Saya Mencintai Saiba Meski Saiba Tak Mencintai Saya

Saya pernah melihat Kurt main kuda-kudaan dengan Courtney. Kurt jadi kuda, Courtney jadi joki handal. Itu berlangsung kira-kira dua ronde. Saya lihat adegan itu dari balik tirai. Saat itu Kurt sedang menyiapkan sebuah album. Courtney setia menemani. Album Kurt akhirnya meledak dan membahana serupa bom atom yang meledak di Hiroshima. Kurt tertawa dan saya dilupakan. Begitulah, kacang memang sering lupa pada kulitnya. Saya kirim pesan-pesan, Kurt tak pernah membalas. Saya telepon, Kurt tak menjawab. Pernah satu kali Kurt menjawab, malah ia bilang: “Ini siapa?”. Oh, tentu saya kecewa. Akan tetapi saya sudah telanjur menjadi teman baik sekaligus fans setia Kurt. Kekecewaan itu tak lantas membuat saya membakar poster Kurt berukuran besar yang ada di tembok kamar. Malah saya belikan bingkai baru yang lebih mewah dan lebih istimewa sehingga poster itu terlihat jauh lebih tampan.

Saya mencintai Kurt, mencintai musiknya, terutama petikan gitarnya. Saya paham, perasaan cinta juga tak musti dibalas sama. Kau bisa memberi satu, orang belum tentu bisa memberi segitu. Kira-kira seperti itu. Saya rawat cinta itu, meski kadang berkarat, kadang rontok, tapi saya yakin cinta itu masih hidup dan terus menyala. Nyalanya terasa begitu berkobar ketika saya dengar kabar kalau jasad Kurt ditemukan di bagasi. Kurt tewas. Saya menangis, mengurung diri lima hari dan mengingat semua kenangan dengan Kurt. Saya yakin Kurt tak bunuh diri, sebab Kurt amat mencintai dirinya, mencintai musik yang ia mainkan, dan mencintai panggung yang melambungkan namanya. Usai menangis lima hari berturut-turut, seseorang mengetuk pintu rumah saya. Ia mengetuk lima kali dengan tekanan yang berbeda-beda.

Ia adalah seorang perempuan cantik yang bekerja sebagai wartawan. Ia memperkenalkan namanya: Saiba. Ia ingin mewawancarai saya tentang kematian Kurt. Saya menolak, Saiba ngotot, bola matanya seakan keluar. Dan anehnya, ia lempar perekam yang kebetulan dipegangnya ke arah saya. Pelipis saya kena dan robek. Berdarah.

“Habis ini kamu visum, laporkan saya ke kantor polisi!” ucapnya sembari memberi selembar tisu. Sesekali ia menyibak rambutnya yang kadang menutup mata kirinya. Saat mengatakan itu, entah kenapa ia terlihat dua kali lebih cantik. Saya meringis. Ia kembali bicara: “Apakah sakit?”

“Segala yang berdarah pasti sakit.” Saya langsung menjawab.

“Ada juga yang tak berdarah tapi sangat sakit,” balas Saiba sambil mengambil selembar tisu dan mengusap darah segar yang menetes dari pelipis saya.

“Apa itu?” tanya saya sedikit penasaran.

“Sakit karena patah hati.” Saiba tersenyum ketika mengucap itu. Saya ingin tersenyum, tapi tak jadi. Saya tiba-tiba merasakan sebuah gelombang besar menghantam dada saya. Gelombang yang membuat saya yakin, saya sudah jatuh cinta kepada Saiba. Ya, gelombang cinta. Saya merasakan tubuh saya seolah di tengah taman bunga, Saiba menari-nari di sana, kemudian kami berpeluk mesra diiringi backsound lagu-lagu Kurt. Tidak, bukan lagu Kurt. Sebab tak ada lagu Kurt yang romantis.

Hello, apakah masih sakit?” tanya Saiba sambil menatap saya lebih dalam.

“Apakah kamu sekarang sudah mau aku wawancara?” tanyanya kembali.

“Kalau wawancara, aku tak mau. Aku tak tahu banyak tentang Kurt. Yang aku tahu dia sering main kuda-kudaan dengan Courtney. Apakah kau mau membahas itu lebih dalam?” Saya berusaha bercanda, sebenarnya. Akan tetapi muka Saiba datar saja saat menanggapi.

“Ini bukan majalah porno!” jawab Saiba. Ia beranjak hendak pamit. Saya tahan ia sebentar. Saya tarik bahunya dengan lembut, dan pandangannya beradu dengan pandangan saya.

“Saiba, aku jatuh cinta kepadamu.” Saya katakan itu tanpa ragu.

Saiba tertawa keras. Dan sungguh tawa itu menambah kadar kecantikannya. “Banyak pria terpesona kepada saya. Itu hal biasa. Itu hanya kagum, bukan cinta,” ucap Saiba dan berlalu.

