Syaikh Abu ‘Abdillah al-Bashri

Beliau adalah Muhammad bin Ahmad bin Salim Abu ‘Abdillah as-Salimi al-Bashri. Selama tiga puluh tahun bermukim di Bashrah. Beliau adalah salah satu murid dari Syaikh Sahl at-Tustari. Beliau juga mengambil Thariqah dari gurunya itu.

Sufi ini termasuk tokoh yang kontroversial. Salah satu ungkapan beliau menjadikannya diusir oleh masyarakatnya dari Bashrah. Yaitu, ketika beliau menyatakan bahwa Allah Ta’ala itu telah memandang segala sesuatu sejak zaman azal.

Sebenarnya apa yang aneh dari ungkapan itu sampai beliau diusir karenanya? Mungkin bagi masyarakat beliau di sana waktu itu, ungkapan tersebut berkonotasi terhadap adanya anggapan atau keyakinan bahwa sesungguhnya alam semesta ini qadim atau tidak didahului oleh ketiadaan.

Sehingga dengan demikian, beliau ditengarai oleh masyarakatnya sebagai sufi yang meyakini qadimnya alam semesta sebagaimana qadimnya Allah Ta’ala. Padahal tidak demikian, sama sekali tidak.

Yang dimaksud oleh sang sufi itu tidak lain adalah bahwa penglihatan hadiratNya itu baik terhadap makhluk yang sudah diciptakan maupun yang belum diciptakan sebenarnya sama saja. Yakni, sama-sama terangnya dan sama-sama tidak ada kurangnya sedikit pun.

Konsekuensi dari adanya pemahaman dan keyakinan terhadap penglihatan Allah Ta’ala yang seperti itu akan menjadikan sufi tersebut, juga siapa pun yang sehaluan dengan beliau, dengan sepenuh hati meyakini bahwa bagi hadiratNya, segala sesuatu itu sesungguhnya sudah “rampung” jauh sebelum diciptakan.

Syaikh Abu Isma’il ‘Abdullah al-Anshari al-Harawi yang dikenal juga dengan sebutan Syaikh al-Islam mencoba ikut serta menjelaskan kalimat kontroversial tersebut. Menurut beliau, kemungkinan yang dimaksud dengan “melihat” itu tidak lain adalah mengetahui. Yaitu, mengetahui segala sesuatu sebagai kumpulan ide atau gambaran jauh sebelum direalisasikan lewat penciptaan.

Interpretasi Syaikh al-Islam di atas sangat rasional. Sebab, bukankah kerja penglihatan itu memang mesti ada objeknya? Sementara di zaman azal, segala sesuatu masih merupakan ide di dalam diri hadiratNya, belum diwujudkan melalui berlangsungnya penciptaan.

Akan tetapi boleh jadi juga bagi Syaikh Abu ‘Abdillah al-Bashri sendiri, idiom “memandang” itu memang bermakna harfiah. Toh, bagi Allah Ta’ala sama saja apakah objek pandanganNya itu masih merupakan ide atau sudah menjadi realitas. Di penglihatan hadiratNya, di antara keduanya sama sekali tidak ada selisih, sedikit pun.

Dengan kesadaran spiritual seperti itu, sang sufi menyusuri kehidupan sembari senantiasa merasakan perhatian dari Tuhannya, tidak sedetik pun merasa lepas dari pengawasan hadiratNya. Dan beliau menjadi beruntung karenanya. Wallahu a’lamu bish-shawab.

Kuswaidi Syafiie
Latest posts by Kuswaidi Syafiie (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.