihan yang berlarut, akhirnya menutup mata selamanya. Bagi Saridan, langit dan bumi cuma cangkang sempit yang gulita belaka. Peristiwa-peristiwa terjadi begitu saja, bak lesatan kilat. Ayah-ibu yang sehat wal afiat, wafat tanpa sehelai benang firasat.

Begitulah, langkah kaki waktu mustahil berhenti. Puing-puing kilang padi sudah mulai diliputi kerak karat dan berliur lumut. Di sela-sela mengurus sawah, Saridan makin bersibuk diri beramal ibadah. Dia makin istikamah ke masjid. Selain ibadah wajib yang sifatnya berjemaah, Saridan lebih senang menyendiri. Ya, termasuk dalam memperdalam kajian agama: sendiri.

“Jangan cuma belajar agama dari buku dan video-video, Saridan. Kau sambil juga mendengar kajian langsung dari tuan-tuan guru kita,” petuah sejumlah tetua kampung.

“Ya, ikutlah kau ke majelis pengajian rutin.” Warga yang lain turut bernasihat.

Namun, Saridan memilih tetap sendiri. Warga kampung enggan memaksakan kehendak. Serangkaian kisah pahit yang mengepit hidup Saridan bikin warga merasa lebih arif menabung empati daripada mencela. Toh, Saridan bukan membikin kemungkaran? Biarlah dulu. Kasih waktu Saridan membuka ladang-ladang ibadahnya.

“Jangan asyik ngurus ibadahmu saja, Saridan. Kau tengok-tengok juga sawah kalian yang luas itu,” tegur jirannya di lain kesempatan.

“Kau tengok-tengok juga anak gadis kampung kita ini, Saridan. Kalau ada yang cocok, nikahi supaya enggak sendirian kau beribadah.” Teman-teman seusianya yang rata-rata beranak lebih dari satu, ikut-ikutan pula mengayunkan palu goda.

Namun, belum genap masa sawah dua kali panen, Saridan memutuskan pergi merantau. Dia pamit kepada Baisyah. Meski berat hati, Baisyah tak kuasa menghalangi kehendak Saridan mengadu peruntungan ke kampung nan jauh—20-an jam menumpang bus antarprovinsi. Jika bukan Baisyah yang berkongsi cerita, warga kampung tak tahu Saridan pergi merantau. Dari Baisyah pula warga tahu kalau Saridan meninggalkan kampung sambil menggendong sejumlah cita-cita: ingin bekerja di pabrik sawit, hendak menambah pengetahuan agama, dan untung-untung ketemu jodoh perempuan salihah.

“Aamiin!” sambut warga kampung.

Doa-doa baik mengepul, doa-doa terkabul. Satu-dua kabar baik terkait perantauan Saridan berembus melalui Baisyah. Intinya, Saridan sudah bekerja dan telah menikah—sekalipun tanpa berkabar sebelumnya.  

* * *

Mulanya, pada malam Kamis yang dianugerahi kesejukan, sejumlah jemaah Isya terperanjat bercampur senang tatkala tiba-tiba mendapati Saridan di masjid.  Apa namanya kalau bukan tiba-tiba? Bayangkan, sudah delapan Idulfitri tak pulang kalau tak salah, eh sudah tegak-rukuk-sujud saja di masjid. Tampang, gerak-gerik, dan cara berpakaian Saridan yang tak banyak berubah, bikin jemaah dengan mudah mengenalinya.

Namun selang beberapa saat, kehebohan muncrat. Malam mendadak dikepung udara yang mahagerah. Istri Saridan hilang di masjid! Menurut pengakuan Saridan, dia dan istrinya turun dari bus seiring rakaat pertama Isya baru saja dimulai. Kampung mereka memang dilalui jalan lintas provinsi. Lantas, keduanya memilih bergegas menunaikan Isya terlebih dulu di masjid sebelum ke rumah peninggalan orang tua—yang didiami Baisyah, suami, dan tiga anaknya. Namun, rencana manusia tak selalu harus diperkenankan Tuhan. Istrinya hilang selepas ibadah Isya beserta dua koper berisi pakaian, buku-buku agama, beberapa lembar dokumen penting, termasuk buku nikah.   

Alhasil, kehebohan sampai juga ke Baisyah, melipir cepat ke telinga kerabat, dan meluncur deras ke pelosok kampung. Sayangnya, niat warga hendak mencari istri Saridan sudah tersandung batu buntu sejak langkah pertama. Pasalnya, hanya Saridan yang mengenal istrinya. Lebih rumitnya lagi, Saridan hanya bermodalkan foto istrinya yang mengenakan baju-hijab longgar dan bercadar. Laporan ke kantor polisi juga menghasilkan kesia-siaan belaka. Tak ada petunjuk kuat selain dari lisan Saridan yang lemah semata.

