Mahar

Ketika Erna mengatakan ia akan segera menikah dengan Rudi, saya sama sekali tidak terkejut—tidak senang, tidak juga kesal—sebab telah belasan kali ia mengatakannya tapi juga tidak terlaksana. Terakhir kali ia merasa benar adalah ketika ia marah setelah bertengkar dengan ayahnya yang putus asa mengurusi adik-adiknya yang masih kecil. Kata ayahnya, “Menikahlah agar rumah ini lengang sedikit.” Kata-kata ayahnya memang terdengar kejam. Andaikan saya adalah Erna, saya akan mengatakan kepada ayahnya bahwa pernikahan dengan ibunya justru membuat rumah mertuanya sumpek. Tetapi, Erna malah mengatakan ia akan menikahi Rudi cepat-cepat.

Mengapa perasaan perempuan begitu melonjak-lonjak saat bahagia dan begitu terpuruk saat sedih. Erna, menurut saya, adalah salah satu dari perempuan yang perasaannya mudah berubah sebagaimana saya bayangkan barusan. Kali ini pun saya tidak begitu yakin harus mengatakan apa. Saya bosan menampilkan raut bahagia setiap ia mengumumkan pernikahan, tetapi jika tidak begitu, saya akan tampak lebih jahat dari ayahnya.

“Barangkali pada minggu kedua di bulan Mei,” ujarnya, menampilkan binar-binar bahagia dari matanya.

Seminggu lalu, saat frustrasi menghadapi ayahnya itu, ia mengatakan Rudi bukanlah calon suami yang baik. Katanya, Rudi selalu mendahulukan abang iparnya yang sinting dan kedua orangtuanya yang juga ketularan sinting. Betapa tidak, ia merelakan sebagian besar gajinya yang tidak seberapa untuk pengobatan abang iparnya yang sinting itu ke dukun daripada mengirimnya ke rumah sakit jiwa. Rudi bilang—yang sebagaimana Erna sampaikan kepada saya—mengirim abang iparnya ke rumah sakit jiwa juga akan sama menghabiskan tabungan. Lantas, saya sarankan saja agar memasung abang iparnya itu daripada membikin kacau keluarganya. Memberinya makan tiga kali sehari sudah jelas memboroskan uang. Sebab komentar saya itu, Erna lantas bercerita tentang bagaimana Suta—abang iparnya yang mengawini kakak perempuan Rudi itu—pernah mengancamnya sambil mengacung-ngacungkan golok.

“Kau bisa mati!”

“Rudi juga,” imbuhnya.

“Harus begitukah?”

“Itulah harga cinta.”

“Taik!”

Rudi adalah seorang bungsu—dari dua orang kakak perempuan—yang sialnya tidak dicintai oleh orang tuanya. Ibunya menyayangi kedua kakaknya yang memenuhi pengharapannya setelah menjadi seorang TKI dan mendatangkan uang jauh lebih banyak daripada yang Rudi hasilkan. Tapi, sejak kakak pertama menikah dan diangkut ke Cirebon dan kakak kedua menikah dengan si sinting Suta, ia menjadi satu-satunnya sumber pengharapan, dan barangkali kedua orang tuanya sedang mempertimbangkan untuk menyayanginya. Lebih daripada itu, ibunya—yang sempat janda tinggal mati—kini menikah lagi dengan seorang lelaki pengangguran yang hanya menyampirkan nyawanya pada sofa di ruang tamu. Kerjaannya tidur-tiduran.

Erna sangat menyayangi Rudi, kecuali untuk alasan bahwa ia adalah celengan berjalan bagi keluarganya. Rudi sangat tolol dan hanya Ernalah yang bisa memahami ketololan itu dengan jelas. Saya sendiri heran mengapa ia masih bersikeras bertahan setelah kedua orang tuanya mengetahui siapa Rudi sebenarnya. Mereka pertama kali berjumpa melalui Facebook di mana semua orang bisa menjadi siapa saja. Erna pernah bilang ia mengaku menjadi seorang pengacara sementara Rudi adalah seorang pegawai negeri. Tetapi, ketika mereka bertemu, mereka sama-sama mengaku mereka telah mengarang cerita. Erna bilang Rudi tidak bermasalah saat ia mengaku sebagai seorang mahasiswa yang gagal lulus dari fakultas hukum. Ia pun mengabaikan pengakuan Rudi yang adalah seorang pekerja di pabrik sepatu.

