75 Tahun Gus Mus

@alfinrizalisme

Judul ini, di hati saya, terasa lancang, sebab sesungguhnya saya sangat ingin menuliskan lengkap begini: “Berkah Allah Swt kepada Syaikhi Mursyidi Abah Yai Gus Mus di usianya yang ke-75 tahun.” Tapi, itu terlalu panjang, bukan?

Saya mendapatkan jalan berjumpa langsung di Leteh, Rembang, dengan Syaikhi Mursyidi Abah Yai Gus Mus melalui Kak Kuswaidi Syafii, bertahun silam. Dua hajat yang saya bawa dari Jogja terkabul semua waktu itu: Pertama, mengundang beliau mengisi pengajian akbar di kampung saya, Tegalsari Jomblangan, Jogja. Kedua, memohon izin beliau untuk menerbitkan karyanya, Saleh Ritual Saleh Sosial.

Sejak saat itulah, batin dan emosi saya terasa begitu dekat dengan beliau. Ya, rasa dan perasaan  saya. Saya membaca banyak karyanya, pemikirannya, juga unggahan-unggahannya. Saya juga berusaha melakoni “pesannya” agar kaum muslim muda yang bisa menulis rajin-rajinlah menulis. Hari ini diamnya kalian ini tidak lagi relevan dengan kebutuhan umat yang sesungguhnya, begitu di antara tutur beliau.

Pertemuan berikutnya kembali terhelat beberapa waktu kemudian, masih di Leteh, Rembang. Dan, kemudian, dari washilah Ning Ienas Tsuroiya dan Gus Ulil Abshar Abdalla, hubungan batin dan emosi saya dengan beliau terasa semakin lekat—rasa dan perasaan saya. Saya cukup banyak menerbitkan karya-karya beliau, dari kumpulan esai, puisi, hingga cerpen. Amat sering, dalam hati, saya berkirim Fatihah kepada beliau.

Suatu siang, saya menerima WhatsApp dari beliau!

Spontan, saya bangun dari rebahan di kasur, duduk bersila, merapikan baju dan sarung, menjamah pecis, seolah sedang berhadapan langsung, lalu membaca pesannya dengan pelan-pelan dan cermat. Isinya begini persis: “Assalamu’alaukum warahmatullah wabarakatuh. Alhamdulillah, kiriman kaos sudah sampai Rembang dengan selamat. Terima kasih wajazakumulLahu ahsanal jazaa.

Saya membalasnya dengan tangan gemetar. Tentu pula, hati….

Rabu, 14 Agustus 2019, pukul 13.30, saya bersama teman-teman dua mobil berangkat ke Semarang untuk menghadiri milad Syaikhi Mursyidi Abah Yai Gus Mus yang ke-75. Malam sebelumnya, saya masih mendekap meriang. Juga serangan asam lambung. Sepanjang  jalan, berkali-kali saya berdoa dan berkirim Fatihah kepada beliau semoga Allah Swt menakdirkan saya kesempatan sungkem langsung lagi.

Malam sebelumnya, saya bermimpi—entah mimpi yang keberapa kali banyaknya—berjumpa beliau. Ingatan mimpi itu sangat terang: beliau menasihati saya, lalu memberi makan.

Nyaris pukul 17.00, saya sampai di Semarang, dekat Simpang Lima, berhenti di sebuah masjid, shalat dan sekaligus ganti pakaian. Mbahnyutz mengabarkan kemudian supaya saya merapat ke Artotel Gajah Mada. Saya pun ke sana.

Di parkiran yang penuh sesak, saya membuka kaca mobil dan bertanya lokasi parkir ke seorang petugas parkir. Ia menunduk-nunduk hormat sekali pada saya. Begitu saya turun dari mobil, ia tergopoh menciumi tangan saya.

“Gus, Ibu sudah datang sejak tadi…,” katanya.

Saya hanya mengangguk dan tersenyum, geli benar disebut “Gus”. Di detik yang sama, saya teringat Syaikhi Mursyidi Abah Yai Gus Mus: ini berkah beliau lagi. Belum apa-apa, berkahnya sudah sampai ke sini.

“Gus, minta alamatnya di Jogja, barangkali saya suatu hari main ke Jogja, pengin sowan ke Panjenengan, ngangsu kawruh…,” katanya lagi.

Di rooftop, kejadian tersebut saya kisahkan ke banyak kawan. Mereka terkekeh semua, juga ada Gus Adib dan Mbah piyantun minulyo Mung Paryono.

Ya, itu berkahnya Gus Mus, kata teman-teman.

Mbah Mung yang bersama kami di rooftop lalu menelepon Gus Ton, menanyakan jam berapa Syaikhi Mursyidi Abah Yai Gus Mus berangkat ke lokasi acara. Maksud kami, pengin sowan dulu ke beliau di Sheraton.

