Si Ujud: Sangkilat dari Lamuri

in Esai by

/1/

Ulasan novel Kura-Kura Berjanggut tersebar di beberapa media nasional. Kita tidak disodorkan ulasan minus, mayoritas plus. Seketat itukah prosa garapan Azhari Aiyub sehingga nyaris tidak ada celah?

/2/

Saat Kerajaan Aceh yang dipimpin Sultan Iskandar Muda sedang berjaya di Selat Malaka, di waktu bersamaan pada titimangsa awal abad ke-17 M—setidaknya masa seperti itu yang tertera di Kura-Kura Berjanggut—ada juga kerajaan kokoh di ujung barat Pulau Sumatra. Kerajaan ini banyak gajahnya, kayu sapang, bambu, penghasil kapur barus, dan rempah-rempah. Kerajaan ini bernama Lamuri. Beberapa teks Arab menyebutnya “Rami” atau “Ramni” atau “Lambri”. Daerah ini telah menjadi lintas budaya, lintas sektoral, dan lintas batas. Beberapa teks Cina, Arab, dan Eropa menyebut “Lamuri” dengan kondisinya.

Pada abad ke-13 M, teks-teks Cina menyebut nama tempat Lan-wu-li atau Lan-li yang dianalisis sejarawan bahwa Lan-wu-li atau Lan-li adalah nama lain dari Lamuri. Bahkan, Marco Polo—di akhir abad ke-13—menyebut nama Lamuri dengan sebutan “Lambri”. Dalam buku Kerajaan Aceh: Zaman Sultan Iskandar Muda (1607-1636) karya Denys Lombard, nama Lamuri pun disebut oleh Ibn Sa’id (akhir abad ke-13 M); oleh Rasid ad-Din (1310 M); oleh Abulfida (1273-1331 M).

Azhari Aiyub menyebut tahun dalam kisahnya. Sekitar akhir abad 16 dan awal abad 17 M. Bahkan, di halaman pertama kisah bermula, Azhari menyebut “Oktober 1612”. Seperti aku sudah sebutkan di paragraf sebelumnya bahwa pada 1607 sampai 1636 M Sultan Iskandar Muda sedang memimpin Kerajaan Aceh. Artinya, titimangsa Kesultanan Lamuri yang dikisahkan Azhari dan kepemimpinan Sultan Iskandar Muda itu bersamaan.

Karena tidak ada literatur yang cukup aku dapatkan perihal Lamuri secara nonfiksi sehingga Lamuri masih dalam bayang-bayang yang dikisahkan oleh Azhari. Tetapi, dalam azharnasri.blogspot.com bahwa salah seorang sultan—menurut Hikayat Atjeh—yang terkenal di Kesultanan Lamuri adalah Sultan Munawwar Syah. Konon, ia adalah moyang dari Sultan Iskandar Muda. Sekarang, Lamuri menjadi objek diskusi dan sumber narasi. Lamuri menjadi latar utama dalam buku karya Azhari Aiyub yang telah memenangi Kategori Prosa Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2018.

Apa istimewa buku novel ini?

/3/

Anda perlu ingat tiga nama ini: Si Ujud atau tokoh Aku, Kamaria, dan Sultan Nurruddin. Tiga orang itu yang mengantar kita ke akhir cerita di halaman 676 dalam “Buku Si Ujud”, bukan Kura-Kura Berjanggut.

Aku mulai cerita dengan adegan Kamaria bersenggama bersamaku di “Menara Kabut”. Saat itu, Aku tidak konsentrasi menaklukkan tubuh Kamaria, setidaknya memuaskan dia mencapai titik klimaks. Dia menuduh Aku memikirkan wanita lain saat kami bersetubuh. Padahal, tidak. Bukan wanita lain yang Aku pikirkan, melainkan bagaimana cara membunuh Sultan Nurruddin yang telah membunuh kedua orangtuaku.

Aku begitu dendam kepada Sultan. Aku mesti membuat muslihat musang emas untuk membunuhnya. Aku belum tahu bagaimana merancang siasat ini.

Pada lain kesempatan, Sultan mendatangiku di menara kabut saat menjelang dini hari. Sultan mengisahkan sejarah Kesultanan Lamuri yang sedang ia pimpin: wilayah-wilayah yang ia taklukan, kisah sirkus dari negeri Siam yang membuat orang-orang Lamuri tertawa. Aku menyimak dengan saksama. Yah, namanya juga sultan, mesti didengar. Namun, di pertemuan langka kami ini, Sultan begitu ramah kepadaku. Banyak cerita yang Sultan kisahkan, tetapi ia harus pergi. Balik ke istana. Sebelum Sultan pergi, ia berkata kepadaku seperti ini: “Pagi ini kau kuangkat sebagai sangkilat” (mata-mata yang mematai mata-mata).

