Syaikh Ibrahim Al-Ajuri

Beliau adalah seorang sufi yang namanya tercantum di dalam kitab Hilyah al-Awliya jilid kesepuluh karya Abu Nu’aim al-Ishfahani yang wafat pada tahun 430 Hijriah. Tapi kitab itu tidak menyebutkan mengenai kapan dan di mana sang sufi itu dilahirkan dan wafat. Kun-yah beliau adalah Abu Ishaq sebagaimana kun-yah Syaikh Ibrahim al-Baghdadi.

Beliau dianugerahi sejumlah karamah yang begitu menakjubkan oleh Allah Ta’ala. Di antaranya adalah apa yang dikisahkan oleh Syaikh Abu Muhammad al-Jariri dan Syaikh Abu Ahmad al-Maghazali sebagaimana berikut ini.

Pada suatu hari, datanglah seorang Yahudi kepada Syaikh Ibrahim al-Ajuri untuk suatu keperluan tertentu. Terjadi dialog di antara keduanya. Lalu, si Yahudi bilang: “Tolong terangkan kepadaku kemuliaan dan keutamaan agamamu dibandingkan dengan agamaku. Siapa tahu aku bisa beriman terhadap agamamu.”

Sang sufi lalu bertanya tentang kejujuran si Yahudi dengan perkataannya itu. Setelah mendapatkan kepastian mengenai kejujuran si Yahudi, Syaikh Ibrahim mengatakan: “Sini berikan sorbanmu kepadaku.”

Setelah diberikan, sorban si Yahudi itu lalu dibalut dengan lipatan-lipatan sorban sang sufi. Kedua sorban itu lalu dilemparkan ke tengah kobaran api. Sesaat kemudian, dengan tanpa gentar sama sekali sang sufi masuk ke dalam kobaran api. Laksana Nabi Ibrahim di tengah dengus api Namrud. Beliau mengambil kedua sorban itu. Apa yang terjadi?

Ternyata sorban si Yahudi yang terbungkus rapat itu terbakar dengan sempurna. Sementara sorban sang sufi yang membungkusnya justru tidak tersentuh api sama sekali. Bagaimana mungkin hal itu bisa terjadi?

Itulah karamah yang dijadikan petunjuk oleh hadiratNya untuk si Yahudi. Sangat mudah bagi Allah Ta’ala untuk menjadikan api sedemikian jinak. Tidak membakar sama sekali. Bahkan menyejukkan bagi sorban sang sufi. Tapi pada saat yang bersamaan si jago merah itu menghanguskan sorban si Yahudi.

Dalam penguasaan hadiratNya, api petunjuk itu menjadi sedemikian cerdas. Ia tahu persis apa yang mesti dibakar dan apa pula yang mesti dibiarkan. Sama seperti Laut Merah di zaman kekuasaan Raja Fir’aun. Ia memberikan jalan yang lempang kepada Nabi Musa, melalui kemukjizatan tongkatnya, dan orang-orang yang bersamanya. Sementara kepada Raja Fir’aun dan bala tentaranya ia berubah menjadi begitu kejam.

Berarti adalah bahwa di tangan hadiratNya segala sesuatu sama sekali tidak memiliki secuil pun kekuatan untuk menyangkal atau tidak tunduk. Kenapa? Karena semua itu tidak lain merupakan salah satu dari keanekaragaman tajalliNya semata.

Karamah itulah salah satu ayatNya. Itu pula yang kadang dijadikan sarana untuk membukakan hati seseorang yang tidak bisa langsung yakin terhadap kebenaran Allah Ta’ala yang dipancarkan pada diri seseorang, baik dari seorang nabi maupun seorang sufi atau wali.

Tapi bagi orang yang memiliki kesiapan rohani yang kuat, karamah atau mukjizat itu tak diperlukan. Karena dengan hanya melihat seorang nabi atau sufi, dia akan tergerak dan tergetar hatinya oleh cahaya petunjuk. Tak memerlukan adanya penyaksian terhadap kejadian luar biasa atau adikodrati terlebih dahulu untuk beriman dan patuh terhadap hadiratNya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie

Penyair, juga pengasuh PP Maulana Rumi Sewon Bantul Yogyakarta.
Kuswaidi Syafiie

Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.