Pudarnya Kegelisahan

in Celoteh by
Twitter @Art_Of_Thinking

Andaikata menjadi seorang jurnalis atau sastrawan hanya membutuhkan anugerah murni pemberian Tuhan secara cuma-cuma, maka orang-orang seperti Dee, Andre Hirata, dan Pram, barangkali tidak akan pernah dikenal di bumi Indonesia.

Kalau saja menjadi seorang jurnalis maupun sastrawan itu dibutuhkan bakat turunan yang diperoleh dari darah orang tua saja, maka orang-orang seperti Gabriel Garcia Marquez yang memiliki masa kecil terlibat dalam peperangan militer dan sipil, maupun Franz Kafka yang menghabiskan masa kecilnya di jalanan kumuh kota Praha, tidak akan pernah dikenal sebagai sastrawan dunia yang sangat melegenda.

Menurut aku, menulis itu skill dan jam terbang,” ujar Dee, sastrawan besar Indonesia yang telah menghasilkan banyak karya menakjubkan suatu ketika dalam sebuah sesi wawancara. Salah satu karyanya yang begitu digandrungi adalah serial Supernova. Sebuah seri fiksi fantasi ilmiah, terdiri dari enam buku, dan tidak diketahui lagi betapa sukarnya sang penulis mencari refrensi dan riset yang sudah ia jalani.

Kebahagiaan itu dapat dicapai oleh siapa saja,” ujar Lindsey Stirling, salah seorang musisi modern yang berhasil menggabungkan keindahan gesekan permainan violin, balet, musik dub step dan dance dalam suatu kesempatan. “Namun dalam mencapainya, dibutuhkan kerja keras,” lanjutnya kemudian.

Tanpa dirasa perlu petunjuk maupun teori konklusi yang beragam, hanya melihat kedua orang ini memberikan statemen saja sudah memberikan interpretasi yang mendalam bagi kita bahwa untuk menghasilkan sebuah karya—entah itu seni maupun tulisan yang bagus diperlukan ketekunan, usaha, dan kerja keras bagi mereka yang menginginkannya.

Namun usaha, ketekunan, dan kerja keras itu tidak mungkin berjalan sendiri begitu saja. Ibarat badan, ia memerlukan jiwa untuk menggerakkannya. Ibarat mesin pula, ia perlu bahan bakar yang membuat roda-roda gerigi itu mau bergerak memutar serasa seirama.

Ya, benar. Motivasi adalah jiwa bagi usaha. Motivasi adalah bahan bakar bagi ketekunan yang dijalankan. Karena Ia adalah alasan. Karena Ia juga adalah tujuan. Ia adalah energi. Ia adalah yang menggerakkan. Ia adalah; satu yang sukar dikata-katakan tapi eksistensi keberadaannya vital untuk dipertahankan.

Karenanya, banyak ditemui orang-orang yang ke sana-kemari sekadar untuk berburu motivasi. Entah itu membaca biografi kehidupan orang lain yang lebih sukses darinya, entah itu menghadiri seminar-seminar dari motivator kelas dunia seperti beliau—sebut saja Mario Teguh, atau mungkin cara-cara lain di luar perkiraan kita sebagai manusia. Padahal ada satu sumber motivasi dan sumber kekuatan yang tidak perlu lagi kita repot-repot mencarinya.

Dalam salah satu episode Spongebob Squarepants (Film animasi buatan Stepen Hillenburg dan Marine Biologist untuk sebuah perusahan animasi bernama Nickelodion yang sudah diputar di salah satu televisi swasta Indonesia), ketika teman sang protagonis yang bernama Squidward kehilangan pekerjaan dan kehilangan pula motivasi untuk bekerja, Spongebob menanamkan pemahaman bahwa motivasi dan kekuatan ada dalam diri kita sendiri. Tinggal kitanya, mau menggali ataukah tidak.

