Sebuah Lubang yang Lebar dan Dalam

pinterest.com

 

 

Saat ini semestinya ia berada di rumah sakit menunggui bayinya. Bayinya itu lahir dalam kondisi yang tidak begitu baik dan kini pihak rumah sakit sedang merawatnya dulu untuk sementara waktu. Istrinya, ibu si bayi, tak sempat menyusuinya; ia dalam keadaan kritis setelah melahirkan dan sempat bertahan sekitar tiga puluh jam sebelum akhirnya mengembuskan napas terakhirnya, di rumah sakit itu. Terkait yang satu ini pihak rumah sakit tak bisa berbuat banyak. Perempuan itu memang sudah tak lagi dalam usia yang aman untuk melahirkan—tiga puluh sembilan tahun.

Kelahiran si bayi tentu saja membuatnya bahagia. Tetapi di sisi lain, kematian si istri membuatnya terpukul. Ia beruntung pihak rumah sakit merawat bayinya itu dengan sangat baik sehingga keterlibatannya belum begitu diperlukan, dan ini memungkinkannya untuk tak menunggui bayinya itu selama satu hari dua malam di mana selama itu ia terus-menerus berkendara menyusuri kota; berkendara dan terus berkendara dan hanya beristirahat sebentar-sebentar saja—itu pun ia nyaris selalu berada di dalam mobil. Perusahaan taksi tempat ia bekerja, sebagai wujud simpati atas dukacitanya ini, memang memperbolehkannya mengambil cuti satu–dua hari.

Dan cutinya ini berakhir kemarin lusa. Hari ini ia bekerja seperti biasa, namun jam kerjanya telah berakhir beberapa jam yang lalu. Ia sudah bisa pulang dan mandi dan setelah itu meluncur ke rumah sakit, dengan kata lain. Namun alih-alih melakukannya ia justru malah kembali meluncur di jalanan, melajukan kembali taksinya menyusuri kota, tanpa tujuan, dan tak berhenti ketika ada yang mencoba menyetopnya. Selama mengemudi ia tak bisa berhenti memikirkan bayinya dan mendiang istrinya.

Tentu saja ia menyayangi bayinya. Dan ia pun tahu ia semestinya meluangkan waktu lebih banyak untuk menunggui sosok mungil tersebut; paling tidak mengawasinya dari balik kaca kalau-kalau sesuatu yang buruk terjadi dan pihak rumah sakit segera membutuhkan persetujuan darinya untuk mengambil tindakan tertentu. Tetapi di saat yang sama, ia menyadari, itu bukan sesuatu yang mudah baginya. Tidak untuk saat ini. Sejak kematian istrinya setiap kali tidur dan bermimpi ia mendapati dirinya berdiri menghadap sebuah lubang yang lebar dan dalam. Ke lubang ini istrinya jatuh dan menghilang dan ia, sambil memangku bayinya yang terus menangis, hanya terdiam menyaksikannya. Setelah beberapa lama istrinya kembali muncul di hadapannya dan kembali menjatuhkan diri ke lubang itu, dan menghilang dengan cara yang sama, dan ketika itu pun si bayi di pangkuannya masih saja terus menangis dan menangis. Perulangan seperti ini bisa terjadi hingga belasan kali. Sering ia mengira, ia akan terjebak di dalam situasi ini selamanya.

Setiap kali teringat bayinya ia teringat mimpi tersebut. Kemarin ketika menunggui bayinya di rumah sakit, ia hanya sesekali saja mendekatkan diri ke jendela ruang perawatan dan memandangi bayinya; lebih sering ia duduk saja di sebuah bangku panjang di luar ruang tersebut dan menyandarkan punggung dan kepalanya ke dinding yang dingin. Ia sendiri pun terlihat dingin. Matanya kosong. Raut mukanya senantiasa datar kecuali ketika ia menguap atau bersin. Ia tahu ia tak sepantasnya memikirkan ini, tetapi kemarin itu ia ingin sekali tiba-tiba berada di tempat yang lain, jauh dari ruang perawatan itu, jauh dari bayinya yang tengah terbaring lemah dan tak berdaya di ruangan tersebut.

