Islam yang Hanya Sampai Tenggorokan

pinterest.com

Kalimat yang benar tetapi dimaksudkan untuk hal yang salah.

Ali bin Abi Thalib

Akan keluar manusia dari arah timur dan membaca al-Qur’an namun tidak melewati tenggorokan mereka. Mereka melesat keluar dari agama bagai anak panah yang melesat dari busurnya. Mereka tidak akan kembali kepadanya sampai anak panah itu kembali ke busurnya.” (HR Bukhari)

Dari kelompok orang ini (maksudnya, Abdullah bin Dzil Khuwaishirah) akan muncul nanti orang-orang yang pandai membaca al-Qur’an tetapi tidak sampai melewati tenggorokannya, bahkan mereka membunuh orang-orang Islam, dan membiarkan para penyembah berhala; mereka keluar dari Islam seperti anak panah yang meluncur dari busurnya. Seandainya aku masih mendapati mereka, akan kumusnahkan mereka seperti musnahnya kaum ‘Ad.” (HR Muslim)

Siapa gerangan Abdullah bin Dzil Khuwaishirah?

Inilah konteks sejarah hadis tersebut. Sepulang dari Fathu Mekkah, pasukan muslim mengepung kabilah Hawazin dan pecahlah Perang Hunain. Pasukan Islam menang. Rasulullah Saw. kemudian membagikan sebagian ghanimah (harta rampasan perang) dalam bentuk perak yang disimpan oleh Bilal bin Rabah.

Tiba-tiba muncul lelaki yang digambarkan berpostur  kurus dan berjidat hitam. Dialah Abdullah bin Dzil Khuwaishirah at-Tamimi.

Dia berkata kepada Rasul Saw.: “I’dil ya Muhammad, berbuat adillah, wahai Muhammad….”

Rasul Saw. berkata kepadanya, “Celakalah kamu. Yang kulakukan ini adalah perintah Allah Swt.”

Dalam riwayat Abu Said yang muttafaqun ‘alaih, dituturkan lebih lengkap: Lalu Umar bin Khattab berkata kepada Nabi Saw.: “Wahai Rasulullah, biarkan saya penggal lehernya.” Rasul Saw. berkata, “Biarkan dia. Kelak dia akan memiliki banyak pengikut yang salat kalian tidak ada apa-apanya dibanding salat mereka, puasa kalian tidak ada apa-apanya dibanding puasa mereka… mereka akan muncul saat terjadinya perpecahan manusia.

Sejarah kemudian menuturkan kepada kita ihwal pembunuh Ali bin Abi Thalib, yakni Abdurrahman bin Muljam at-Tamimi (sesuku dengan Abdullah bin Dzil Khuwaishirah at-Tamimi) yang digambarkan bila malam berqiyamul lail dan bila siang berpuasa dan pula penghafal al-Qur’an yang pernah dipilih dan diutus ke Mesir oleh Khalifah Umar bin Khattab untuk mengajarkan al-Qur’an.

Rasul Saw. pernah berkata kepada Ali bin Abi Thalib jauh sebelumnya bahwa ia akan syahid dengan cara ditebas kepalanya dan pelakunya adalah seburuk-buruknya manusia….

Ramalan Rasul Saw. di tahun 8-9 Hijriyah tentang orang-orang “yang pandai membaca al-Qur’an tetapi tidak sampai melewati tenggorokannya”, “keluar dari agamanya secepat lepasnya anak panah lepas dari busurnya” dan “salat kalian tidak ada apa-apanya dibanding salat mereka, puasa kalian tidak ada apa-apanya dibanding puasa mereka” serta pembunuh Ali bin Abi Thalib yang dinyatakan “seburuk-buruknya manusia” menjadi kenyataan benar di tahun 37 Hijriyah.

Klop sekali.

Ada lagi satu hadis ramalan Rasul Saw. yang terkait dengan ciri golongan ini: “Akan muncul di akhir zaman sekelompok orang-orang muda yang pendek akalnya, mengucapkan sebaik-baik perkataan manusia. Mereka membaca al-Qur’an tetapi tidak sampai tenggorokannya. Mereka keluar dari agama seperti melesatnya anak panah dari busurnya.” (HR Muslim)

Apa hikmahnya buat kita kini?

