Pengalaman Pertama Nonton Konser di Jepang

in Hibernasi by

Belakangan ini banyak acara bertajuk konser musik diselenggarakan di negeri kita tercinta, mulai dari musisi dalam negeri, hingga musisi internasional. Belum lagi, karena perekonomian yang sepertinya kian membaik, zaman sekarang hampir semua orang bisa nonton konser musik, mulai dari anak muda sampai yang sudah dewasa. Semua ini mengingatkan pada konser musik pertama yang saya datangi di tahun 2012. Konser musisi internasional yang rasanya…

… kayak di neraka.

Saya inget banget, tuh, buat nonton konser jam 7 malam, antrenya dari jam 8 pagi. Lalu selesai konser jam 10 malam, tapi buat keluar karena hanya satu gerbang yang dibuka, baru betul-betul keluar jam 12 malam. Itu pun setelah sesak napas dan dehidrasi. Ya, bayangin aja, nonton konser teriak-teriak, berdiri, nggak minum. Alhamdulillah keluar venue masih dikasih umur panjang juga.

Sejak saat itu, saya mulai sayang nyawa. Nggak bakal lagi nonton konser-konser gitu, apalagi kalau promotor anu, apalagi kalau peraturan konsernya juga nganu. Lihat beragam kasus yang udah-udah, kayaknya saya yang semakin berumur dan renta ini nggak bakal kuat. Bahkan walau duduk di kursi VIP sendiri, belum tentu selamat sampai gerbang keluar.

Agak-agak traumatis, ya, heuheu…

Padahal, kalau liat video-video konser di luar negeri tuh kayaknya aman, sejahtera, dan sentosa. Jadilah saya agak kepo, ingin ngerasain juga kalau di luar negeri konser kayak apaan? Apa sama aja rasanya; macam di kerak neraka?

Nah, jadilah, berhubung ada kesempatan sekolah di Jepang, saya coba-coba cari konser musisi yang bisa ditonton. Sekitar bulan Januari 2018 ada nih konser yang kayaknya bisa saya tonton. Konsernya LiSA bertajuk LiVE is Smile Always ~Asia Tour 2018~.

Buat penggemar anime mungkin tahu banget soal LiSA. Karena saya cukup tahu banyak lagunya, ya udah deh, nonton aja konsernya di Osaka Jou Hall tanggal 30 Juni 2018. Tapi sebelum itu, harus beli tiketnya dulu, dong…. Ya udah, saya cari-cari deh cara beli tiketnya. Ternyata, ada beberapa periode buat beli tiketnya. Periode pertama khusus buat member fan club, yang mana berarti saya tentu saja tidak bisa beli tiketnya. Nah, akhirnya ada pembukaan pembelian tiket periode kedua yang bertajuk lotre.

Hah, bentar. Apa? Lotre, alias… undian.

Ini maksudnya gimana, ya? Beli tiket kok diundi?

Tapi ya, sudahlah. Berhubung daftar dulu undian baru bayar, jadi nothing to lose kan ya. Di pembelian tiket lotre itu ada pilihannya: seat atau backseat. Kita bisa pilih 2 prioritas, tapi karena nggak ngerti, ya udah saya pilih tiket seat untuk prioritas pertama, dan backseat untuk prioritas kedua. Sampai di situ masih nggak tahu juga apa bedanya seat dan backseat karena setahu saya semua pembeli tiket pasti dapat kursi, kan? Apa ini undian pembelian kursi? Apa ada tiket festival yang berdiri?

Hm, bertanya-tanyalah saya sampai hari pengumuman undian. Ternyata saya nggak dapet tuh tiket seat, tapi dapet yang backseat. Di pengumumannya (ini dikirim via email), kalau setuju sama tiket backseat saya bisa bayar seharga ¥7.540, atau sekitar Rp900.000. Apakah ini harga tiket undian VIP? Ternyata bukan karena semua kursinya dijual seharga itu. Ya, sudah, karena dipastikan dapat tiket, saya bayar aja. Bayarnya di mana? Di minimarket. Nanti sehabis bayar, dikasih lembaran lain untuk pengambilan tiket pada tanggal yang sudah ditentukan, yaitu H-6.

Karena sejak pembelian tiket sampai hari konser agak lama, hampir aja saya lupa kalau harus tuker tiket dulu di minimarket (nggak harus minimarket yang sama, kok, waktu itu ke minimarket terdekat aja). Hingga sampailah pada hari H.

Excited? Iya, dong. It is my first time watch music concert in Japan!!!

Cuma ya… cuma, gara-gara pengalaman nonton konser tahun 2012 dulu, saya jadi khawatir ini apakah yang akan terjadi? Apakah saya harus datang sejak pagi? Antre masuk? Boleh bawa minum nggak, ya? Venue konsernya di mana, ya?!

Semua kekhawatiran itu bikin saya berangkat ke Osaka Jou Hall sepagi mungkin. Waktu itu kira-kira jam 10 pagi udah berangkat, tapi ya namanya musim panas… naudzubillah panasnya. Mana Osaka Jou halamannya supergede. Dan akibat menjadi orang asing yang tak tahu apa-apa, akhirnya saya berteduh dulu di Museum Osaka Jou sampai kira-kira pukul 2 sebelum bertolak ke Hall. Rencana mau ke sana jam 3-an deh, siapa tahu harus antre masuk. Jadi, jam 2 siang masih keliaran cari makan, takutnya nanti berdiri desek-desekan lalu semaput karena kelaparan. Saya juga udah siapin sepatu dengan sol supertebal, biar kalau ada abang-abang segede gaban menghalangi di depan, panggung bisa tetap kelihatan. Pokoknya saat itu, persiapan udah supersempurna.