Demi sebuah resepsi pernikahan impian, mereka sama-sama menabung sepeser demi sepeser dan menjalani hubungan pacaran dengan damai. Namun tentu saja itu dulu. Sekarang, ya, entah. Pertengkaran mereka tidak pernah tidak ada sangkut paut dengan duit, termasuk ketika si sinting Suta mengangkat golok dan mengatakan andaikan Erna sudah menjadi adik ipar, ia ingin diberi jatah sepuluh juta jika tidak mata golok itu menggores leher Rudi. Orang sinting memang bertebaran di Haurgeulis dan Singaraja tapi tidak sebajingan Suta.

Malam-malam lalu Erna menelepon saya dan mengatakan ia sudah pasti akan memutuskan hubungan dengan Rudi. Saya bertanya kenapa, ia bilang tidak ada masa depan. Semua uang tabungan mereka berdua ternyata sudah ludes diambil ibunya yang digunakan untuk mengupah seorang dukun. Saya bertanya, dukun mana yang meminta uang bayaran puluhan juta hanya untuk memberikan jampi-jampi? Semanjur apa jampi-jampi itu? Ia bilang tidak, bukan cuma jampi tapi juga ramuan dari akar-akaran. Kata saya, tetap saja itu seharga puluhan juta. Ia bilang, sebenarnya lima puluh juta itu bukan untuk dukun seorang. Lalu, ia berkata dengan sinis, siapa lagi kalau bukan untuk si Mariati.

Mariati adalah kakak kedua Rudi, istri si sinting Suta, yang sehari-harinya hanya mengasuh anaknya yang tidak berhenti mangap minta jajan. Saya bilang, bukan tanggung jawab Rudi untuk memberikan nafkah kepada Mariati. Tetapi, ia bilang, sudah menjadi tanggung jawab Rudi membahagiakan ibunya, dan saya bilang, Rudi tidak pantas juga melakukannya sebab ibunya masihlah bersuami. Ia lalu melenguh.

Jadi, jika kau menjadi saya, apa yang hendak kau katakan kepada Erna? Terakhir sebelum sambungan telepon saya tutup, saya bertanya siapa yang patut dipercaya, Rudi atau ibunya? Erna tidak bisa memilih salah satu. Ia kemudian mengatakan mustahil mempercayai salah satu tanpa mendustai yang lainnya. Sebagai pernyataan pamungkas saya berkata padanya bahwa semoga Rudi bisa bersikap adil.

Pada satu satu hari, Erna diminta berkunjung oleh keluarga Rudi di Haurgeulis. Itu adalah perjalanan sejam lebih sedikit jika menunggang mobil. Ia dijemput Rudi dengan sepeda motor, dengan alur perjalanan santai, sembari sesekali berhenti untuk berfoto atau mampir ke minimarket. Kunjungan itu tidak lain adalah keinginan ibu Rudi sebelum ia diakui sebagai mantu. Rudi dan Erna tiba di rumah Haurgeulis bakda Magrib, dan ibu Rudi tampak kecewa melihat Erna untuk pertama kali. Kurang lebih percakapan mereka seperti ini:

“Lha, katanya ke sini bawa mobil?” sangka ibu Rudi.

“Kata siapa, Bu?” jawab Rudi

“Lha, katanya calon istrimu punya mobil?”

Erna sendiri tercengang mendengar perkataan ibu Rudi. Tapi ia bisa menahan diri untuk tidak mengatakan, “Lha, kau bilang rumahmu berlantai dua?”

Tetapi, justru karena keseringan menahan diri itulah Erna menjadi lebih sering dirugikan. Sekali-kali itu ia berkata jujur bahwa ia tidak memiliki mobil dan mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Rudi bisa saja akibat salah dengar. Dan benar, sekali itu saja, ibu Rudi mendengarkannya, selebihnya, hanya menduga-duga tentang seluk-beluk Erna bahkan membenarkan dugaan itu atas nalarnya sendiri. Perempuan tua itu selalu percaya bahwa Erna adalah seorang pengacara sibuk dan memiliki banyak kenalan orang-orang penting di lingkungan pemerintah kabupaten. Maka, tak ragu-ragu ia meminta pernikahan mereka diajukan. Erna cuma bisa mengangguk sembari memasang senyum sepat.