Pertama, mari kita garis tebal narasi “mereka membaca al-Qur’an tetapi tidak sampai tenggorokannya”.

Para mufassir telah memberikan takwil terhadap makna majazi tersebut, yakni kelompok muslim yang gemar membaca al-Qur’an, dekat dengan al-Qur’an, tetapi al-Qur’an hanya berhenti di lisan, tak sampai meneteskan air-air makna dan hikmahnya ke dalam hatinya. Nilai-nilai al-Qur’an tidak menginternalisasi ke dalam dirinya, tidak menyublimasi, dan finalnya tidak menjadi “hudzan” (petunjuk hidup) baginya. Dari Ibnu Katsir hingga Wahbah Zuhaili seturut menggambarkan hal sejenis itu.

Ini jelas menjadi persoalan yang sangat serius. Serius sekali!

Al-Baqarah ayat 2 telah menyatakan bahwa al-Qur’an ini adalah petunjuk hidup bagi orang-orang yang bertakwa. Yakni “mereka yang beriman kepada yang ghaib, mendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, dan mereka beriman kepada kitab (al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang diturunkan sebelummu, serta mereka yakin pada kehidupan akhirat. Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung” (QS. Al-Baqarah 3-5).

Sungguh aneh! Ini benar-benar suatu anomali yang bikin kening kita berkerut. Dan di sinilah letak masalah seriusnya buat kita kini.

Bagaimana tidak?

Orang macam Abdullah bin Dzil Khuwaishirah at-Tamimi di era Rasul Saw., kemudian pula Abdurrahman bin Muljam at-Tamimi di era Ali bin Abi Thalib, dan seterusnya, jelas sekali secara lahiriah adalah orang-orang yang bertakwa. Rasul Saw. sampai menggambarkan bahwa golongan mereka ini salatnya luar biasa, puasanya luar biasa—bahkan salat kalian (para sahabat Rasul Saw.) tidak ada apa-apanya dibanding hebatnya salat mereka, apalagi salat kita kini.

Mereka secara lahiriah memenuhi semua kriteria untuk tergolong ke dalam kelompok muttaqin itu. Akan tetapi, perilakunya tak sejalan seiring dengan ketercerahan dan keterbimbingan dari al-Qur’an. Prinsip “hudzan” ternyata tak otomatis bekerja.

Sederhana pembuktiannya: Abdullah bin Dzil Khuwaishirah at-Tamimi beraninya membantah Rasul Saw. yang semua tindakannya dalam bimbingan Allah Swt.; Abdurrahman bin Muljam at-Tamimi beraninya membunuh sahabat terbaik Rasul Saw. yang juga dinyatakan sebagai ahli surga.

Lalu, di mana sebenarnya letak pemicu anomali tersebut?

Sumber perkaranya niscaya terletak pada tidak merasuknya nilai-nilai al-Qur’an ke dalam hati, walaupun lisan rajin membacanya, bahkan menghafalnya. Ini sekaligus menjadi pengingat kepada kita semua kini bahwa bahkan kefasihan menukil ayat-ayat al-Qur’an, hadis-hadis Rasul Saw., sirah nabawiyah, hingga qaul-qaul ulama salaf, tidak serta-merta seiring sebangun dengan ketercerahan dan keterbimbingan al-Qur’an (hudzan) dan Rasul Saw. (ittiba’)—atau dalam bahasa al-Baqarah tadi: “mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung”.

Atas dasar fakta sejarah ini, seyogianya kita bermuhasabah agar bisa selalu mawas diri bahwa ternyata ilmu bisa saja bukannya memberikan fadhilah kemaslahatan pada kita dalam rupa taqarrub ilalLah, melainkan malah menghijabi hati kita (iman dan takwa) dariNya hingga perkataan dan perbuatan kita tak memancarkan CahayaNya dan tuntunan RasulNya, tetapi sekadar semburat hawa nafsu dan tipu daya iblis. Keterhijaban rohani ini (iman dan takwa) menjadi jawaban bagi terlepasnya diri dari “mendapat petunjuk dari Tuhan” hingga “keluar dari agamanya bagai anak panah yang lepas dari busur panah” dan akhirnya tidak menjadi bagian dari “orang-orang yang beruntung”.

