Kartini di Majalah

Pada masa 1980-an, puluhan majalah untuk kaum wanita terbit dan beredar di edisi mingguan, dwimingguan, dan bulanan. Pembaca di Indonesia menentukan nasib majalah berselera wanita dan keluarga. Ratusan ribu orang membaca Kartini, Femina, Pertiwi, Sarinah, Nova, Dewi, dan lain-lain. Bisnis majalah menggiurkan: memberi untung berlimpahan. Majalah-majalah pun memberi rangsang bagi para pengarang setor cerita pendek, cerita bersambung, dan puisi. Majalah laris, pengarang mendapat rezeki. Sokongan duit bersumber dari iklan-iklan membuat majalah selalu tebal.

Di majalah Tempo, 29 Juni 1986, disuguhkan berita berjudul “Memperebutkan Wanita.” Rebutan memerlukan ongkos besar dan berani menanggung risiko sampai ke pengadilan. Dulu, bisnis majalah sering mengisahkan sengketa dan perkara di pengadilan. Semua risiko demi memenuhi santapan bacaan bagi wanita di Indonesia. Pada masa 1980-an, kaum wanita Indonesia adalah pembaca, ahli waris dari kegandrungan RA Kartini membaca di akhir abad XIX dan awal abad XX. Wanita terpelajar atau berada di kelas menengah-atas menginginkan bacaaan untuk mengerti pelbagai hal: politik, artis, masakan, busana, sastra, biografi, pengasuhan, pelesiran, pendidikan, dan hiburan. Indonesia masa itu ramai majalah, masa mustahil terulang pada abad XXI.

Majalah-majalah laris pada masa 1980-an seperti diberitakan di Tempo pantas diberi tepuk tangan. Sekian majalah pamitan, sekian majalah masih terbit sampai sekarang tapi terengah. Pada tiap edisi, Pertiwi cetak 130.000 eksemplar, Famili cetak 100.000 eksemplar, Femina cetak 110.000 eksemplar, dan Kartini cetak 160.000 eksemplar. Sekian majalah menjadikan sastra meriah dan selalu jadi santapan bagi kaum wanita. Para pengarang bersaing untuk tampil di pelbagai majalah. Mereka tak terlalu bergantung ke Horison. Majalah wanita itu surga sastra!

Ingatan pada sekian majalah mengajak kita mengenali dan mengerti Kartini di masa Orde Baru, masa bergelimang majalah. Pada peringatan Hari Kartini, Tempo edisi 26 April memuat iklan puitis. Iklan bertema Kartini dan angan kemajuan kaum wanita di Indonesia. Kita simak puisi berjudul “Sejauh Inikah Jarak yang Harus Terbentang?” tanpa pencantuman nama penggubah.

Telah kita rasakan

berbagai kemajuan di negeri ini.

Telah kita saksikan

banyak wanita wanita berprestasi tinggi.

Salah satunya sebentar lagi akan mengorbit bumi!

Namun, tidak kita pungkiri,

masih banyaknya wanita kita yang tertinggal jauh di belakang.

Sejauh itukah jarak yang harus terbentang?

Kita memang belum tiba di titik akhir juang.

Karenanya, mari bulatkan tekat:

Lipatgandakan semangat Kartini!

Demi kesejahteraan dan kemajuan wanita kita

demi kejayaan Indonesia!

Wanita malah dibuatkan kementerian di masa pemerintahan Soeharto. Wanita terus menjadi tema besar, gaung dari perhatian orang-orang kepada Kartini di masa lalu. Puisi itu jangan dibandingan dengan puisi gubahan Rukiah, Isma Sawitri, atau Toeti Heraty. Puisi berhiaskan gambar roket bergerak ke atas menuju langit. Di bawah, ada perempuan berbusana tradisional sedang melihat: kagum dan bingung. Dulu, puisi itu mungkin pernah disalin dan dibacakan dalam acara ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita. Pada masa Orde Baru, Kartini itu semangat tapi masih sering disepelekan dalam kerja-kerja besar demi pembangunan nasional. Pengecualian adalah peran Ibu Tien Soeharto. Sosok legendaris itu sering mengadakan museum, taman, dan pelbagai acara akbar sering menjadi berita di majalah-majalah wanita. Kegiatan Ibu Tien Soeharto tak mendapat halaman pemberitaan di majalah mungkin bakal menimbulkan sejenis petaka atau peringatan.

