Narasi Kebencian

avifahve

Suasana halaman rumah itu sangat sepi. Maklumlah masih pagi. Pelan-pelan aku buka pintu pagarnya. Melangkah. Lalu berhenti sejenak. Memandangi Noni lagi duduk santai di beranda sendirian sambil main-main dengan ponselnya. Mungkin suaminya lagi ada di dalam. Mengurusi anak-anaknya. Memandikan mereka. Memakaikan baju seragam dan sepatu mereka. Menyuapi mereka sarapan. Dan lain sebagainya. Dasar suami penakut. Aku teruskan langkah. Pisau kecil aku keluarkan dari balik baju. Cahaya sinar matahari pagi membuat pisau berkilauan. Sebagian terpantul ke mata Noni. Tapi ia bergeming. Tak merasa silau. Langkah aku hentikan tepat di depan meja. Ia tetap bergeming. Lalu aku acungkan pisau ke udara. Sambil berkali-kali membatinkan “Matilah kau”. Semacam mantra untuk meyakinkan diri sendiri. Bahwa aku berani melakukannya. Tapi sial. Saat aku mengayun pisau dengan gerakan pelan, ponselku berbunyi nyaring. Aku kaget. Seketika Noni lenyap dari hadapanku. Bukan hanya dia. Tapi semuanya lenyap dari mataku. Buyar. Pahadal lagi klimaks.

Aku membuka mata. Ada teman menelepon. Tapi aku membiarkannya. Tak penting. Paling-paling mau pinjam uang. Memang beberapa pegawai negeri teman sekantorku terlilit utang. Pinjam uang tidak mengukur kemampuan. Gaji dihabiskan untuk cicilan ke bank. SK digadaikan. Meski gaji terus dinaikkan, percuma. Tidak berpengaruh. Macam si Noni itu. Sudah kerjaannya tak becus. Suka ngutang lagi. Untung suaminya pejabat. Meski gajinya sudah tinggal separuh. Coba presiden tahu akan hal ini. Pasti akan garuk-garuk kepala.

Aku melihat jam dinding. Pukul sepuluh. Tapi Noni belum datang. Sudah lazim. Aku lihat laki-laki tua (Azis) yang duduk di depan meja kerja Noni. Matanya sudah tenggelam di layar ponsel. Dia, sebagai kepala sub bagian, sangat mudah dikuasai. Mudah diatur-atur bawahannya. Noni yang doyan melakukan itu. Aku lihat ke samping meja Azis. Laki-laki muda (Rifin) yang mudah dijinakkan dengan uang sedang sibuk bekerja. Pasti ia sedang mengerjakan laporan hasil rapat kemarin. Telinganya sudah ditutup headset. Mirip pilot hendak menerbangkan pesawat. Di depan meja Azis, agak ke samping, tepat di sebelah kanan meja Noni, laki-laki agak tua (Farid) sibuk bicara dengan seseorang lewat ponselnya. Pasti sedang bicara dengan bini keduanya. Selalu begitu. Tapi ia termasuk pegawai negeri beretos kerja tinggi. Dan aku? Ah, aku hanya pegawai negeri yang selalu kebagian perkerjaan tambahan. Ya pekerjaan Noni! Itu yang membuat aku benci padanya. Kebencian ini sudah menumpuk di dalam dada. Sudah banyak waktu bersama keluarga aku korbankan hanya untuk mengerjakan pekerjaannya. Coba pikir, bagaimana aku tak benci. Sementara Noni enak-enak di rumahnya, aku masih bergelut dengan pekerjaan di kantor. Dia pegawai negeri tak tahu diri.

“Selamat pagi semuanya.”

Nah, Noni sudah datang. Seperti biasa. Aku pasti mual melihat wajahnya. Mual melihat tingkah genitnya yang sama sekali tidak menyiratkan rasa bersalah. Ia pikir kantor ini miliki bapaknya. Kemarin Farid pernah bertanya kepadanya. Kenapa datang terlambat. Jawabannya menjengkelkan.

“Aku kan harus mengurus suami. Aku kan istri salehah. Istri salehah harus patuh sama suami.”

