Manusia Modern dan Realitas yang Bergerak Cepat

 

Judul               : Mereka yang Tdak Berbahagia

Penulis            : Robby Julianda & Ruhaeni Intan

Terbit              : November 2019

Penerbit           : Buku Mojok

Tebal               : x + 140 halaman

ISBN               : 978-623-7284-19-2

Tom dan Kal bertemu ketika Kal sedang tampak akan menjatuhkan dirinya dari lantai 3 sebuah gedung. Tom mengajaknya bicara, bercerita tentang si penyanyi yang penampilannya baru saja mereka saksikan di bar di lantai 2, juga tentang band bernama Perahu Tua yang ada kaitannya dengan si penyanyi itu. Mereka sama-sama merokok untuk menghalau dingin dan Kal merespons sesekali celotehan Tom dengan kalimat-kalimat sarkastis yang justru menunjukkan kerapuhannya. Malam itu, Kal memang sedang patah hati. Beberapa jam sebelumnya di bar ia menunggu seseorang yang ia tahu sendiri tak akan datang.

Singkat kata, Tom berhasil mengajak Kal turun. Kal sempat muntah-muntah dan Tom harus menunggu beberapa lama sementara Kal membersihkan diri di toilet. Setibanya mereka di lapangan parkir, mendapati Kal yang masih mabuk itu akan pergi dengan mengendarai sepeda motornya sendiri, Tom seketika khawatir dan meminta waktu untuk mengurus sesuatu dulu di bar. Sekembalinya dari bar Tom menawarkan diri—separuh memaksa, sebenarnya—untuk mengantar Kal ke mana pun perempuan itu ingin pergi dan mereka sempat mencari-cari penjual mi ayam sebelum kemudian mampir di sebuah swalayan 24-jam untuk membeli kopi panas, dan tentu saja selama itu mereka terus mengobrol. Pada satu titik Kal terlihat benar-benar mengantuk dan Tom membawanya ke rumahnya, membiarkan Kal tidur di sebuah ruangan dengan banyak kardus sepatu ditumpuk hingga hampir menyentuh plafon. Kelak, ketika terbangun, Kal mendapati di ruangan itu ia bersama seekor kucing gemuk berwarna cokelat—peliharaan Tom—yang sedang mendengkur.

Di ruangan itu Tom dan Kal kembali mengobrol tentang berbagai hal. Kal lambat-laun memahami bahwa Tom pun kurang-lebih seperti dirinya: seseorang yang baru saja ditinggalkan oleh seseorang yang dicintainya dan kini sedang patah hati. Yang belum ia pahami, dan tak sedikit pun ia tahu, lesung pipitnya yang sesekali muncul mengingatkan Tom pada mantan istrinya. Dan ada juga satu hal lainnya yang tak kalah penting, yang baru akan dipahami oleh Kal beberapa lama kemudian: mereka, dua orang asing yang sama-sama sedang patah hati ini, rupanya saling tertarik satu sama lain.

Realitas yang Bergerak Cepat dan Pemaknaan yang Kurang Mendalam

Itulah gambaran kasar dari beberapa bab awal novel Mereka yang Tidak Berbahagia karya Robby Julianda dan Ruhaeni Intan. Tempo penuturannya yang cepat mendorong kita untuk mengikuti adegan demi adegan tanpa terjebak di dalam sentimentalitas yang berpotensi membuat kita murung. Ini menarik jika dikaitkan dengan kondisi psikis kedua tokoh sentralnya tadi, Tom dan Kal, bahwa kemurungan mereka seperti dibiarkan terkikis oleh tempo penuturan yang cepat ini; dan kesan ini diperkuat oleh kerap munculnya ejekan atau sarkasme dalam percakapan-percakapan mereka. Kemurungan dan kesedihan adalah satu hal, namun realitas yang bergerak cepat adalah hal lain. Seakan-akan itulah yang berusaha dikatakannya. Dengan kata lain novel ini berusaha mengatakan kepada kita bahwa merasa terpuruk adalah hal wajar tetapi kita tak bisa membiarkan diri kita berlarut-larut di dalam keterpurukan kita ini sebab hari esok telah menanti dan waktu akan berlalu dengan cepat.