 “Kekuatan dari dalam. Kekuatan dari dalam. Kekuatan dari dalam,” begitu ucapan yang ada dalam video animasi itu. Sebuah ucapan yang, maknanya harus dapat kita pahami bersama bahwa ada semesta tanpa batas dalam diri kita yang tidak banyak orang yang menyadari. Tidak heran, Imam Ali R.A. memberikan statemen yang menjadi tamparan bagi kita untuk menengok lebih ke dalam. “Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia mengenal Tuhannya,” begitu kira-kira beliau suatu saat pernah berkata.

Kazuo Murakami Phd., dalam bukunya yang berjudul The Devine Massage of DNA (selanjutnya diterbitkan oleh Mizan dengan judul yang sedikit membuat kita mengernyitkan dahi dan berkata “hmmm”—Tuhan dalam Gen Kita), mengatakan bahwa kode-kode genetik pada DNA memiliki karakteristik on (menyala) dan off (padam). Menurut beliau, setiap orang memiliki DNA yang mengandung semua jenis bakat dan juga perintang bakat (anti) dalam 70 triliun kombinasi kode gen. Artinya, kita semua memiliki bakat untuk bagus dalam bermain musik, sekaligus juga memiliki anti-nya yang sudah terprogram dalam diri kita. Kita memiliki tombol aktif cerdas, juga sakelar menonaktifkannya. Kita memiliki bakat terjangkit penyakit tumor, sekaligus memiliki obat penangkalnya. Pun demikian, hal ini berlaku seterusnya dalam segala hal sampai-sampai penerbit Mizan tidak ragu-ragu lagi menghiperbolkan DNA sampai kepada tahapan tersebut.

Dan seperti sebuah tangan bagi sakelar, pikiran kita adalah subjek yang akan mengoperasikan. Pikiran positif membuat sakelar akan menunjuk pada tanda “on.” Dan pikiran negatif adalah sebaliknya. Tidak heran, dalam berbagai macam pengobatan non-medis, menyugestikan pikiran postif adalah sebuah metode penyembuhan yang kadang jauh lebih efektif daripada pengobatan medis konvensional seperti dalam kasus batu sakti Ponari maupun pengobatan alternatif katarak hari Minggu siang yang sering kita tonton bersama di salah satu channel televisi swasta.

Dee Lestari tampaknya bisa mencium bakat internal DNA manusia tersebut lalu ia tuangkan dalam gagasan “Partikel”, buku keempat seri Supernova yang mengangkat tokoh seorang gadis muda yang gelisah dengan kehidupan yang sudah ia jalani bernama Zarah. Zarah berpendapat bahwa ada sesuatu yang hilang dengan kehidupan manusia modern saat ini. Dalam salah satu adegan, kira-kira ia bercerita bahwa pada zaman dahulu—sebelum Neil Amstrong mendaratkan kakinya pertama kali di bulan, sudah banyak manusia lain yang mendarat di sana. Akan tetapi ia tidak menggunakan media luar. Melainkan menggunakan media dalam dirinya sendiri.

Meskipun masih belum dapat kita pastikan kebenarannya dan terdengar selintas sebagai buah imajinasi liar Tante Dee semata, rasanya pemikiran itu lebih dapat diterima dengan dada lapang daripada mengkambinghitamkan bangsa Jin dalam pembangunan bangunan-bangunan tak masuk akal seperti Candi Borobudur, patung Spink, Piramida, terusan Suez di seluruh dunia.

Dengan demikian, jelas sudah bahwa kita semua memiliki bakat luar biasa sebagai manusia. Dan bakat itu telah diberikan oleh Allah secara cuma-cuma kepada kita. Ia tidak mengharapkan apa pun, dan tidak merasa butuh terhadap apa pun dengan pemberian yang sedemikian berharga bagi kita itu. Tapi semua kembali lagi pada diri kita. Bisakah kita mensyukurinya dengan saksama, dan maukah kita berusaha sekeras mungkin untuk mengaktifkan dan mengembangkan bakat tersebut atau tidak.