Saya terus memikirkan Saiba sejak hari itu; mereka-reka wajahnya dalam kepala saya. Dan pada saat rindu itu semakin mengepung, saya memutuskan melukis wajahnya pada sebuah kanvas. Lukisan itu selanjutnya saya bingkai dan saya pajang di samping poster Kurt. Saya mencintai kedua orang itu. Beberapa kali, secara tak sengaja, saya bertemu dengan Saiba. Kami berbincang sekadar saja. Di pertemuan terakhir kemarin, ia cerita kalau ia di-PHK. Perusahaan tempatnya bekerja bangkrut. Saiba sekarang kerja di toko bunga  milik orang Tionghoa. Saya berencana berkunjung ke sana.

Saya mandi bersih dan bergaya semaksimal mungkin. Namun sial, di teras rumah, Tuan Lucy menghentikan langkah saya. “Kamu mau ke mana?” tanyanya seperti seorang penjahat. Rambut keritingnya seolah ikut mencegah langkah saya.

“Aku mau menemui Saiba.” Saya balas tanpa melihat wajahnya.

“Saiba? Perempuan yang ada di tembok kamarmu itu? Lupakan dia malam ini. Temani Bapak ke studio TVRI. Bapak diminta menjadi narasumber. Artikel bapak di majalah kemarin, viral. Bapak membahas tentang adanya ancaman virus yang akan melanda bumi kira-kira 25 tahun lagi. Sekitar tahun 2019 lah.” Penjelasan Tuan Lucy lumayan panjang. Sungguh saya tak peduli. Saya memilih pergi. Saya dengar Tuan Lucy mengumpat dari belakang:

“Anjing! Anak durhaka!”

Saya tetap tak peduli. Tuan Lucy adalah bapak saya. Bapak kandung. Akan tetapi saya memutuskan berhenti memanggilnya “Bapak” sejak usia saya tujuh tahun. Tepatnya, sejak ia tak mampu menjawab pertanyaan saya: “Bapak, apakah surga dan neraka benar-benar ada?” Saya bertanya serius waktu itu. Ia hanya melongo. Saya tanya ulang. Ia kembali melongo. Dan saya tak menyesal, kali ini, pergi menemui Saiba dan mengabaikan Tuan Lucy.

***

Toko bunga itu sepi. Saya jumpai Saiba sedang sibuk menguncir rambutnya. Saiba tersenyum dan saya utarakan bahwa perasaan cinta saya semakin besar. Mukanya datar saja seperti bocah yang baru bangun tidur.

“Apakah kau mau jadi kekasihku?”

Saiba diam. Ia sepertinya tak tahu mesti menjawab apa. Akan tetapi saya tak membencinya seperti saya membenci Tuan Lucy yang tak mampu menjawab pertanyaan saya. Tiba-tiba, setelah angin bertiup, Saiba mulai bicara. Suaranya merdu seperti suara penyanyi Meksiko yang sedang kasmaran.

“Aku sulit jatuh cinta. Cinta bagiku seperti lukisan abstrak yang sukar ditebak. Meski sesekali aku sering bermimpi ada lelaki istimewa datang dan memberiku kejutan-kejutan.”

“Kejutan semacam apa?” Saya ucap itu sambil melihat satu jenis bunga yang tak pernah saya lihat sebelumnya. Bunga yang mungkin saja berasal dari planet lain.

“Banyak hal. Banyak cerita menakjubkan yang saya dengar, tapi cuma saya dengar tanpa sekali pun pernah melihat langsung. Saya ingin melihat hal-hal menakjubkan itu. Saya ingin merasakan, saya ingin…”

“Sumpah. Sebut saja langsung. Jangan bikin saya bingung. Kalau bingung, kepala saya sering sakit dan vertigo saya kambuh.”

“Mungkin seseorang itu akan membuat saya terpana dengan hal baru yang ia tunjukkan. Bukan hal-hal yang klise seperti memberi bunga, mengirim uang, atau mengajak dinner. Itu biasa. Saya mau yang istimewa. Hal yang tak pernah saya lihat sebelumnya.”

To the point saja, Saiba. Otakku mumet. Seperti apa?”

Saiba kemudian bicara panjang lebar. Saya tak habis pikir, mengapa Saiba ingin melihat seorang lelaki yang mampu mengeluarkan air dari jemarinya atau seorang yang mampu membelah lautan dengan sebatang tongkat. Saya bengong.

“Ya, aku ingin diberi kejutan semacam itu. Bayangkan, betapa serunya hidup ini jika aku mengenal seorang yang mengerti bahasa semua binatang. Atau mungkin aku mengenal seorang yang tak bisa terbakar api. Wow sekali kan? Sungguh, aku ingin hidup ini lebih seru dan lebih menantang. Bisakah kau memberikan hal baru kepadaku? Mungkin dengan itu aku luluh dan bisa mencintaimu.”