Waktu itu aku langsung protes di dalam hati. Kalau mau total ngurus suami jangan jadi pegawai negeri. Jadi ibu rumah tangga saja. Dan aku tidak percaya kalau dia mengurus suami. Mana mungkin ngurus suami sampai empat jam lamanya. Memangnya suaminya masih bayi, tak bisa mengurus diri sendiri? Tapi mereka (Azis, Rifin, dan Farid) malah menjadikan alasan Noni itu sebagai bahan kelakar jorok, “Paling-paling kau bercinta dulu, ya, sama suamimu,” yang kemudian membuat Noni tertawa seperti kuntilanak.

“Panas sekali hari ini. Duh.”

Ia berseru panas sambil membuka satu kancing bagian atas bajunya. Mata Azis langsung tersorot pada putihnya bagian dada Noni. Sedangkan Farid dan Rifin sibuk dengan urusannya sendiri.

“Fin, tolong ambilkan air. Aku haus.”

Nah, ia sudah berlagak manja. Rifin yang sudah membuka headset-nya segera melaksanakan perintah itu. Memang Noni ini suka merendahkan martabat laki-laki. Mungkin ia pikir semua laki-laki ia anggap pembantu. Cuih! Aku meludah di dalam hati.

Layar komputer di meja Noni masih padam, dan memang tak pernah menyala. Ah, mana peduli dia sama benda itu. Lagi pula ia memang tidak tahu mengoperasikan komputer. Ia memang beruntung bisa bekerja di kantor megah ini. Kantor yang dihuni Anggota Dewan Kota yang Terhormat. Sebenarnya tidak mudah pegawai negeri bisa pindah ke kantor ini. Dan aku dengar dari salah satu kawan di ruangan lain, bahwa Noni dipindah ke sini atas rekomendasi suaminya. Tapi kawan yang lain mengatakan kalau Noni dipindah karena telah kepergok bermesraan dengan atasannya di kantor yang dulu. Maka aku lebih meyakini informasi yang kedua. Benar atau tidak, aku tidak peduli. Karena aku benci.

Nah, sekarang Noni sudah sibuk dengan ponselnya. Ia tak peduli pada teman-temanya yang bekerja. Dan aku sendiri, berusaha menyelesaikan laporan keuangan. Gara-gara ia datang, nafsu kerjaku semakin berkurang. Malas. Tapi semestinya laporan keuangan ini Noni yang mengerjakannya. Atasanku memang brengsek. Lebih berpihak padanya dan mengalihkan semua pekerjaanya kepadaku. Harusnya aku melawan. Tapi aku tidak berani. Aku cuma staf. Selalu ketakutan kalau diancam mutasi. Kalau dimutasi pasti dibuang ke pulau. Ngeri! Lihat, lihat, sekarang ia mulai melihat wajahnya di cermin. Dasar Narcissus.

“Ah, benar-benar panas sekali hari ini. Kenapa AC-AC itu tidak berfungsi?”

Ia mulai cari perhatian. Beranjak dari tempat duduknya. Melangkah sambil membuka satu kancing bajunya lagi. Azis tak mau kehilangan kesempatan. Langsung mencuri pandang. Noni juga melepaskan sepatu hak tingginya. Ia memakai sandal. Sungguh tidak beretika. Lalu ia melangkah keluar ruangan. Langkahnya dibuat genit. Sampai-sampai pantatnya yang semok itu bergetar-getar. Semakin girang si Azis dikasih tontonan macam itu. Aku sendiri semakin merasa mual-mual. Ingin muntah rasanya. Ia duduk di lobi. Menelepon seseorang. Aku segera memejamkan mata.

Aku beranjak. Pisau kecil di laci aku keluarkan. Lalu melangkah ke luar. Langkah aku pelankan. Dan saat berada tepat di belakangnya, aku tusuk lehernya empat kali. Ia tumbang. Roboh ke samping. Ponselnya jatuh. Kedua telapak tangannya sibuk menghentikan darah yang muncrat dari lehernya. Aku segera kembali ke tampat dudukku. Menyaksikannya dari jauh.  Pisau aku sembunyikan di laci meja kerja. Aku bisa melihatnya dari balik kaca transparan. Ia kejang-kejang. Ada wanita setengah tua lewat dan melihatnya. Lalu menjerit. Memancing yang lain datang. Tapi Azis, Rifin, dan Farid sibuk dengan urusan masing-masing. Suasana di lobi jadi ramai. Noni mati. Aku bahagia.

