Pengingat: Sandal dan Kasur

Ia terkenang sebagai sutradara ampuh dengan film-film Cinta Pertama, Ranjang Pengantin, Badai Pasti Berlalu, November 1828, Doea Tanda Mata, Ibunda, dan lain-lain. Ia membuat film setelah memiliki bekal studi dan berteater. Dulu, ia kuliah di Asdrafi (Akademi Seni Drama dan Film Indonesia) dan ATNI (Akademi Teater Nasional Indonesia). Selama di Jogjakarta, ia “terpaksa” mendengar segala hal berselera Jawa, terutama gamelan. Pada masa 1950-an, gairah menekuni teater atau menempuhi jalan seni berbarengan dengan deru revolusi. Ia tak mau mengikuti badai-slogan atau embusan impian picisan. Di teater, ia ingin tegak. Tahun demi tahun berlalu, ia “beribadah” di teater dan film. Orang-orang memberi pujian tiada henti atas segala persembahan Teguh Karya.

Teguh lahir di Pandeglang, 22 September 1933. Semula, ia bernama Steve Liem Tjoan Hok, dikenali sebagai Steve Liem, dan tenar dengan nama Teguh Karya. Di keluarga, ia dipanggil Keling. Panggilan gara-gara ia berkulit paling hitan di keluarga. Ia memilih tak menggubris sebutan sebagai “orang keturunan”. Ia hidup dan besar berlumuran ide-imajinasi Indonesia. Pada saat kondang, ia tak tergoda menuju negeri leluhur untuk nostalgia atau pengesahan asal-usul. Ia tetap di Indonesia dengan album biografi dan capaian-capaian dalam teater dan film.

Pengakuan sebagai manusia Indonesia terasa di pilihan kata Teguh: “Kami dari dulu makan nasi. Dan, setiap makan mesti sisakan sedikit nasi di piring seperti kebiasaan orang-orang kampung lainnya.” Manusia Indonesia itu makan nasi. Ia tak mau memberi definisi terlalu panjang atau mencakup segala hal: sejarah, politik, antropologi, dan agama. Orang-orang bisa mengumpulkan serpihan tersebar di film-film. Indonesia ada di situ. Teguh memilih menghadirkan keragaman, atak ada niat besar menggarap tema “peranakan Tionghoa” secara khusus.

Di majalah Matra edisi Juni 1989, Teguh adalah lelaki tua masih cerewet di pembuktian mutu film-film Indonesia. Teguh selalu mengingatkan pemerolehan Piala Citra di sekian film. Ia emoh pamer sebagai orang besar di film atau mengesahkan otoritas dengan koleksi Piala Citra. Kalimat pendek untuk diri, Piala Citra, dan film: “Piala Citra itu semacam pengakuan nasional, berpengaruh penting bagi perkembangan film di Indonesia.” Ia terus tegak di film meski pernah memiliki cita-cita ingin bekerja di pertanian atau arsitektur.

Bermula dari keluarga, ia mengamalkan ajaran-ajaran dibawa ke panggung teater dan film. Teguh seperti mengembalikan raihan-raihan seni ke rumah-keluarga. Ajaran terpenting dari ibu menjadi bekal menempuhi jalan seni. Teguh mengingat perkataan ibu: “Waktu bayi, kamu milik kami. Waktu SD, kamu milik guru. Waktu ke gereja, kamu milik gereja. Waktu kamu masuk panggung teater, kamu milik orang-orang yang menghargai teater.” Keikhlasan dan keseriusan menjadikan Teguh sanggup meladeni ledekan atau merampungi seribu hambatan.

Pada saat getol di teater, Teguh memang milik ribuan orang. Pentas-pentas diselenggarakan di Hotel Indonesia. Episode membentuk selera bagi publik di Jakarta. Teguh dengan Teater Populer mengawali pemartabatan teater dan penonton. Sejak 1965, ia dan para pemain di Teater Populer membuat siasat menetapkan orang-orang sebagai pelanggan atau penonton tetap. Para penonton dianjurkan mengeluarkan duit pangkal dan iuran rutin agar dapat menjadi penikmat pementasan Teater Populer. Kerja serius itu memberi penguatan makna orang-orang teater hidup di sanggar. Teater Populer itu kuat dan tangguh dengan kultur sanggar.

Teguh pun diakui menjadi sosok berpengaruh untuk kemunculan orang-orang film mumpuni di Indonesia. Di Teater Populer, kita mengenal ada deretan nama penting: Slamet Rahardjo, N Riantiarno, Christine Hakim, dan lain-lain (Tempo, Apa dan Siapa: Sejumlah Orang Indonesia 1981-1982). Teguh pun “populer”. Ia mungkin cenderung diakui manusia-film ketimbang manusia-teater. Koleksi Piala Citra memastikan ia “populer” di film, dari masa ke masa. Ia memang aktif di film sejak 1958. Film garapan awal berjudul Wajah Seorang Laki-Laki (1971) kurang mendapat tepuk tangan. Teguh tetap “teguh” sampai ke penggarapan film-film tercatat berpengaruh di Indonesia. Biografi Teguh tetap saja teater dan film. Ia pernah mengatakan mengagumi Arifin C Noer dalam film dan Putu Wijaya dalam teater.

