Puisi Galuh Ayara

Tidak Ada Hantu di Jendela

 

pernahkah kau hidup

bukan untuk bunuh diri?

pernahkah kau berusaha hidup

tanpa dibayang-bayangi maut

yang tak kenal menyerah

bayang maut yang-

paling melawan

sekaligus menawan

 

di ruang itu

tak kau temukan lagi bau lavender

lukisan edvard munch

suara kaca pecah

juga wajah muram

yang seolah menempel di seluruh dinding,

hawa putus asa yang mencekam

juga jejak kepergian yang lekat

 

pernahkah kau abai saja pada

setiap cemas

yang berdiri di depan

pintu?

 

wajahmu,

padma

; gelap yang mekar

tak tertembus satu cahaya

pun

 

raunganmu jadi gema yang kembali

ke dalam kepala

 

di ruangan itu,

maut mulai masuk ke kulitmu

 

sejak kapan kau menutup jendela?

 

2025

 

 

Figura

 

langit muram

memendam kesedihan yang 

sembunyi di balik daun-daun zelkova

dan bayang seseorang yang sedang duduk

memeluk udara dingin di taman

 

bisakah kau embuskan nyawa cintamu

terlampau lama dadaku beku

sejak sebuah lambaian tangan

mencekik gairahku di suatu musim

 

aku pernah sangat mencintai kehidupan

yang mengalir dari dada lelaki itu

seperti sungai-sungai

seperti seteguk amazake yang turun

dari tenggorokannya

lalu meresap ke jiwaku

 

bisakah kau hapus bayang-bayang

maut

yang menggantung dalam figura itu?

 

dunia tak pernah punya tangan untuk memeluk

dan waktu terus berjalan, 

meninggalkan bayang-bayang yang mengendap

 

membatu

 

2025

 

 

Anjing Tak Pernah Berduka

 

berapa angka yang kau susun di atas meja setiap pagi?

berapa bentuk garis yang kau kenali,

hingga mampu membentuk tungkai seorang lelaki

yang amat kau cintai?

 

di seberang meja,

bau keringat itu kerap membuatmu terbang

jiwamu mengawang menembus langit-

langit

 

dari mana mulanya seekor anjing sepertimu

dicintai seorang lelaki?

ia hanya memeliharamu untuk memelihara

hidupnya dari kesepian

 

ia hanya memberimu bola

yang dilempar ke seberang jalan

lalu kau mengejarnya seolah baru saja

ia memberikanmu sebongkah hati yang segar

tentu saja kau tak akan membiarkan

anjing lain merebutnya

 

tak ada anjing yang dicintai penuh kasih

meski telah kau tembus segala macam petaka

meski tak segan kau kuliti tubuhmu

demi menyelimuti tubuhnya

hingga ia senantiasa aman dari segala nyeri dan gigil

 

tapi kau hanya anjing

tak lebih

 

; tubuhmu koyak di tiang pengorbanan

 

cintamu tak lebih sendu dari kematian yang

kau tatap di muka cermin

 

2025

 

 

Jarak Hujan dan Sunyi

 

adakah yang bisa menyelamatkanku dari kesepian?

 

hujan yang kukhidmati,

malam yang lembab

aroma bunga melur

dan jerit seseorang dalam kepala

bisakah kulepaskan bayangnya ke langit luas?

 

; kekasihku si petualang asing

yang gemar menjelajah lembah-lembah tubuhku

mendaki bukit payudaraku

lalu aku abai pada marabahaya

yang ia tinggalkan

di puting susu

 

bandung muram malam itu

hanya suara angin dan sayup musik blues

di sebuah kafe yang sepi

lalu langit menganga

di balik kelopak mataku yang tipis

dan hujan siap pecah 

seperti kaca yang memisahkan

antara masa lalu dan masa kini

 

jarak memang seperti hal gaib yang sulit diukur

tak lelahkah ia menahan dingin?

 

sudah terlampau lama ia pergi

tak tercium rindu

dan hujan yang biru

 

amat dalam ia terasing

hanyut jauh

ke palung dada seorang perempuan

yang dari matanya

acap kubaca badai

tragedi

 

2025

Galuh Ayara
Latest posts by Galuh Ayara (see all)

Comments

  1. listio Reply

    My favorite girl❤️

    selalu suka puisi-puisinya.

  2. Rey Dzikru Reply

    suka ❤️

  3. Farra nizhirah Reply

    Keren

  4. Tio Reply

    puisinya sangat bagus

  5. Bayu Ambuari Reply

    Cheers 🍻

  6. Desty Azzahra Reply

    keren

Leave a Reply to Farra nizhirah Cancel Reply

Your email address will not be published.

error: Content is protected !!