Apa daya, rupanya beliau sudah jelang berangkat. Akhirnya, kami langsung menyusul ke Sam Poo Kong. Para tamu sudah sangat berjubel. Makin pupus harapan untuk bisa sungkeman langsung ke beliau.

Puji Allah Swt., mata saya menangkap kelebatan Gus Ulil. Langsung saya mendekat, salaman, dan berbincang sejenak, lalu mohon izin—tepatnya, bantuannya—untuk sungkem ke Syaikhi Mursyidi Abah Yai Gus Mus. Di antara riuhnya tamu yang punya hajat yang sama untuk sungkem ke beliau, saya ditakdirNya menyentuh dan menciumi tangan beliau bolak-balik, berkali-kali bahkan. Alhamdulillah. KuasaMu benar-benar melampaui segala kemusykilan….

Saya hanya sanggup berkata: “Abah, selamat milad, berkah Allah Swt. selalu. Mohon maaf semua salah saya, khilaf saya, lalai saya. Mohon doa dan barakah Abah buat saya dan keluarga….”

Gus Ulil berkata kepada beliau: “Mas Edi ini yang menerbitkan buku-buku Abah….”

Syaikhi Mursyidi Abah Yai Gus Mus mengelus pundak saya. Ada sekalimat kecil yang beliau gumamkan kepada saya. Masya Allah, saya sakau seketika!

Baiklah, baiklah, terima kasih Anda telah berkenan membaca melankolia saya sejauh ini.

Dari beliau, Syaikhi Mursyidi Abah Yai Gus Mus, saya belajar ihwal adab yang menakjubkan. Akhlak karimah.

Saya, mungkin seperti kebanyakan Anda, gandrung memandang ilmu amatlah penting. Saking penting dan luhung derajatnya, acap ia melimpasi batas hingga menumpas adab.

Dari beliau saya mengerti langsung dengan teladan perilaku betapa adab benar-benar lebih tinggi derajatnya daripada ilmu. Maka adab mesti dipupuk dengan intensitas lebih tinggi. Di dalam bukunya, Melihat Diri Sendiri, saya menemukan ungkapan begini:

Amar ma’ruf nahi mungkar itu hal penting dalam Islam. Namun, yang menjalankannya mestilah bukan punya ilmu, tetapi sekaligus harus tahu cara menyampaikannya dengan ma’ruf.”

Cara yang makruf, akhlak karimah, mestilah membingkai ilmu itu sendiri. Boleh jadi kita paham banyak ayat, hadits, sirah, hingga ushul fiqh, dan fiqh, namun, tanpa fondasi akhlak dalam menyampaikannya, semua ilmu itu musykil meruahkan kemaslahatan, malah semata rawan memicu madharat berupa ketegangan-ketegangan sosial. Kemakrufan sungguh tak boleh dijalankan dengan ketidakmakrufan (la yuzalu dharar bid dharar).

Syaikhi Mursyidi Abah Yai Gus Mus bercerita:

Ada seorang kawannya yang kaya raya sowan kepadanya dan berkisah tentang hidupnya yang sering merasa kesulitan. Betul, kaya raya tapi merasa sering didera kesulitan.

“Padahal saya telah mengamalkan puasa Senin Kamis,” lanjutnya.

Syaikhi Mursyidi Abah Yai Gus Mus berkata, “Barangkali shalatnya, coba diperbaiki lagi shalatnya….”

Orang itu menjawab, “Saya ndak bisa shalat je, Gus….”

“Lho, gimana, masak puasa Senin Kamis sudah diamalkan, tapi ndak shalat….”

“Iya, saya ndak bisa shalat, soalnya banyak bacaannya, susah….”

“Bisanya apa?”

“Fatihah bisa, Gus.”

“Nah, ya itu shalat. Shalat itu ya Fatihah, sama takbir. Takbir kan pasti bisa?”

“Iya, bisa.”

“Tahu takbir karena sering nonton demo, ya?” Beliau terbahak di bagian candaan ini. “Ya sudah, shalat saja, pakai Fatihah itu, takbir, sudah.”

“Tapi, Gus, saya melihat orang shalat itu banyak komat-kamitnya, Gus. Sujud ya komat-kamit, dan seterusnya.”

“Begini, kalau sampeyan tak ada yang akan dikomat-kamitkan, ya tak usah komat-kamit. Mereka yang komat-kamit ya karena ada yang akan dikomat-kamitkan, to….”

Jadilah, orang itu shalat.

Syaikhi Mursyidi Abah Yai Gus Mus berkata (bukan kepada tamunya): Sebegitu ringannya Allah Swt. yang Maha Rahman dan Rahim kepada manusia, maka ringankanlah urusan dengan sesama manusia, jangan petenthang-petentheng dalam berislam, semoga ampunanNya senantiasa dilimpahkan kepada kita semua….