Polisi datang. Mengamankan TKP. Menanyai satu-satu dari mereka. Aku masih duduk menyaksikan mereka yang sibuk menggerutu. Bertanya-tanya siapa pelakunya. Tidak ada yang tahu. Ada yang menyarankan melihat rekaman CCTV. Tapi ada yang bilang CCTV itu rusak. Aku lega. Tidak akan ada yang tahu perbuatanku. Wanita itu mati. Noni mati. Aku puas. Tidak ada lagi yang membuat perutku mual-mual. Kebencianku terlampiaskan dengan sempurna. Aku lega.

“Hei. Kau mengkhayalkan aku, ya? Ih, pasti yang jorok-jorok.”

Ah, Noni menyadarkanku. Aku malu. Segera kedua mata aku luruskan kembali ke layar komputer.

“Ayo jujur. Jangan malu-malu. Kalau cuma mengkhayal tidak apa-apa, kok. Asal tidak terjadi sungguhan.”

Aku menatap matanya sebentar. Ia tersenyum. Aku tidak membalasnya. Tapi, malah si Azis yang obral senyum ke arah Noni. Padahal Noni tidak sedang menatapnya. Dasar laki-laki tua mesum.

Ia berdiri lama tepat di depan mejaku. Entah apa maunya. Mungkin ia pikir aku mulai tergoda dengan dirinya. Hah, salah besar. Bahkan, aku ingin meludahi wajahnya itu.

Ia melangkah menuju mejanya. Aku memejamkan mata lagi.

Aku beranjak dan mengikutinya dari belakang. Sebelum sempat duduk, aku tikam lehernya dari belakang. Empat kali. Ia tumbang. Azis tetap dalam posisinya. Rifin dan Farid juga sama. Aku lihat Noni kejang-kejang. Ia pun mati karena kehabisan darah. Aku puas. Aku lega. Kebencianku terbayarkan. Ia mati tanpa ditangisi siapa-siapa.

“Gus! Ke ruangan sebentar.”

Aku tersadar. Atasan memanggil. Aku segera memenuhinya. Aku melangkah cepat. Masuk ke dalam ruangan atasan dengan keringat membasah di kening. Aku duduk. Tanpa bicara panjang lebar, atasanku langsung menyodorkan tiga tumpuk map. Laporan keuangan. Kerjakan, katanya. Baik, jawabku dengan menundukkan kepala. Kebencian semakin bertambah di dadaku.

Aku kembali ke meja kerja. Aku lihat meja kerja Noni. Dia sudah tidak ada. Di luar juga tidak ada. Aku penasaran.

“Ke mana Noni, Pak?” tanyaku kepada Azis.

“Pulang duluan karena ada acara keluarga,” jawabnya sambil cengengesan.

Sialan, batinku.

Asoka, 2018

Agus Salim

Agus Salim

Lahir di Sumenep tanggal 18 Juli 1980. Tinggal di jalan Asoka Nomor 163 Pajagalan Sumenep 69416 Madura-Jawa Timur. Buku kumpulan cerpen tunggal perdana: Lima Cerita dalam Satu Malam di Bawah Bulan Gerring, Intishar, 2017.
Agus Salim

Latest posts by Agus Salim (see all)

Comments

  1. Wilkar Reply

    Wah Noni iki piye to…
    Hahahaha

    Mantap e ceritone. Mantap puoolll

  2. Agus Salim Reply

    Terima kasih apresiasinya. Salam kenal.

  3. Hendy Pratama Reply

    Noni itu nama temanku. Haha

  4. Agung Setya Reply

    Teknik menulis mas Agus dengan kalimat singkat. Hebat

    • Agus Salim Reply

      Terima kasih apresiasinya, Mas Agung

  5. Anonymous Reply

    wow

    • Titah Reply

      Dimana saya bisa membaca cerpenmu yg lain Mas Agus? Saya mulai menyukainya sejak saat ini

      • Agus Salim Reply

        Di lakon hidup, Mbak.

Leave a Reply

Your email address will not be published.