Saridan mengerang sedih meskipun tetap berusaha mencari istrinya hingga ke kampung-kampung terdekat. Sejumlah kerabat dan warga tak mampu berbuat apa-apa. Mereka hanya bisa memberi sokongan doa dan pepatah-petitih keibaan sembari menguping kisah dari mulut sedu Saridan: tentang sosok istrinya yang bernama Kholijah Sani bin Haji Mukhlis Sani.

Menurut pengakuan Saridan, istrinya adalah putri seorang pengasuh pondok pesantren yang terletak di kawasan pabrik sawit tempat Saridan bekerja. Saridan lebih dulu berhasil melunakkan hati calon mertua ketimbang calon istri yang terpaut usia 10 tahun dengannya. Ketekunan Saridan menjalankan agama di tanah rantau cukup ampuh merebut hati calon mertua. Namun Kholijah, tidak. Lebih dua tahun lamanya Saridan unjuk kesabaran demi meluluhkan hati Kholijah. Tak terkecuali kesabarannya menghapal mati Surat Ar Rahman sebagai salah satu garansi pelunak yang disodorkan calon istri.

Kesabarannya berbuah. Tanpa direpotkan prosesi adat dan tanpa kewajiban dihadiri keluarganya, Saridan menikahi Kholijah secara sederhana dengan mahar Al-Quran saku serta hapalan Ar Rahman, tunai! Masih menurut pengakuan Saridan, sekali sepekan bakda Isya selama hampir lima tahun menjalani pernikahan, Kholijah rutin menagih lantunan Ar Rahman dari lisan Saridan.      

Lantas, mengapa Saridan pulang kampung? Apakah sekadar menjenguk Baisyah dan rindu tanah kelahiran? Lebih dari itu, Saridan ingin membawa Kholijah tinggal dan meneruskan bahtera hidup di kampung. Dia tergiur pula hendak berkebun sawit. Lantas siapa tahu, entah di kampung kelahirannya rezeki momongan diberi Ilahi. Kholijah mengangguk sekalipun ayah-ibunya—mertua Saridan, sempat geleng kepala.

Namun untung jauh dari jantung, malang mencurah di alir darah. Saridan kehilangan istri terkasih di kampung sendiri. Hampir dua pekan dirongrong keputusasaan, Saridan mencoba melacak Kholijah ke pangkal, balik ke rumah mertua. Hanya saja, tak sampai sepekan, Saridan kembali dengan tatapan menyerupa dua lorong hampa. Kholijah tak ditemukan!

Akhirnya, tiba juga Saridan pada titik pasrah penghabisan setelah segala ikhtiar lunas ditunaikan. Namun Saridan tak sudi menjadi gila! Dia memilih untuk makin larut mengarungi amal ibadahnya. Bahkan saban malam Kamis, selepas jemaah Isya bubar dari masjid, Saridan rutin melantunkan hapalan Ar Rahman dengan suara yang sekali waktu terdengar tajam dan di lain waktu seperti seretan isak. Kebiasaan itu dilakukannya seolah-olah untuk memperingati istrinya yang hilang di masjid pada sebuah malam Kamis yang suram. Mana tahu amalan ini dapat memulangkan Kholijah, katanya berkali-kali bak zikir pagi-petang—kadang cuma dalam hati, tetapi kadang sekonyong-konyong lantang.     

Begitulah, ingatan Saridan terhadap Kholijah tak akan pernah terkelupas serupa ingatan-ingatannya atas nasib diri sejak hayat dikandung badan. Ingat betul Saridan saat pertama kali terkesima memandang mata teduh dan bercelak milik Kholijah, yang bersemayam di antara tepian lengkung hijab dengan batas cadar. Saridan betul-betul pengingat ulung.

Hanya saja, sampai rambut Saridan kini sudah dipenuhi uban, Saridan betul-betul tak ingat bahwa dia sama sekali belum pernah menikah.

Belum sama sekali!

Medan, 2025

Hasan Al Banna
Latest posts by Hasan Al Banna (see all)

Comments

  1. muhammad Reply

    kren bang

  2. Anonymous Reply

    Kak Admin, kalau mau kirim cerpen ukuran doc nya letter atau A4?

    • Admin Reply

      A4, kak

      • Bobo Reply

        kak Admin, apakah bisa kirim 2 cerpen sekaligus atau bahkan lebih di hari yang sama?

        • Admin Reply

          silakan boleh sebanyak-banyaknya, kak

  3. jula Reply

    kasian betul saridan

  4. ali Reply

    mau tanya admin bisakah mengirim cerpen dengan anonymous ?

  5. zakky Reply

    saridan kan ikan kalengan?

    • Admin Reply

      sardeeeeeeeeeeeeen

  6. Rahmawati Reply

    Obat sakit kepala gak sihh?

Leave a Reply to muhammad Cancel Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!