Menikmati Jaz Pertama di Kerajaan Jawa

Malam itu, Solo diguyur rintik hujan. Suasana Sabtu malam kota yang padat terasa lebih sejuk dari biasa. Muda-mudi hingga bapak-ibu penikmat jaz terlihat semangat berjalan menuju Pamedan Puro Mangkunegaran.

Sekira pukul 19.00, pengunjung semakin ramai berdatangan, meski panggung utama masih terlihat sepi. Mangkunegaran Jazz Festival tak hanya sebatas pertunjukan musik. Dalam acara ini juga digelar festival kuliner.

Acara ini bakal menampilkan lima artis dari dalam maupun luar negeri. Dari dalam negeri adalah Jordy Waelaruw, Ardhito Pramono, Eva Celia, dan D’Masiv dengan proyek jaznya. Penyanyi dan pencipta lagu Lianne La Havas menjadi artis luar negeri yang didatangkan langsung dari London, Inggris.

Tak lama kemudian, pembawa acara menyapa pengunjung, tanda bahwa pertunjukan segera dimulai. Mengusung konsep Serat Waragasa yang artinya jiwa, raga, dan rasa, Mangkunegaran Jazz Festival kental akan simbol-simbol budaya Jawa. Mulai dari ikon, lokasi, hingga tampilan pembawa acara yang fasih berbusana dan bertutur Jawa krama inggil.

Jordy Waelaruw jadi penampil pertama. Pemusik muda asal Maluku ini terlihat lincah meniupkan trompet pada komposisi lagu-lagunya. Ia membawakan lagu-lagu dari album perdananya Stand Still. Yang paling menonjol dari penampilannya adalah ketika menyanyikan Sancie. Lagu itu didedikasikan untuk adiknya yang meninggal karena sakit.

Penampil selanjutnya adalah Ardhito Pramono. Pria muda berkacamata yang banyak digandrungi banyak pemudi. Di usia muda, ia telah membuat beberapa minialbum. Tidak tanggung-tanggung, ia juga telah dikontrak oleh label Sony Music Indonesia. Malam itu ia membawakan lagu-lagu andalannya seperti Say Hello, Bitterlove, Superstar, dan mengkover lagu Can’t Help Falling in Love-nya Elvis Presley, serta Loving is Easy dari Rex Orange Country.

Semakin malam, hujan semakin reda. Suasana makin segar. Tak terasa waktu telah menginjak pukul sepuluh. Menurut jadwal, penampil selanjutnya adalah Eva Celia. Namun panitia berkehendak lain. Lianne La Havas mengambil alih panggung dengan penampilan anggun dengan gaun kuning beserta menggaet gitar manis model telecaster thinline.

Lianne La Havas membawakan lagu-lagu syahdu seperti What You Won’t Do, Au Cinema, Is Your Love Big Enough, Green and Gold, Tokyo, Unstoppable, dan lainnya. Beberapa perempuan yang menonton terlihat asyik sing a long. Di akhir pertunjukan, Lianne mengungkapkan rasa senang dan takjub pada Indonesia, khususnya warga Solo yang telah hadir.

Penampil selanjutnya adalah Eva Celia. Lesung pipit khas yang melekat pada wajahnya mengingatkan kita pada pemusik jaz senior tanah air, Indra Lesmana−yang memang ayahnya. Eva membawakan lagu-lagunya sendiri sebelum ia menyanyikan tembang-tembang populer 90-an seperti Aku di Sini Untukmu dan Takkan Ada Cinta yang Lain.

Bintang tamu terakhir menjadi yang ditunggu-tunggu para penonton yaitu D’Masiv. Tapi memang, seberapa pun kerasnya usaha Rian dan kawan-kawan memainkan jaz, tetap saja mereka adalah D’Masiv yang hits dengan Cinta ini Membunuhmu, Di Antara Kalian, Diam Tanpa Kata. Penikmat D’Masiv rasa-rasanya tak berekspektasi penuh pada permainan mereka.

Estafet Warisan Sejarah Mangkunegaran

Panggung Mangkunegaran Jazz Festival digelar di depan gedung Kavallerie-Artillerie. Gedung bersejarah yang dimiliki Keraton Mangkunegaran Surakarta. Gedung ini dibangun pada tahun 1874 semasa pemerintahan Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Arya Mangkunegara IV sebagai tempat berlatih militer atau tangsi Legiun Mangkunegaran.

Legiun Mangkunegaran merupakan unit militer modern pertama di Asia saat itu. Didirikan atas dasar hubungan internasional Mangkunegaran dengan Kerajaan Prancis yang saat itu dipimpin oleh Napoleon Bonaparte. Tak heran jika Legiun Mangkunegaran dibentuk dengan mengadopsi Grande Armee. Mangkunegara II memiliki visi ke depan dan terbukti mampu mengadopsi gagasan modern pada zamannya. Konon, organisasi militer ala Eropa ini termasuk salah satu yang kuat di dunia. Watak futuristik Keraton Mangkunegaran seakan masih terlihat sampai sekarang.

Gelaran Mangkunegaran Jazz Festival merupakan konser musik jaz pertama yang diselenggarakan di kompleks Kerajaan Jawa. Keraton yang kental dengan budaya unggah-ungguh, krama inggil dan tradisi adiluhung lainnya menyatu dengan kultur musik yang lahir dari Amerika Serikat. Seni pertunjukan lainnya yang pernah digelar di tempat ini antara lain Solo International Performing Arts dan Solo International Ethnic Music.

Gunawan Wibisono

Tulisan-tulisannya dimuat di media cetak maupun online seperti Harian Kompas, Majalah Jasmerah, Midjournal, Sorgemagz, Warning Magazine, dan Geschieporia Magazine. Beberapa puisi dan esainya diikutkan dalam buku antologi TentangLangit (2012) terbitan Balai Soedjatmoko Solo dan Hajatan Aksara (2012) terbitan Taman Budaya Jawa Tengah. Pernah menulis skenario film pendek W.A.R (2012). Saat ini bekerja sebagai Asisten Peneliti di Lab Sosio FISIP UNS sembari merampungkan buku perdananya bertajuk Musik dan Gerakan Sosial.
Gunawan Wibisono

Leave a Reply

Your email address will not be published.