Kita niscaya memahami dari tamsil tersebut: mustahil Syaikhi Mursyidi Abah Yai Gus Mus tidak memahami dengan detail dan rigid ihwal tata cara shalat hingga jenjang-jenjang kekhusyukannya. Namun, jiwa yang andap asor, rendah hati, ngemong, dan menyayangi, sebagai ekspresi akhlak karimah mestilah selalu direkahkan. Selebihnya, segala kekurangan, keterbatasan, soal benar/salah, qabul/mardud, biarlah tetap semata menjadi hak prerogatif Allah Swt.

Dari sejarah, kita tahu betapa Rasulullah Saw. diriwayatkan ngemong dengan rasa kemanusiaan yang tinggi kepada seorang Arab Badui yang pipis begitu saja di dalam masjidnya. Beliau Saw. meminta sahabat menyirami bekas pipis orang awam tersebut dan tak boleh mengusirnya dari masjid. Itu karena orang tersebut tidak tahu, tutur beliau Saw.

Rasul Saw. juga diriwayatkan pernah menyuruh Umar bin Khattab membebaskan seorang lelaki kafir yang datang ke Madinah hendak membunuh beliau Saw.

Lelaki kafir itu telah ditaklukkan oleh Umar bin Khattab dan diikat di dekat masjid. Rasul Saw. datang dan setelah diberitahu perkaranya beliau mendekati lelaki tersebut, memintanya membaca syahadat.

Lelaki kafir itu menolak.

Rasul Saw. lalu menyuruh sahabat membebaskan ikatannya dan memberinya makan dan minum. Usai diberi makan dan minum, Rasul Saw. berkata lagi kepadanya: bersyahadatlah….

Lelaki kafir tersebut kembali menolak, dengan angkuh!

Rasul Saw. mengatakan kepadanya supaya pergi saja, kembali ke tempat asalnya. Lelaki kafir itu pun melenggang pergi, tentu dilepas dengan tatapan mata gemas para sahabat.

Belumlah begitu jauh, lelaki itu membalikkan badan dan kembali mengarah kepada Rasul Saw. Umar bin Khattab yang tampak kesal sekali dengan sikap arogan lelaki kafir itu bersiap untuk menghunus pedangnya. Rasul Saw. mencegah Umar.

Lelaki kafir itu terus mendekat, mendekat, mendekat kepada Rasul Saw.,  dan begitu telah sangat dekat, ia menghambur memeluk tubuh Rasul Saw. dan menangis sedu sedan serta bersyahadat.

Usai reda suasana, Rasul Saw. bertanya kepadanya, mengapa tadi ia tidak mau bersyahadat. Ia menjawab: “Rasul, aku tidak ingin disangka masuk Islam, bersyahadat, karena takut mati. Aku bersyahadat karena takjub sama akhlakmu. Terimalah aku sebagai sahabatmu, umatmu….”

Rasa kemanusiaan, adakah yang lebih luhung dari lakon teladan-teladan akhlak Rasul Saw. tersebut?

Inilah yang saya tangkap diperagakan Syaikhi Mursyidi Abah Yai Gus Mus hari ini. Wajar bila “kerja resonansi” rohaninya lalu menyinari negeri ini.

Semua yang hadir di acara milad tersebut menyaksikan langsung bagaimana ribuan orang dari latar SARA yang amat majemuk tumplek-blek jadi satu sebagai manusia. Kaum Tionghoa pun amat berlimpah jumlahnya di lokasi. Canda tawa pun membahana tiada henti. Semua sumringah, senang rasanya, gembira perasaannya, as only a humanbeing.

Di hadapan Hukum Allah Swt. yang semua kita akan menghadapinya kelak di alam hisab, apakah yang akan kita andalkan untuk selamat dari azabNya?

Amal-amal kita? Ah, tiada dibutuhkan sama sekali olehNya. Dikatakan oleh Rasul Saw. bahwa kita hanya akan bisa masuk surgaNya berkat rahmatNya, bukan berkat amal-amal saleh kita.

Lalu, bila di dunia ini saja kita enggan mementaskan akhlak karimah, etika, nilai-nilai luhur kemanusiaan kepada orang lain yang tak sama dengan diri kita, bukankah itu setimpal belaka dengan kita menambah beban tanggung jawab kita kelak di hadapan hisabNya yang tiada satu amal pun yang bakal terlewatkan?

Sudahlah ibadah-ibadah kita belum tentu menghantar diri kepada rahmatNya sehingga berhak menerima karunia surgaNya, masih ditambah pula dengan akhlak yang kurang baik kepada orang lain hanya karena mereka tak sama caranya dalam memuja dan menyembah Allah Swt. dan mendedikasikan diri dalam rupa ibadah-ibadah kepadaNya dibanding kita. Betapa pilunya!