___

Dulu ketika ia masih lajang, berkendara menyusuri kota di malam-malam seperti ini adalah hal biasa baginya. Ketika itu ia memiliki seorang teman dekat yang kaya-raya dan tak pernah ragu membiarkannya menyetir selama mereka berkendara. Dua orang pemuda. Dua orang dengan jiwa muda dan merasa realitas malam terlampau menarik untuk dilewatkan. Mereka pergi ke pelosok-pelosok kota; mereka mampir ke tempat-tempat yang penuh gemerlap cahaya dan bising suara. Temannya itu seorang penggila kyabajo[1] dan entah berapa kali ia diajak temannya itu ke kyabakura[2]. Di sana, mengobrol dengan perempuan-perempuan yang mempertontonkan paha dan belahan dada, sambil sesekali minum-minum dan ngemil, mereka bisa menghabiskan waktu hingga tiga jam. Tentu saja temannya itu yang membayar.

Ia sendiri sejujurnya tak benar-benar menikmati situasi seperti itu. Tak pernah, kecuali satu kali, yakni ketika salah satu kyabajo yang menemani mereka adalah si perempuan yang kelak menjadi istrinya.

Perempuan itu sesungguhnya tak lagi muda, dan jelas sekali ia kalah segar dari si kyabajo lain yang menemani mereka ketika itu. Tetapi entah kenapa, begitu saja, si tokoh utama dalam cerita kita ini langsung tertarik kepadanya. Ia lekat sekali memperhatikan si perempuan ketika tangannya yang putih itu mengangkat gelas, atau ketika lehernya yang bersih itu memantulkan cahaya lampu, atau ketika gigi-giginya yang kecil itu terlihat saat ia tersenyum dan sedikit tertawa. Si tokoh utama yang biasanya cepat bosan kali itu merasa begitu bergairah, namun ia tahu yang dirasakannya bangkit di dalam dirinya ini bukanlah nafsu berahi, bukan gairah seprimitif itu. Memang ia ingin berdekatan secara fisik dengan si perempuan sampai ke tahap di mana kulit lengan si perempuan yang tampak halus itu bersentuhan dengan kulit lengannya; dan tentu ia pun tak menampik bahwa ia ingin sekali memeluk perempuan itu, begitu erat. Tetapi sungguh, ada sesuatu yang jauh lebih kuat lagi dari itu. Ia membayangkan dirinya dan perempuan itu berdua di sebuah balkon atau beranda, masing-masing memegang secangkir teh hangat, dan langit jauh di hadapan mereka berwarna jingga. Ia menyayangi perempuan itu, meski itu adalah kali pertama mereka bertatap muka.

Di kesempatan yang lain, ia mampir ke kyabakura itu seorang diri. Terkait hal ini, ia sempat beberapa lama merahasiakannya dari temannya yang kaya-raya itu.

Akan sangat memakan ruang jika setiap hal tentang perkembangan hubungan si tokoh utama dan si perempuan dijelaskan. Intinya, lima tahun kemudian si tokoh utama mengutarakan keinginannya: mengajak si perempuan menikah. Si perempuan tampak kaget tetapi si tokoh utama tak menghiraukannya—di dalam hatinya ia mengingatkan dirinya bahwa seorang kyabajo bagaimanapun adalah seorang hostess, dan ia mestilah pandai berakting. Ajakan pertamanya gagal, begitu juga yang kedua, begitu juga yang ketiga, begitu juga yang keempat. Barulah di ajakan kelima perempuan itu mulai luluh. Bahkan, untuk pertama kalinya, ia menunjukkan sisi lainnya kepada si tokoh utama; sisinya yang lemah dan rapuh, yang mungkin telah menjadi bagian dari dirinya sejak lama. Dan kali ini giliran si tokoh utama yang tampak kaget. Ia tak menduga seseorang yang disayanginya itu akan meneteskan air mata, di hadapannya.

Pada akhirnya setelah adu argumen yang panjang dan alot perempuan itu menerima ajakannya untuk menikah. Ia akan keluar dari kyabakura itu; si tokoh utama akan bekerja dengan lebih giat dan mereka akan mencicil sebuah rumah yang kecil dan sederhana di pinggiran kota. Pernikahan mereka dilangsungkan tepat di Malam Natal; sebuah permintaan khusus dari si perempuan. Sebagian besar biaya pernikahan ditanggung oleh teman si tokoh utama yang kaya-raya tadi, yang ketika itu sudah tinggal di Jerman dan hanya bisa memberi ucapan selamat lewat panggilan video.