/4/

Aku langsung ke akhir cerita dalam “Buku Si Ujud”. 676 halaman amat sangat tidak cukup diulas dalam esai 1.000-an kata. Bahkan, jika ulasan ini sebanyak separuh halaman dari “Buku Si Ujud”, tidak cukup mengurai kompleksitas cerita Si Ujud dan Lamuri-nya. Begitu banyak tokoh, banyak konflik, dan banyak latar. Dua stadium lagi, buku ini membosankan dibaca. Namun, aku sangat menikmatinya, sebab pencerita adalah Aku dan Aku lihai menarik-ulur cerita.

Pada “Darud Dunya” halaman 675 dikabarkan Sultan Nurruddin alias Anak Haram meninggal diracun oleh perempuan melalui payudara yang telah dioles racun. Racun ini persis seperti jenis racun yang pernah membunuh ibu dari Anak Haram. Lalu, bagaimana muslihat Si Ujud untuk membunuh Anak Haram? Tak perlu kita berpikir konvensional terhadap cerita yang kita baca. Sebab, di situlah hasrat seorang pembaca untuk mengetahui apa Si Ujud berhasil terhadap muslihat yang ia susun atau tidak. Artinya, keinginan Si Ujud agar Anak Haram meninggal sudah diwakili oleh perempuan (tanpa nama). Perlu diketahui bahwa Anak Haram sangat mendambakan keturunan anak laki-laki untuk meneruskan posisinya sebagai sultan (seperti keinginan ayahnya [?], Sultan Maliksyah yang menginginkan anak laki-laki dari istri-istrinya. Namun, keinginan itu tidak berbuah hasil. Suatu ketika, Sultan Maliksyah bertemu Ramla [budak Abesy atau ibu Nurruddin] di Bandar Lamuri. Mereka berdua mengalami kontak hubungan seksual. Ramla menjadi istri Sultan Maliksyah. Ramla hamil, tapi banyak yang menuduhnya bahwa itu bukan hasil senggama dengan Sultan Maliksyah. Sebab, asal Ramla tidak diketahui dari mana. Mungkin sebelum bertemu Sultan Maliksyah, Ramla sudah hilir-mudik dengan laki-laki lain. Sehingga, anak yang dikandungi Ramla disebut “Anak Haram”) dan menaklukan Melaka. Dua hal itu tak didapatkan oleh Sultan Nurruddin hingga ajalnya tiba.

/5/

“Buku Si Ujud” sangat tebal daripada “Buku Harian Tobias Fuller” dan “Lubang Cacing”. “Buku Si Ujud” menghamparkan kisah Kesultanan Lamuri pada akhir abad ke-16 M hingga awal abad ke-17 M. Sebelum baca buku Kura-Kura Berjangkut ini dalam otakku tak terdeteksi lema “Lamuri”. Anggaplah aku memang tak membaca kisah kesultanan itu atau eminen Kerajaan Aceh Darussalam dan Samudra Pasai yang selalu dikisahkan sehingga kerajaan-kerajaan lain di ujung Sumatra tidak muncul di permukaan sejarah Indonesia kita. Lagi, mungkin aku malas mencari tahu perihal itu.

Azhari Aiyub adalah pencerita yang baik. Ia memoles sejarah Nusantara abad 16 dan 17 M dengan menggunakan medium fiksi bukan perihal main-main. Apalagi, ia memakai sudut pandang orang pertama tunggal. Ini semacam projek yang “mustahil” dilakukan oleh penulis prosa kontemporer Indonesia.

/6/

Aku kira Azhari juga mencoba berusaha bereksperimen di buku keduanya ini. Setelah kita dihadirkan bagian “Buku Si Ujud” menggunakan metode bercerita konvensional, Azhari menyisip satu bagian yang diberi judul “Buku Harian Tobias Fuller: Para Pembunuh Lamuri”. Bagian ini adalah catatan harian Tobias Fuller, seorang dokter jiwa hebat pada masa Hindia Belanda. Fuller hilang di daerah Lamuri dan tidak ditemukan hingga sekarang, setidaknya hingga pada 2009 saat Bantaqiah Woyla menulis artikel “Tentang Tobias Fuller dan Buku Hariannya”.

