Kawanan Celeng Merusak Ladang

@avifahve

Setelah keriuhan reda, tersisa batang-batang pohon jagung yang porak poranda. Karmadi sudah dapat memperkirakan bahwa hampir setengah ladangnya rusak, tapi belum bisa menaksir kerugian yang mungkin akan dideritanya.

“Binatang!” dia merutuk, menggantung senapannya di bahu. Baru saja mereka, dia, dan para pemilik ladang yang berdekatan, bekerja keras menghalau kawanan celeng yang menyerbu ladang. Seingatnya, belum pernah lagi ada kejadian seramai itu. Setidaknya dalam sepuluh tahun terakhir sejak orang-orang mulai terlibat konfrontasi dengan binatang-binatang liar yang bahkan kerap bertindak lebih berani, berkeliaran jauh hingga permukiman penduduk.

Tetap harus bersiap untuk yang lebih buruk, pikirnya. Kepalanya mendongak. Sekira tiga jam lagi matahari baru akan muncul. Masih banyak waktu dan kemungkinan bagi celeng-celeng itu untuk kembali. Baru saja dia menyalakan kretek, Darsin dan beberapa orang yang juga menenteng senapan tergesa-gesa menghampiri. Bagong, anjing milik Darsin, menggeram dan berputar-putar resah di sekeliling kakinya.

“Belum pernah aku melihat mereka sebanyak ini. Ada yang kau kenai?” tanya Darsin. Napasnya memburu.

“Ya, satu ekor,” jawab Karmadi yakin. Setahun lalu dia menembak mati seekor celeng, tepat di matanya. Malam ini pun dia merasa tembakannya tidak meleset.

“Bagong tidak menemukan satu pun,” gumam salah seorang yang datang bersama Darsin. Karmadi tidak mengenalnya, tapi dia tahu bahwa orang-orang yang dibawa Darsin adalah pemburu-pemburu terlatih. Darsin sering mengundang mereka untuk turut memburu binatang liar yang kerap berkeliaran di kemarau panjang seperti sekarang.

Karmadi mengembuskan asap kretek. Katanya, “Jika Bagong tak bisa menemukan, mungkin saja celeng sekarat itu masih mampu berlari untuk kemudian mati di tempat yang jauh. Atau kemungkinan lain, meloncat ke jurang.”

Seperti diingatkan oleh kata-kata Karmadi, Bagong tiba-tiba membalikkan tubuh dan berlari kencang menuju bibir jurang, hanya beberapa belas meter dari tempat mereka berada. Di sana, anjing yang sangat pintar dan berani itu menyalak tiada henti seperti anjing gila.

“Mereka kembali?” gumam Darsin setengah bertanya. Di antara gonggongan-gonggongan Bagong, lamat-lamat terdengar suara gemuruh. Makin lama makin riuh sehingga rasa-rasanya tanah pun bergetar bagai didera gempa bumi. Serentak, hampir semua orang berteriak mengingatkan untuk segera bersiap.

Darsin dan kawan-kawannya berlari lebih dulu menuju sisi bukit yang lebih tinggi, membentuk barisan. Tapi Karmadi yang terlalu percaya diri memilih untuk tetap berada di area ladangnya. Hanya berlindung di balik sebatang pohon, dia bersiap membidik. Dalam hitungan detik, kawanan celeng itu tiba dalam sebuah formasi hitam yang menakutkan. Mereka segera mengamuk dan menerjang apa pun yang ada di hadapan. Api, kayu, parang, bahkan senapan para pemilik ladang tiba-tiba saja seperti mejan. Jerit kengerian menyerbu udara dini hari itu ketika satu per satu orang-orang roboh. Karmadi sendiri masih kebingungan mengunci target ketika satu bayangan hitam tiba-tiba menyerang tubuhnya dari arah kanan.

Tak sempat menghindar, dia terpelanting. Senapannya meletus ke udara kosong lalu terlepas. Ketika mampu bangkit kembali, beberapa ekor celeng tanpa ampun menyusul menyeruduk perut dan bagian bawah tubuhnya. Dia bisa mendengar teriakan kengeriannya sendiri kala terpojok ke bibir jurang dan sebuah serangan terakhir melemparkannya ke udara. Tubuhnya yang pasrah bagaikan boneka kayu yang meluncur dari ketinggian, lalu terhempas seperti bebatuan longsor.