* * *

Kartini sebagai semangat dipilih pula oleh para pelaku bisnis majalah. Pemilihan nama Kartini untuk majalah di masa lalu terasa ingin memberi gairah ke kaum wanita di keaksaraan dan perbuatan memuliakan Indonesia. Sejarah penerbitan majalah itu sampai di perpecahan. Publik mendapat cerita-cerita perpecahan melalui iklan-iklan saling sindir sengit. Iklan majalah Kartini dimuat di Tempo, 17 Mei 1986: “Nantikan selalu. Kartini akan selalu berada di samping Anda!” Pemberitahuan bahwa penerbit bakal mengeluarkan Kartini nomor 300 pada 19 Mei 1986. Iklan itu tampak biasa. Curiga mengandung keanehan terbaca di peringatan: “Waspadalah terhadap iklan-iklan yang menyesatkan dan meremehkan Pahlawan Nasional hanya karena memburu kepentingan bisnis. Iklan-iklan yang tidak menyatakan hal yang sebenarnya, justru mengelabui pembaca!” Peringatan itu mengabarkan ada “musuh”. Iklan diakhiri seruan: “Sekali Kartini, tetap Kartini”. Duh, seruan mengikuti gelora revolusi: “Sekali merdeka, tetap merdeka.”

Nah, iklan di Tempo edisi sama memunculkan “musuh” seperti disebut di iklan dari Kartini.  Iklan majalah Kartini di halaman 9. Di halaman 65, disajikanlah iklan dari majalah Pertiwi. Iklan diawali kalimat-kalimat berani berseteru pada “musuh” bisnis: “Seandainya Ibu Kartini masih hidup, beliau pasti menggemari Pertiwi.” Kartini muncul lagi sebagai tokoh moncer masa lalu. Penghadiran untuk berebutan pembaca majalah wanita. Iklan membujuk para pembaca agar membeli Pertiwi nomor 2, direncanakan terbit pada 19 Mei 1986. Pilihan tanggal sama dengan penerbitan Kartini. Pengumuman tanggal terbit berbeda dengan tanggal beredar, 17 Mei 1986.

Kita simak deretan kalimat menghajar “musuh” dan menarik sejarah ke urusan bisnis majalah wanita: “Seandainya Ibu Kartini sekarang masih hidup, maka kami yakin, beliau pasti menggemari majalah Pertiwi! Kenapa? Karena beliau tentu menyadari juga bahwa munculnya majalah Pertiwi sekarang ini adalah semata-mata atas kemaun sejarah. Yaitu sejarah, yang menetapkan bahwa era Kartini (era emansipasi wanita) di Indonesia kini sudah berakhir dan sudah dialihkan ke era Pertiwi (era wanita-wanita Indonesia banyak berkreasi dan berprestasi).” Semula, nama Kartini dimunculkan sebagai tokoh dan semangat, lalu digantikan dengan sebutan Pertiwi. Siasat bersaing pasar antara majalah Kartini dan Pertiwi. Iklan memang lazim bermain pemahaman dengan gerak mundur-maju.

Persaingan iklan di majalah Tempo itu kesengajaan ingin diketahui publik jika sekian orang bersengketa di majalah Kartini memicu perpecahan. Pisah-pecah memunculkan majalah baru bernama Pertiwi. Di Indonesia, nama Ibu Kartini dan Ibu Pertiwi itu dimaknai sakral dan kebangsaan, sebelum diambil di nama majalah-majalah: Kartini dan Pertiwi. Pembaca sempat direpotkan dua iklan demi kelarisan dua majalah wanita menemu jawab di Tempo edisi 24 Mei 1986.

Pertiwi dituduh melanggar kode etik periklanan dengan mengecilkan arti Kartini sebagai tokoh, bukan Kartini sebagai nama majalah. Pihak Pertiwi menolak tudingan berdalih iklan cuma permainan kata-kata. Kartini ada di persengketaan dan persaingan. Ikhtiar membuat penghormatan di peringatan Hari Kartini justru diantarkan ke polemik berujung bisnis majalah.

* * *

Kliping dari majalah Tempo itu kita ingat sejenak untuk bergerak mundur ke  arah berbeda memberi arti Kartini. Di majalah Dunia Wanita edisi 10 April 1957, kita membaca tulisan puitis dari Eloksetiti Susrama. Pada masa 1950-an, tulisan itu keren! Eloksetiti mungkin mengerjakan tulisan sekian hari, teliti memilih kata dan setiti di keinginan menebar makna. Tulisan cuma sehalaman tapi membuktikan ketekunan wanita menulis diri dan memberi penghormatan pada tokoh penting di sejarah Indonesia.

