Puisi-Puisi Sukandar; Hikayat Suta Naya Dhadhap Waru

Clementine Opal // Paint Palette Artwork — Emily Jeffords

 

Hikayat Suta Naya Dhadhap Waru

 

Bukan hanya jati, tunjung  yang dijunjung-junjung

kecubung,  rawe,  alang-alang pun disemat

dalam nama-nama sebagai pengingat dan kerabat

 

Dibasuhlah keringat dengan beluntas yang tumbuh

sebagai pagar tegur sapa melepas batas-batas.

Jahe kunir, salam, laos menyatu  ramah dalam tungku

bersama kering kayu-kayu lewat tangan para ibu.

 

Bersama aren, glugu, nangka, jambu, setia menunggu

tangan dan kaki bocah dari musim ke musim

yang belajar memanjat  sebagai bekal  kelak

berangkat  omah-omah

 

Suta naya dhadap waru yang tuhu,

tabah dan tenang  bergerak menjelma rimpang

menemukan ruang. Tegak berdiri  siang malam

 

Suta naya dhadhap waru,

riwayatmu melekat dalam tanah dan perigi-perigi

sesekali disebut bagai rumput. Menjulur serupa suruh

yang tak  putus-putus menjadi selendang ibu,

hangat menyelimuti tangis bocah bayi

 

Suta naya dhadhap waru,

riwayatmu menggelinding bersama roda pedati

bersama gugur daun, hutan terbakar, wabah penyakit

dan dicatat dengan huruf-huruf kecil di buku-buku

 

2017

 

 

 

Kembali ke Ladang

 

Ibu bumi, bapa angkasa

perkenankan aku

lahir kembali,  menjadi manusia

belajar mengeja, terus membaca

agar hati tanpa bimbang ke ladang.

Pada tanah,  kayu,  pada gugur daun

berguru, meniru laku suta naya

yang tanak menyanak dhadhap waru

 

Ibu wengi bapa rahina

aku lahir dari subur rahimmu

maka biar kutanam diri ini

kembali ke ladang doamu.

Tanpa henti meniti kaki luku garu

mengolah tanah sangkan paran

membakar diri bersama api dumadi

 

Ibu bumi bapa angkasa

izinkan aku, kembali ke ladang

memanggul cangkul, menyanding sabit

membabat habis segala runggut

yang merenggut. Mandi keringat

dari jernih hati dan pikiran

 

Ibu bumi bapa angkasa

di zaman serba kalkulasi untung rugi

bersama restumu, aku kembali

menimang biji-biji doa,  tenggelam

dalam hati petani, tanpa henti

nandur wiji keli

 

Ibu bumi bapa angkasa

tak ada lain jalan

karena sejauh mata memandang

sependek kaki melangkah

yang tampak hanyalah ladang

tempat  bercocok tanam

 

Yogyakarta, 2018

 

 

Pada Jembatan Kecil Itu

 

Pada jembatan kecil dari bambu,

aku berguru

untuk tidak ragu, tidak malu

jadi setapak bagi kaki-kaki

yang menyeberangi  kali dan sungai

masuk ke kebun, dari dusun ke desa,

menuju jalan raya, lalu ke kota-kota

 

Pada jembatan kecil kayu itu

aku belajar

menempa diri, runduk serata tanah

menanam  tabah dalam rebah

mencatat jejak tapak anak-anak

remaja, juga orang tua

 

Pada jembatan-jembatan kecil itu

aku berkaca

mengingat kembali nasihat orang tua

tentang riwayat wot ogal-agil

hikayat jembatan rahasia

 

Berbah, 2019

 

 

Penjaga Tuk Sunyi Puisi

: IBS

 

Barangkali engkau seperti pohon jati,

Tectona grandis, dari muda siap dipangkas

berkali-kali untuk menemukan tua dan isi

 

Bisa jadi engkau sosok angsana,

setia berdiri di sepanjang jalan, tempat bernaung

pengamen gelandangan, juga pejalan kesepian.