Hijab rohani (iman dan takwa) karena ilmu yang tidak bermanfaat itu (artinya, tidak menjadi washilah bagi terbimbingnya diri dalam Cahaya Allah Swt dan RasulNya) semakin parah ketika dipertebal oleh hijab amal pula (membaca al-Qur’an tapi hanya sampai tenggorokan dan salat dan puasa kalian (para sahabat Nabi Saw.) tidak ada apa-apanya dibanding salat dan puasa mereka). Dua hal (ilmu dan amal) yang asalinya kemuliaan (sesuai bunyi lateral al-Qur’an dan Rasul Saw.) ternyata malah benar-benar menjelma penghalang agung bagi “keberuntungan diri” di hadapan Allah Swt. karena keduanya tak menghantar pada ketercerahan dan keterbimbingan (hudzan). Walhasil, punahlah diri dari “mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung”.

Mari catat tebal hal tersebut!

Kedua, ketika Abdurrahman bin Muljam at-Tamimi menyergah kepada Ali bin Abi Thalib dengan pekikan: “Tiada hukum kecuali hukum Allah Swt., termasuk hukummu, Ali!” dan kemudian diperkukuh dengan menukil ayat “waman lam yahkum ima anzaLlah faulaika humul kafirun, dan siapa yang tidak menghukum dengan hukum Allah Swt. mereka itulah golongan orang kafir”, Ali bin Abi Thalib dengan tenang menjawab: “Kalimat yang benar tetapi dimaksudkan untuk hal yang salah.”

Dari rahim kelompok Khawarij (salah satu pentolannya adalah Abdurrahman bin Muljam at-Tamimi) inilah kita mengenal sebutan “bughat”, yakni pembelot atau pemberontak. Posisi Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah yang sah saat itu jelas berada di maqam ulil amri minkum. Kepatuhan kepada ulil amri adalah keniscayaan berikutnya setelah kewajiban patuh kepada Allah Swt. dan RasulNya. Surat An-Nisa’ ayat 59 menerangkan hal ini.

Sejarah awal Islam pasca meninggalnya Rasulullah Saw., sejak era khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq hingga Ali bin Abi Thalib, begitu banyak peristiwa pemberontakan (bughat) yang diperangi oleh para khalifah. Mereka memerangi para bughat ini semata karena ke-bughat-annya, pemberontakannya, kepada pemerintahan yang sah, bukan karena perbedaan paham berislamnya (khilafiyah).

Abu Bakar ash-Shiddiq memerangi Musalaiman al-Kazzab di Yamamah setelah Musilamah mengikrarkan sabotase pajak kepada khalifah yang sah; begitupun Ali bin Abi Thalib mengibarkan perang kepada Muawiyah bin Abi Sufyan karena tidak mau berbaiat kepada kekhalifahan yang sah.

Sampai di sini, terlihat jelas bahwa ihwal berbeda paham dan pendapat dalam takwil al-Qur’an dan sunah Rasul Saw. merupakan fenomena alamiah dan manusiawi yang bisa diterima sejak dulu kala. Namun, bila telah mengobarkan pemberontakan (bughat) kepada ulil amri, lain lagi persoalan dan cara menindaknya.

Abdurrahman bin Muljam at-Tamimi bersama Khawarifnya telah mengambil sikap yang bukan lagi sekadar ikhtilaf dengan pandangan Ali bin Abi Thalib, tetapi telah jatuh kepada bughat. Maka, kiranya, kita kini hendaklah selalu bermawas diri agar ragam ikhtilaf hukum di antara kita tetaplah berdenyar sebagai ikhtilaf yang alamiah, manusiawi, dan karenanya berkhittah rahmatuLlah. Ikhtilaful ummati rahmat, perbedaan di antara umat adalah rahmat.

Ikhtilaf yang sehat dan produktif, karenanya ia disebut rahmat, kita mengerti, tentulah bentu-bentuk ikhtilaf yang bersendikan niat rohani yang jernih, ilmu pengetahuan yang otoritatif, dan sekaligus akhlak karimah. Di luar skema fondasi ini, sulit kita menemukan kerahmatan di dalamnya.

