Puisi-Puisi Fitra Yanti; Mata Kekasih

secret-rendezvous1d.tumblr.com

mata kekasih

 

matamu, kekasih

adalah mata yang telah kubaca dan kumasuki bertahun lamanya

gerenek air dan cahayanya telah sangat kumengerti

maka, pakailah mataku juga,

untuk menjadi matamu

agar dunia yang luas ini dapat kita lihat bersama.

 

 

tidak memerlukan kata-kata

 

aku tidak akan mengatakan bahwa cintaku

terus bertambah kepadamu

tetapi, aku pasti mencintaimu

dengan debar yang kurawat

seperti bunga telang

menjalar di pekarangan

sarinya telah kuminum

mengalir pelan ke rahimku

 

tahun-tahun di kebun kita tak selalu rimbun bunga

pohon-pohon lama berbuah

badai langkisau dan limbubu mengempas-empaskan atap

tetapi, aku mengikatkan cintaku terus dengan segala tali

yang ada di dalam diriku

 

aku juga tidak akan bertanya, apa kau mencintaiku

 

seperti waktu yang sudah-sudah

selagi tanganmu masih menyelamatkanku dari celaka

selagi matamu mengawasi gerikku

selagi kau memarahiku dengan cemburu

aku tidak memerlukan kata-kata

 

2019

 

 

lelaki yang pandai menjahit

 

benang yang dulu kaupakai

untuk menjahit luka jantungku

kini sudah menyatu dengan daging

 

tusukan  demi tusukan

tarian benang

lecitan darah

tak kuingat lagi irama ngilunya

 

2014-2018

 

 

mengantarmu berlayar

: yuniza

 

setelah meletakkan tanganmu ke genggaman

nahkoda

jemarimu dipenuhi cahaya

 

sauh lepas

ombak yang biasa kulihat di matamu

menjauh perlahan

 

laut bergemuruh lunak

sesuatu yang cair di dalam diriku

mengalir ke sana

menguntit kapalmu yang hendak berlayar

 

jika badai menerjang

dan kau tak berkabar

aku pasti mengetahuinya

 

berlayarlah hingga tua

hingga kapalmu menjadi surga

 

2019

 

 

teh bunga telang

 

lubang toples menganga

bunga telang kering mekar dalam cangkir pagi

terseduh rindu

dekat jendela

 

aroma melintasi dapur ke ruang makan

menuju kamar dalam dada

umpama pusaran biru air mukamu

mengaduk kenangan dengan riang

 

2019

 

 

anai-anai prawirotaman

 

aku ingin berlari dan menari di sepanjang jalan

prawirotaman

menjauh dari batu-batu yang mengurung

dari genteng yang memisahkanku dengan langit malam

dari dapur yang membakar masa muda

 

menjadi anai-anai

berburu cahaya di kafe-kafe

tergelincir di rambut basah

perempuan-perempuan blonde

berenang ke dalam gelegak kopi malam

aku ingin terus berlari dan tak pulang-pulang

tetapi, kakiku dikebat kenyataan

bahwa perempuan yang lari

akan membuat rumahnya sekarat

 

dongkelan, 2019

 

titik puisi

suatu saat aku akan berhenti

bukan pada tanda koma

tapi di sebuah titik

sebelum kuhabiskan usiaku

untuk menyelesaikan puisi ini.

 

2014-2018

 

 

rumpun tebu di bibirmu

:zw

 

air mata hujan, jatuh dekat jendela

aku dengar denyarnya serupa gelegak cemburu

deru tajam yang menyerbu atap rumah

 

kabut tenung membubung dari cerobong rindu

memasuki paru

mendesak, berbaris, dan berimpitan

 

barangkali, kematian sedang bersiap-siap

membawakan tandu biru untuk menjemput

ruhku

yang setengahnya akan kautanam

sebaris dengan rumpun tebu di bibirmu

 

2019

Fitra Yanti

Lahir di Kecamatan Danau Kembar, Solok, Sumatra Barat, 17 Februari 1987. Menulis puisi dan cerpen di berbagai media massa nasional dan lokal. Bergiat di komunitas musikalisasi puisi Mantagi Akustik. Kini menetap di Dongkelan, Yogyakarta. Bisa dihubungi via fitrayanti@gmail.com

Latest posts by Fitra Yanti (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.