Temponya yang cepat ini, yang bertahan setidaknya hingga dua pertiga bagian awal, kemungkinan besar adalah simbol dari realitas yang bergerak cepat itu sendiri, dalam hal ini realitas perkotaan atau urban—sesuai dengan latar yang tergambarkan di novel. Tom dan Kal, sebagai representasi dari orang-orang yang terjebak di dalam realitas semacam ini, kurang memiliki cukup waktu untuk mengambil jeda dan mencoba merenungkan secara mendalam kehidupan yang tengah mereka jalani, untuk kemudian mencoba memaknainya. Tentu kedua tokoh sentral ini sesekali digambarkan sedang diam di sebuah ruangan, memikirkan sesuatu, mengamati hal-hal yang ada di sekitar mereka, tetapi selalu saja kondisi mereka yang statis ini dibenturkan dengan suasana ruangan tersebut yang ramai, yang penuh sesak, entah itu oleh gerak atau bebunyian atau peristiwa-peristiwa dari masa silam yang berseliweran seperti serangga di benak mereka. Sederhananya, kedua tokoh ini tidak dibiarkan berada di sebuah situasi di mana mereka seperti merasa termurnikan dan setelah itu akan merasakan ketenangan yang memabukkan. Itu harapan yang terlalu muluk, setidaknya di dua pertiga bagian awal novel.

Namun keliru jika kita mengira kedua tokoh tersebut tak mencoba melakukan pemaknaan atas kehidupan yang tengah mereka jalani. Justru, mereka melakukannya. Sesekali melakukannya. Kalimat-kalimat pemaknaan ini sendiri muncul di sela-sela bergulirnya cerita, sebagai semacam jeda singkat sebelum kita kembali dihadapkan pada adegan-adegan setelahnya, pada arus kehidupan perkotaan yang deras itu. Umumnya pemaknaan-pemaknaan yang muncul bernada positif, dalam arti seabsurd apa pun kehidupan ini kita tetap harus bertahan dan mencoba menikmatinya sambil berharap hal-hal yang jauh lebih baik akan menyergap kita di masa depan. Optimisme, dengan kata lain, tentunya dengan kedewasaan untuk menerima bahwa realitas akan sewaktu-waktu mengecewakan dan memuakkan.

Ini menarik untuk dicermati terutama apabila kita tipe orang yang meyakini bahwa pemaknaan atas realitas baru bisa dilakukan ketika kita punya cukup waktu luang untuk berdiam diri, untuk membiarkan diri kita begitu larut memikirkan sesuatu. Novel-novel Jepang banyak menghadirkan “waktu luang” semacam ini—kendati realitas yang dihadirkan di sana adalah realitas perkotaan atau urban—dan kita tahu sendiri betapa dalamnya pemaknaan-pemaknaan yang ditawarkannya. Novel Robby dan Intan ini, sementara itu, seperti bersikeras mengambil jalan lain. Mereka barangkali tipe orang yang meyakini bahwa pemaknaan atas realitas tetap bisa dilakukan meskipun syarat berupa “waktu luang” yang cukup itu tak terpenuhi.

Akan tetapi, satu hal tak bisa dimungkiri: pemaknaan-pemaknaan yang dilakukan oleh kedua tokoh sentral di novelnya Robby dan Intan ini masih kurang mendalam. Ini paradoksal namun di saat yang sama bisa dipahami; bagaimanapun pemaknaan-pemaknaan tersebut dilakukan ketika kedua tokoh tersebut sedang tak bisa merenungkan apa-apa yang telah dan tengah mereka alami secara mendalam. Kiranya inilah kelemahaman novel ini. Salah satunya. Meski, bisa juga ia bukan kelemahan apabila kita melihatnya sebagai simbol dari betapa sulitnya orang-orang melakukan pemaknaan yang mendalam atas sesuatu hal ketika mereka membiarkan diri mereka terjebak di sebuah realitas yang bergerak cepat.