Jika argumen tersebut dirujukkan kepada jawaban Ali bin Abi Thalib kepada Abdurrahman bin Muljam at-Tamimi di atas (“Kalimat yang benar tetapi dimaksudkan untuk hal yang salah.”), kita bisa mendulang penyimpulan-penyimpulan vital berikut:

Pertama, senantiasa meyakini dan memegang teguh bahwa takwil hukum apa pun dari al-Qur’an dan sunnah Rasul Saw., sekali lagi apa pun, di tangan kita mestilah selalu didudukkan sebagai semata ikhtiar ilmu kita untuk menimba dan mewujudkan suatu tatanan dan aturan nyata di antara kehidupan kita. Jika bentuk hukumnya beragam, maka keberagaman tersebut mesti selalu dipahami dan didudukkan sebagai kerahmatan di antara kita, tanpa perlu mengklaim pendapat diri benar dan lainnya salah.

Ihwal kebenaran mutlaknya sama sekali hak pantas kita untuk mengklaimnya, sebab hanyalah Allah Swt. yang Maha Mengetahui maksud semua dalilNya. Wallahu ya’lamu wa antum la ta’lamun.

Lihatlah, misal, bagaimana hukum berjabat tangan antarlawan jenis non mahram dalam pandangan empat imam mazhab besar pendahulu kita:

Abu Hanifah mengatakan tidak boleh; namun ia bisa menjadi boleh jika terjamin tidak menimbulkan desir syahwat.

Imam Malik mengatakan tidak boleh dengan dalih apa pun.

Imam Syafii mengatakan tidak boleh; namun bisa menjadi boleh jika menjamin tidak menimbulkan desir hawa nafsu dan harus ada palapis (misal sarung tangan) yang membatasi keduanya.

Imam Hanbali mengatakan tidak boleh. Sama sekali tidak boleh.

Jika kita mengedepankan soal “yang mana yang benar”, rawanlah kita terjatuh pada penghakiman dan penudingan yang rentan perselisihan dan pertikaian. Namun jika kita bersikap lapang dada kepada kemajemukan bentuk hukum tersebut, kita akan menuai kerahmatan di antara kita.

Kedua, berhati-hatilah terhadap hijab ilmu dan tipu daya iblis yang boleh jadi menyelubungi mata kita dengan “kesan-kesan benar dan baik” pada suatu takwil atau hukum. Meyakini takwil dan hukum yang kita ikuti benar adalah keniscayaan normal yang sah. Tetapi, jangan disertai dengan menyalahkan dan melecehkan bentuk takwil dan hukum yang berbeda.

Mau sekokoh apa pun metodologi dan argumentasi kritis yang kita ajukan atau ikuti, jangan sampai ia memantik permusuhan dan pertikaian dengan pihak lain. Ini batasnya. Jika dilanggar, rawan betul ia terjatuh kepada ungkapan Ali bin Abi Thalib di atas: “Kalimat yang benar tetapi dimaksudkan untuk hal yang salah.” Ayatnya benar, hadisnya sahih, tetapi cara penggunaannya yang tidak tepat dan bijaksana bisa menjadikan kita terjatuh pada sikap-sikap yang madharat. Dan risiko kemadharatan adalah hal yang mesti kita kedepankan untuk dihindari selalu.

Anda bisa mencermati Surat Fushilat ayat 33-35 ini:

Dan siapalah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah Swt dan berbuat baik dan berkata ‘Sungguh aku tergolong ke dalam golongan yang berserah diri kepadaNya’. Kebaikan dan keburukan tidaklah pernah sama. Tanggapilah (keburukan) itu dengan perbuatan yang lebih baik sehingga bila antaramu dan dia terdapat perselisihan maka seolah kalian telah menjadi sahabat yang penuh setia. Dan takkan menggapai hal demikian kecuali orang yang bersabar, dan takkan menggapai hal demikian kecuali orang yang dikaruniai nikmat yang agung dariNya.

