Malam 3

Jill Wellington

Badan disimbolkan dengan malam. Sedang roh disimbolkan dengan siang. Keduanya eksis di dalam diri manusia. Sejak awal mula penciptaan mereka. Yang satu wadag. Sedang yang satunya lagi sedemikian halus dan lembutnya. Dua hal yang berlawanan itu dianyam oleh tangan Tuhan dengan sempurna dan sedemikian indahnya.

Andaikan tidak ada roh, bagaimana mungkin badan bisa punya harga diri? Rohlah yang telah memberikan makna kepadanya. Sehingga badan sanggup merengkuh nilai kemuliaan yang bergandengan dengan roh. Melesat melampaui segala sesuatu yang wadag dan sowan menuju Allah Ta’ala. Disebabkan oleh pengaruh spiritual roh, badan yang sesungguhnya tak lebih dari seonggok kefanaan bisa memiliki nilai-nilai keilahian yang membentang hingga hamparan akhirat yang abadi.

Demikian pula sebaliknya. Roh berhutang budi pada badan. Bagaimana mungkin tidak. Tanpa badan, roh tidak akan pernah bisa eksis. Sama seperti api yang tidak akan pernah sanggup menampakkan eksistensinya tanpa “menggarap” sesuatu yang lain. Untuk menunjukkan keberadaannya, ia bergantung pada sesuatu di luar dirinya.

Tanpa badan, roh tidak akan punya medan garapan, tidak bisa bercocok-tanam kebaikan dan kemuliaan di kebun-kebun keilahian, tidak akan punya tabungan yang sanggup menampung dimensi keindahan dan keagungan hadiratNya. Tanpa badan, roh tidak akan pernah tahu dan mengalami bahwa segala yang bersifat bendawi itu ternyata bisa mengalami transendensi.

Keduanya ibarat langit dan bumi yang “menyatu” di dalam mengelola perjalanan roda-roda kehidupan. Berproses menjalani jatah nasib dan takdir dengan segenap kepatuhan hingga akhirnya sampai ke kepurnaannya. Bermula dari Allah al-Awwal menuju Allah al-Akhir. Berjalan sesuai dengan kehendak hadiratNya. Persis. Tidak ada penyimpangan sedikit pun.

Akan tetapi ketika badan mendominasi roh, mengalahkan atau bahkan meringkusnya, maka sungguh manusia akan mengalami degradasi moral sekaligus spiritual. Ia akan dikuasai oleh watak kelumpurannya yang merupakan entitas asali penciptaannya. Sesuatu yang menjijikkan. Sama dengan kelam malam yang tidak kunjung digantikan oleh kehadiran siang.

Kepada orang yang sedang mengalami kekalahan spiritual seperti itu Allah Ta’ala berfirman: “Wahai orang yang berselimut, bangkitlah (untuk menghadap Tuhanmu) sepanjang malam kecuali sedikit waktu,” (QS. Al-Muzzammil: 1-2). Di dalam kitab Tafsir Ibn ‘Arabi diungkapkan bahwa perintah untuk bangkit itu dimaksudkan agar manusia membebaskan diri dari tidur kelalaian yang selama ini membelenggu mereka. Hal itu mesti ditempuh dengan cara menyusuri lorong rohani dengan sejumlah peribadatan dan perenungan untuk semakin merasakan kemahaan hadiratNya.

Dengan cara demikian, kelam malam rohani itu akan menjadi terpecahkan dan teratasi. Perlahan tapi pasti akan diterangi oleh semburat fajar yang akan semakin mempertegas ke arah mana langkah-langkah kaki kehidupan seorang salik akan senantiasa diarahkan. Tak lain untuk semakin merasakan akrab dengan Allah Ta’ala. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.