Karmadi mengira dirinya akan mati, tapi tidak. Dia dalam keadaan sangat sadar untuk mengetahui bahwa dirinya telah menderita cedera parah, bahkan tahu pula bahwa tubuhnya terperosok ke dalam lubang yang sangat dalam. Lubang yang justru menyelamatkannya, mencegahnya remuk di dasar jurang. Sekujur tubuhnya kaku hingga butuh beberapa saat baginya untuk mengangkat tangan kanan, meraba-raba dan hanya mendapatkan lembapnya dinding batu.

Baru disadarinya kemudian bahwa dia tidak sendirian.

Mulanya hanya terdengar dengusan napas yang berat. Lalu seseorang bicara, “Syukurlah, Tuhan mengirimiku kawan di kuburku.”

“Siapa di situ?” Karmadi bertanya setelah agak hilang rasa terkejutnya, tapi suara yang keluar lebih menyerupai bisikan yang parau. Matanya berusaha berakomodasi, tapi sia-sia. Gelap dan hanya gelap. Ingin dia mendatangi arah suara, tapi tubuhnya sangat payah.

“Kurmat.”

Karmadi tak mengenalnya. Mungkin pernah tahu seseorang bernama Kurmat, peladang dari kampung lain, tapi dia tak yakin.

“Kau terluka?”

“Ya. Dan akan mati. Mungkin kau juga. Jika tidak segera, mungkin dalam beberapa hari.”

Orang itu pasti bernasib sama dengannya. Bisa jadi malah menderita luka yang lebih parah. Kenyataan itu justru membuatnya menjadi lebih rileks. Di mana-mana, kesamaan nasib dengan seseorang justru bisa memberikan kekuatan lebih.

“Kita akan bertahan,” kata Karmadi.

“Tidak. Kita akan mati. Tidak ada jalan keluar. Bukankah lubang yang dalam ini adalah jebakan binatang liar? Pembuatnya hanya akan melihat kemari sewaktu-waktu dan kadang menemukan isinya sudah menjadi bangkai.”

Karmadi mendengus. Dia yakin jika mereka tidak jatuh ke dalam lubang jebakan, melainkan terperosok ke dalam rongga yang terbentuk oleh sungai-sungai bawah tanah sejak zaman purba. Memang tidak mungkin mencari jalan keluar saat itu. Selain gelap pekat yang mustahil untuk bisa mengenali sekitar, tubuhnya seperti lumpuh karena rasa sakit yang menjadi. Karenanya, bertahan adalah pilihan yang paling bijak sampai matahari terbit.

“Kau pernah melihat mereka seganas itu?” tanya Karmadi mencari bahan pembicaraan setelah lama saling diam.

“Tentu saja. Bukankah sejatinya mereka adalah makhluk yang rakus dan ganas?”

“Ya.”

”Tapi malam ini belum seberapa. Tunggulah sampai kawanan monyet dan anjing hutan bergabung. Jika itu terjadi, pastinya akan lebih ramai.”

Karmadi bergidik. Makanan bagi binatang-binatang itu memang telah sulit didapatkan karena wilayah mereka semakin sempit. Tidak ada pilihan kecuali menjajah permukiman manusia dan menghadapi risiko konfrontasi seperti malam ini. Oleh kawanan celeng saja mereka hampir tumpas, bagaimana jika apa yang dikatakan Kurmat benar-benar terjadi?

Diam lagi di antara mereka. Dan keadaan itu, mungkin juga akibat luka-lukanya, justru membuat Kurmat menjadi sangat putus asa. Dia mulai bergerak-gerak resah dan berteriak-teriak seperti orang gila, “Tolong! Tolong! Tolong!”

Karmadi ingin mencegah Kurmat melakukan hal percuma seperti itu alih-alih diam dan menyimpan tenaga hingga pagi datang. Tapi tubuhnya sangat lemah. Untuk berbicara saja rasanya sudah berat. Apalagi ditambah rasa mual dan berputar-putar di kepalanya akibat bau anyir darah dari perutnya yang terluka, mungkin juga luka Kurmat, mulai menguar ke mana-mana.

“Ayo, berteriaklah! Siapa tahu ada yang mendengar dan menolong kita!”

“Kau hanya buang-buang tenaga. Kita hanya harus bertahan hingga terang tanah,” bisik Karmadi terengah-engah, mencoba menenangkan.