Dan setelah mereka berumah tangga selama tiga tahun, perempuan itu akhirnya hamil. Mereka tidak merencanakan ini; mereka selalu berpikir untuk menikmati kebersamaan dan kehangatan ini berdua saja, selama mungkin, sampai salah satu dari mereka meninggal dunia. Tetapi si perempuan hamil, dan di sini, tanpa pernah mereka duga, naluri mamalia mereka bangkit. Si perempuan tak ingin menggugurkan kandungannya; si tokoh utama antusias membesarkan anaknya. Kecemasan mereka hanya satu: perempuan itu sudah tak lagi dalam usia yang aman untuk melahirkan, terlebih lagi ia tipe orang yang lebih suka menghabiskan waktu di dalam ruangan dan malas berolahraga.

“Seandainya sesuatu yang buruk nanti terjadi, apa yang akan kamu lakukan?” tanya si perempuan suatu kali, ketika mereka tengah sama-sama menikmati teh hangat di beranda.

Si tokoh utama tak langsung menjawab. Ia menoleh ke kiri, memandangi istrinya. Perempuan itu sedang menengadah menatap ke langit jauh dan si tokoh utama terpesona pada apa yang dilihatnya: leher perempuan itu yang putih, bibir dan hidungnya yang mungil, matanya yang bening dan meruncing di ujung.

“Kamu tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja,” jawabnya.

Perempuan itu menoleh, menatapnya. Ia tersenyum dan si tokoh utama pun begitu. Ketika itu usia kandungan si perempuan masih tiga bulanan.

___

Percakapan mereka ini memang berakhir baik. Akan tetapi, malam harinya, si tokoh utama memimpikan sesuatu yang aneh. Di dalam mimpinya ini ia dan istrinya kembali menikmati teh hangat di beranda. Langit berwarna jingga, dan lamat-lamat terdengar sisa deru mesin dari mobil-mobil yang lewat di jalan utama. Di hadapan mereka, di sepetak kecil halaman berumput yang mereka miliki, ada sebuah lubang yang lebar dan dalam. Si tokoh utama tak mengerti mengapa lubang itu ada di sana. Ia juga tak mengerti kenapa istrinya memandangi lubang itu tanpa sedikit pun menunjukkan raut muka terkejut atau bingung.

Dan tiba-tiba, seakan-akan mereka telah sama-sama terdiam begitu lama, istrinya berkata: “Lubang ini terus memanggilku dari tadi. Kamu tak mendengarnya? Suaranya begitu berat. Dan menyayat.”

Ia hanya sekali itu saja mengalami mimpi aneh ini. Tetapi kecemasan yang ditimbulkannya, yang dirasakannya seperti sesuatu gaib yang melekat lengket di pundaknya, senantiasa mengganggunya selama beberapa minggu setelahnya. Ia tak pernah membahas hal ini kepada istrinya. Tidak mimpi itu, tidak juga kecemasan yang mengganggunya kemudian. Istrinya sedang hamil dan harus berada dalam kondisi psikis yang sehat. Ia tahu itu. Dan alangkah bodohnya ia apabila kepada istrinya ia menceritakan sesuatu yang berpotensi membuat perempuan itu ikut-ikutan cemas.

Dan ia pun akhirnya mencoba berdamai dengan kecemasannya ini. Manusia memang rentan, dan kecemasan akan selalu mengusiknya sewaktu-waktu. Tetapi itu bukan masalah selama ia bisa bertahan sampai akhirnya kecemasannya ini lenyap dengan sendirinya. Begitulah ia meyakinkan dirinya. Dan memang akhirnya pada satu titik kecemasannya yang tadi itu tak lagi mengganggunya, dan ia pun bisa kembali fokus menjaga kondisi kehamilan istrinya, menikmati masa-masa ini. Suatu ketika, istrinya kembali bertanya apa yang akan dilakukannya seandainya sesuatu yang buruk ternyata terjadi. Respons dan jawabannya masih yang itu-itu juga: ia meminta istrinya untuk tetap tenang sebab semuanya akan baik-baik saja.