Kita simak: “Tirai kelam kojak, terpandang djalan kebintang terang. Sekeras rantai badja kan terputus terburai djika terputus. Tebal tinggi pagar tembok akan runtuh berantakan bila diterdjang berani. Tiada sesuatu menghalang arus gelombang kemauan jang deras. Selama otak gelap dikelam kesedihan merindukan djalan, nun disana, dibalik tembok jang tinggi, menggelora hati didalam ingin dan melepaskan kaumnja jang sekian lama menderit, mengeluh dalam belenggu adat jang tiada ampun. Semoga keadilan mendjelan didalam adat.”

Pembaca tak usah mengimajinasikan tulisan itu dibaca oleh pejabat atau tokoh wanita dalam peringatan Hari Kartini. Tulisan terasa berontak tapi merdu. Pilihan kata mengesankan penolakan jika ada perendahan pada wanita. Pada masa revolusi, kaum wanita masih harus mencari tempat dan pemaknaan di Indonesia. Sekian perempuan sudah bergerak di partai politik dan duduk di parlemen setelah pemilihan umum 1955. Pada masa demokrasi masih “dipelajari” dan diwujudkan secara “berani”, kaum wanita bukan melulu penggembira. Tokoh-tokoh wanita tampil berseru demokrasi, sanggup mengisahkan Indonesia melalui kata dan perbuatan. Mereka melampaui angan Kartini meski mulai berhadapan dengan perkara pelik politik dan poligami. Di buku sejarah, gerakan kaum wanita menggebu di masa 1950-an dengan sekian jalan ideologis: rawan saling bersengketa atau bersekutu meralat kesalahan-kesalahan rezim kekuasaan dan nalar publik.

Tulisan Eloksetiti Susrama dan situasi demokrasi masa 1950-an terasa berbeda dengan pemuatan puisi berjudul “Nasibku” gubahan Ondha Soetiadi. Puisi menggunakan penomoran 1-8 mengisahkan suka dan duka perempuan di desa beradab sawah. Kita membaca seperti ditaruh di “roman besar” di Indonesia bertema agraris. Ondha Soetiadi menulis: Pernahkan teman tegak disawah,/ Padi menghidjau laksana permadani indah,/ Dengan mbak tani bersenda gurau,/ Sambil dengarkan air berdesau?// Pernahkah teman menindjau kampung,/ Mendengarkan aku gelak tertawa disertai suara lesung,/ Melihat gadis-gadis menumbuk padi,/ Dengan rasa suka dan duka didalam hati? Pengisahan di sawah mengingatkan kita bahwa penduduk Indonesia masa lalu masih bergantung di pertanian. Industri belum maju. Indonesia masih berurusan politik dan tertib sosial, setelah berpisah dari kolonialisme.

Larik-larik itu menempatkan perempuan di desa dengan pekerjaan di sawah dan sikap melakoni hidup di kebersahajaan. Kaum wanita ingin kecukupan pangan, memiliki peran, dan mendefinisikan Indonesia melalui sawah. Tata cara agak bersimpang arah dari seruan para tokoh di kota mengenai revolusi, demokrasi, dan modernisasi. Di desa, kaum wanita tak terlalu sibuk dengan agenda-agenda besar Indonesia. Mereka cukup memiliki ingin lugu: Pernahkah teman melihat kita,/ Betjompang-tjamping masuk ke kota,/ Heran kagum melihat kain serta badju,/ Di pekan dan toko memikat kalbu? Mereka ingin busana dan berdandan agar tak selalu tampak lusuh, berlumpur, dan wagu. Bergerak ke kota, mereka nggumunan tanpa terlalu menuntut dan bermimpi setinggi langit. Kain dan baju jadi pikiran, belum diganggu oleh ide-ide besar berseliweran di kota saat Indonesia berada di situasi Perang Dingin, bergerak memihak ke kubu Rusia dan Tiongkok. Pemihakan agak terbaca, setalah Indonesia sanggup mengadakan Konferensi Asia-Afrika.

Keinginan kaum wanita atas kain dan baju itu ditampilkan berupa ilustrasi di Dunia Wanita, halaman 295. Kita melihat ilustrasi tiga wanita mengenakan tiga busana berbeda. Selera mereka menganut adat, kemodernan, dan feminisme. Busana mengabarkan keanggunan, kesantunan, kebebasan, kekuatan, dan kekinian. Kita melihat sambil mengingat dandanan para wanita masa 1950-an. Indonesia mulai menjadi pasar busana dari pelbagai negara memberi godaan mode dan selera internasional. Ilustrasi dihadirkan agar pembaca mengingat Kartini berhak mengenakan busana “baru” saat zaman telah berubah. Begitu.

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.