Setelah pertemuan pertama itu, ia bilang, entah mengapa ia sering ditelepon oleh Mariati, kadang sekadar basa-basi, kadang meminta utang. Jika ada waktu, ia sempat meladeni curhatan Mariati tentang betapa ia lelah bersuamikan Suta. Jika sudah berlebihan, ia harus mencari alasan untuk menutup telepon itu sebab ia yakin setelahnya Mariati akan memohon utang barang sepeser dua peser. Gagal lewat sambungan telepon, Mariati mencoba cara lain. Mariati pernah menyambangi rumah Erna saat ia tidak di rumah. Kedua orang tua Erna menyambut Mariati, menyuguhinya dengan minuman-minuman dan menjamunya dengan makanan-makanan sebab Mariati tidak memperlihatkan tanda-tanda untuk pamit. Ketika bertemu dengan Erna barulah ia melancarkan niat itu. Dan, setahu saya, Erna tidak mungkin tidak mengabulkan permintaan Mariati.

Ia menceritakan kunjungan Mariati kepada Rudi dan berharap Rudi bisa menagih utang itu dengan baik-baik. Tetapi, Rudi malah bilang biar utang Mariati itu ia simpan sebagai tabungan pernikahan nanti. Erna keberatan, tetapi Rudi kemudian malah bilang biar utang itu ia hitung sebagai utangnya yang akan ia lunasi sebelum ia menjadi suaminya. Saya bisa merasakan kekesalan Erna dan saya menyuruh Erna untuk tidak menerima lamarannya sampai utang Mariati ia bayarkan. Saya yakin komentar saya terdengar tidak enak. Saya sudah tidak bisa lagi bermanis-manis bibir perihal hubungan mereka.

“Barangkali di minggu kedua bulan Mei,” ujarnya, sembari memperlihatkan wajah yang berseri-seri. “Kok kamu biasa-biasa saja?”

“Bukankah kamu bilang uang tabungan buat pernikahan kalian ludes?”

“Ya.”

“Terus?”

“Di akhir bulan kedua, Rudi akan mengajukan surat pengunduran diri. Dengan begitu ia akan mendapatkan uang pesangon dari kantor dan juga pencairan dari BPJS. Dihitung-hitung, itu bisa senilai dua puluh jutaan dan cukup untuk sebuah hajatan sederhana. Para paman dan bibi juga sudah bilang mereka akan patungan membantu urusan penganan-penganan buat prasmanan nanti. Kurasa itu saja sudah cukup. Yang penting kita sah menikah.”

“Oh.”

“Kok cuma oh doang?”

“Kamu minta mahar apa?”

“Cuma seperangkat alat salat dan uang tunai seratus ribu.”

“Taik!”

“Kan agama meringankan setiap niat baik umat.”

“Taik!”

Saya curiga bahwa keputusan Erna menikah dengan Rudi lantaran sudah terdesak usia. Ia dan saya sama-sama menginjak kepala tiga. Saya rasa semandiri-mandirinya ia sebagai seorang perempuan, tanpa mengatakannya pun, ia merasa takut dengan usia. Saya bukan tidak takut dengan usia, saya hanya tidak seberani Rudi yang dapat mengambil keputusan dengan cepat. Erna pernah bilang bahwa ada dua tipe orang dalam menyikapi pernikahan, yaitu yang “bagaimanalah nanti” dan yang “nanti bagaimana”. Saya adalah tipe yang kedua.

Di pembicaraan malam itu, saya hanya meminjamkan telinga dengan menampung ceritanya yang merencanakan masa depan dengan Rudi. Ia bilang Rudi akan segera mencari pekerjaan baru setelah hajatan pernikahan dan jika tidak segera menemukan pekerjaan baru, Rudi akan memulai bisnis kecil-kecilan dengan menjadi seorang fotografer sekaligus editor foto—ya, saya tahu keahlian Rudi di bidang rekayasa foto—kemudian mereka juga akan menunda memiliki anak, dan untuk sementara akan tinggal di rumah Haurgeulis sampai pengajuan kredit rumah berhasil lolos. Yang untuk terakhir itu, saya mengatakan kepadanya bahwa saya ragu ia bisa menjalaninya.

