Obrolan Tanpa Kepakaran

Judul               : Obrolan Sukab

Pengarang       : Seno Gumira Ajidarma

Penerbit           : Penerbit Buku Kompas

Cetakan           : Pertama, 2019

Tebal               : x + 230 halaman; 14 x 21 cm

ISBN               : 978-602-412-619-3

Menyimak obrolan Sukab dan kawan-kawan ibarat melihat Indonesia: negara di mana setiap orang merasa memiliki pengetahuan tentang politik. Barangkali, tidak ada topik yang bisa dibicarakan orang-orang dengan berbagai latar agama, suku, gender, status ekonomi, dan tingkat pendidikan selain politik. Di negara ini, kendati seseorang menempuh studi ilmu politik sampai jenjang tertinggi yang mungkin dicapai, tetap tak akan jadi satu-satunya pendapat tepercaya dalam obrolan politik. Bahkan, pendapatnya dipercaya lebih ampuh ketimbang yang lain pun belum tentu. Di negara ini, pendapat semua orang boleh disangkal.

Sukab dan kawan-kawan dihadirkan Seno Gumira Ajidarma pada mulanya dalam kolom Udar Rasa yang terbit di harian Kompas, kemudian laman daring Panajournal. Kolom-kolom itu lantas dihimpun dan diterbikan Penerbit Buku Kompas sebagai buku Obrolan Sukab (2019). Kolom Seno serupa “sketsa masyarakat”, yang kerap terjumpai di majalah-majalah masa silam. Sketsa masyarakat adalah subgenre kolom berbentuk mirip tulisan fiksi: pengungkapannya santai, jenaka, membahas topik serius (biasanya politik), dengan latar belakang kehidupan sehari-hari. Tentu saja tidak berlebihan bila kita, para pembaca, mengharapkan obrolan Sukab dan kawan-kawan merepresentasikan Indonesia.

Memang, obrolan Sukab dan kawan-kawan khas Indonesia: bertempat di warung, berwaktu jam-jam istirahat, dan melibatkan sosok-sosok “rakyat kecil” yang definitif. Topik yang diobrolkan adalah kabar aktual dari televisi atau koran, ditanggapi dengan pendapat-pendapat nekat meski pengetahuan masih terbatas. Simak pengisahan Seno berikut: “…orang-orang di warung itu sedang berbicara tentang kematian. Bukan, bukan kematian dalam agama dan filsafat, melainkan kematian dalam hukum. Tentu saja tidak seorang pun dalam simposium kelas warung itu mengerti hukum.” Di Indonesia, topik hangat adalah syarat sah obrolan, modal pengetahuan urusan belakangan.

Sukab, sebagai tokoh utama dalam “simposium kelas warung” Seno, tentu paling menonjol pendapatnya, kendati ada Abang Dosen yang berpengetahuan lebih mumpuni. Seno mengizinkan Sukab berkata dan bertanya sesuatu yang untuk ukuran buruh harian terasa kelewat canggih. Misalnya, Sukab bertanya: “Apakah Bang Otot tahu bahwa normal itu adalah anggapan yang merupakan produksi kuasa wacana dominan?” Seno tanggap, ia sadar bakal ada heran yang menggentayangi pembaca manakala menjumpai pertanyaan canggih Sukab. “Abang Dosen di sudut berkerut kening, baginya mudah saja melacak pemikiran Michel Foucault, tapi ia tidak bisa menduga Sukab mengetahuinya.” Seno menyibak heran Abang Dosen (dan kita, pembaca)−meski agak problematis−lewat tanggapan Jali: “Dari warnet.”

Obrolan Sukab dan kawan-kawan menunjukkan suatu kecenderungan masyarakat modern belakangan: matinya kepakaran. Sumber pengetahuan Sukab adalah informasi-informasi hasil berselancar di internet. Jika seorang pakar adalah orang yang kredibel di bidangnya, Abang Dosen mungkin susah dianggap pakar. Sebab, bidang ilmu Abang Dosen tidak jelas. “Tidak jelas si doi mengajar ilmu administrasi atau ilmu astronomi,” tulis Seno. Mana bisa mengatakan Abang Dosen pakar, yang kredibel dalam bidangnya, sementara bidang ilmu Abang Dosen saja tidak diketahui? Obrolan Sukab dan kawan-kawan dengan demikian tak melibatkan pakar sama sekali. Sumber pengetahuan satu-satunya adalah internet.

“Tanyakan semua profesional dan pakar mengenai matinya kepakaran,” tulis Tom Nichols di Matinya Kepakaran (2018), “hampir semua akan langsung menunjuk biang kerok yang sama: internet.” Tentu saja, internet memudahkan orang untuk mencari tahu tentang segala hal. Namun, internet bergelimang informasi tak akurat dan menyesatkan pula. Orang-orang seperti Sukab dan kawan-kawannya, semestinya belum mempunyai filter informasi tatkala menggunakan internet. Mereka menghadapi internet dengan lugu belaka, lantas merasa berpengetahuan karenanya. “Internet memungkinkan kita berpura-pura memiliki prestasi intelektual dan mengalami ilusi memiliki kepakaran, lantaran ada sumber fakta tanpa batas di tangan kita.”

Sudah banyak contoh kepercayaan terhadap internet ketimbang pakar menjangkiti masyarakat Indonesia. Orang-orang sering berserah pada internet untuk mendapatkan pengetahuan tentang ini-itu. Ada banyak laman dan blog yang membuali orang-orang tanpa mereka merasa tertipu. Di internet pula, orang-orang bertemu para influencer dan ustaz YouTube yang merasa bisa berpendapat tentang segala hal meski tak mempunyai pengetahuan−atau latar pendidikan mereka tak relevan untuk berpendapat−tentangnya. Toh, pendapat mereka sudah pasti didengarkan oleh pengikut akun media sosial mereka yang bejibun. Pada akhirnya, “internet hanya dapat mengubah pikiran seseorang dari ‘tidak memiliki pendapat’ menjadi ‘memiliki pendapat yang salah’.”

Sayangnya, yang terjadi di “dunia Sukab” berbeda dari kenyataan Indonesia. Seno dengan percaya diri menjadikan internet sumber pengetahuan Sukab, dan mengabaikan limpahan hoaks yang mungkin dicerna mentah-mentah oleh seseorang ‘seperti’ Sukab. Tokoh utama Seno itu terlihat jernih-jernih saja dalam berpendapat sekalipun sumber pengetahuannya hanya internet dan sesekali menguping obrolan Abang Dosen dengan koleganya−yang bahkan Sukab mengaku tak begitu paham yang dibicarakan apa! Maka, pembacaan paling masuk akal terhadap Obrolan Sukab adalah dengan menerimanya sebagai fiksi belaka. Orang-orang Indonesia hari ini tentu masih mengobrol di warung, pada jam-jam istirahat, dengan segala keterbatasan pengetahuan. Hanya saja, obrolan jernih seperti dalam Obrolan Sukab rasanya sulit terwujud. Ah, orang-orang barangkali memang tak punya niat mewujudkan. []

Follow Me

Udji Kayang Aditya Supriyanto

Sarjana rumah tangga alias pengangguran tersertifikasi.
Udji Kayang Aditya Supriyanto
Follow Me

Latest posts by Udji Kayang Aditya Supriyanto (see all)

Comments

  1. Anonymous Reply

    Suka bang

Leave a Reply

Your email address will not be published.