Jam 3 setelah makan, saya mengikuti arus orang-orang yang bawa atribut konser ke Osaka Jo Hall. Baru sampai di parkiran udah rame banget. Terus ada antrean. Wah, gawat! Antrean apaan tuh!! Nggak ngertilah ya, nggak bisa baca tulisan kanjinya. Cuma tahu tulisan ‘Antre di Sini’ sama ‘Batas Antrean’. Saya pikir, mungkin ada penukaran tiket lagi. Mungkin tiketnya dituker semacam badge gitu yang digelangin, kan di konser-konser suka gitu, ya. Akhirnya dengan kebodohan asal tebak, saya ikut antre panjang banget. Udah siapin tiket yang didapet dari minimarket nih, ceritanya buat ditukerin (karena di panduan pembelian tiket juga, tiketnya nanti dituker lagi di venue).

Eh… taunya, udah panjang-panjang antre, ternyata itu antrean beli atribut konser macam light stick, CD, handuk, dan lainnya. Saya yang nggak ada niat buat ngeluarin uang berlebih akhirnya keluar juga dari antrean itu, pura-pura pinter dan mendekati pintu masuk yang masih ditutup. Di sana juga terlihat antrean orang-orang, makin bingunglah ya saya. Mau SKSD tapi mengingat kebanyakan orang Jepang bakal kabur kalau disapa orang asing, jadi saya memutuskan cari orang asing lainnya.

Nah, ketemulah sama mas-mas dari Polandia. Basa-basi, SKSD, padahal niat utamanya mau tanya kalau tuker tiket di mana. Terus dia nunjukin loket penukaran tiket. Oke deh, saya ngikutin dia. Pas loket dibuka, kami lari bersama menerjang orang-orang ke loket tersebut. Taunya… taunya ternyata tiket yang saya punya tidak perlu ditukar lagi. Itu sudah jadi tiket resmi. Tinggal masuk saja. Ah, elah, dari tadi, kek. Mana hujan. Jadi, ya sudah, berarti tinggal antre masuk saja.

Jam 5, gerbang sudah dibuka. Berbondong-bondong orang antre masuk. Saya juga, dong, nggak mau kalah, masih dengan mental bakal nonton berdesak-desakan. Nah, terus sebelum masuk ada pengecekan tas. Saya waktu itu bawa air minum, juga makanan sisa, tapi ternyata yang mereka cek adalah kamera dan perekam video. Karena nggak ada, jadilah saya lolos dan dipersilakan masuk. Sampai di sana, saya berpisah sama si mas-mas Polandia karena kami beda tribune.

Saya kedapatan di tribune M, baris 2, nomor kursi 3. Sama sekali nggak kebayang tempatnya kayak mana, yang jelas katanya ini kursi backseat yang firasat saya sih ada di belakang panggung. Ya sudahlah, saya menelusuri simbol-simbol penunjuk arah aja jadinya. Tribune M sudah ketemu, tinggal cari baris 2. Ternyata baris 2 adalah di bawaaaah… bawah banget, dengan kursi nomor 2 dari sebelah kanan. Di setiap kursi sudah disediakan bingkisan gitu, semacam poster. Tepat di depan kursi saya ini, ada jalan gitu dengan karpet pink yang langsung terhubung ke panggung. Jarak panggungnya, hehe… TEPAT DI DEPAN MATA!

Oalaaaah… jadi ini toh, kenapa dinamakan kursi undian. Soalnya deket banget ke panggung. Tinggal loncat pagar sama jalan tadi, sampai deh ke panggung. Nggak perlu itu susah-susah pakai sepatu bersol tebal, tinggal duduk cantik aja panggung keliatan. Saya bahkan bisa lepas sepatu, minum, makan snack, serasa lagi nonton konser di rumah.

Nah, beberapa menit sebelum konser dimulai, ada pengumuman-pengumuman soal aturan selama konser. Dari keseluruhan, yang paling penting adalah dilarang menyalakan ponsel, dilarang merekam, dilarang foto-foto. Saya pikir, aaah paling yang lain juga pasti langsung keluarin HP-nya pas udah mulai. Eh, taunya, selama konser berlangsung, nggak ada satu pun orang yang keluarin HP, ngerekam, apalagi foto-foto. Sama sekali nggak ada. Semua penonton fokus sama pertunjukan Neng LiSA di atas panggung. Bahkan saat break sebelum encore, juga nggak ada yang update status. Jadilah, saya ikutan menaati peraturan; sama sekali nggak foto-foto, nggak ngerekam, nggak update status selama hampir 3 jam konser.

Alhasil, walau saya tahu LiSA hanya sebatas lagu-lagunya, tapi jadi terbawa suasana dan menikmati 100% pertunjukan di panggung. Oh ya, ternyata jalan dengan karpet pink di depan kursi saya tadi adalah… PANGGUNGNYA JUGA! Jadi, selama pertunjukan, LiSA muter-muterin panggung, dan yep kita sempat saling dadah-dadahan saking jaraknya deket banget.

Selesai konser bahagia. Keluar venue pun semua orang tertib, bahagia, sejahtera, dan sentosa. Nah, kalau konser kayak begini kan enak, ya. Jadi berkhayal, bisa nggak suatu saat konser-konser di Indonesia bisa kayak gini?

Ghyna Amanda

Ghyna Amanda

Lahir dan besar di Kota Bandung. Bercita­cita menjadi seorang komikus tapi pada akhirnya berkecimpung dalam dunia penulisan.
Twitter dan Facebook: @amndbrnz.
Ghyna Amanda

Latest posts by Ghyna Amanda (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.