Bagi seorang ilmuan, sastrawan, penulis maupun seniman, pemikiran positif yang mampu mengaktifkan bakat tersebut tanpa kita sadari juga berfungsi menghidupkan mata hati “kepekaan”. Kepekaan itulah yang nantinya akan melahirkan nyawa kegelisahan yang menjadi api pelecut semangat seseorang untuk berkarya. Dalam kasus Karen Amstrong misalkan, Kegelisahan spiritual yang menimpanya, membuat peka dengan nilai-nilai spiritualitas setiap agama hingga ia menuliskan pemikirannya dalam buku-buku seperti History of God, Muhammad Propet for our Life, dan lain sebagainya—seperti dalam salah satu wawancaranya.

Imam Ghozali pun tak luput dari kegelisahan semacam itu. Salah satu alasan lahirnya Ihya Ulumuddin—kitab yang membentuk generasi Shalahudin Al-Ayubi 70 tahun setelahnya dan sampai sekarang banyak dipelajari, adalah kepekaan beliau dengan kondisi sosial masyarakat di zaman hidupnya. Kepekaan yang terlahir dari proses pengamatan dan pemikirannya itulah yang membuatnya hatinya gelisah lalu meleburkan kegelisahan itu di dalam hitamnya tinta yang termaktub di dalam kertas.

Kegelisahan jenis lain lahir dalam diri Abu Nawas. Perasaaan berdosa dan bersalah sang pemabuk itu, membuatnya mengalami kegelisahan moral yang hebat. Kegelisahan inilah yang melahirkan sebuah syair fenomenal yang barangkali cukup membingungkan. Dimasukkan Surga merasa tidak pantas, namun dimasukkan Neraka juga merasa tidak kuat.

Karya lahir dari kegelisahan. Serta kegelisahan lahir dari kepekaan. Dan kepekaan lahir dari refleksi, perenungan, dan pemikiran mendalam. Maka, rasanya tidak kejam bila dikatakan bahwa bagi seniman dan sastrawan, tidak berkarya sama saja tidak berpikir. Dan tidak berpikir, barangkali sama saja tidak hidup. “Aku berpikir maka aku ada,” demikian Descrates yang menjadi dasar pemikiran filsafat rasionalisme berpendapat.

Hal ini demikian berlaku pula bagi orang-orang yang tidak menggeluti ketiga bidang tersebut. Hanya saja, output yang dihasilkan barangkali berbeda. Seorang public speaker seperti penceramah, ustad, dai, tentunya akan menghasilkan output berupa penyampaian materi-materi yang jauh dari fanatik buta, jauh dari tidak menoleransi keberagaman, dan jauh dari sikap inklusifitas di mana ia menutup jalan kebenaran sebagai jalan miliknya sendiri lewat upayanya untuk peka terhadap keberagaman, berpikir, merenung, dan merefleksi. Selain itu, kegelisahannya melihat problematika umat, mau tidak mau seharusnya membuatnya meningkatkan pengetahuan dan wawasan keberagamaan demi mampu menyelesaikan masalah yang mereka hadapi.

Namun sayangnya, kegelisahan seakan pudar dari generasi kita belakangan ini. Kalaupun ada, kegelisahan itu hanya menjelma menjadi bahan obrolan dan keluhan tanpa ada reaksi nyata berupa karya, atau bahkan aksi lain yang seharusnya kita miliki. Kegagalan membendung arus globalisasi dan teknologi, serta perubahan worldview—sudut pandang kita dalam memandang dunia, kerap kali dijadikan kambing hitam atas apa yang sedang terjadi dengan diri kita. Padahal sesungguhnya, yang membunuh kegelisahan itu, yang membunuh motivasi untuk lebih hidup, dan yang membunuh identitas kita—manusia, sebagai makhluk berkemajuan, adalah satu; kenyamanan.

Munandar Harits Wicaksono

Munandar Harits Wicaksono

Pelajar saja, tinggal di Karanganyar.
Munandar Harits Wicaksono

Latest posts by Munandar Harits Wicaksono (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.