Pada garapan film berjudul November 1828, para penikmat film di Indonesia mendapat persembahan spektakuler. Film besar dan berhak meraih piala-piala. Di majalah Warnasari edisi Agustus 1979, kita mengutip resensi penuh pujian. Di film November 1828, orang-orang menduga itu film mengenai Pangeran Diponegoro. Anggapan itu meleset. Teguh ingin mengisahkan tokoh dan peristiwa masa lalu untuk menguak konflik batin dialami para tokoh berbeda kebangsaan. Film penting dalam sejarah perfilman Indonesia dalam menggarap adegan-adegan massal. Film itu mahal dan mencipta sejarah besar di Indonesia.

Teguh tetap saja mengembalikan semua ke keluarga. Pada masa bocah, Teguh sering dolan dan menginap di rumah ocoh (panggilan ke nenek buyut) di Rangkasbitung. Di situ, Teguh belajar kerapian, kerajinan, sikap, dan pemaknaan raga. Ocoh adalah penjaga gereja, menjalani hidup bersama suami dalam kesedarhanaan. Sederhana tampak dari lantai di rumah masih berupa tanah. Ajaran penting dari ocoh terus dimaknai Teguh: “Kalau saya pergi tidur, sandal mesti diletakkan di bawah tempat tidur dengan menghadap kedua kaki saya. Supaya kalau bangun nanti tak usah lagi saya mencari-cari sandal.” Pada ocoh, Teguh mempelajari raga, sandal, peristiwa, dan waktu. Pengakuan itu tercantum di Intisari edisi Juli 1983.

Kita masih mendapatkan ingatan ajaran-ajaran unik dalam biografi Teguh. Pada suatu hari, Teguh kehilangan kasur. Ibu memiliki rasa kemanusiaan diwujudkan dengan mengontrak rumah untuk dihuni ibu-ibu berusia tua tanpa sanak saudara. Mereka itu kaum sengsara. Rumah kontrakan menjadi ruang hidup bersama menanggungkan hari-hari terakhir di dunia. Teguh pernah mau marah: Suatu malam, saya pulang. Tahu-tahu kasur saya sudah taka da lagi di tempat tidur. Saya tanyakan pada ibu. Tapi, apa jawabnya? Kasur itu sudah ditaruh di rumah sewaan. Begitu hebat arti rumah itu rupanya?” Teguh hampir marah bakal tidur di ranjang tanpa kasur. Ibu lekas memberi petuah: “… orang tua itu umurnya segera pupus. Janganlah sampai dia mati tanpa pernah merasakan bagaimana tidur di kasur.” Ibu berdoa agar Teguh berumur panjang dan bisa mencari-membeli kasur pengganti di masa datang. Kasur untuk ibu tua mau pamitan dari dunia itu sangat bermakna. Teguh mengerti dan menunduk. Ia sudah mendapatkan ajaran keikhlasan dalam misi kemanusiaan. Ajaran itu kelak terbawa saat menekuni teater dan film.

Hidup dalam sederhana. Teguh memilih sederhana menjalani hari-hari sampai usia bertambah tua. Sederhana tampak di baju. Sederhana terasa di bahasa. Sederhana pun terbukti dari pilihan acara dan tempat. Teguh itu orang kondang tapi memilih tak mendatangi undangan-undangan pernikahan bertempat di hotel atau pesta di tempat hiburan malam. Sederhana-sederhana itu sering mendapat bantahan dari teman-teman atau relasi kerja. Teguh tetap ingin sederhan. Penjelasan agak unik: sederhana itu merokok dan merenung. Ia kadang merasa tak memiliki teman sependirian berbagi rasa. Celoteh Teguh: “Maka, jadilah rokok teman setia saya. Pernah saya cara penggantinya, permen. Tapi tak akrab.” Ia pun dikenali sebagai perokok “sakti”. Kebiasaan merokok itu sempat memunculkan iklan rokok dengan menampilkan secangkir kopi dan buku skenario berjudul November 1828 di atas meja.

Kita menanti lama untuk kemunculan sutradara meneruskan atau melampaui Teguh. Sejarah film milik Teguh tapi ia tetap menginginkan ada orang-orang bakal terus meraih capaian untuk sejarah besar dalam perfilman Indonesia. Film-film garapan Teguh mengingatkan cara hidup berseni sering bereferensi keluarga. Teguh menganggap arus di teater dan film itu mula-mula bergerak oleh ajaran-ajaran dan amalan-amalan dari keluarga. Ingatan itu terejawantah tanpa Teguh membuah “kewajiban” untuk menikah atau mencipta keluarga. Begitu.

Bandung Mawardi

Penulis di pengedarbacaan.wordpress.com dan pengabarmasalalu.wordpress.com
Bandung Mawardi

Latest posts by Bandung Mawardi (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.