“Kau yakin belum akan mati saat itu?”

“Kita tidak akan mati.”

“Aku yang akan mati. Kau belum lihat luka di perutku!”

“Kau pun belum melihat luka di perutku.”

Diam. Hanya napas-napas berat mereka yang terdengar.

“Harusnya tidak begini,” keluh Kurmat, masih terdengar sangat gelisah. “Binatang-binatang yang turun gunung hanyalah sekadar memenuhi perut yang lapar. Makanan tak bisa lagi didapatkan karena wilayah semakin sempit, musim yang tak menentu memperberat itu. Konfrontasi malam ini menegaskan bahwa keseimbangan kehidupan telah cedera. Inilah akibat manusia yang seumur hidupnya selalu berkembang, tapi dengan mengorbankan kehidupan makhluk lain. Hidup dengan membunuh kehidupan!”

Karmadi diam. Untuk berbicara lagi rasanya dia sangat kepayahan, tapi pikirannya segera melayang pada kampungnya di masa lalu, kampung berpagar gunung dan perbukitan hijau yang memanjang penuh dari utara hingga selatan. Kini setengah perbukitan itu justru telah hilang separuhnya, berganti lahan-lahan baru bahkan pertambangan liar. Pembalakan liar tak mengenal ampun. Entah berapa banyak ekosistem yang hancur. Tapi peradaban memang akan selalu lapar.

“Salah Tuhan menciptakan manusia! Akan berbeda jika dunia dihuni oleh binatang saja!”

Lalu hening. Masing-masing dengan pikirannya sendiri. Kurmat sepertinya mulai melantur. Dan Karmadi, dengan segala kepayahannya tetap berusaha membuka mata lebar-lebar agar tidak jatuh tertidur. Karena dia tidak tahu apa yang akan terjadi jika sampai kesadarannya hilang. Pikirannya mencoba terus bekerja, tapi yang bisa menyangkut di otaknya hanyalah kalimat terakhir Kurmat: “Akan berbeda jika dunia dihuni binatang saja!”

Itu saja terus yang dipikirkan Karmadi. Berulang-ulang, berputar-putar di dalam kepalanya. Hingga entah berapa lama kemudian, atau mungkin Karmadi telah sempat tertidur, terdengar lagi suara Kurmat, “Matahari muncul!”

Benar, rupanya fajar telah terbuka. Semburat cahaya kemerahan muncul melalui sebuah lubang seukuran tubuh manusia, namun berada sangat tinggi, jauh dari jangkauannya. Sedikit dia mampu mengenali tempatnya berada kini dan melihat pula bayangan hitam yang bergerak-gerak tidak jauh darinya. Kurmat sedang berusaha keras untuk berdiri.

Sejurus kemudian mereka bertatapan. Sangat lama, seperti mencoba saling menegaskan penglihatan mereka tanpa kata-kata hingga kegelapan sirna sedikit demi sedikit dan masing-masing mampu meyakinkan diri bahwa itu semua bukan mimpi.

“Lubang apakah yang telah mengisap kita berdua ke dalamnya ini, aku tak tahu. Mungkin adalah sebuah lubang dari dimensi lain yang dibuat Tuhan sebagai arena penuntasan dendam para seteru,” kata Kurmat menahan amarah. Matanya berapi-api.

Karmadi sama sekali tidak mampu berbicara. Tubuh Kurmat telah sempurna terlihat bahkan sampai pada lubang peluru dengan darah yang belum kering tepat di perut, sedikit di dekat kaki belakang kanannya. Sesosok makhluk dengan bulu-bulu hitam di belakang kepala bermoncongnya dan seperti siap menubruk telah seketika membungkam mulutnya. Lalu dua buah siung kokoh yang menyembul itu….

Karmadi berusaha bangkit secepatnya dengan susah payah. Walaupun yakin tidak akan ada satu pun dari mereka berdua yang akan mampu keluar dari lubang itu, dia harus bersiap. Dia harus mempertahankan hidupnya.

AK Basuki

Lahir dan besar di Cigugur, Kuningan. Salah satu cerpennya dapat ditemukan dalam buku Klub Solidaritas Suami Hilang: Cerpen Pilihan Kompas 2013.
AK Basuki

Latest posts by AK Basuki (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.