Puisi-Puisi Toni Lesmana; Yogyakarta

saltinourhair.com

DI MALIOBORO

Malioboro tanpa dirimu hanyalah jejeran sepeda, becak

Dan bangku-bangku kosong.  Kutulis puisi dan terhenti

Tiba-tiba, seperti hidup yang dicekik pekik kengerian

Kekasih, Malioboro tanpa dirimu adalah puisi yang kehilangan

Kata-kata. Hanya bunyi yang mengambang di jalan lengang

Di lampu-lampu pias. Bangunan-bangunan itu

Adalah tubuh murungku yang meringkuk

Tanpa selimut. Tanpa dirimu, Malioboro juga kehidupan

Seperti kubur panjang kesunyianku

Kuhibur diriku dengan potret wajahmu, paras remaja

Yang kubekal siang malam. Kupasang di tiang-tiang

Lampu-lampu jalan kemudian kubacakan

Puisi yang tak tuntas ini, kubacakan

Dengan suara yang memar. Terus kubacakan

Seperti merapal doa bagi fajar kedatanganmu

 

 

YOGYAKARTA

Apa yang kuingat di kota ini hanyalah dirimu

Tak ada yang lain. Kunikmati setiap embusan

Napas. Ada napasmu, kekasih, terhirup lembut

Menghangatkan dada sepanjang perjalanan sendu

Di kota ini. Dulu kita saling menanggalkan kesedihan

Alun-alun, keraton, kauman seakan pusat semesta cinta

Kusongsong matahari pagi dengan tatapmu di tatapku

Kekasih, langkahku kini ringan, tubuhku melayang

Menapaki jejak kegembiraan. Jengkal demi jengkal

Erang dan desah, geliat dan gelinjang  sajak kasmaran

Setiap tempat, di sini, adalah dirimu

Setiap arah, di sini, adalah parasmu

Kunikmati lagi cinta yang riang

Kuhayati lagi perasaan yang lepas

Dirimu, di sini, dalam diriku

Hanya dirimu yang kuingat

Di kota ini, kekasih, dan kata

Nyala merah kemesraan

 

 

PERJALANAN KECEMBURUAN

Subuh ini, berjalan melewati para pedagang, becak

Dan lelaki yang mengenakan blangkon di sebuah tugu

Dari perempatan kuikuti langkah sepasang pengamen

Yang berbelok ke arah stasiun. Lampu jalan dicumbui angin

Hotel-hotel seperti saling cubit saling gigit

Dalam gigil. Gitar tergantung di punggung lelaki

Yang tangannya pelan meremas pundak perempuan

Melewati sebuah kantor surat kabar yang memendam

Sajak-sajakku untukmu, sajak-sajak yang mungkin

Sedang merayap ke jendela, memandang dunia

Dengan mata merah jambu mereka

Seseorang menyapu jalanan, seperti aku yang selalu

Ingin membersihkanmu dari guguran daun  masa lalu,

Sia-sia. Kenangan seperti sampah yang selalu datang

Dilempar tangan-tangan jahil waktu. Serupa penyapu itu

Setiap pagi kubersihkan jalan-jalan di hatimu

Sebagai bagian dari  kesetiaan, atau mungkin

Kecemburuan. Sepasang pengamen itu masih berjalan

Berpegangan. Kuikuti dengan perasaan iri dan sunyi

Langkah mereka lagu yang tak lagi memerlukan

Nyanyian  riuh stasiun Tugu. Kereta yang lamban dan berat

Gerbong-gerbong itu mirip kerinduan yang merayap

Di tulang punggungku. Membikin bungkuk dan nyaris

Tersungkur. Terus kuikuti mereka yang saling menyatakan

Cinta, tanpa kata-kata. Kurindukan dirimu, kekasih

Di bawah hijau penunjuk jalan. Kurindukan hingga aku

Mabuk bahkan nyaris gila. Kupanggil dirimu sambil

Menyeberangi jalan, seolah-olah kau ada di sana

Padahal hanya sepi pohon beringin. Aku gemetar

Melepas kancing dan kencing sambil tetap

Memanggil dirimu. Di bangku-bangku cokelat Malioboro

Kucari lagi dirimu, kekasih. Namun yang kutemukan

Lagi-lagi sepasang pengamen itu yang saling peluk

Berbagi kecup. Aku terus berjalan memeluk diri

Sendiri. Memeluk dirimu dalam diriku, dirimu

Dalam diriku. Memeluk kecemburuan

 

 

DI PRAMBANAN

Meloloskan diri dari kerumunan gemuruh dunia

Kubawa tubuhku, sendiri memasuki pelataran candi

Seperti memasuki sebuah hati. Hatimu, kekasih

Diam-diam kusucikan sekujur rindu ini, sebelum

Kusentuh bongkah-bongkah batu, reruntuhan

Yang ambruk disebabkan lindu cemburu. Jemariku

Gemetar dan dadaku berdebar

Sayup suara gamelan jiwa, mengalun dari pohon

Berbunga jingga. Candi-candi meruapkan aroma

Dupa, selubung harum patung-patung kesabaran

Yang menyapa ramah dalam gelap dan lembap

Kumasuki semua candi, seakan memasuki ruang

Suci dalam hatimu. Kumurnikan kata-kata dengan

Darah segar luka, lantas kupanjatkan sajak-sajak

Cinta, doa-doa kasmaran yang melulu menyebut

Namamu, kekasih, berulangkali. Berulang-ulang

Di sini kutemukan, pada puncak-puncak stupa,

Diriku memeluk dirimu. Ratusan tahun menyusun

Bongkah-bongkah kata dari kerontang sungai batin

Menjadi seribu puisi persembahan. Kuukir pernyataan

Cinta menjelma relief-relief, kekasih, dan aku terus

Memanggilmu hingga suaraku pecah menjadi

Hamparan pasir. Angin menerbangkan lembut diri

Sukmaku kepadamu. Ciumlah, peluklah angin yang

Harum berembus mengelusmu. Tubuhku masih

Keluar masuk candi, tapi sukmaku sudah melayang

Pulang. Kepadamu. Bersarang nyaman di dirimu. Rumah

Ibadah paling indah bagi cinta dan luka

 

 

GOA PINDUL

Kukenang sebuah goa

Celah sempit dengan sungainya

Yang hijau dan tenang

Kukenang lagi kegelapannya

Sayap kelelawar dan lebat

Rambut batu waktu

Terkenang pula tubuh

Yang mengalun lembut

Basah menanti lenguh

Jatuhnya sehelai cahaya

Nyala dari senyummu

Dari cintamu, kekasih

Toni Lesmana

lahir di Sumedang. Menulis puisi dan prosa. Karyanya pernah dimuat di Koran Tempo, Kompas, Jawa Pos, serta media lainnya. Buku sudah terbit Kumpulan cerpen “Kepala-kepala di Pekarangan” (Gambang, 2015), kumpulan puisi “Tamasya Cikaracak” (Basabasi, 2016). Menetap di Ciamis, Jawa Barat.
Toni Lesmana

Latest posts by Toni Lesmana (see all)

Leave a Reply

Your email address will not be published.