Perjalanan dalam Segugus Catatan Pengarang

Judul Buku      : Ethile! Ethile!

Penulis             : Benny Arnas

Cetakan           : I, Februari 2021

Penerbit           : Diva Press

Ketebalan        : 416 halaman

ISBN               : 978-623-293-231-9

Seiring dengan semakin terbuka dan mudahnya akses ke banyak lokasi di permukaan Bumi, sastra perjalanan menjadi salah satu genre yang mengalami pertumbuhan dalam sastra Indonesia pada dua puluh tahun terakhir. Ethile! Ethile! karya Benny Arnas melanjutkan tren tersebut sekaligus menjadi pembuka dasawarsa ketiga abad ini. Novel ini berkisah tentang seorang pengarang bernama Venn yang memperoleh undangan tidak terduga melakukan perjalanan untuk menulis sekaligus melakukan riset kecil yang sejatinya tidak remeh.

Kutipan pembuka “Di tanah orang, kita tetap manusia, bukan turis” tuturan tokoh Mak sedikit-banyak memberi arahan kepada pembaca tentang bagaimana dan ke mana novel melaju.Cerita bergerak dari Piru yang terkesan cair dan ngelangut hingga ke seberang jauh samudra yang terasa solid dan tajam berkawan seorang fasilitator—Ethile—yang kadang inosens kadang superkampret. Relasi mereka bukanlah sebentuk kebersamaan yang senantiasa tenang, hangat, dan menggembirakan dalam rangka memenuhi tujuan utama perjalanan mereka, melainkan serupa roller coaster yang tidak sekadar berkesiut kian kemari, melainkan juga drama—bahkan deramak kalau dalam bahasa kekinian—yang bisa saja menimbulkan pertanyaan “Apakah ini dagelan?” pada benak pembaca.

Dalam novel berwujud catatan perjalanan yang terbagi menjadi tiga bab utama—Lea, Sommer, Ethile—ini mereka mengunjungi kota-kota yang bukan “pusat” turis dan keramaian yang selama ini tampak menjadi “latar standar” dalam sejumlah karya sastra Indonesia yang berlatar negeri-negeri jauh. Ketiga bagian utama ini terbagi lagi ke dalam bab-bab pendek sehingga ketebalan novel ini tidak lagi berarti karena cerita bergerak cepat dan pembaca tidak perlu sampai mengalami kelelahan. Hal ini pula yang menjadikan novel terasa kinetik: tentang yang bergerak sekaligus dalam wujud yang menggerakkan, isi dan bentuk berkelindan membentuk bangunan serupa thriller. Belokan-belokan tajam di sana-sini, kejutan dan rahasia serupa pisau tajam bermata dua, serta keterhubungan-yang-tidak-terjelaskan-tetapi-tetap-berterima menjadi semacam miniatur hidup itu sendiri: sebuah perjalanan yang menyimpan banyak kemungkinan tidak terduga, diketahui akhirnya tetapi tidak lengkap dengan kapan, di mana, dan bagaimana-nya.

Meskipun tidak banyak diuraikan, gambar “pemandangan klasik” favorit bocah Indonesia—sepasang gunung, matahari terbit, sawah, dan jalan yang membelah bidang kertas—sebagai motivasi keberangkatan Venn ternyata adalah yang kemudian menjadi jangkar, perekat, sekaligus bingkai novel ini bersama dengan horor ketindihan yang terus menyertai dan kerinduan akan masakan rumah. Seiring dengan hal ini, mobilitas, ruang, perbatasan, keterasingan, kedirian, menjadi individu-antara (in-betweener) akibat terus-menerus berpindah dari satu kota ke kota lain, dan in-betweenness pun secara umum menjadi isu yang hadir secara eksplisit—bahkan hingga ke muara cerita—tanpa sedikit pun terasa jargoniah. Dengan fakta tekstual yang demikian, yang dinyatakan tokoh Mak tentang turis dan manusia pada kutipan pembuka novel bukan lagi melulu tentang menjadi warga dunia yang semakin hari semakin santer didengungkan sekaligus menjadi status dambaan banyak orang, melainkan juga tentang menjadi (manusia) Indonesia.

Berbeda dengan fiksi—cerpen maupun novel—yang menempatkan titimangsa sebagai pembingkai waktu dan ruang sebuah peristiwa, wujudnya sebagai catatan perjalanan menjadikan novel ini epistolari: peristiwa yang diceritakan adalah yang telah terjadi dan pembaca diposisikan sebagai subjek yang sedang membaca apa pun yang disampaikan si penutur. Dengan begitu pula, si penutur—Venn—menyampaikannya secara runtut, tidak kemrungsung, sekaligus memiliki peluang untuk merenungkan kembali keputusan-keputusan dan hal-hal yang telah dilaluinya. Naik-turun emosi pun tidak lagi terbaca sebagai sebuah impromptu seperti halnya pada cerita yang dituturkan oleh sosok aku secara on the spot, melainkan dibangun melalui relasi antara penutur dengan orang-orang dan hal-hal di sekitarnya. Hal ini sekaligus mengingatkan kembali betapa cara bertutur—penceritaan—memiliki dampak signifikan dalam membangun sebuah teks, termasuk memelihara logika bersastra secara keseluruhan.

Setidaknya ada dua gangguan yang mungkin dialami pembaca selama mengikuti catatan perjalanan Venn. Pertama, ilustrasi. Meskipun tidak banyak, kehadiran ilustrasi tentunya dengan sendirinya memberi batasan kepada imajinasi pembaca, bahkan katakanlah ketika pembaca sudah berusaha memaklumi dan berdamai dengan mempertimbangkan kemungkinan bahwa Venn sengaja memperkaya catatan perjalanannya dengan hal-hal itu. Kedua, kaitan teks dan konteks. Pemahaman bahwa novel ini merupakan hasil residensi dan perjalanan pengarang realnya—berdasarkan informasi yang beredar di semesta maya—akan terus membayangi selama pembacaan: apakah ini fiksi ataukah demikianlah yang terjadi selama petualangannya di Eropa Timur dan Semenanjung Balkan? Pada akhirnya, dengan mengingat riwayat kepengarangannya, novel ini adalah satu lagi tawaran dari Benny Arnas yang tampak senantiasa mengeksplorasi kemungkinan baru baginya untuk menghasilkan karya yang segar—dan kali ini—juga menyenangkan.

Bramantio

Leave a Reply

Your email address will not be published.