Kita lengkapi dengan surat an-Nisa’ ayat 59: “….jika kalian berebda pendapat dalam sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah Swt. dan RasulNya jika kalian beriman kepada Allah Swt. dan RasulNya; yang demikian itu lebih baik bagi kalian dan pula dampaknya.

Terakhir, satu ayat lagi dari surat Ali Imran ayat 105: “Dan janganlah kalian menjadi golongan orang yang bercerai-berai dan berselisih setelah turunnya al-Qur’an ini; mereka itulah orang-orang yang akan ditimpakan azab yang pedih.

Kini terlihat terang bahwa rambu-rambu “jangan sampai bercerai-berai” (agar kita tak tergolong kepada orang yang akan ditimpakanNya azab yang pedih) sebagai batasan bagi ekspresi taklid kita kepada paham hukum, pendapat, aliran, dan mazhab apa pun mesti diterjemahkan selalu dalam “perbuatan atau sikap yang lebih baik”. Ia tiada lain adalah akhlak karimah. Katakanlah: adab ikhtilaf.

Imam Malik berkata kepada Khalifah Al-Manshur yang menjadikan kitabnya, Al-Muwaththa’, sebagai satu-satunya sumber hukum Islam, “Janganlah begitu, Amirul Mukminin. Umat telah mendengar banyak riwayat dan pendapat yang tak sama dengan pendapatku. Biarkanlah mereka memegang riwayat dan pendapat yang telah mereka ikuti dan yakini.”

Imam Syafii pernah mengatakan: “Kebenaran dalam pandanganku (boleh jadi) mengandung suatu kesalahan dalam pandangan orang lain; dan kebenaran dalam pandangan orang lain (boleh jadi) mengandung suatu kesalahan dalam pandanganku.”

Imam Ahmad bin Hanbal ketika dibangga-banggakan oleh seorang pengikutnya dengan mengatakan, “Sungguh tak pernah kudapatkan hukum yang lebih benar dibanding hukum Anda!” Beliau menjawab, “Aku tidak mengetahuinya, boleh jadi di dalam hukum-hukumku ini justru terdapat banyak keburukan dan kekurangan.”

Begitulah tamsil adab ikhtilaf dari para leluhur ulama kita.

Semua ini memperlihatkan kejernihan akhlak yang luar biasa, yang bila dirujukkan pada rangkaian ayat di atas, niscaya lahir dari (1) iman yang haq kepada Allah Swt. dan RasulNya, (2) mengedepankan selalu akhlak karimah, (3) bersabar dengan kesabaran yang luar biasa, (4) memohon selalu karunia agung dari Allah Swt., dan (4) menghindarkan sejauh-jauhnya segala bentuk percerai-beraian dan permusuhan di antara umat.

Ketiga, mari mawas diri selalu kepada tipu daya iblis yang boleh jadi membajak keluasan dan kedalaman ilmu kita. Ciri dari bajakan iblis yang bersekongkol dengan gelora hawa nafsu yang su’ ialah merasa diri lebih baik. Buahnya adalah kesombongan. Dampak berikutnya kepada pihak lain ialah merendahkan, menjatuhkan, melecehkan, menghinakan, dan menghancurkan. Tentu saja, jika ini terus dilanturkan, terjadilah tafarraqu wa ikhtalafu kendati kita secara lahiriah sedang memegang bayyinat itu.

Iblis, kita tahu, dulunya adalah sederajat dengan malaikat yang ahli ibadah di surgaNya. Diabadikan dalam Surat Shad mulai ayat 71-85, iblis diusir oleh Allah Swt. dari surgaNya, plus digolongkan ke dalam golongan kafir dan dilaknatNya pula, karena iblis bersombong (istakbara) dan bertinggi hati (minal ‘alin) ketika diperintah sujud kepada Adam As. dengan mengatakan: “Ana khairun minu, khalaqtani min nar wa khalatqtahu min thin, aku lebih baik darinya (Adam As.), Engkau menciptakanku dari api dan Engkau menciptakannya dari tanah.