Namun sayangnya, sesuatu yang buruk itu memang terjadi. Proses persalinan benar-benar memakan waktu dan istrinya kehabisan darah dan tenaga, juga tekad untuk terus hidup. Si tokoh utama tentu saja menemaninya di sisa-sisa waktunya. Ketika mereka saling menatap satu sama lain, istrinya itu tersenyum, dan si tokoh utama pun begitu. Namun tidak seperti di adegan di beranda tadi, kali ini mereka tersenyum sambil menangis.

___

Tak punya pilihan lain selain menerima bahwa istrinya itu sudah tiada, si tokoh utama mencoba mengalihkan perhatiannya kepada bayinya, sosok yang ditinggalkan istrinya itu untuknya. Ia berdiri di balik kaca memandangi bayinya itu. Sosok mungil yang rentan. Seandainya tiba-tiba aku pun mati entah apa yang akan terjadi padanya. Begitu ia berpikir. Itu adalah malam kedua sejak istrinya tiada. Dan di malam inilah, untuk pertama kalinya, di dalam mimpinya ia mengalami situasi yang digambarkan di awal tadi: di hadapannya sebuah lubang yang lebar dan dalam, dan istrinya menjatuhkan dirinya ke lubang tersebut, dan terus mengulanginya hingga belasan kali dan ia selama itu hanya terdiam sambil memangku bayinya yang terus saja menangis dan menangis.

Hingga kini, entah telah berapa puluh kali ia menyaksikan mendiang istrinya itu menjatuhkan diri ke lubang tersebut. Ia pun sudah kenyang dengan tangisan bayinya, sampai-sampai ia kadang-kadang mendengarnya juga ketika ia sedang menyetir. Ketika di taksinya sedang tak ada penumpang, seperti saat ini, tangisan bayinya ini bisa tiba-tiba menyerang telinganya dan membuatnya mengernyit; seperti ada semacam luka kecil yang ditimbulkan oleh tangisan tersebut dan semakin lama luka ini semakin nyata. Kadang, bahkan ia melihat juga gambaran lubang itu di hadapannya; dan ia menemukan sosok istrinya yang tengah akan menjatuhkan diri itu ketika ia menoleh ke kaca spion, ketika ia mengamati gedung-gedung dan lampu jalan, ketika ia menatap jauh ke depan dan nyaris tak mendapati satu mobil pun di sana.

          Kamu tenang saja. Semuanya akan baik-baik saja.

Sekonyong-konyong ia teringat pada apa yang pernah dikatakannya ini. Dan segera, ia pun teringat pada langit ketika itu yang berwarna jingga, pada teh hangat seduhan istrinya yang mereka nikmati bersama, pada senyum tipis perempuan itu juga matanya yang bening dan lehernya yang putih, pada hari-hari lain di mana ia mendapati kehadiran perempuan itu membuatnya tenang dan bahagia.

Ia belum ingin pulang. Ia tahu itu. Lagi pula pagi masih jauh. Masih jauh.(*)

—Bogor, 2019

 

 

[1] Cabaret girl. Perempuan yang bekerja sebagai hostess di cabaret club.

[2] Cabaret club. Bar atau kelab malam; pelanggan akan ditemani oleh kyabajo untuk mengobrol, minum-minum, dan menghabiskan waktu. Pelanggan bisa datang berdua dan masing-masing akan ditemani oleh satu kyabajo; bisa juga lebih.

Ardy Kresna Crenata

Tinggal di Bogor. Ia bergiat di Wahana Telisik Seni-Sastra dan Rumah Belajar.
Ardy Kresna Crenata

Latest posts by Ardy Kresna Crenata (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    WOW…. KEREN,,!!!

    • Yuni Bint Saniro Reply

      Ceritanya sedih, mengapa mesti meninggal si istri tokoh utama itu. Kan kasihan bayinya.

      Duh, pembaca mah bisanya cuma bertanya kok begini dan begitu. Hehehe

  2. OOO Reply

    Saya bisa merasajannya

Leave a Reply

Your email address will not be published.