Seakan kekal mengisap asap dan debu jalanan

meski hanya satu dua yang mengenal

 

Mungkin pula engkaulah rumput kalakanji

yang disingkiri,  dibabat diobati namun tetap saja

tanpa henti mengembara ke sana kemari

 

Engkau pun mungkin serupa kacang panjang

yang  sadar di mana kepala mesti bersandar,

kaki mesti berdiri, dan hati menetap pada lanjaran

 

Tak jarang orang pun menyebutmu wit preh,

beringin rimbun dekat sumber tua, wingit

dan nglangut sendiri, menjaga air mata mata air

 

Ah, apa pun itu, jelas bagiku, engkau bukan ingas

kemadu yang menyimpan upas getah di balik

tenang tegakmu

 

Apa pun, engkaulah itu, penjaga tuk sunyi puisi

rela menjadi apa saja, di mana saja dan

kapan pun setia menyapa yang datang

meskipun tiba-tiba

 

2020

 

 

Perempuan-Perempuan Belapati

: Anggraini, Setyawati, Aswani, Surtikanti, Siti Sendari

 

Kesetiaan itu milikmu

mengalir dalam darah

sepanjang napas

abadi dalam dongeng dan kisah

 

Kesetiaan itu milikmu

menjelma Anggraini

yang tetap memeluk Palgunadi

meski Arjuna mencoba meraih

dan menjatuhkan hati

 

Kesetiaan itu milikmu

menuntun langkah Setyawati,

kencang berlari di Kurusetra

tanpa risau pada runcing tombak panah

memeluk Salya yang bersimbah darah

 

Kesetiaan itu milikmu

hadir bersama Surtikanti

tak ingin melihat kepala

dan tubuh itu terpisah

sebab hanya ada Suryaputra

di dadanya

 

Kesetiaan itu pakaianmu

rapat membungkus Aswani

menyusul kesetiaan Kumbakarna

yang tubuhnya di-juwing-juwing

pasukan kera Pancawati

 

Kesetiaan itu wajahmu

memantul pada Siti Sendari

sumarah, melangkah tanpa ragu

menyatu bersama sumpah Abimanyu

 

Kesetiaan itu silsilahmu,

perempuan-perempuan belapati

terus menitis sampai hari ini

meski seribu wajah bujuk rayu

menyerbu dari segala penjuru

 

2020

 

 

Perempuan Penagih Janji

: Kekayi dan Kunti

 

Pada mulanya janji

lalu perang besar pun terjadi

 

Adalah kisah dewi Kekayi

perempuan ayu yang bertapa di rumpun bambu

demi tedhak turun ratu tetap mengalir di rahimnya.

Dasarata tak kuasa mengelak lagi, karena bagi Kekayi

janji adalah janji, harus disembadani,

apalagi sabda pandhita ratu, ora kena wola-wali

 

Lalu lahirlah liku lakon Sri Rama dan Sita

Kisah Barata yang  bertahta di bawah terompah,

Leksmana yang memilih brahmacari

dan perang besar Alengka yang tak terhindari

 

Pada mulanya janji

lalu perang besar pun terjadi

 

Ada satu lagi, lakon zaman yang seakan abadi

Bharatayuda, perang besar di Kurusetra

juga bermula dari lembaran janji

sebab tanah titipan, hak waris sebuah negeri

Maka, ketika Kresna, sang duta ditolak

Kunti pun teguh pada piagam yang disepakati

dengan jalan apa pun, tanah Astina harus kembali

karena sudah titi wanci, janji harus ditepati

 

Pada mulanya janji

lalu perang besar pun terjadi

 

2020

 

 

 

Karno Gugur

 

Setelah Pasopati memisahkan kepala dari tubuh Karno

Kunti seperti mendengar lirih suara merambati bumi

 

“Izinkan aku bersimpuh di pangkuanmu Ibu,

untuk pertama dan terakhir kali.”

 

Air mata Kunti tak berhenti mengalir.  Dadanya meledak.

Sungsang batinnya.  Dipeluknya bayang wajah Karno.

Dimandikan dengan air mata, direngkuhnya anak  pertama

yang dilarung puluhan tahun lalu itu

 

Karno pun gugur,  memenuhi bakti pada negeri

Pada mereka yang menampung kesepiannya

 

Hari itu, tunai sudah rindu pada ibunya, Kunti

Lewat tangan Arjuna, adiknya yang sangat ia cintai

 

“Ibu,  aku ingin memelukmu, terimalah,

rindu dan baktiku tak pernah padam,  padamu.”

 

Senyumnya mekar sempurna di dada Kunti

 

2020

Latest posts by Sukandar (see all)

Comments

  1. Indri Reply

    Terharu biru memuja kata nan indah.. terimakasih mengenalkan bahasa yg merdu untuk di resapi oleh hati.

  2. Indri Reply

    Terharu biru memuja kata nan indah.. terimakasih mengenalkan bahasa yg merdu untuk di resapi oleh hati.

Leave a Reply

Your email address will not be published.