Puisi Dimarifa Dy

 

Obituari

 

/1

yang terus menunggu itu waktu, Nak

ayahmu berharap kau muncul di sana

membayangkan kalian memancing di sungai

menunggunya di bawah pohon jarak

dia tanyakan lelaki tua yang sendirian

kenapa mereka dilupakan

(barangkali) mainan baru yang lebih menyenangkan?

kau tidak percaya cerita-cerita ibu

dan terus pergi menemuinya

lalu berkata: betapa sepinya menjadi kita!

 

kabarnya soalan itu juga retorika, Nak

dari pemuda lusuh menenteng laptop

dan sebotol air mineral

bergegas menuju mesjid

dalam dilema cicilan ini itu

dia juga dulunya diam saja

penindasan anak-anak tuna sosial

tidak ada yang melerai

semua orang sibuk mengambil video

anak-anak itu bersumpah

‘pekatnya darahku, hitamkan jalananmu’

 

kau bicara dengan antusias

memakai kemeja warnanya abu

kemarin matahari terang sekali

kau akan pergi pada acara penghargaan

yang tidak pernah disiarkan oleh media

mana pun

 

hari lebaran, Nak

anak-anak kecil hidup meriah

opor dan gulai tadi malam

lebih tua daripada harapan

kau tidak juga datang

kita telah lama sekali merdeka

sayang sekali

 

namun apa kemerdekaan itu, Nak

kau yang terus berhadapan dengan kemarahan

sekaligus kesepian

 

orang orang di sana. Mereka mengagumi

cerita pahlawan

tapi tidak ada yang mau terlibat

makam-makam kalian tak pernah dikenal!

 

 

 

Alasan-Alasan Tidak Menunggumu

 

kau membaca surat kabar tua

sedikit lamat-lamat

ketika bunga pukul empat

telah lama mekar, kau ingat

cinta yang berdebar

rumpun bambu muda tanah lapang

kau tidak menoleh lagi

 

setiap perhentian kereta

aku merindumu

sampai kau memelukku

melepas dendam dari buku harian!

 

apa rambutku masih wangi

dan kau memujanya

menghirup harumnya

diam-diam

ketika daun-daun berjatuhan

juga diam-diam

 

lirikmu menjadi jendela kaca

berbaris di sana

suara berbeda, denting berbeda

berlayar sakit dan penuh luka

tapi bagaimana lagi

 

ah, kapan kulihat warna merah

tak berani bermimpi kisah jenaka

suara suara jendela kaca

kau menjadi debaran

 

dongeng perempuan

kali ini tidak ada ksatria

seperti hujan dan buminya

apa pilihanmu. Menjadi hujan

atau muara

 

 

 

Perayaan Musim Dedak

 

perayaan-perayaan musim dedak

ini musim cinta

yang orang-orangnya berjalan dengan senter di tangan

aku tetap kehilangan

 

kau mengerling diam-diam seperti sihir

orang-orang bersicepat

membaca koran yang hurufnya tidak kecil lagi

sesekali memperbaiki ejaannya yang tak sempurna

terus menyeduh kopi dengan gula presisi

 

aku tidak berpura-pura menangis

dan kita tetap bermain dadu

jalan yang tenang, hamparan padi halaman batu

memanggil-manggil

kemudian, apa kau masih tidak menyimpan rindu

dalam saku kemejamu yang terlalu rapi

 

kau bersikeras tidak pamit ketika pergi

kepada rumah dan aroma padi

aku terus datang dari malam yang tak terjaga

hari-hari melambat seperti kutukan

bagaimana menyiasati sedih ini

 

aku sudah lama selesai menghafal mantra

kemudian mandi dalam sungai tiga muara

atau mungkin kelewat serakah

mantra menjadi basi mengalir kepada hujan

aromanya menghilang dari pinggir-pinggir

jalan yang banyak dilalui orang

 

jalan-jalan itu pada hari ini terlihat sepi

sebagian hilang terbawa angin

sebagian membentuk lubang dingin

bagaimana aku meringankan beban ini

 

pada sweater sulaman yang bergambar burung

kuletakkan mimpi-mimpi

tersenyum sambil menyisir rambut perlahan

ya, cukup cinta saja                     

mungkin malam nanti atau lusa

kau bersedia bermimpi denganku!

 

2023

 

 

Alasan-Alasan Tidak Menunggumu

 

requiem dari masa yang ganjil

mata kecil yang bersedih balik jendela

tertawa lengking dalam euforia

semesta yang hangat

 

saat kau kira ruang kosong itu

hanya percandaan

mari tiup cahaya-cahaya

aku atau kau yang mati

cerita ini begitu sedih

tapi hidup terlalu laknat

orang-orang yang larat

 

sekarang sedang musim hujan

aku sendirian menata meja makan

kalau tidak saat ini, tidak saat kapanpun

mungkin dalam kehidupan yang lain

 

jauh-jauh dikatakannya

ikhlas dengan keganjilan itu

bagaimana memiliki mimpi yang sama

setelah kosong memenangkannya

setelah pagi bukan lagi merah muda

 

kematian yang sempurna

menghabiskan semua perasaan

seperti bermimpi tak pernah datang

mendengar lagu tak dikenal

dan terus menyanyikannya

akhirnya kita tidak ada di manapun

 

2023

 

 

Dimarifa Dy
Latest posts by Dimarifa Dy (see all)

Comments

  1. Petrus Nandi Reply

    Puisi-puisi yang asyik. Salut, Kak.

    • Dimarifa Dy Reply

      DMakasih

  2. Widia Reply

    Di ujung senja
    Dalam lembayung langit merona,
    Sinar mentari mulai bersembunyi,
    Di ujung senja, awan berkelana,
    Menari lembut, seirama hati.
    Gemuruh ombak di tepi pantai,
    Menyanyikan lagu alam nan abadi,
    Bintang bintang mulai menanti,
    Mengintip malam, bersinar berseri.
    Bunga bunga di taman terlelep,
    Menerima kasih embun di pagi hari .
    Hidup ini bagai kanvas terbentang,
    Dihiasi warna, harapan, dan mimpi.
    Kemarin adalah kisah yang telah berlalu,
    Hari ini langit cerah di depan mata.

    • Dimarifa Reply

      👍🏻

  3. chilla Reply

    Tabikk mba 👏

    • DD Reply

      Makasih

  4. hanifa Reply

    keren abis deh penyairnya

Leave a Reply to Dimarifa Cancel Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!