Menurut Woyla bahwa Fuller mulai menulis buku hariannya pada 3 Mei 1914 (hari ketiganya di Lamuri). Semula dia menulis secara teratur setiap hari Minggu, hingga kegiatan itu terganggu (kita tidak tahu kenapa), dan berhenti sama sekali pada 1 Oktober 1915.

Aku kutip dua bagian dalam “Buku Harian Tobias Fuller” perihal Kura-Kura Berjanggut. Ditulis pada 13 Desember 1914 dan diberi judul “Piramida Setan Jan Leo”:

  Kepada Jan Leo, aku menyinggung, sekali lagi, tentang pembunuh yang semuanya seperti bersepakat mengatakan bahwa mereka membunuh karena terperangaruh buku Kura-Kura Berjanggut. Setelah pembunuhan Letnan Jacob oleh Abdo Madjid pada 6 Juli, terjadi dua pembunuhan lagi pada 26 Oktober di Kutaraja, dengan jarak yang agak berdekatan. Salah satu pembunuh menganut satu kepercayaan kuno yang menurutku aneh, yaitu agama Kerang. Aku sempat bertemu kedua pembunuh tersebut. Keduanya seperti bersekongkol mengatakan bahwa mereka membunuh karena buku Kura-Kura Berjanggut, sebagaimana alasan yang pernah kudengar dari Abdo Madjid.

  Aku bertanya memang ada berapa versi buku Kura-Kura Berjanggut. “Cuma ada satu versi. Edisi 1613. Ditulis oleh Putri Tajul Dunya.” Jang Leo menjelaskan, PID menyita dua salin buku Kura-Kura Berjanggut dari skriptorium al-Zahir. Saat meninggalkan Lamuri, Abdoel Gaffar membawa salah satunya. Mungkin yang paling lengkap. Karena edisi 1613 yang berada di tangan PID juga bukan edisi paling lengkap. “Tapi,” kataku. “Aku diberi oleh Letnan Gerard edisi 1629.” Jan Leo memandangku sejenak. “Ditulis oleh Si Ujud?”

/7/

Pada bagian “Lubang Cacing”, Azhari melampirkan daftar artikel-artikel—semacam—menguatkan bahwa “Buku Si Ujud” dan “Buku Harian Tobias Fuller” benar-benar nyata adanya. Ada enam artikel:

~ Badai dan Perjalanan (Jean Claude, Tempete et voyage, Arsip Liga Suci, Paris, sekitar 1821, hlm. 231-256)

~ Penyelewengan Perasaan Penderita Kusta (Si Agam, Batavia Bode, Batavia, edisi November 1913, hlm. 1-3)

~ Catatan Fakir bin Sabi (Fakir bin Sabi, marjinalia pada salinan Kitab Ad Damigh Ibn ar Rawandi berjudul Kedatangan Orang Franj Si Tobias Fuller, sekitar Jumadil Akhir 1333, Lamuri)

~ Unta Nabi Sulaiman dan Raja Kura-Kura (Xavier Bautista, Visita, akhir 1616, hlm. 101-102)

~ Perihal Abdoel Gaffar dan Si Ujud (Bantaqiah Woyla, draf makalah untuk simposium Peringatan Satu Setengah Abad Abdoel Gaffar, musim panas 2007)

~ Buku Saku Marinir Amerika Serikat untuk Indonesia (Ratna Juita, 2009)

/8/

Musim dingin di Geldersekade, Amsterdam, Belanda pada 2009, Bantaqiah Woyla menulis catatan mengenai “Buku Si Ujud”, “Buku Harian Tobias Fuller”, dan “Lubang Cacing”.

Tajul Muluk (seorang tahanan politik berumur enam puluh sembilan tahun) di sebuah tempat yang dirahasiakan di Kepulauan Berhala. Muluk akan dieksekusi mati oleh pemerintahan Indonesia. Sebelum ajal Muluk melayang, ia meminta untuk bertemu Woyla. Dan, itu kali pertama Woyla menginjak kaki ke negara Asia. Muluk memberi koper berisi dua buku ke Woyla, “Buku Si Ujud” dan “Buku Harian Tobias Fuller”.

Beberapa puluhan tahun kemudian, Woyla mengalihaksarakan “Buku Si Ujud” ke huruf Latin dan menerjemahkan “Buku Harian Tobias Fuller” ke bahasa Indonesia dari bahasa Melayu. Ada beberapa artikel yang ia gabungkan di “Lubang Cacing”. Setelah itu, ia kirim naskah itu ke penerbit Indonesia.

Safar Banggai

Pegiat Komunitas Kutub, Yogyakarta.

Latest posts by Safar Banggai (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.