“Apa yang bisa kau tawarkan kepadaku?” tanya Saiba lagi. Saya hanya melongo. Saya diam dua ribu bahasa. Di telinga saya, suara-suara bermunculan. Bising sekali, ada suara tepuk Pramuka, juga suara seekor kuda menjerit kesakitan. Dunia saya rasakan bergetar sebentar, urat-urat di kepala saya seakan menegang, saling tarik dan sesaat saling melepaskan.

“Apa kamu mau bikin candi dalam semalam? Sehingga aku kejang-kejang sebab kagum dan langsung mencintaimu? Kamu tak akan bisa. Membuat candi dalam semalam adalah mustahil. Kau butuh kerjasama dengan semua jin dan segala Tuhan.”

Saya seperti patung di hadapan Saiba. Saya diam tiga ribu bahasa. Hingga tiba-tiba gelap. Saya pun ingat, tak jauh dari tempat ini ada semacam bukit. Ada pemandangan sangat indah yang bisa dilihat dari bukit itu. Saya yakin Saiba akan takjub dan ini kali pertama ia akan kagum sebab saya bisa menawarkan hal baru baginya. Saya beranjak dan menarik lengan Saiba.

“Sini, ikut aku!”

Saiba sedikit kaget. Saya mengajak Saiba berjalan sampai di bukit itu. Saya tutup matanya saat hendak sampai. Saya arahkan ia duduk, dan saya lepas tangan saya lalu memintanya membuka mata. Tampak burung-burung beterbangan, awan-awan berarakan, laut di ujung sana biru terhampar, persis seperti lukisan. Lukisan ideal yang sering saya lihat di masa kecil.

“Klise,” gerutu Saiba. “Aku sudah sering duduk di tempat ini. Bukankah tempat ini juga nantinya akan dijadikan setting dalam film My Name Is Khan? Ini biasa saja. Sebaiknya kita pulang,” tambah Saiba dan beranjak pergi. Saya merasa patah hati. Saya pandangi dengan seksama punggung Saiba yang berlalu meninggalkan saya. Namun, cinta, tak secepat itu sirna. Malah semakin menggelora, semakin membahana, dan membuat saya selalu berusaha.

***

Saya berpikir keras. Tiga minggu sudah saya tak menemui Saiba. Saya rasa percuma, sebab tak ada hal baru yang akan saya tawarkan kepadanya. Saya sesekali mencoba mengirim pesan via pager pada Saiba. Saiba membalaspesan itu dengan kalimat yang sulit saya mengerti maknanya. Saya bertanya “Apa kabar?“, Saiba membalas, “Saya sedang berada di istana kaca, tapi tak ada lumba-lumba.” Saya memilih tak membalas lagi pesan itu.

Pagi tadi ia juga mengirim pesan yang belum saya mengerti juga maksudnya sampai sekarang. Bunyinya begini : Saya rindu, tapi saya tidur. Saya pun tak berniat untuk merespons pesan itu. Saya fokus dalam usaha menemukan apa yang baru, apa yang bisa membuat Saiba takjub. Hingga muncul sebuah ide di kepala saya.

Saya putuskan membeli dua bungkus racun. Racun yang sangat mematikan. Saya beli dua botol minuman. Saya tuang racun itu. Saya aduk. Saya tutup lagi kedua botol tadi. Saya pun menemui Saiba. Saiba sedang terlihat capek. Saya tawarkan minuman tadi, Saiba tanpa ragu meneguknya. Tubuhnya seketika kejang-kejang. Saya pun minum botol satunya. Tubuh saya kejang-kejang dan semua gelap. Sepi.

Satu tahun, dua tahun, satu abad, atau mungkin berjuta tahun lamanya, saya bertemu lagi dengan Saiba. Ia tetap cantik.

“Kau luar biasa, kau membawaku kepada hal baru. Hal yang menakjubkan, dan aku mencintaimu.”

“Benarkah?”

“Iya. Aku sangat terpesona. Lihat itu!”

Saiba menunjuk beberapa adegan yang berlangsung di depan matanya. Adegan yang sungguh tak pernah ia saksikan sebelumnya. Ada tubuh yang ditusuk besi panas dari bokong sampai kepala, ada tubuh yang dipalu dengan martil raksasa, ada banyak tubuh yang dibakar dalam kobaran api dan meraung-raung kesakitan. Kurt ada di antara mereka. Semua nyata di mata Saiba. Kejadian yang dulu ia hanya baca dalam komik masa kecil, kini ia lihat sendiri di hadapannya. ***

Majidi, Februari.

Rifat Khan

Comments

  1. Art Cancertha Reply

    jujur saya suka sekali dengan jalan cerita satire komedi yang seperti ini, mirip dengan style cerpen-cerpen yang dulu pernah saya buat, namun karena keterbatasan situasi, saya jadi tidak bisa membuat cerpen lagi. terus berkarya yaaa

  2. Imam Bukhori Reply

    Jujur saya suka dengan alur ceritanya.selalu berkarya ya, semangatttt

Leave a Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!