“Ya, mau bagaimana lagi.”

Keseriusan Erna mau menikah membuat saya merasa tidak enak hati sebab sebelumnya saya tidak serius mendengarkannya. Tapi saya sampaikan padanya kemungkinan pada hari itu saya tidak bisa hadir. Ia paham dan hanya memohon doa dari saya yang saat itu juga saya aminkan. Saya harus kembali ke perantauan dan kami pun kembali terhubung melalui sambungan telepon dan pesan singkat. Pada akhir pekan di minggu pertama bulan Mei itu, sebuah undangan daring terlampir melalui DM Instagram dari Erna. Lampiran itu mengabarkan pada hari apa dan jam berapa mereka akan menjalankan ijab kabul. Saya memberikan simbol hati dan sekali lagi mengucapkan selamat atas pernikahannya.

Pada hari H itu, Erna mengirimkan foto-foto ia dan Rudi duduk di pelaminan sembari diapit oleh bapak-ibu mereka dan paman-paman dan bibi-bibi. Saya memberikan simbol hati dan sekali lagi mengucapkan selamat atas pernikahannya, dan ia membalas, “Sayang sekali kau tidak bisa hadir.” Pada pesannya itu saya sampirkan emot-tangis.

Keesokan hari setelah resepsi pernikahan, sebuah pesan singkat dari Erna masuk. Ia bertanya apakah saya bisa meluangkan waktu untuk bertelepon. Saya jawab bisa.

“Besok atau lusa aku mau minta cerai,” ujarnya. Hati saya tidak bisa tidak mencelos mendengar pengakuannya yang semula saya sangka sebuah candaan. “Bapakku ingin tahu apakah aku akan ikut dengan Rudi ke rumah kontrakan di dekat pabrik sepatu di Cikarang, aku mengangguk dengan tolol. Bapakku juga ingin tahu apakah aku bisa meminjamkan hasil uang kondangan untuk menutup utang ke bank, aku bilang bisa. Terakhir, bapakku ingin tahu apakah Rudi sudah melunasi tenda-tenda dan tetek-bengek pelaminan ke WO, aku bilang tidak tahu.”

Erna berhenti sejenak dan terdengar ia sedang menahan isakan.

“Barusan Rudi bilang padaku uang dua puluh juta dari pesangon sudah dipinjamkan ke Mariati dan Suta untuk ongkos DP rumah. Ia juga bilang uang hasil kondangan itu sudah ia setorkan kepada WO, tapi kurang sepuluh juta karena ada tambahan tetek-bengek prasmanan dan cinderamata buat para undangan. Saat kutagih apakah paman-paman dan bibi-bibiku memberikan uang untuk prasmanan, Rudi bilang boro-boro. Keluargaku dan keluarga Rudi sama-sama brengsek!” Saya sungguh tidak bisa berkata-kata, dan untuk kesekian kali, saya hanya bisa meminjamkan telinga untuk Erna.

Minanto
Latest posts by Minanto (see all)
  • Mahar - 17 October 2025

Comments

  1. Pasini Reply

    Nyeseg banget membaca cerpen ini. Ikut gemes dengan tokoh utama. Tapi sangat related dengan kehidupan sekarang.

  2. ricky Reply

    gilaaaak bagus bangett penulisannya

  3. Sulthan Haidar Reply

    gilaaaa greget bangetttt

  4. sembilansembilan Reply

    keren. begitulah kehidupan.

  5. wennnyaaa Reply

    bagus bangett gilaa

  6. Ulfiy Reply

    Sangat menguras emosi. Tapi ini cerita yang seru. keren…

  7. rachel pritama Reply

    bagus bgt cerita waahhh

  8. Yuni Atika Reply

    Bagus banget ceritanya semngt admin buat ceritanya

  9. Dinni Reply

    Ku kira Suta doang yg sinting, ternyata semuanya sinting. Si “saya” ini pun bentar lagi sinting akibat dengerin Erna melulu 😂 Bagus banget cerpennya

  10. Dadaangst Reply

    Bagus bangeettt..semoga bisa berlanjut cerpen nya!

  11. naufaa Reply

    bagus banget cerpennya, rasa keselnya dan nyeseknya nembus layar

Leave a Reply to Ulfiy Cancel Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!