Sajak Mahmoud Darwish; Sejak Saat Ini, Kamu Bukanlah Dirimu

Sejak Saat Ini, Kamu Bukanlah Dirimu

Haruskah kami terjun dari ketinggian yang teramat

Dan kami lihat

darah di tangan kami

Agar kami mengerti bahwa kami bukan malaikat,

Sebagaimana yang kami sangka?

Haruskah kami membuka aurat

di depan keramaian,

Supaya tak tersisa hakikat kami, jadi perawan?

Betapa bohongnya kami

Ketika kami berkata:

“Kami adalah pengecualian!”

Membenarkan dirimu lebih buruk

Daripada berbohong pada selainmu!

Berlaku lembut kepada orang yang membenci kami

Dan berlaku keras kepada orang yang mencintai kami—itu adalah

Inferioritas yang angkuh dan arogansi yang rendah diri!

O, masa lalu, jangan ubah kami

Ketika kami menjauh darimu!

O, masa depan, jangan bertanya: “Siapa kalian?

Apa yang kalian minta dariku?”

Karena kami pun tak tahu.

O, masa kini, tunggu kami sejenak

Tiadalah kami melainkan pelintas jalan

Yang terbebani bayangan sendiri.

Cita-cita adalah apa yang kami wariskan

Bukan apa yang kami warisi,

Apa yang kami ciptakan

Bukan apa yang kami kenangkan

Cita-cita adalah cermin rusak

Yang harus kami hancurkan ketika

Pantulannya membuat kami takjub

Seseorang merasa percaya diri dan berani

Lantas membunuh ibunya

Lantaran sang ibu adalah sasaran yang amat mudah

Lantaran seorang prajurit wanita

Menghentikannya dan membuka buah dadanya

Seraya berkata:

Apakah ibumu memiliki buah dada seperti ini?

Andai Muhammad bukanlah pamungkas nabi

Niscaya tiap-tiap kompi adalah nabi

Dan tiap-tiap sahabat adalah milisi

Kami takjub dengan Perang Juni

Dalam peringatannya yang keempat puluh:

Jika kami tidak menemukan orang

Yang menaklukkan kami kembali

Maka kami akan menaklukkan diri kami sendiri

Supaya kami tidak lupa.

Apabila kamu melihat kedua mataku

Tak akan kamu temukan pandanganku di sana:

Ia telah dirampas oleh skandal

Hatiku bukan milikku

Juga bukan milik siapa pun

Ia telah terpisah dariku

Tanpa berubah menjadi batu

Orang yang meneriaki jasad yang dibantainya—saudaranya

“Allahu Akbar!” apakah ia tahu bahwa

Orang itu kafir

Ketika melihat Allah dalam citranya

Ya, citranya: ia lebih kecil dari ciptaan bernama manusia,

Tapi sama persis dalam penciptaan

Seorang tahanan yang ingin sekali mewarisi penjara

Menyembunyikan senyum kemenangan

Dari kamera

Namun ia tidak berhasil mengekang kebahagiaan

Yang mengalir dari matanya

Barangkali.

Sebab teks yang frontal lebih kuat

Ketimbang teks yang dibuat-buat.

Apa pentingnya bunga bakung bagi kami

Selama kami masih seorang Palestin?

Selama kami tidak bisa membedakan antara masjid dan kampus*

Lantaran keduanya berasal dari akar kata yang sama

Apa pentingnya negara bagi kami

Selama negara dan rutinitas masih menuju jalur yang tunggal?

Papan reklame besar terpampang di kabaret:

Selamat datang kepada orang-orang Palestin

Yang kembali dari perang. Masuk gratis.

Dan bir kami tidak memabukkan!

Aku tidak bisa membela hakku untuk bekerja,

Menyemir sepatu di atas trotoar

Lantaran para pelangganku berhak

menuduhku mencuri sepatu—

Demikian seorang dosen berkata kepadaku!

“Saya dan orang asing di atas anak paman saya

Saya dan paman saya di atas saudara saya

Saya dan guru saya di atas saya.”

Ini adalah pelajaran pertama

Di sekolah negeri yang baru

Dalam jubah kemuraman

Siapa yang pertama kali masuk surga?

Orang yang mati karena bedil musuh

Atau orang yang mati karena bedil saudaranya sendiri?

Sebagian ahli hukum berkata:

“Kebanyakan musuhmu

Dilahirkan oleh ibumu!”

Ahli hukum bingung di hadapan

Orang-orang yang tertidur di sekujur kuburan:

Apakah mereka syahid yang merdeka?

Ataukah korban bunuh diri dalam permainan drama?

Mereka bingung dan akhirnya sepakat akan satu hal:

Hanya Allah yang tahu.

Seorang pembunuh adalah sekaligus seorang yang dibunuh!

Seseorang bertanya kepadaku:

Apakah seorang satpam yang kelaparan

Harus mempertahankan sebuah rumah yang ditinggalkan pemiliknya

Demi menghabiskan liburan musim panas

Di Riviera di Prancis atau Itali … tak ada bedanya?

Kujawab: tidak!

Seseorang juga bertanya kepadaku:

Apakah saya + saya = dua?

Kujawab: Anda dan Anda lebih sedikit daripada satu!

Aku tidak malu pada cita-citaku

Ia masih kuanggit

Akan tetapi aku malu kepada sebagian ajaran

Yang tertera

dalam Mukadimah Ibn Khaldun!

Sejak saat ini, kamu bukanlah dirimu!

Catatan:

*) Agar pembaca bisa menangkap maknanya, saya sertakan bahasa Arabnya: masjid = jami’ (جامع) dan kampus = jami’ah (جامعة). Keduanya berasal dari akar kata yang sama: jama’a (جمع) yang artinya menghimpun atau mengumpulkan.

Penerjemah: M.S. Arifin

Mahmoud Darwish
Latest posts by Mahmoud Darwish (see all)

Comments

  1. Annisa A Reply

    Terima kasih sudah diterjemahkan, baguus

Leave a Reply

Your email address will not be published.