Absurditas dan Kebebasan

Kata “membiarkan” perlu digarisbawahi. Itu menandakan bahwa kendatipun seseorang terjebak di sebuah realitas yang bergerak cepat ia sebenarnya punya pilihan untuk sewaktu-waktu mengambil jeda, menciptakan “waktu luang” untuk dirinya sendiri, dan di situ ia bisa merenungkan apa-apa yang telah dialaminya untuk kemudian melakukan pemaknaan atasnya. Itulah yang kerap kita dapati di novel-novel Jepang dan tidak kita dapati di novelnya Robby dan Intan ini. Namun, memasuki sepertiga bagian akhir, sebuah perubahan terjadi. Perubahan ini cukup signifikan untuk membentuk ulang persepsi dan penilaian kita terhadap novel ini.

Perubahan tersebut adalah sedikit melambatnya tempo penuturan. Pelambatan ini salah satunya dicirikan oleh upaya-upaya untuk mengemukakan masa lalu Tom dan Kal secara intens, di mana mereka digambarkan masih sangat terikat oleh masa lalunya yang gelap ini seakan-akan berlalunya waktu bertahun-tahun tak juga bisa membuat mereka merasa bebas. Tom masih dibayang-bayangi rumah tangganya yang gagal; Kal masih dihantui rumah tangga orang tuanya yang berantakan serta hubungan toksik yang dijalani ayahnya dengan seorang lelaki yang kerap menghajarnya. Di beberapa titik dimunculkan juga adegan-adegan di mana Tom atau Kal berada di sebuah ruangan dan benar-benar menaruh perhatian kepada detail, termasuk gerak-gerik lawan bicaranya, termasuk raut muka dan sorot mata seseorang itu, yang menguatkan kesan melambatnya tempo penuturan novel ini. Kemunculan adegan-adegan ini sendiri penting untuk mencitrakan Tom dan Kal sebagai sosok-sosok yang masih bisa memegang kendali atas ritme hidup mereka, yang masih memiliki cukup kekuatan untuk melawan absurditas yang dicirikan salah satunya oleh realitas yang bergerak cepat.

Dan dengan adanya pelambatan tempo ini, Tom dan Kal jadi punya cukup waktu untuk merenungkan secara mendalam apa-apa yang telah dan tengah mereka alami. Ini berdampak pada cukup mendalamnya pemaknaan-pemaknaan mereka kemudian. Sesuatu yang tentunya positif. Kita bisa juga mengatakan bahwa tempo yang melambat di sepertiga bagian terakhir novel ini memungkinkan kedua tokoh sentralnya itu menyadari kekeliruan-kekeliruan mereka selama ini dalam menghadapi realitas dan absurditas, di mana mereka membiarkan diri mereka terjebak entah itu di dalam realitas yang bergerak cepat atau masa lalu mereka yang muram itu. Kini, mereka memahami bahwa mereka sebenarnya punya pilihan untuk membebaskan diri, dan mereka cukup mampu untuk melakukannya, dan memang mereka melakukannya. Di akhir cerita, Tom dan Kal bertemu lagi untuk kesekian kalinya, di mana keduanya kali ini tengah bersiap-siap untuk meninggalkan kota yang selama ini mereka tinggali itu. Mereka tidak tahu realitas seperti apa yang akan mereka hadapi setelahnya tetapi itu tak penting sebab mereka telah memutuskan untuk menghadapinya. Kalaupun ternyata realitas tersebut sama absurdnya atau bahkan lebih absurd lagi, paling tidak mereka telah berhasil membebaskan diri dan kini mereka bisa mencoba menikmati kebebasannya ini.(*)

Ardy Kresna Crenata

Latest posts by Ardy Kresna Crenata (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.