Syaikhi Mursyidi Abah Yai Gus Mus telah memperlihatkan keteladanan yang luar biasa perihal “kerja resonansi rohani”–yang tadi saya sebutkan. Ini hanya mungkin diruahkan oleh orang yang telah selesai dengan rohaninya sendiri.

Dalam istilah al-Qur’an, ini dinyatakan sebagai “dilapangkan dadanya”. Orang yang dadanya sendiri telah terlapangkan, barulah memungkinkan baginya untuk menghamparkan nilai-nilai kelapangan ke luar dirinya. Semakin luas dan limpah jangkauannya, itu tanda makin luas dan jembar dadanya sendiri. Dan seterusnya, pula sebaliknya.

Hadirnya ribuan orang dari pelbagai wilayah jauh-jauh di acara milad tersebut mencerminkan dengan sangat nyata luasnya jangkauan resonansi rohaninya.

Saya, dan semua orang yang hadir di lokasi, menyaksikan sendiri betapa acara milad tersebut sekaligus menjelma ajang silaturrahim bukan hanya dengan beliau, melainkan pula dengan banyak sahabat setiap tamu, kolega, kenalan lama, kawan virtual, hingga orang-orang besar yang selama ini tak terbayang bisa hadir di depan mata sosok-sosoknya. Sebuah ruang silaturrahim maha raksana yang musykil digapai dalam persuaan sehari-hari antarkita.

Ini sangat jelas merupakan ruahan berkah dari Syaikhi Mursyidi Abah Yai Gus Mus kepada semua hadirin.

Sampai detik ini, setiap kali teringat perform putri Gus Dur, Mbak Inayah Wahid, saya masih saja terbahak. Mbak Ina ternyata lucu banget. Pedenya juga luar biasa. Saya menggumam, nampaknya Mbak Ina inilah yang mewarisi gen humor almarhum Gus Dur.

Mbak Ina berkata begini di panggung raksasa itu:

“Bedanya antara orang malas dan rajin terlihat nyata antara Abah Gus Mus dan Gus Dur. Karena Abah Gus Mus rajin menjaga kesehatan, di usianya yang ke-75, beliau dimiladi. Adapun Gus Dur dihauli….”

Hadirin terkekeh semua.

“Satu lagi tentang perbedaan orang rajin dan malas, ya,” lanjutnya. “Orang yang rajin macam Abah Gus Mus ini jadi kiai besar, ulama besar, tokoh bangsa, dan influencer yang luar biasa di sosial media. Beda sama Gus Dur yang pemalas. Ia hanya bisa jadi presiden….”

Ger-geran pun meledak tak keruan.

“Mohon maaf, ya, Ibu Shinta,” lanjutnya sembari menundukkan kepala ke arah Ibu Shinta yang juga hadir di lokasi acara. “Ini sengaja saya ceritakan di ruang terbuka begini, agar masyarakat tahu betapa dekatnya hubungan saya dengan keluarga Gus Dur….”

Kekehan pun kembali pecah.

Saya berkata kepada kawan-kawan yang duduk berdekatan, “Eh, saya curiga, Mbak Ina ini jangan-jangan aslinya pelawak, ya, hanya menyamar jadi putri Gus Dur….”

Teman-teman terbahak semua.

Terakhir, saya berdoa, sebagaimana pula Anda semua, semoga Syaikhi Mursyidi Abah Yai Gus Mus di usianya yang ke-75 ini terus dilimpahi keberkahan hidup oleh Allah Swt., dipanjangkan umurnya, dan tetap membanjarkan contoh-contoh keteladanan akhlak karimah kepada semua kita. Amin.

Satu lagi: kata “Syaikhi Mursyidi” sengaja saya lekatkan ke nama beliau sejak tadi karena… rahasia ding. Maaf.

 

Jogja, 16 Agustus 2019

Edi AH Iyubenu

Suka mikir yang gimana gitu. Pedagang sekaligus calon doktor yang resah terhadap minyak babi cap onta.
Edi AH Iyubenu

Latest posts by Edi AH Iyubenu (see all)

Comments

  1. Muhammad Gunawan Reply

    Saya merasa berbahagia juga karena mendapat berkah bisa duduk bersebelahan bahkan sangat dekat dengan penulis ini selama berlangsungnya acara, hingga guncang tawanya terasa ketika menikmati lawakan Inay dan Cak Kirun “wayahe” berkolaborasi dengan Lik Marwoto “wis wayah”. Alhamdulillah.

    Eh, tapi itu yangbtertulis sebagai sheraton sebetulnya Santika lho.. 😂🙏

Leave a Reply

Your email address will not be published.