Genetika sombong dan tinggi hati warisan iblis ini boleh jadi menyeruak ke dalam hati kita justru memalui pintu ilmu dan amal kita. Luas dan dalamnya ilmu, serta tekunnya kita beramal saleh, amat boleh jadi remuk begitu saja dikarenakan bertahtanya sombong dan tinggi hati kita. Rasa sombong inilah yang rawan betul menjungkalkan kita melanggar batas terang di atas (tafarraqu wa ikhtalafu), sehingga nilai-nilai kebaikan ilmu dan amal tertutupi tiada faedah kepada rohani kita sendiri dan apalagi kepada ekspresi akhlak karimahnya.

Ini selaras betul dengan Surat Al-Mukminun ayat 71 berikut: “Jika kebenaran telah mengikuti hawa nafsu, maka akan rusaklah langit dan bumi beserta seluruh siapa yang ada di antara keduanya….

Juga Surat an-Nur ayat 21: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengikuti jalan-jalan setan, siapa yang mengukuti jalan-jalan setan, sesungguhnya setan akan selalu menyeru kepada keburukan dan kemungkaran….

Lihat pula Surat al-Furqan ayat 43: “Tidakkah engkau melihat kepada orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai Tuhannya….

Sekali lagi, mari selalu mawas diri dan memohon pertolongan Allah Swt. Jangan sampai kalamuLlah yang haq menjelma mafsadah dan madharat di antara kita akibat kita rohani kita dikubuli hijab ilmu dan tipu daya iblis. Jangan sampai keintiman kita kepada al-Qur’an, salat, puasa, dan segala peribadatan kepadaNya “hanya berdering di tenggorokan; tak merembes ke dalam hati”, hingga perilaku kita terjauhkan dari teladan akhlak karimah, dan  akibatnya kita tergolong ke dalam “Mereka melesat keluar dari agama bagai anak panah yang melesat dari busurnya. Mereka tidak akan kembali kepadanya sampai anak panah itu kembali ke busurnya.

Na’udzubiLlah bin dzalik.

Semoga Allah Swt. senantiasa membimbing dan mencerahkan (hudzan) hati, pikiran, dan perilaku kita semua, hingga kita semua tergolong ke dalam “Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang-orang yang beruntung”. Amin.

Wallahu a’lam bish shawab.

Jogja, 24 Agustus 2019

Edi AH Iyubenu

Suka mikir yang gimana gitu. Pedagang sekaligus calon doktor yang resah terhadap minyak babi cap onta.
Edi AH Iyubenu

Latest posts by Edi AH Iyubenu (see all)

Comments

  1. Muhammad Hanif Priatama Reply

    Terkait dengan Khawarij, sebelum ‘menyempal’ dan memberontak kepada Khalifah Ali, sudah ada proses diskusi.

    Ali bin Abi Thalib mengutus Ibnu Abbas untuk mendebat mereka. Hasilnya, sebagian besar kembali ke dalam pasukan. Sisanya pergi ke suatu tempat dan mulai muncul sifat-sifat yang sekarang dikenal sebagai sifatnya kaum khawarij.

    Artinya, sangat bisa jadi kaum khawarij memang tak berilmu, melainkan hanya menurutkan hawa nafsu. Kelakuan yang mirip para ahli kitab.

  2. Pro-Fanny Reply

    Gmn cara ngirim karya ke sini ya?

  3. Arief Reply

    Sangat mencerahkan,tp kepanjangan yai..🙏🙏🙏

  4. Luqman Reply

    Iya, Kepanjangan nih, Bang 🙏
    satu lagi yaitu pengunaan kata “Ramalan” yang dikaitkan dengan perkataan Rasulullah berkaitan dengan hal yang belum terjadi atau akan terjadi saya rasa tidak tepat sebabnya segala perkataan Rasulullah adalah Ilham dari Allah, jika perkataan itu keliru maka Allah SWT akan langsung memberi teguran dan petunjuk, bagi saya perkataan Rasulullah tentang sesuatu yang belum terjadi / masa depan adalah bagian dari Mukjizat yang bersumber dari Allah Ta’ala dan pasti akan terjadi.

    btw, saya mau ngirim artikel masuk kategori apa ya ? hibernasi atau celoteh ya.
    Sukron

Leave a Reply

Your email address will not be published.